Kata siapa lahir di keluarga tentara itu menyenangkan? Tidak sama sekali!
Aku, Anjali Geraldyn ingin sekali kabur dari rumah karena peraturan ketat yang ada di dalam rumah.
Bahkan aku harus menikah dengan seorang tentara yang usianya jauh dariku! Aku benar-benar membenci hal ini!
Apakah lambat laun Anjali akan mencintai suami tentaranya itu?
Cerita ini di buat hanya untuk penghibur semata, tidak ada niat untuk menyinggung orang, pangkat dan pekerjaan sama sekali✌🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khintannia Viny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
APA BEDANYA DOKTER BEDAH DAN DOKTER ANAK?
Di sebuah cafe di taman kota, Claudia duduk di meja yang sudah dia pesan untuk bertemu dengan Ajeng.
Tidak lama menunggu akhirnya Ajeng datang sambil menyapa Claudia dengan ramah.
“Hai Clau, gimana gimana?” tanya Ajeng sambil duduk di hadapan Claudia.
Claudia tidak membalas sapaan Ajeng, dia memberikan tatapan kesal kepada Ajeng membuat temannya itu merasa heran.
“Kamu kenapa ngeliat aku kaya gitu? Ada apa?” tanya Ajeng.
“Kamu udah bohong sama aku Jeng!” ucap Claudia.
“Bohong gimana Clau? Aku ga pernah bohong apa-apa sama kamu kok.” Balas Ajeng kebingungan.
“Kamu punya anak kembar?” tanya Claudia yang membuat Ajeng terkejut.
“Loh, kamu kok tau kalo aku punya anak kembar? Aku kan ga pernah cerita.” Balas Ajeng.
“Jadi kamu beneran punya anak kembar perempuan Jeng?” tanya Claudia yang di balas anggukan oleh Ajeng.
“Iya, aku emang punya anak kembar, Arumi dan Arsena.”
“Kamu ga tau apa yang udah mereka lakuin ke anakku?” tanya Claudia yang semakin membuat Ajeng kebingungan.
“Mereka? Maksudnya anak-anakku? Apa yang mereka lakukan?”
“Mereka sudah membohongi anakku, salah satu anakmu berpura-pura menjadi kembarannya dan akhirnya mereka membohongi putraku!” balas Claudia.
“Apa!?” ucap Ajeng yang terkejut.
Dia sama sekali tidak tahu menahu tentang hal itu, dia merasa tidak enak dan malu kepada Claudia karena anak-anaknya sudah membuat ulah.
“Ya ampun Clau, aku benar-benar tidak tahu kalau anak-anakku berbuat seperti itu, maaf ya Clau, aku akan memarahi mereka nanti!” ucap Ajeng dengan rasa bersalah.
“Sudahlah, kamu juga tidak tahu tentang rencana mereka, anak-anak kita sudah besar, tidak seenaknya bisa kita marahi kalau berbuat salah, aku hanya penasaran kenapa kamu ga cerita kalo kamu punya anak kembar?” tanya Claudia.
“Karena yang pantas bersanding dengan putramu hanya Arsena, Arumi adalah perempuan yang susah di atur.” Ucap Ajeng yang seketika menjadi kesal saat menceritakan Arumi.
“Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu tentang anakmu sendiri Ajeng? Maksud kamu Arumi tidak pantas bersanding dengan Arnold ku?” tanya Claudia.
“Ya, Arumi hanya seorang dokter anak Clau, sedangkan Arsena adalah ahli bedah dari kampus ternama, Arumi tidak pernah mendengarkan aku untuk mengambil jurusan ahli bedah, tidak seperti Arsena yang selalu menuruti apa yang aku katakan.” Jelas Ajeng.
Mendengar ucapan sahabatnya membuat Claudia tidak percaya, bagaimana bisa temannya ini mengatakan hal seperti itu tentang anaknya sendiri.
“Bukankah kamu seorang dokter Ajeng?” tanya Claudia.
“Ya, aku dokter bedah, sama seperti kamu Clau, bedanya kamu belajar kembali dan mengambil jurusan saraf, sedangkan aku hanya bedah umum biasa.” Jelas Ajeng.
“Lalu? Apa bedanya dokter bedah dengan dokter anak? Apa dokter anak bukan dokter?”
“Tentu saja dokter, tapi itu berbeda dengan dokter bedah Clau, pertama dokter bedah akan di pandang jauh lebih baik dan di hormati, penghasilannya juga lebih besar dari pada dokter anak bukan? Kasus yang mereka miliki juga berbeda.”
“Kenalkan aku dengan Arumi.” Ucap Claudia tiba-tiba membuat Ajeng menghentikan kata-katanya dan langsung menoleh ke arah Claudia.
“Maksud kamu?”
“Aku mau bertemu dengan Arumi.”
“Kenapa Clau? Arsena adalah yang terbaik untuk anakmu.”
“Aku bilang aku ingin bertemu dengan Arumi Ajeng!”
“Aku tidak perduli apa pekerjaan calon istri anakku nantinya, karena setelah menikah mereka akan menjadi tanggung jawab putraku!”
“Mungkin aku sangat pemilih saat memilih calon suami putriku karena setelah menikah putriku akan menjadi tanggungan suaminya, jika tidak mapan nasib putriku yang akan di pertaruhkan.”
“Tapi aku tidak perduli jika putraku mendapatkan istri yang pengangguran sekali pun, selama perempuan itu memiliki sifat yang baik dan bisa membuat putraku menyukainya, itu tidak masalah.” Jelas Claudia panjang lebar.
“Jadi, biarkan aku bertemu dengan Arumi dan Arsena secara bersamaan, aku hanya ingin mengobrol dengan mereka, tapi bukan berarti aku akan memilih salah satu dari putrimu, aku hanya ingin menasehati mereka dan menerima permintaan maaf dari mereka.” Ucap Claudia yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar cafe meninggalkan Ajeng.
Ajeng benar-benar kesal dengan semua kenyataan yang baru saja dia ketahui, anak-anaknya benar-benar sudah membuatnya malu.
Dengan segera Ajeng menghubungi Arsena, anak kesayangannya.
“Halo mom..” ucap Arsena saat mengangkat telfon dari Ajeng.
“Mama kecewa ya sama kamu Sena!” ucap Ajeng tiba-tiba membuat Arsena merasa bingung.
“Kecewa? Kenapa mom? Sejak kapan Sena buat mama kecewa?” tanya Arsena.
“Sejak saat ini! Bagaimana bisa kamu menyia-nyiakan kesempatan yang udah mama kasih buat kamu sih?”
“Kesempatan apa sih mom?”
“Udah! Pokoknya kamu dan Arumi harus berkumpul di rumah sekarang juga!” tegas Ajeng.
“Sena udah di rumah sejak tadi mom, kalo Rumi ga ada, kayaknya dia masih di rumah sakit.” Ucap Arsena.
Mendengar ucapan Arsena membuat Ajeng menghela napas panjang lalu mematikan telfonnya begitu saja dan langsung menghubungi ponsel Arumi.
“Halo ma?” ucap Arumi dengan lembut.
“Kamu di mana Arumi!?” tanya Ajeng dengan ketus.
“Di rumah sakit ma.”
“Pulang ke rumah sekarang juga!”
“Ada apa ma? Rumi masih banyak pasien ga bisa di tinggal gitu aja.”
“Apa yang ga bisa di tinggal? Sebanyak apa pasien kamu di bandingkan sama Sena? Dia udah nunggu di rumah, pokoknya mama mau bicara sama kamu dan Sena!”
Tut,, tut,, tut.. baru saja Arumi mau membalas ucapan mamanya, mamanya malah mematikan ponselnya membuat Arumi menghela napas panjang.
“Kenapa mama bandingin kerjaan Sena sama Rumi sih? Tentu aja beda, karena Sena ga pernah menangani pasien serius semenjak dia lulus!” gumam Arumi sambil menatap ponselnya yang sudah mati.
Arumi menaruh kembali ponselnya di atas meja kerjanya, lalu dia beralih menoleh ke arah perawat yang menjadi asistennya.
“Pasien saya masih banyak ya sus?” tanya Arumi.
“Masih sekitar tujuh orang lagi dok, mau saya suruh dokter lain untuk gantikan dokter?” tanya perawat tersebut yang mendengar pembicaraan Arumi dan mamanya tadi.
“Jangan, kasihan dokter lain juga ingin istirahat, biar saya yang selesaikan.” Ucap Arumi yang di balas anggukan oleh perawat itu.
Arumi memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu dan menghiraukan perintah mamanya yang menyuruhnya untuk pulang.
Walaupun nanti dia akan kena omelan dari mamanya, Arumi tidak perduli karena dia sudah kebal dengan semua omelan mamanya itu yang hampir setiap hari dia dengar.
Kalau bukan karena papanya yang tidak mengijinkan, sebenarnya Arumi ingin sekali keluar dari rumah itu dan ingin membeli apartment sendiri.
Untung saja mental dan telinga Arumi kuat, kalau tidak, mungkin saja dia sudah gila sejak lama.
Saat ini yang dia utamakan adalah para pasiennya, dia ingin professional mengerjakan pekerjaannya, sedangkan mamanya? Arumi tahu mamanya hanya melebih-lebihkan saja, walaupun tidak begitu penting, Ajeng akan mengatakan itu penting dan membuat kehebohan.
Ini visual Arumi dan Arsena yaaa, author emang ambil foto satu orang karena di cerita ini mereka memang kembar identik..
Arumi, cantik, baik hati, dan lembut.
Kalau yang ini Arsena, cantik, seksi, arogan.