NovelToon NovelToon
Gadis Bar-Bar Mendadak Menikahi Ustadz

Gadis Bar-Bar Mendadak Menikahi Ustadz

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Kontras Takdir / Suami ideal / Gadis nakal / Tamat
Popularitas:73.9k
Nilai: 5
Nama Author: Amelia's Story

Arsyan Al Ghazali, seorang ustadz muda tampan, dikenal karena keteguhan imannya, kefasihannya dalam berdakwah, dan pesona yang membuat banyak wanita terpesona. Namun, ia tak pernah tergoda dengan pujian atau perhatian dari lawan jenis. Baginya, agama dan dakwah adalah prioritas utama.

Di sisi lain, Nayla Putri Adinata adalah gadis liar dari keluarga konglomerat yang gemar berpesta, bolos kuliah, dan menghabiskan malam di klub. Orang tuanya yang sudah lelah dengan tingkah Nayla akhirnya mengirimnya ke pesantren agar dia berubah. Namun, Nayla justru membuat onar di sana, bersikap kasar kepada para santri, dan berusaha melawan aturan.

Segalanya berubah ketika Nayla berhadapan dengan Al Ghazali, ustadz muda yang mengajarkan ilmu agama di pesantren tersebut. Awalnya, Nayla merasa jijik dengan semua aturan dan ceramahnya, tetapi pesona ketenangan serta ketegasan Al Ghazali justru membuatnya semakin penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amelia's Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lika liku Tinggal Bersama Mertua

Sudah dua minggu berlalu sejak Arsyan Al Ghazali dan Nayla memutuskan tinggal sementara di rumah mewah keluarga besar Al. Kediaman megah bernuansa Timur Tengah itu dipenuhi aroma kasturi dan sajadah empuk di setiap ruangan.

Di rumah itu, Raihan kecil menjadi pusat perhatian. Neneknya, Ny. Humaira, selalu menyiapkan air hangat untuk mandinya, membelikan baju-baju mungil, bahkan menidurkannya sambil bershalawat.

Namun di balik keramahan itu, Nayla tahu tak semua anggota keluarga Al menerimanya sepenuh hati.

Pagi itu, saat sarapan di ruang makan besar keluarga, Nayla duduk di samping Al sambil menyuapi Raihan. Ayah Al berbincang hangat tentang perkembangan perusahaan Al yang semakin melejit. Tapi di ujung meja, tante Al, Bu Naima,.berbisik ke menantunya:

“Dulu calon istri Arsyan yang kami siapkan itu dokter Hafidzah, bukan wanita… yang punya masa lalu heboh di internet.”

Nayla mendengarnya, meski seolah tak peduli. Matanya menunduk, namun hatinya perih. Al yang mendengar lirihnya pun langsung memegang tangan istrinya di bawah meja, menggenggam erat sebagai bentuk dukungan.

Siang hari di ruang keluarga, Nayla duduk bersama Ny. Humaira, menjahit baju bayi bersama.

 “Kamu kuat ya, Nak…” ucap Ny. Humaira tiba-tiba.

“Ibu tahu mungkin ada kata-kata yang menyakitimu. Tapi lihat Raihan... dia bukti kamu wanita yang layak dicintai dan dihormati.”

Mata Nayla basah mendengarnya.

Malam harinya, di kamar besar tempat mereka tinggal sementara, Nayla menyender di bahu Al.

“Mas... aku nggak papa kok tinggal di rumah ini. Aku juga nggak papa kalau ada yang masih belum bisa terima. Tapi aku cuma minta satu… kamu jangan pernah lepasin aku.”

Al mengusap pipi Nayla yang hangat.

 “Aku bukan cuma akan terus genggam tanganmu… aku akan jadi tamengmu. Karena kamu bukan masa lalumu. Kamu adalah pilihanku, masa depanku.”

Malam itu, mereka tidur dalam kehangatan yang berbeda. Bukan karena kasur empuk atau kamar mewah, tapi karena saling memahami dan bertumbuh. Nayla mulai berdamai dengan ketidaknyamanan, dan Al makin yakin, cintanya pada Nayla bukanlah keputusan yang salah.

Hari ini adalah hari istimewa di kediaman besar keluarga Al Ghazali. Acara khaul untuk mengenang wafatnya kakek Al digelar dengan khidmat. Sejak pagi, para keluarga besar dari berbagai daerah mulai berdatangan. Ruang tamu dipenuhi para habaib, kyai, dan keluarga besar dari jalur nasab sang kakek yang sangat disegani.

Nayla mendampingi Al sejak awal acara. Dengan busana gamis pastel dan khimar panjang, ia tampil sederhana namun memancarkan kedamaian. Raihan, yang digendong oleh Ny. Humaira, menjadi perhatian banyak tamu karena ketampanannya yang mewarisi darah keluarga besar itu.

Doa dan tahlil berlangsung khusyuk. Setelahnya, keluarga besar berkumpul di ruang makan besar. Hidangan khas Arab dan Nusantara berjejer di meja panjang. Di tengah suasana hangat itu, tiba-tiba suara pelan namun tegas terdengar—dari arah ujung meja.

“Ana mau bicara…”

Semua mata menoleh ke Jidah Fatimah, nenek dari pihak ayah Al, yang usianya hampir 80 tahun. Beliau adalah perempuan bijak dan kharismatik yang jarang berbicara kecuali untuk hal penting.

Semua terdiam. Jidah menatap sekeliling, lalu memandang Nayla.

“Hari ini kita mengenang Abahmu, Al. Lelaki yang selalu bilang: ‘Yang paling utama dalam keluarga adalah saling memaafkan dan memelihara cinta.’”

“Nayla…” Jidah menyebut namanya perlahan. “Banyak dari kita yang mungkin belum benar-benar menerima kamu. Tapi dua minggu ini Ana melihat. Kamu mencintai cucu Ana, kamu merawat cicit Ana, dan kamu menjaga keluarga ini dengan caramu. Dan itu cukup untuk Ana.”

Air mata mengalir di pipi Nayla. Ia menunduk, menahan haru.

Tepat saat itu, Hafidzah datang. Cantik, anggun, dan tenang dalam balutan jilbab berwarna biru langit. Semua sempat menoleh padanya. Ia menghampiri dan mencium tangan Jidah, lalu menyalami Nayla dan Al.

"Assalamu’alaikum... maaf terlambat,” ucap Hafidzah sopan.

“Walaikumsalam. Terima kasih sudah datang,” jawab Al, tenang.

Hafidzah menatap Nayla, dan berkata lembut,

"Aku hanya ingin bilang... kamu wanita beruntung. Dan Mas Al… dia sekarang tampak jauh lebih hidup. Itu artinya, kamu adalah jawaban dari doanya yang dulu.”

Nayla tersenyum kaku, namun membalas dengan hati yang jauh lebih tenang.

Acara makan malam pun dimulai kembali. Tapi kini suasananya hangat bukan hanya karena makanan, karena kebersamaan

Acara khaul telah usai. Suasana malam perlahan tenang, hanya suara semilir angin dan denting gelas di dapur yang terdengar. Al sedang duduk di serambi belakang rumah besar itu, ditemani secangkir teh hangat. Pandangannya kosong menatap kebun yang remang-remang diterangi lampu taman.

Tiba-tiba langkah ringan terdengar dari arah belakang.

"Masih seperti dulu… kalau lagi banyak pikiran, selalu menyendiri di serambi ini.”

Suara lembut itu milik Hafidzah. Ia datang dengan pakaian sederhana dan senyum tenang. Al menoleh, tak terkejut, seolah memang menunggu momen ini terjadi.

“Sudah lama ya,” ucap Al pelan.

“Terlalu lama,” jawab Hafidzah sambil duduk di sisi kanan bangku panjang itu.

Keheningan menggantung. Hanya bunyi serangga malam yang mengisi ruang hampa di antara dua orang yang dulu pernah saling mencinta... dan hampir bersatu.

“Masih ingat waktu kecil kita main di bawah pohon kurma di rumah kakekmu?”

“Ingat. Kamu yang selalu menang lomba ngaji, aku yang selalu jadi murid nakal.”

“Tapi kamu yang selalu bikin aku tenang,” gumam Hafidzah lirih.

Mata Hafidzah menatap jauh ke depan. Ada luka lama yang belum selesai, dan pertanyaan yang belum pernah terjawab.

“Kenapa waktu itu kamu nggak mempertahankan aku saat keluarga kita menjodohkan kita?”

“Karena aku tahu... cinta bukan tentang paksaan. Dan saat itu aku baru lulus dari pesantren. Kiai memintaku menikahi Nayla, anak dari Faisal Armand—karena katanya itu takdir dan amanah. Aku bukan siapa-siapa untuk menolak.”

"Padahal kita sudah... direncanakan sejak kecil,” Hafidzah tersenyum getir.

“Dan kamu tahu, aku mencintaimu sejak sebelum aku tahu arti cinta.”

Al menutup matanya. Ada perih yang tak mudah dijelaskan. Dia mencintai Hafidzah dulu... bahkan sempat berencana melamarnya. Tapi hidup dan takdir membawanya ke arah yang tak pernah ia duga.

“Sekarang kamu bahagia, Al?”

“Ya. Sangat. Dengan Nayla… dengan Raihan. Tapi rasa hormatku padamu nggak pernah berubah.”

“Aku tahu,” jawab Hafidzah pelan. “Dan aku bahagia kamu jujur.”

Tangis Hafidzah menetes diam-diam. Bukan karena benci. Tapi karena kini ia benar-benar melepaskan—cinta pertamanya.

“Aku nggak akan ganggu rumah tangga kalian, Al. Tapi terima kasih sudah jujur. Itu cukup buat aku. Aku ikhlas, sungguh.”

Mereka berdiri. Dua orang yang pernah hampir bersatu kini berpisah dalam kedewasaan yang utuh. Saat Hafidzah hendak pergi, Al berkata:

"Kamu akan jadi istri yang hebat untuk laki-laki pilihanmu nanti. Dan kamu tetap bagian dari masa lalu yang membentuk aku.”

Hafidzah tersenyum.

“Dan kamu... adalah kenangan terindah yang akhirnya bisa aku relakan.”

Nayla berdiri dibalik pintu, dia menatap punggung dua orang yang. sangat serasi. " Mereka sangat serasi. sekali. Aku... hanya benalu diantara mereka.."

"Nayla?"gumam pelan Arsyan. Melihat Nayla berdiri dari kejauhan.

Nayla membalikkan tubuhnya berjalan menuju kamarnya. Bersama Raihan yang kini menjadi pelipur lara.

1
Endang Purwaningsih
sudah tamat apa ya ceritanya,kok ngak ada kelanjutannya
Samsiah Yuliana
lanjut lagi cerita Thor 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut Thor...
Menok 06
istrimu bukan suami mu
Aretha Shanum
lama2 membagongkan
Amelia's Story: maksudnya? kaka sudah baca perbab kah?
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
makanya jangan liat dari covernya doang
Nur Adam
lnjut
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kok ada teman kayak gini
Nifatul Masruro Hikari Masaru
jangan liat dari covernya
Nur Adam
lnjut
Nur Adam
lnju
Nur Adam
lnjut
Amelia's Story
iya ka, karena papanya siibuk banget dia percaya sama Al karena putrinya yg. duiu suka clubing sudah berubaah. mendapatkan suami yg. soleh
𝐈𝐬𝐭𝐲
kok orang tua Nayla gak pernah ikutan kumpul ya, dan kayaknya juga orang tua Nayla jarang bgt masuk cerita Thor...
Ismalinda
lanjut dong thor penasaran /CoolGuy/
Ismalinda
Luar biasa
Amelia's Story: Terimakasih ka bintangnya
total 1 replies
Nur Adam
lnjut
Nur Adam
ljuut
𝐈𝐬𝐭𝐲
waduh siapa lagi itu🤔
Nur Adam
lnju
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!