Di zaman sekarang ini adakah laki-laki yang serba bisa? sempurna!
jawabannya di novel kali ini ada!
Dia dijuluki Human Perfect oleh semua orang karena kesempurnaannya. Dia bernama Badai Bagaskara.
Lalu, sesempurna apakah dia?
Baca kisahnya dalam Novel Human Perfect. Dan disarankan bagi yang belum membaca Novel Tafsir Mimpi Sang Inspirator diharapkan membacanya terlebih dahulu, karena novel ini berhubungan dengan itu.
happy reading 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febby Sadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hendak Kabur
Mobil berhenti tepat setelah memasuki gerbang desa yang bertuliskan 'Desa Menyan' yang dimana kanan kirinya tertancap menyan yang bau nya begitu khas. Wewangian khas Jawa, semerbak bau menyan nya memenuhi seluruh suara pedesaan.
Bara, Bintang, Hasbi, Permata, Zainab, Rima dan Shad turun dari mobil milik Hasbi dan Permata, mereka menatap ke sekeliling desa,
"Akhirnya sampai juga!" ucap Hasbi.
"Suasana pedesaan banget." ucap Bintang.
Dan mereka hirup suasana pedesaan, yang seketika menyeruakkan semerbak bau menyan.
"Baunya wangi menyan banget ini desa." ucap Zainab.
Sedangkan Permata berjalan semakin memasuki desa. Tak lama saat itu pula, seseorang keluar dari dalam salah satu rumah yang paling dekat dengan tempat keberadaan mereka memarkirkan mobil mereka.
Seorang laki-laki paruh baya, bersarung khas bapak-bapak jawa, dan berkaos oblong warna putih yang sudah tampak usang hampir tak berwarna putih, tapi menyerupai kekuningan. Menggunakan songkok Jawa. Di pinggangnya terdapat sebilah pisau yang terselip dari balik sarung yang dipakai nya.
"Assalamualaikum....." ucap Permata, menyapa orang itu. Dimana bersamaan dengan Permata mengucapkan salam, ada satu lagi yang keluar dari rumah bapak-bapak itu, dia tampak seperti seorang ibu-ibu, "Itu mungkin istrinya." pikir Permata, kemudian Permata pun berjalan ke arah ibu-ibu itu.
Laki-laki paruh baya itu pun, menjawab salam Permata yang diikuti pula oleh yang lainnya ikutan mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam.... Ada apa perlu apa di desa kami?" tanya laki-laki paruh baya itu. Dengan nada lembut, khas laki-laki paruh baya, namun cukup tegas.
Membuat yang mendengar pertanyaan itu pun, saling tatap. Lalu Bara memutuskan berjalan maju ke depan, berdiri tepat di depan laki-laki paruh baya itu dan menjawabnya.
"Mohon maaf pak.... Kedatangan kami adalah untuk mencari anak-anak kami yang kemarin kesini untuk penelitian." ucap Bara. Lalu Bara menoleh ke belakang arah kirinya.
Dimana disana masih terdapat sebuah mobil yang tampak telah lama terparkir disana, karena debu-debu masih menempel seolah lama tidak dinyalakan itu mobil.
"Itu adalah mobil yang dikendarai anak-anak kami untuk kesini pak...." ucap Bara, sambil menunjuk ke mobil itu.
Tak lama kemudian laki-laki paruh baya itu pun berkata lagi, "Oh itu.... saya kepala adat desa Menyan. Monggo.... silahkan masuk dulu ...." ucapnya. Mempersilahkan kepada tamunya dengan logat khas Jawa nya.
Sedangkan dilihatnya, Permata kini sedang berbincang-bincang dengan ibu-ibu yang diketahui istri dari kepala adat desa Menyan, setelah sang kepala adat berkata.
"Itu rumah saya, dan itu istri saya...."
Kemudian semuanya pun memutuskan untuk berjalan mengikuti Bara dari belakang.
"Setiap orang baru atau tamu yang pertama kali masuk desa Menyan ini, pasti harus menghadap ke saya dulu." ucap kepala adat.
Bara menganggukkan kepalanya, "Jadi anak-anak kami kemarin anda juga yang mengantar untuk melakukan penelitian?" tanya Bara.
"Iya to.... Bukan saya saja. Pas anak-anak muda yang kemarin datang itu kesini, semua warga juga mempersilahkan mereka masuk."
Lalu tak lama setelah itu, keluar lah istri kepala adat dengan membawa nampan berisi cangkir cangkir teh hangat di atas nya.
"Iya... Anak-anak muda itu penelitian di gua ini." sahut istri kepala adat itu.
"Kalau boleh tau, dimana gua desa itu?" tanya Zainab, kemudian. Yang sejak tadi memang sudah tak sabar ingin cepat-cepat bertemu anaknya.
Permata dan Rima ikutan menganggukkan kepalanya, setuju dengan pertanyaan Zainab.
Sambil duduk di salah satu kursi plastik warna hijau, "Oh... Itu habis ini kami bisa tunjukkan kok. Sekarang anda semua silahkan di minum dulu teh nya ....." ucap Istri kepala adat.
...****************...
Sedangkan di hutan laut Kidul, kini semuanya sedang menatap ke telapak tangan masing-masing, "Benar ucapan Faisal!" pekik Ali.
Yang kemudian Badai menyahut, "Tenang semuanya. Kita tidak boleh gegabah hanya dengan kecemasan menghinggapi hati kita. Lebih baik kalau begitu kita cari jalan keluar untuk cepat keluar dari tempat ini!" ucap Badai. Sifat bijak yang diturunkan oleh Bara kepada Badai, selalu dapat menstabilkan keadaan.
"Baiklah ayo ikuti aku!" ucap Najwa. Yang dia sendiri sebenarnya tak begitu yakin hendak bergerak ke arah mana.
"Kalian mau kemana!!!" tiba-tiba satu suara mengejutkan semuanya.
Suara yang di iringi dengan munculnya sang Ratu Roro Kidul!
"Rori Kidul!!" pekik Najwa.
.
.
.
Lanjutannya besok 😘 dikit aja dulu ya readers hehe
apakah punya anak sama umur nya