NovelToon NovelToon
Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Slice of Life
Popularitas:251
Nilai: 5
Nama Author: Ningsih Niluh

Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.

Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.

Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

amarah

Suara pintu yang dibuka dengan kasar memecah keheningan malam. Dewi, yang sudah menunggu di bangku kecil di samping meja makan dapur, terbangun dari tidur semu. Rumah mereka hanya memiliki 1 kamar tidur dan 1 ruang dapur yang juga berfungsi sebagai ruang tamu – semuanya terhubung dalam satu ruangan terbuka kecuali kamar tidur yang berdinding sendiri.

Ia melihat Arif berdiri di ambang pintu dengan wajah kosong, rambut kacau, dan baju yang kusut. Jam dinding di dinding dapur menunjukkan pukul 04.20 pagi – sudah mendekati waktu Subuh.

"Dari mana saja kamu, Arif? Ini sudah mau Subuh!" tanya Dewi dengan suara yang bergetar karena kemarahan yang sudah menumpuk.

Arif hanya mengangkat bahu. "Keluar aja. Kenapa? Aku sudah besar, suka-suka aku mau pulang jam berapa," jawabnya enteng sambil berjalan menuju kamar tidur.

Dewi mengepalkan tangannya sampai kuku menusuk kulit. Kesabarannya yang sudah habis lama ini akhirnya meluap. "Suka-suka? Kamu lupa kalau rumah ini kita bagikan? Kita hanya punya satu kamar tidur, dan aku sudah menunggu sampai larut malam cuma buat ngasih tahu kalau aku khawatir – tapi kamu malah pulang semacam ini!" ia teriak.

Arif berhenti di depan pintu kamar. "Jangan ngomel banyak, Dewi! Aku capek!"

"Capek? Capek apa? Capek main judi sampai larut malam? Kamu lihat meja dapur ini? Hanya ada sisa nasi dan lauk seadanya buat sarapan esok! Kamu lebih peduli sama taruhanmu daripada aku dan rumah kita yang baru ini!" air mata Dewi mulai menetes, tapi matanya tetap terbuka lebar menatap Arif.

"Sudah kubilang, jangan cerewet! Aku tahu apa yang aku lakukan!" Arif berbalik menghadap Dewi dengan tatapan yang kaku, tidak ada secercah rasa bersalah di matanya.

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Arif. Dewi tidak menyadari dirinya sudah bergerak sampai depan suaminya dan menamparnya.

Arif memegangi pipinya dengan tatapan marah, tapi tidak ada rasa malu atau menyesal. "Berani kamu nampar aku?!"

"Aku lebih berani apa saja kalau kamu terus begini, Arif! Aku sudah muak dengan janji-janji mu yang selalu hancur! Dulu kamu bilang akan bikin rumah ini penuh cinta dan harapan, tapi yang ada cuma rumah sempit ini dan kebencian yang semakin banyak!" Dewi berteriak sampai tenggorokan terasa nyeri.

Arif terdiam sebentar, melihat wajah Dewi yang berkaca-kaca air mata dan penuh amarah. Tapi egonya dan kekeras kepalanya terlalu kuat. "Terserah kamu, Dewi! Kalau kamu tidak tahan, silakan pergi! Aku tidak butuh orang yang cuma bisa ngomel!"

Ia lalu membuka pintu kamar tidur dan masuk, membantahnya dengan keras sampai benda-benda di meja dapur bergoyang.

Dewi terisak sendirian di ruang dapur yang sempit. Ia duduk di bangku kecil, menutupi wajah dengan kedua tangan, merasakan semua harapan yang pernah ada sudah hancur habis karena kekeras kepala Arif yang tak pernah berubah.

 

Setelah bunyi pintu kamar ditutup keras, keheningan kembali menyelimuti ruang dapur. Dewi masih duduk di bangku kecil, terisak sampai tubuhnya bergoncang. Ia melihat ke arah kamar tidur yang tertutup – tempat yang seharusnya jadi tempat perlindungan, tapi kini terasa seperti tembok yang memisahkan dia dari Arif. Semua dinding rumah mereka terbuat dari papan yang tipis dan sudah agak lapuk, sehingga suara angin dan orang-orang di luar bisa terdengar jelas, bahkan terkadang air hujan merembes masuk saat hujan lebat. Lantai dapur hanya semen yang kasar, agak retak, dan terkadang berdebu tebal.

Beberapa menit kemudian, langit di luar mulai menyala, dari kegelapan malam berubah menjadi warna oranye muda. Cahaya pagi mulai masuk melalui jendela yang hanya berupa bukaan dengan kain penutup, menyinari lantai semen dapur. Dewi mengangkat diri, menyeka air mata yang masih menetes, dan menuju kamar mandi yang terletak di sudut paling ujung rumah.

Kamar mandinya hanya berdinding terpal yang sudah agak kusam dan robek di beberapa bagian, tidak bisa menutupi pandangan sempurna. Lantainya juga semen yang telah retak parah, dengan genangan air kecil yang masih tersisa dari mandi kemarin. Di tengahnya, ada loyang besar yang dipakai sebagai bak mandi, dan di sampingnya berdiri ember penuh air yang ia tuang dari sumur depan setiap pagi. Dewi membuka kain penutup terpal, mengambil baju, dan mulai mandi sambil mencoba mengusir pikiran-pikiran buruk.

Di dalam kamar tidur, Arif sedang berbaring di kasur, tapi tidak bisa tidur. Hanya kamar ini yang dilapisi plastik lantai tipis dengan corak bunga yang sudah pudar – sesuatu yang mereka beli saat pertama kali tinggal di rumah ini, untuk membuatnya sedikit lebih nyaman. Dia merasakan bekas tamparan di pipinya – bukan sakit fisiknya yang membuatnya terganggu, tapi pandangan Dewi yang penuh amarah dan kesedihan. Tapi seketika itu juga, kekeras kepalanya kembali mendominasi. "Dia yang terlalu cerewet," pikirnya. "Aku hanya butuh hiburan setelah hari-hari yang sibuk."

Setelah selesai mandi dan mengenakan baju baru, Dewi keluar dari kamar mandi yang sempit dan lihat Arif sudah berdiri di depan lemari yang juga terbuat dari papan tipis, melangkah di atas plastik lantai yang sedikit licin. Mereka saling melihat, tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut keduanya.

Arif berjalan menuju pintu papan yang berderit saat dibuka, melangkah dari plastik lantai ke lantai semen dapur yang dingin. Tanpa mengucapkan apapun. Tapi tiba-tiba, dia berhenti. "Aku pergi kerja," katanya dengan suara yang datar, tanpa menoleh.

Dewi hanya mengangguk. Dia ingin berkata banyak hal – ingin meminta maaf atas tamparan itu, ingin meminta Arif berubah, ingin mengingatkannya pada janji-janji mereka. Tapi kata-kata itu terjebak di tenggorokan.

"Arif," panggil dia pelan.

Arif berbalik sejenak. "Apa?"

"Kamu masih ingat janji mu saat kita kawin? Tentang rumah yang penuh cinta – bahkan kalau hanya dari papan, lantai dapur semen, dan cuma kamar tidur yang dilapisi plastik, tapi kita janji akan membuatnya nyaman bersama?" tanya Dewi dengan suara yang lemah.

Arif terdiam sebentar, lalu mengangkat bahu. "Itu masa lalu, Dewi. Sekarang kita hidup di kenyataan." Dia lalu membuka pintu papan dan keluar, meninggalkan bunyi derit yang menggema di rumah yang sepi dan sempit.

Dewi duduk di bangku kecil lagi, menatap pintu yang tertutup. Cahaya pagi semakin terang, menyinari lekukan-lekukan di lantai semen. Suara orang-orang yang mulai beraktivitas di luar terdengar lebih jelas melalui dinding papan. Dia tahu bahwa kesabarannya sudah habis, tapi dia masih tidak bisa pergi. Masih ada secercah harapan di hatinya – harapan bahwa Arif akan menyadari kesalahannya, bahwa janji-janji mereka tidak akan terbuang sia-sia begitu saja.

Tetapi, berapa lama lagi dia harus menunggu?

 

1
HIATUS DULU
wahhh tulisannya rapih banget, diksinya juga bagus. Siap jadi author bertanda tangan enggak sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!