Follow sosmed author
IG:Mia novita23
Tiktok:Miss Mia Novita
Perceraian antara kedua orangtuanya membuat Argantara tidak memiliki hubungan baik dengan ayahnya. bagaikan air dan minyak yang tidak akan pernah bisa bersatu. Ikuti kisahnya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Arga
Pukul dua dini hari. Suasana koridor apartemen sudah sunyi. Arga berdiri di depan pintu unit 12-B dengan kunci duplikat digital yang berhasil diperoleh Bara, orang kepercayaannya, melalui peretasan sistem keamanan gedung.
Jantung Arga berdentum keras, menciptakan gema di pendengarannya sendiri. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menempelkan kartu akses itu.
pip. Lampu indikator hijau berubah. Pintu terbuka dengan suara klik halus.
Arga melangkah masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi oleh lampu temaram di sudut ruang tamu. Bau karbol dan obat-obatan yang tajam langsung menusuk indra penciumannya. sangat kontras dengan kemewahan furnitur di dalamnya. Ia berjalan melewati ruang tengah, langkahnya seringan bulu, menuju sebuah kamar di ujung lorong yang pintunya sedikit terbuka.
Begitu pintu itu didorong sepenuhnya, dunia Arga seakan runtuh seketika.
Di atas tempat tidur medis yang canggih, seorang wanita terbaring kaku. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya jauh lebih kurus dari ingatan terakhir Arga. Berbagai selang infus dan kabel monitor jantung menempel di kulitnya yang tampak transparan. Suara bip... bip... yang monoton dari mesin EKG menjadi satu-satunya musik di ruangan itu.
"Bunda?" suara Arga tercekat di tenggorokan.
Arga mendekat, lututnya terasa lemas. Sosok yang selama ini ia cari, yang ia tangisi setiap malam dalam diam, ada di depannya. Dita, bundanya, wanita yang paling ia cintai, kini tampak seperti raga tanpa jiwa.
Arga tergeletak di samping tempat tidur. Ia meraih tangan bundanya yang terasa sedingin es. Tangis yang selama bertahun-tahun akhirnya bertahan pecah tanpa suara. Bahunya berguncang hebat.
"Bunda... ini Arga," bisiknya lirih dengan suara serak yang hancur. "Kenapa Bunda ada di sini? Kenapa mereka menyembunyikan Bunda dari Arga?"
Mata Arga kemudian teringat pada catatan medis yang tergantung di ujung tempat tidur. Ia membaca dengan napas berburu. Koma berkepanjangan akibat trauma kepala berat... Pengawasan ketat di bawah perintah keluarga Hermawan dan dr. Regan.
Amarah yang luar biasa kini bercampur dengan rasa sakit yang tak terperikan. Selama ini, saat ia hidup seperti orang gila mencari keberadaan bundanya, orang-orang terdekatnya, sahabatnya, ternyata menyekap bundanya di sini dalam kondisi sesak.
“Mereka mempermainkan ku,” desis Arga, matanya berkilat tajam di balik air mata yang masih mengalir. "Mereka membiarkanku menderita, sementara mereka menyimpan Bunda seperti rahasia."
Tepat pada saat itu, terdengar suara langkah kaki di luar apartemen dan suara kunci pintu yang diputar. Arga tersentak. Ia tahu itu pasti Chandra atau Om Regan yang kembali untuk memeriksa kondisi Dita.
Arga tidak bergerak. Ia justru berdiri tegak di samping tempat tidur bundanya, membelakangi pintu, menunggu aura gelap yang mengancam seluruh tubuhnya. Ia tidak akan lari lagi.
Pintu kamar terbuka. Chandra masuk sambil membawa tas kecil, ia tampak terkejut melihat lampu kamar yang lebih terang dari biasanya.
"om, aku rasa kita harus menaikkan dosisnya—" Kalimat Chandra terhenti total. Ia membeku di ambang pintu saat melihat sosok tegap tinggi yang berdiri di kegelapan.
Arga berbalik perlahan. Wajahnya yang basah oleh air mata namun dipenuhi amarah murni membuat Chandra mundur terkejut karena ketakutan.
“Jelaskan padaku, Chandra,” suara Arga terdengar sangat tenang, namun itu adalah ketenangan sebelum badai besar menghancurkan segalanya. "Jelaskan kenapa ibuku ada di sini sebelum aku menghancurkan gedung ini dan semua orang yang ada di dalamnya."
Chandra menjatuhkan tas kecil yang dibawanya. Bunyi dentang botol obat yang beradu dengan lantai marmer menjadi satu-satunya suara yang memecah ketegangan. Wajah Chandra pucat pasi, matanya bergetar menatap Arga yang tampak seperti malaikat maut di bawah lampu temaram.
"Ga... dengerin gue dulu," suara Chandra bergetar hebat. "Ini nggak kayak yang lo pikirin."
“Ngak kayak yang gue pikirin?” Arga melangkah maju, mencengkeram kerah baju Chandra dan menyentakkannya hingga punggung sahabatnya itu menghancurkan kusen pintu. "Bunda gue berbaring di sini penuh kabel, dan lo sahabat gue sendiri pura-pura nggak tahu apa-apa selama bertahun-tahun! padahal lo tau betapa hancurnya gue selama ini. Sejak kapan, Chan?! SEJAK KAPAN?!"
"SEJAK KECELAKAAN ITU, ARGA!" teriak Chandra kecewa, air mata mulai menggenang di matanya. "Sejak malam di mana semua orang bilang Bunda lo tewas dalam ledakan mobil! papi sama mami gue yang nemuin dia di jurang bawah jembatan, masih bernapas tapi kondisinya lemah"
Cengkeraman tangan Arga sedikit melonggar, namun matanya tetap tajam menuntut penjelasan.
"Kenapa nggak kasih tahu gue? Kenapa harus disembunyiin?!"
Chandra mengatur napasnya yang tersengal. "Karena kalau saat itu dunia tahu Bunda Dita masih hidup, Marta bakal mastiin Bunda lo bener-bener mati di rumah sakit, Ga! Lo tahu gimana gilanya Marta dan gimana caranya Papa lo, Adrian, buat nutupin skandal kecelakaan itu!"
Chandra menyeka air matanya yang kasar. "Waktu itu lo masih terlalu muda, lo emosional. Kalau lo tahu Bunda masih hidup, lo pasti bakal samperin dia setiap hari, dan itu bakal narik perhatian Marta. papi gue dan Om Regan mutusin buat mematikan identitas Bunda Dita demi keselamatannya sendiri. Ini satu-satunya cara supaya Marta berhenti nyari dia buat disingkirkan."
Arga terdiam, napasnya memburu. Ia menoleh kembali ke arah Bundanya yang masih terpejam tenang.
"Selama ini... dia di sini?" tanya Arga lirih.
"Nggak , kami pindah-pindah tempat setiap kali posisi kami tercium orang-orang Marta. Baru bulan lalu kami berani membawa ke apartemen ini karena pengamanannya ketat, jelas Chandra. sebelumnya bunda Lo dirumah gue" ucap Chandra dan membuat Arga tersenyum getir.
"Rumah Lo? tempat yang sering gue datengin?" Arga menertawakan kebodohannya sendiri.
"Om Regan ngerawat Bunda lo secara rahasia. Semua biaya medis ditanggung Ayah gue tanpa lewat asuransi supaya nggak terlacak."
Chandra mendekat, memberanikan diri menyentuh bahu Arga. "Kita semua menunggu waktu yang tepat, Ga. Tapi kondisi Bunda nggak pernah stabil. Om Regan bilang, ada benturan di otaknya yang bikin dia nggak bangun-bangun. Kami takut kalau lo tahu, lo bakal hancur ngelihat dia kayak gini."
Arga melepaskan tangan Chandra dari bahunya. Ia merasa seperti dikhianati sekaligus diselamatkan oleh ringkasan yang sama.
“Kalian salah,” ucap Arga dingin. "Dengan nyembunyiin ini, kalian biarin gue hidup dalam neraka selama bertahun-tahun."
Arga berjalan kembali ke sisi tempat tidur, mengusap dahi Bundanya dengan lembut. "Tapi sekarang semuanya berubah. Gue gak akan biarin siapa pun nyentuh Bunda lagi. Termasuk kalian, kalau kalian coba-coba halangin gue."
“Lo mau ngapain, Ga?” tanya Chandra cemas.
Arga menatap Chandra dengan mata yang kini memenuhi tekad yang berbahaya. "Marta mau main-main dengan pertunangan gue? Dia mau harta Adrian? Oke. Gue bakal kasih dia pertunjukan yang nggak akan pernah dia lupain. Tapi pertama-tama... pindahkan Bunda ke tempat yang hanya gue yang tahu."