Arinka adalah gadis desa yang jauh dari kata modern tetapi parasnya cantik hanya saja dia sangat lugu, Perjodohan adalah kata yang paling di benci Renza,
suatu hari sang nenek memilih menjodohkannya dengan gadis desa yang sangat jauh dibawah standar renza.
renza menerima perjodohan dengan terpaksa tetapi dalam hatinya dia berjanji tidak akan ada cinta dan tidak akan pernah ada hubungan intim.
"hanya gadis kampung yang biasa saja apa pantas mendapatkan hartaku dan kenikmatan tubuh ini" ucapnya dengan kesal.
akankah Renza mencintai Arinka seperti yang diharapkan sang nenek?
aku penulis baru, mohon dukung aku ya dengan kritik dan sarat yang sopan 😊
salam sayang dariku buat semua pembaca setiaku 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cha Indhiey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 : Berhenti kerja
Setelah kejadian semalam mereka jadi menjadi salah tingkah, Arinka berusaha menghindar dari Renza. saat sarapan ia berada didapur dan tidak menampakan diri, Renza menyuruh bi Ami memanggilnya untuk sarapan bersama, dengan terpaksa akhirnya ia duduk bersama dimeja makan. mereka berdua terlihat canggung. Arinka memberanikan diri untuk berbicara dan meminta maaf.
"Maaf atas kejadian semalam, Tuan. aku disana hanya ingin bertemu Bu Maria, bukan maksud ingin makan malam dengan Pak Jefran, jika beliau mengajakku pasti aku tolak."
"Hemm." jawaban pamungkas itu terdengar kembali sambil ia mengunyah sarapan.
"Kenapa kau tidak berhenti saja?" ucap Renza datar.
"Baiklah, aku akan berhenti bekerja."
Dia menurut padaku, apa dia benar-benar takut gara-gara semalam aku sentuh makanya ia tidak membangkang. tapi ini sebuah berita bahagia, dia tidak akan bertemu Jefran lagi. Tersenyum tipis.
"Aku berangkat dulu, nanti Deni akan mengantarmu ke restauran itu."
Entah apa yang terjadi dengannya, Tuan Renza jadi lembut begini.
Mulai besok Arinka akan tetap dirumah, menjadi nyonya rumah yang terhormat tanpa harus bekerja. memikirkannya sudah membuat ia bosan sendiri.
Mungkin jika ia bosan, ia akan benar-benar mengikuti kursus masak atau menjahit.
Arinka sudah bersiap pergi ke restauran ingin mengundurkan diri, sebenarnya ia enggan berhenti bekerja, tapi ia tidak ingin ada kesalahpahaman lagi diantara mereka, apalagi sekarang Jefran seperti orang ketiga diantara mereka.
Deni sudah membukakan pintu, Arinka masuk dan duduk di kursi belakang. diperjalanan mereka banyak berbincang.
"Deni, aku ingin tau. kenapa Tuan Renza seperti tidak suka kepada Pak Jefran?"
"Karena Nyonya sudah menanyakan, Aku akan mulai bercerita." panjang lebar sambil Arinka merasa kasian kepada Renza.
"Oh jadi Pacarnya Tuan Renza itu berselingkuh kepada Pak Jefran? Pantas saja Tuan Renza sangat membenci Pak Jefran."
"Ya begitu lah, Nyonya. Pak Renza itu sebenarnya orang yang lembut. hanya saja semenjak tau tentang Jefran dan Sinta pacaran, Beliau mulai berubah menjadi kasar dan jarang tersenyum,tapi akhir-akhir ini Pak Renza rajin tersenyum kok."
"Mmm.. benarkah? kenapa? aku juga merasa sih dia agak berbeda, seperti dirumah sakit kemarin, tapi emosinya itu sering pasang surut."
"Beliau begitu karena sedang jatuh cinta." ucap Deni terkekeh.
"Jatuh cinta? kepada siapa?" wajahnya telah masam.
Nanya pada siapa? dasar sama-sama orang ga peka. apa aku harus jadi Mak comblang agar mereka bisa bersatu, baiklah akan aku lakukan.
"Ya pastinya kepada Nyonya." ucap Deni pelan.
"Ah, kau ini melawak saja. dulu Tuan Renza bilang ia tidak akan menyukaiku, aku masih ingat."
"Itu kan dulu, setiap orang bisa berubah. mengapa Nyonya tidak percaya? Sikapnya sangat lembut akhir-akhir ini dikantor, ia jarang marah-marah. Nyonya bisa buka hati sedikit saja kepada Pak Renza,aku yakin Nyonya pasti tidak akan kecewa."
"Aku takut Den, aku takut tersakiti kedua kali. dulu pertama kali dijodohkan aku sudah membuka hati kepadanya, nyatanya hatiku sangat sakit saat Tuan Renza bilang tidak akan menyukaiku, ditambah lagi ia mengenalkan pacarnya itu kepadaku, hatiku seperti tercabik-cabik."
Arinka diam sejenak dan mengingat kembali kata-kata Renza sewaktu itu.
"*K**amu yang katanya bakalan jadi istri ku, cihh gaya kampungan bikin muak, jangan terlalu berharap cinta dariku, karena aku menerima perjodohan ini terpaksa, aku tidak ingin mengecewakan nenekku*"
Kata-kata itu masih sangat diingatnya, ia sadar bahwa orang seperti Renza ini bagaikan langit dan bumi baginya, Renza yang kaya raya sedangkan ia hanya wanita miskin dari kampung yang udik.
"Tuan Renza bilang, aku kampungan. ia muak melihatku, aku tidak boleh berharap cinta darinya, karena perjodohan kami terpaksa." ucap Arinka Lirih.
"Tapi Nyonya, setiap orang bisa berubah. setiap orang mempunyai kesempatan, siapa yang tidak akan jatuh cinta jika tinggal serumah dan tidur sekamar, kalian kan bukan Gay. jadi wajar jika rasa cinta itu tiba-tiba ada."
"Apakah aku pantas menerima cinta dari Tuan Renza?"
"Sangat pantas, cobalah buka hati dan berbicara, karena kalian ini hanya saling menjaga perasaan masing-masing, kalian berdua terlalu mementingkan ego."
"Baiklah, akan aku coba sekali lagi."
"Satu lagi pertanyaan dari ku, Apakah Nyonya pernah menyukai Pak Renza?"
"Hemm, Siapa yang tidak menyukai lelaki tampan, mapan, tinggi bak artis itu, pesonanya luar biasa. Tuan Renza itu sempurna dimata orang-orang termasuk dimata saya, diluar sifat kasar dan kekanakannya, yah. aku pernah menyukainya." tersipu malu.
Semoga kali ini mereka benar-benar bisa saling mencintai.
"Iya, Pak Renza memang sangat tampan, tidak diragukan lagi,hehe. Maaf aku terlalu banyak bicara." tertawa lepas.
"Haha, ternyata kau bisa juga buka kerja sambilan jadi spesialis cinta." terkekeh.
"Haha, Nyonya bisa aja. Sudah sampai, akan aku buka kan pintu untuk Nyonya."
Deni berjalan membukakan pintu dengan cepat, Arinka turun dengan gugup. Deni masuk berdampingan dengan Arinka. pegawai lain seperti kebingungan menatap Arinka. Risa berjalan menghampiri Arinka dan Deni segera naik keatas keruangan Jefran.
"Kau kenapa kak? hari ini pergi dengan dia? bukannya itu lelaki yang pernah makan disini?" tanya Risa
"iya. Aku akan berhenti bekerja."
"Tapi Kenapa kak?"
"Tidak ada aku hanya ingin istirahat saja."
"Enak ya bisa istirahat, apa kakak mendapat pekerjaan baru?"
"Tidak, aku hanya ingin dirumah saja"
"Wah dirumah saja, Aku iri, aku juga ingin dirumah saja, tapi jika aku tidak bekerja bagaimana aku akan memenuhi hidup ini, jika anak sultan mungkin bisa bicara begitu. jangan-jangan kakak sudah menikah ya? " Risa terkekeh
"Iya, aku sudah menikah."
"Benarkah? jadi lelaki tadi suaminya kakak ya?"
"Haha, bukan. lain kali aku akan mengundangmu makan dirumah suamiku ya."
"Oke, aku tunggu."
"Aku naik keatas dulu ya."
Arinka kemudian naik keatas menyusul Deni, Arinka mengetok pintu dan terlihat Deni duduk dengan menyilangkan kakinya keatas, sedang Jefran terlihat duduk santai. Arinka masuk dan duduk dengan pelan.
tanpa banyak bicara Deni berkata bahwa Arinka akan berhenti kerja, karena Renza tidak suka. Arinka hanya menunduk, Jefran lalu bertanya dengan maksud membenarkan ucapan Deni. Arinka mengangguk dan mengiyakan.
Aku tidak menyangka, orang selembut Pak Jefran ini tega merebut pacar teman akrabnya, tampangnya saja kalem tapi hatinya? huh!
"Apa keputusanmu sudah bulat Arinka?"tanya Jefran sekali lagi.
"Iya Pak."
"Apa kau benar-benar mencintai suamimu?" pertanyaannya menyimpang.
"Maaf, bukannya itu pertanyaan pribadi. anda tidak berhak bertanya seperti itu kepada Nyonya kami." ucap Deni tegas
"Iya, aku sangat mencintainya. Dia suami yang paling aku idamkan." ucap Arinka, sontak membuat Jefran dan Deni terdiam.
Kau sudah benar nyonya.
"Terima kasih atas kebaikan Bapak selama aku bekerja disini."
"Baiklah jika itu keputusanmu, jika kita masih ditakdirkan bertemu, kita bertemu lagi." Uca Jefran melemah sambil menyodorkan amplop yang berisi uang gaji. itu gaji pertama dan terakhirnya. mereka kemudian pamit meninggalkan ruangan itu dan pergi restauran itu.
Baru saja Arinka masuk mobil, seorang kurir bunga datang. Deni dengan cepat menghampiri kurir itu dan menanyakan siapa pengirimnya. kurir itu tidak tau menahu karena toko bunga itu selalu memberikan bunga ini untuk dikirim, Deni menanyakan letak toko bunga itu, ia kan menyelidiki siapa pengirim sebenarnya. Deni masuk kemobil dan memberikan bunga itu kepada Arinka, wajahnya langsung gembira, ia langsung menerimanya. disana terdapat tulisan 'D', Arinka hanya mengernyitkan kening dan kemudian menaruhnya didalam tas.
"Nyonya, karena hari ini Nyonya sudah tidak bekerja lagi. bagaimana kalau Nyonya ikut saya pergi kekantor Fariq Company."
"Tapi Aku takut Tuan Renza akan marah." Berbicara sambil mencium bunga mawar itu.
"Tidak, ayo kita pergi, kita beri kejutan untuknya."
Deni melajukan kendaraannya lumayan deras, Meraka banyak berbincang layaknya teman akrab.ia juga akan mencoba membuka hati untuk Renza. Semoga ini awal yang baik bagi Arinka dan Renza.
****Bersambung...
Jangan lupa vote dan comment ya.
diharapkan comment yang sopan..
yang belum tekan ❤ silahkan tekan, dan jangan lupa beri like jika sudah membaca**
Luv u 😘**