Rumah boneka yang selalu dimainkan oleh gadis kecil bernama Mariana merupakan malapetaka bagi sang sepupu, Lucas Nova dan sang adik, Keane Nova.
Kejadian itu dimulai saat keduanya diminta oleh paman dan bibi mereka untuk menginap selama liburan sekolah dan menemani sang gadis kecil bermain.
Liburan untuk menemani Mariana berubah menjadi bencana karena teror dari rumah boneka kecil dan makhluk halus yang mencoba membunuh mereka.
Apakah liburan itu akan menjadi hari kematian ketiganya yang harus terjebak dengan teror dan kutukan dari rumah boneka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayano Kaname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Menemui Pendeta bag. 1
Wanita itu, Ibu Agatha terlihat bingung dan panik setiap anaknya berkata untuk menolong Mariana. Padahal dia sendiri tidak mengenal siapa anak yang dibawa oleh Agatha.
“Agatha, apa yang terjadi? Kemana kamu pergi kemarin? Apa kamu menginap di rumah temanmu?”
“Ibu sama sekali tidak tau dimana kamu berada kemarin dan sekarang kamu bilang–”
“Ibu, aku tidak berbohong! Ceritanya panjang tapi kami tidak bisa mengatakannya! Ibu harus bantu kami mencari pendeta atau siapapun yang bisa mendoakan orang yang mati atau kakak Mariana akan–”
-Creeek
Betapa paniknya kedua gadis kecil itu begitu mendengar suara pintu terbuka dari sisi samping mereka. Itu adalah pintu yang terhubung ke ruangan lain, entah ruangan apa itu, yang jelas tempat itu masih berada di rumah Agatha, terlihat normal dan belum menunjukkan tanda bahaya apapun.
Kedua gadis kecil itu langsung memeluk erat wanita yang merupakan Ibu Agatha sambil gemetar.
“Kalian kenapa?!” wanita itu jadi terlihat khawatir saat kedua gadis kecil itu memeluk mereka dengan tangan gemetar, sangat erat dan tampak ketakutan.
Mariana sendiri tampak sangat emosional sampai-sampai menjatuhkan rumah bonekanya dan mulai menangis.
“Huwaaa! Hiks…Lucas, tolong Lucas dan Keane…hiks…”
“Si–siapa itu?!” Agatha sendiri sangat panik.
Sang ibu menengok ke arah pintu yang perlahan terbuka dan itu adalah sosok pria dewasa yang baru saja tiba.
Pria tinggi dengan kemeja putih santai dan celana bahan berwarna biru datang dan cukup terkejut dengan apa yang dilihatnya.
“Um, sayang? Oh! Agatha! Kamu sudah pulang, nak?”
“...!!”
Pria itu terlihat begitu terkejut. Pasalnya sang anak tampak ketakutan dan ada anak kecil manis lain yang menangis. Bukan hanya itu, mereka kotor. Namun kotor yang dimaksud di sini cukup membuatnya syok.
Warna pakaian mereka merah, ada aroma menyengat seperti bau amis atau semacamnya. Ada tanah dan di lantai sekitar mereka pun tampak basah. Cairan itu terus mengalir dan pria itu sendiri tampak sama takutnya dengan mereka.
“Apa yang terjadi? Dari mana…air merah itu berasal?”
Sang istri yang masih memegangi kedua gadis kecil itu terlihat bingung sekarang, “Apa? Air merah apa yang–”
Namun tidak butuh waktu lama sampai dirinya melihat banyak genangan cairan merah yang semula tidak ada.
“Apa itu?! Dari mana asalnya! Kalian terluka?!”
Agatha melihat ke arah bawah dan dia langsung berteriak, “Kenapa keluar lagi?! Kenapa darahnya muncul lagi!?!”
Dia seperti akan menangis dan Mariana yang menyadari banyaknya darah aneh keluar dari rumah bonekanya mulai terlihat gemetar dan menangis semakin keras.
“Tidak!! Lucas…Lucas!!! Hiks…tolong mereka! Aku mohon tolong mereka!!”
Kedua gadis itu menangis dan semakin keras, membuat kedua orang dewasa itu semakin bingung dan takut. Mereka membawa keduanya ke ruang tamu dengan banyak cemilan dan tidak ada satupun yang ingat untuk membawa rumah boneka kecil itu bersama mereka.
Keduanya sangat ketakutan di ruang tamu dan terus menangis, merengek dan meminta tolong pada kedua orang dewasa yang ada di depan mereka saat ini.
“Aku mohon, ayah dan ibu harus percaya padaku! Kami sedang diteror dan sekarang kakak Mariana sedang dalam bahaya! Kalian harus mencari pendeta dari gereja sebelah!”
“Agatha, mama tidak mengerti apa yang kamu katakan dan kemana kamu menginap kemarin? Kamu bilang ingin bermain kan?”
Agatha sama sekali tidak menjawab dan malah bertanya balik, “Dimana rumah boneka Mariana?”
“Apa?”
“Rumah bonekanya! Itu penuh dengan hantu! Kenapa bisa keluar darah lagi setelah semuanya!”
Selesai berteriak dengan pakaian kotornya, dia berlari ke belakang lagi untuk mengambil rumah boneka itu sendirian. Sang ibu sama sekali tidak bisa menghentikan anaknya untuk berlari sendirian, “Agatha!!”
Si kecil tidak mendengarkan teriakan sang ibu dan kini kedua orang tua itu harus menghadapi Mariana kecil yang masih menangsi.
“Dilihat dari pakaiannya, gadis kecil ini memang seperti…baru menghadapi hal buruk. Tapi kenapa ucapan mereka berdua seperti sangat serius?”
“Terlebih lagi bagian dimana harus menemukan pendeta katanya. Apa yang dialami mereka semua?”
Ayah dari Agatha bertanya baik-baik pada Mariana kecil, “Apa kamu terluka, gadis kecil? Kamu teman Agatha?”
“Hiks…”
Mariana tidak menjawab dan hal itu semakin membuat keduanya bingung. Saat langkah kaki kecil mulai terdengar semakin jelas, Agatha langsung berteriak, “Tidak!!”
“...!!!”
“Agatha!!”
Kedua orang tuanya semakin panik dan saat gadis kecil mereka kembali membawa rumah boneka Mariana, dia semakin panik dan penuh dengan air mata.
“Makhluk jahatnya mulai menyerang kakak Mariana!”
Agatha membawa rumah bonekanya ke dekat orang tuanya yang panik dan lihat bagaimana mereka bereaksi melihat rumah boneka milik Mariana yang mengeluarkan banyak darah dan cairan berbau amis berwarna putih kekuning-kuningan.
“Apa ini!!”
“Apa-apaan mainan ini! Buang itu, Agatha!!”
Mariana langsung bangun dan berteriak dengan air mata, “Itu milik Mariana! Semua bisa mati!”
Agatha langsung menceritakan semua yang dialaminya, kengerian yang tidak bisa diingatnya sampai akhirnya dia membuka mata dan telah ada di luar halaman kediaman keluarga Nova, keanehan dari rumah mainan milik Mariana dan pesan yang dikatakan oleh paman Edwin, semua diceritakan oleh Agatha.
Mariana kecil tidak sanggup menceritakan semua teror itu dari awal namun dia selalu mengulangi bagian yang sama.
“Lucas dan Keane…hiks…mereka akan mati jika tidak ditolong…”
“Hiks…tolong selamat mereka!!”
Ingin menyangkal semua ini namun benda yang dipegang oleh sang putri menjadi bukti nyata. Terlebih, ada momen dimana sang ibu melihat dengan jelas adanya boneka mengerikan yang tiba-tiba muncul sendiri di dalam salah satu ruangan saat dirinya memberanikan diri untuk mengintipnya sedikit.
“Kyaaaa!! Ada…ada boneka lain! Apa itu!”
Agatha dan Mariana langsung melihatnya sendiri dan benar, ada boneka asing lain dan kali ini seperti sosok perempuan. Tampaknya di dalam rumah keluarga Nova, Lucas dan Keane sedang mengalami hal yang mengikis keberuntungan mereka.
Ayah Agatha tidak tinggal diam dan setelah mendengar banyak hal aneh yang tidak masuk akal, dia setuju untuk membantu.
“Kita ke tempat pendeta Johan. Seharusnya beliau ada di rumahnya. Ini mungkin sesuatu yang disebut dengan kekuatan roh jahat. Ayah akan mengantar kalian!”
“Sayang, cepat siapkan air hangat dan baju baru untuk anak-anak itu dan kita pergi menemui pendeta Johan sekarang!” ucap ayah Agatha.
Sang istri langsung mengajak mereka bergegas. Ingin rasanya Mariana membawa rumah bonekanya namun dia tidak melakukannya. Rumah boneka itu berada dalam pengawasan ayah Agatha.
Dia sendiri bersiap membawa senapan dan dimasukkan ke dalam mobil bersama rumah boneka milik Mariana yang masih mengeluarkan darah dan aroma amis.
“Ini masalah. Apa ini benar-benar kutukan?” gumamnya pelan. Antisipasi lain yang terpaksa dilakukannya adalah memasukkan rumah boneka itu ke sisi bagasi paling belakang setelah dimasukan dalam kardus besar terlebih dahulu.
Mungkin karena tidak ingin berlama-lama, kedua gadis kecil itu juga tampak terburu-buru. Untuk apa memakai pakaian bagus yang mencolok. Sekarang ini, mereka sedang bertaruh dengan waktu dan hanya ini kesempatan terakhir mereka saat bertemu dengan orang dewasa.
Keduanya tampak lari begitu selesai mengganti pakaian mereka dan ibu Agatha sendiri ikut dengan mereka.
“Sayang, kita pergi sekarang!” ucapnya begitu tiba di mobil bersama dengan kedua gadis manis itu.
“Semoga…semoga semua ini memang jalan yang ditunjukkan untuk menolong kakak dari Mariana.”
Mereka segera pergi dengan mobil menuju rumah pendeta yang dimaksud.
**
Sementara kedua gadis kecil itu mencari bantuan, di saat itu Lucas dan Keane harus bertaruh untuk keluar dengan usaha mereka sendiri bersama Edwin yang terluka.