NovelToon NovelToon
Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat

Status: tamat
Genre:Komedi / Nikahmuda / Obsesi / Beda Usia / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Percintaan Konglomerat / Aliansi Pernikahan / Tamat
Popularitas:20.6M
Nilai: 5
Nama Author: skavivi selfish

( DALAM TAHAP REVISI)

Bibit, bebet dan bobot seringkali menjadi tolak ukur pernikahan di kalangan Ningrat tanah Jawa. Tapi, apa jadinya jika cewek metal pegawai laundry menjadi istri seorang Ningrat? Akankah dia diterima menjadi bagian dari keluarga darah biru dan sanggup mengenyahkan sifat liarnya demi sang suami tercinta? Ataukah dia hanyalah wanita dengan status yang di pertanyakan?

“Bahkan jika kakiku sampai berdarah-darah, aku tetap akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu, Mas!” ~ Rinjani

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. [ Lastri ]

"Kenapa harus ditutup mataku mas." Keluhku saat Kaysan memasangkan slayer hitam di mataku.

"Biar kamu tidak tahu kemana tujuan kita."

"Kenapa mas? Kan Jani mau ketemu ibu." Aku meraba slayer yang sudah menutup erat pandangan mataku. Gelap.

"Mas sedang tidak bermain umpet-umpetan, 'kan? Mas tidak bohongkan? Jangan membuat Jani takut mas." Aku meraba, mencari keberadaan Kaysan. "Mas, dimana? Mas jangan tinggalkan Rinjani." kataku ketakutan, "Mas..."

Terus ku raba udara, tak ku dapati Kaysan yang memegang tanganku.

"Mas tidak kemana-mana, Rinjani. Mas akan berdiri di belakangmu." Kaysan merengkuh pinggangku, memapahku untuk mengikuti langkahnya. "Mas, jangan dilepas." kataku mengeratkan genggamannya.

"Tidak akan, bersabarlah. Kita akan naik banyak tangga. Pelan-pelan."

Aku mengangguk, perlahan kakiku mulai mengikuti anak tangga. Entah berapa anak tangga yang aku pijaki, benar-benar banyak.

Suasananya begitu dingin. Suara desiran angin dan kicauan burung bersautan. Kaysan membawaku kemana, kenapa harus melewati banyak anak tangga. Memang ibu berada dimana, kenapa ibu jauh sekali perginya. Apa Kaysan memang benar-benar menemukan ibu di tempat sejauh ini, apa aku benar-benar akan menikah sebentar lagi? Pertanyaan itu begitu menggantung dibenak ku.

"Mas masih lama ya, kakiku tambah pegal." kataku sambil mengatur nafas.

"Bersabarlah, sebentar lagi sampai."

"Ya, mas." Ku langkahkan kakiku lagi menuju entah.

Satu, dua, anak tangga kulalui lagi.

Tiga, empat ku rasakan dataran yang bergeronjal.

"Gadis pintar."

"Sudah sampai ya, kenapa sepi mas? Kenapa ada bau bunga-bunga juga mas. Apa mas yang menyiapkannya?" tanyaku saat hidungku mengendus bunga-bunga seperti bunga kuburan.

"Rinjani, jika aku buka penutup matamu. Aku tahu kamu pasti akan terkejut bahkan tidak percaya dengan apa yang kamu lihat. Rinjani, aku memang belum lama mengenalmu. Tapi aku tahu, kamu adalah gadis yang kuat. Jani, percayalah semesta sudah melakukan yang terbaik untuk ibumu, Lastri..."

Kaysan membuka penutup mataku, perlahan-lahan mataku mulai mengerjap. Ku lihat, banyak bebatuan berjejeran dengan rapi. Seperti batuan nisan.

Mataku buram, ku tutup mataku lagi.

"Tidak mungkin, 'kan mas kita ditanah kuburan." ucapku memastikan.

"Bukalah..." Kaysan memegang kedua bahuku.

Perlahan ku buka mataku, satu batu nisan dengan gundukan tanah basah berada di depanku.

Bunga-bunga segar yang ku hirup tadi adalah semerbak mawar putih yang bertaburan diatasnya. Ku tatap batu nisan dengan nama yang tak asing di pikiranku.

Lastri

08 04 1975

-

29 08 2019

Tubuhku merosot ke dasar bumi, tulangku ikut runtuh bersama dengan tubuhku yang mendadak tak memiliki energi.

"Gak... gak mungkin! Mas jangan bercanda, mas jangan mengada-ada keadaan! Mas jangan mempermainkan ku! Mas bohong, dia bukan Lastri ibuku. Dia bukan Lastri ku. Dia bukan ibu, yang mati disini bukan ibu!" kataku tidak terima dengan kenyataan baru yang aku hadapi.

Tangisku mulai memecah keheningan pemakaman ini. Mulutku berkata tidak, tapi hatiku iya... Aku menyandarkan kepalaku di batu nisan sambil mengelus batu itu seperti mengelus kepala ibuku. "Bukan, ini bukan Lastri ibuku."

Aku terus meyakinkan diriku bahwa ini bukan ibuku. Tapi tanggal kelahiran ibuku dan tanggal kematian ini terlihat sangat jelas bahwa gundukan tanah basah ini adalah tempat ibuku bersemayam.

Tanggal kematian ini adalah tanggal dimana sidang terakhir perceraian ibu dan bapak. Saat itu ibu bertengkar dengan bapak, ibu ingin membawaku pergi. Tapi bapak mengurungku di kamar, menguncinya dari luar.

Aku mendengar mereka bertengkar hebat merebutkanku. Ibu bersekukuh membawaku pergi karena ibu tahu bapak tidak becus mengurusku. Bapak menolak mentah-mentah, memaki-maki ibuku dengan kata-kata kasar. Bapak tidak mengizinkan ibu membawa ku pergi, dengan dalih aku adalah anak yang akan menghasilkan rupiah untuknya.

Aku ingat sore itu hujan begitu deras mengguyur bumi. Satu jam setelahnya tak ku dengar lagi percekcokan itu. Bapak mulai membuka pintu kamarku. Aku meringsek keluar mencari ibu, sedangkan bapak dengan mata merahnya berkata, "Ibumu wes minggat!" [ ibumu sudah pergi! ]

*

Masih terus ku elus batu nisan ini, rasanya aku seperti mengelus rambut ibu sambil mencari uban putihnya yang masih jarang terlihat.

Ku elus terus nisan ini, tangisku mulai meledak saat Kaysan juga ikut duduk bersimpuh di dekatku. Mengelus rambutku pelan, menenangkan.

"Jangan melihatku." kataku sambil menyembunyikan wajahku. "Jangan melihatku lemah seperti ini."

"Kamu cantik apa adanya seperti ibumu, Rinjani. Rambutmu hitam dan lebat seperti punya ibu." Kaysan masih mengelus rambutku, tangisku kembali pecah. Meski ibu tidak pernah berias wajah, wajah ibu terlihat cantik dengan guratan tipis di matanya. Aku suka sekali saat dia menyipitkan matanya, menyelidiki jika aku menyembunyikan sesuatu.

"Aku tidak memaksamu untuk percaya, tapi inilah usaha terakhirku untuk meyakinkanmu menjadi milikku, Rinjani. Hanya bukti-bukti yang aku punya untuk meyakinkanmu jika ibumu telah pergi. Menangislah, jika itu membuatmu lega. Agar aku tahu sisi lain dari dirimu. Gadis kecilku, menangislah." Kaysan menarik tubuhku dari batu nisan itu, menenggelamkanku dalam pelukannya.

"Maafkan aku Rinjani, maafkan aku."

Kaysan menepuk punggungku berkali-kali.

Lama aku terisak dalam dekapan Kaysan. Rasa yang mengejutkan ini membuat seluruh tubuhku luruh kedalam pusara tanah basah.

Ku usap air mataku, ku tundukan kepalaku, ku rapalkan doa-doa untuk ibu.

Ku usap wajahku bersama Do'a yang ikut mengalir dengan air mataku. Tubuhku sudah tak bisa ku tahan sendiri, tubuhku perlahan limbung diatas pusara ibu.

*

[ Kediaman Kaysan ]

"Rinjani kenapa Kay, Rinjani kenapa?" tanya Juwita Ningrat dengan nada khawatir.

Juwita Ningrat berlari kecil mengikuti langkah Kaysan menuju kamarnya, "Kay, kenapa Rinjani dibawa ke kamar. Kamu apakan dia Kay?" Juwita Ningrat mencekal Kaysan dengan beberapa pertanyaan.

"Ibunda, tenanglah. Jani hanya pingsan." jawab Kaysan saat sudah menaruh Rinjani di ranjangnya.

"Kenapa bisa pingsan? Kamu apakan dia Kay?" Juwita Ningrat menunjuk wajah Kaysan dengan curiga.

Kaysan menghela nafas berat, "Ibunda panggilkan Nurmala Sari kesini." pinta Kaysan yang diangguki ibunya. Juwita mengambil HP yang ia selipkan di stagen yang membelit pinggangnya. Sedangkan Kaysan sendiri mengambil beberapa dokumen dari balik lemarinya.

"Sudah, Kay, sudah. Ada yang terjadi, Kay? Ayo ceritakan pada Ibunda." bujuk Juwita Ningrat lagi.

"Rinjani memberiku titah untuk mencari ibunya. Dua minggu ini Kay berusaha mencarinya. Tapi yang Kay dapati adalah sesuatu hal yang membuat Rinjani pingsan." Kaysan menyerahkan berkas-berkas kedokteran dan lampiran kepolisian.

Juwita Ningrat menarik berlembar-lembar kertas yang Kaysan genggam. Juwita membaca tulisan-tulisan itu dengan seksama. Matanya membulat, "Lalu dimana makam ibunya Rinjani, Kay?"

"Kay pindah dimakam keluarga, maafkan Kaysan tidak meminta izin dulu dengan Ibunda dan Ayahanda." Kaysan membungkuk.

"Apa titah yang diberikan Rinjani memiliki maksud?" selidik Juwita Ningrat pada putranya yang masih membungkuk.

"Bangunlah." pinta Juwita Ningrat sambil menepuk bahu Kaysan.

"Rinjani bersedia menikah dengan Kay, setelah Kay berhasil menemukan ibunya."

Juwita Ningrat menggeleng, "Tidak bagus mengajak seorang gadis menikah saat sedang berduka putraku. Keadaannya sedang terpuruk, kasian cah ayu." Juwita Ningrat beralih menatap Rinjani. Tanganya mengelus wajah Rinjani yang terlihat sembab.

"Bagaimana Ibunda, apa Nurmala Sari sudah membalas pesan bunda?" tanya Kaysan khawatir, karena semakin lama raut wajah Rinjani semakin pucat.

"Sabar, Nurmala Sari lagi di jalan."

"Ibunda, Kay ingin melakukan hantaran Do'a dirumah ini untuk ibu Lastri. Apa Ibunda mengizinkan?"

Juwita Ningrat menggeleng lagi, "Kedanan tresno, Kay? [Tergila-gila cinta, Kay? ] Suruh abdi-abdimu menyiapkan jamuan dan tetamu untuk hantaran do'a calon mertuamu." titah Juwita Ningrat yang membuat Kaysan bungah. [ senang ]

*

"Saben susah mesti ono bungah, saben bungah mesti layune susah. Pathi, Pesti, Jodo wes mesti dadi rahasiane Gusti. Amergo kui wong Urip ki ojo ngawulo karo bondho donyo."

(Setiap kesusahan pasti ada kegembiraan, setiap kegembiraan pasti bertemu kesusahan. Mati, Pesti, Jodoh sudah pasti rahasianya Gusti. Karena itu, orang hidup itu jangan sombong dengan harta dunia)

1
Rila Finka
🤣🤣🤣Pintu oh pintu beruntungnya kamu di jaga 2 cowok kembar yg ganteng2 🤣🤣🤣
Rila Finka
dasar indy
Rila Finka
ihuyyy😍😍
mams dimas
Kecewa
mams dimas
Buruk
mams dimas
sampe kalian jadi kakek nenek dan mas kay meninggal...pokok nya panjannnnng buanget😁😁😁
Alif Refalino Refalino
Banyak paket yg hilang ya min ,dlu baca novel ini puanjang bgt
Alif Refalino Refalino
Nanang emang kyk baskara ekspektasi ku khayalan
Alif Refalino Refalino
Ayahnda di rumah bu sasmita kyk menemukan jati dirinya sndri kepada keluarga kecilnya
Ulil Baba
emang kuda lumping kesurupan kok kembang sajen
Ulil Baba
atu tenan lek Podo menungsone,, seng bedakne Lanang wedok e
may
Aku tetep nangis di part ini walaupun udah berulang kali baca
may
Hai mas nanang🤭
may
Hai rinjani dan mas kaysan, aku kembali lagi kesini, aku sudah 3x membaca kisah kalian, terimakasih mbk selvi sudah menciptakan karya sebaguss ini❤️
may
Luar biasa
may
Aku langganan sumber selamat bun😭
mom SRA
Luar biasa
mom SRA
ini novel ke 2 otor yg ku baca,liat babnya sampai ratusan bikin pala pening tp penasaran 😁😁
Partini Minok Nur Maesa
band dr jogja thor bkn solo
Partini Minok Nur Maesa
santosa mlh mikirin nina.klo langsinv bisa mirip nina zatulini san
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!