Kehidupan yang semula diharapkan bisa mendatangkan kebahagiaan, rupanya merupakan neraka bagi wanita bernama Utari. Dia merasakan Nikah yang tak indah karena salah memilih pasangan. Lalu apakah Utari akan mendapatkan kebahagiaan yang dia impikan? Bagaimana kisah Utari selanjutnya? simak kisahnya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bicara serius
Utari menoleh, menatap Bian sesaat sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya.
"Aku ga apa-apa, Bi. Cuma bingung aja mau ngomong apa sama kamu."
Mereka berdua tiba di depan pintu ruang kerja papa Tama. Bian berhenti bicara dan mengetuk pintu. Setelah mendengar suara papa Tama, keduanya masuk bersamaan.
"Kalian duduk di situ. Papa mau bicara sesuatu yang serius sama kalian berdua."
Tari segera duduk di sofa, Bian juga dengan santai duduk di samping Utari. Utari sedikit merasa gugup. Kedua tangannya tegap berada di pangkuan. Ia tidak tahu apa yang akan di bicarakan papa Tama. Yang jelas ia yakin ini bukan soal masalah sepele.
Melihat Utari dan Bian duduk di sofa, papa Tama segera bergabung. Beliau duduk di depan keduanya dengan penuh wibawa.
"Jangan tegang, Tari. Rileks saja," ujar papa Tama sambil tersenyum.
Utari mengangguk angguk beberapa kali. "Ya, Pah."
"Tari, hari ini saya panggil kamu karena memang ada hal penting yang ingin saya katakan sama kamu. Ini soal Akmal."
Mendengar nama mantan suaminya disebut, Utari tiba-tiba menegang.
"Di-dia kenapa, Pah?" tanya Utari ketakutan. Dia khawatir Akmal mengetahui keberadaannya dan Nisa.
Bian mengusap bahu Utari. Meski di depan papa Tama, ia tidak canggung sama sekali, menunjukkan kasih dan sayangnya.
"Kamu tenang dulu, Tari. Biar papa selesaikan dulu bicaranya."
Meski awalnya Bian tidak tahu maksud papa Tama memanggil mereka, tetapi begitu papa Tama menyebutkan nama mantan suami Utari, dia tahu inti pembicaraan yang akan diangkat oleh papa Tama.
Bahu Utari yang semula terangkat karena tegang, seketika itu juga langsung merosot. Benar apa yang Bian katakan. Dia tidak boleh terlalu terbawa perasaan takut.
"Sebenarnya Akmal sudah mendekam di penjara, tetapi dia belum menjalani sidang. Rencananya lima hari lagi sidang perkaranya akan di gelar. Bagaimana pun juga kamu akan dihadirkan sebagai korban. Apakah kamu bersedia?"
"Tapi bukankah saat itu masalahnya sudah selesai, Pah?" tanya Utari.
"Kasusnya banyak. Salah satunya kasus KDRT yang kamu alami, papa juga menambahkan itu sebagai salah satu tambahan dakwaan untuknya. Pria seperti itu, pantasnya mendekam di penjara."
"Tapi bagaimana dengan Nisa, Pah? Dia -"
"Tidak akan terjadi apa-apa sama Nisa, Tari. Percayalah. Ada Bian, ada saya, mama kamu dan Dewa. Kami sekarang adalah keluargamu, Bian akan menjadi papanya Nisa. Saya dan mamamu akan menjadi nenek dan kakek Nisa. Saya jamin selagi tidak ada yang menyebut nama ba*ingan itu, saya yakin Nisa tidak akan mengingat keberadaannya."
Utari menatap papa Tama cukup lama. Ada sedikit keraguan yang terpancar dari mata Utari. Papa Tama tahu saat ini Utari sedang butuh waktu untuk menerima semuanya. Bagaimana pun juga dia sudah melewati beberapa tahun bersama Akmal. Ia tidak bisa menerka perasaan Utari terhadap Akmal. Apakah masih ada sisa rasa atau tidak, dia tidak bisa memastikan. Jadi yang terbaik adalah memberi Utari waktu untuk berpikir.
"Bagaimana, Tari apa kamu bersedia?" tanya papa Tama. Utari melipat bibirnya dan lalu mengangguk.
"Ya, Pah."
Setelah persetujuan Utari, terjadi keheningan sesaat. Tak lama papa Tama melirik putranya dan lalu bicara, "Masalah pertama sudah terselesaikan, sekarang papa ingin membicarakan masalah kalian berdua."
Utari menunduk. Telinganya memerah dan tampak kontras dengan warna kulitnya
Bian melirik Utari dengan gemas.