SEASON 1
Bagaimana rasanya ketika tiba tiba kamu di jodohkan dengan seorang lelaki yang ternyata adalah Saudara sepupu Mantan kekasihMu?
Mungkin tidak masalah mereka bersaudara,tapi yang menjadi masalah adalah,kamu belum benar benar bisa melupakannya.
-
SEASON 2
Kebersamaan yang berlangsung lama, dalam atap yang sama. Nyatanya menumbuhkan cinta bagi adik kakak yang tidak memiliki hubungan darah
Daren dengan Syan
Meski usia mereka terpaut empat tahun, nyatanya Daren tidak memperdulikan hal itu, ia jatuh cinta pada kakaknya. Syan.
Dan berusaha keras untuk mendapatkan cinta sang Kakak meski ada pria lain yang dijadikan gadis itu sebagai pilihannya. Bukan Daren, tetapi pria pilihan orang tuanya yang berhasil membuat Syan berpaling dari Daren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Yulian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Pindah
*
Juan dan Carra berjalan menuruni anak tangga dengan tangan yang saling berpegangan. Nampak di meja makan sudah ada Syan dan Abram
Sepertinya dia baru pulang lagi ke mansion, karena sudah dua hari ini Carra tidak melihatnya berkeliaran di sekitaran mansion
Juan melepaskan pegangan tangannya dengan Carra begitu ia melihat ada Abram. Sekedar untuk menjaga perasaan saudaranya. Lalu ia cepat turun dan menghampiri Abram di meja makan
"Kau pulang?" Tanya Juan, berbasa basi. Kemudian duduk si posisinya dan juga menarik satu kursi untuk Carra, disampingnya
"Tentu saja. Ada yang merindukanku disini" Abram menyahut cuek. Membuat Juan dan Carra justru mematung tidak mengerti
Siapa yang merindukannya?
"Syan, kau merindukanku bukan?" Abram yang menyadari keanehan dari wajah Juan dan Carra lantas segera memberi jawaban
"Ya, tentu saja Uncle" Syan menyahut girang, yang diikuti senyum oleh Juan yang perasaannya terasa tenang
"Oh yah. Tadi Om mengabariku, dia akan sampai disini besok" Sahut Abram
Juan mengangguk
"Kebetulan juga, memang ada yang ingin aku bicarakan dengan mereka" Juan menyahut setelah mengunyah makanannya
Sedangkan Carra, ia hanya selalu menjadi pendengar yang baik saat Juan dan Abram mengobrol. Ia takut malah salah berbicara nanti jika ikut menimbrung
"Dad" Dan suara dari Syan akhirnya membuat ketiga orang yang ada di meja makan itu menoleh pada sumber suara
"Kenapa Syan?"
"Apa malam ini aku boleh tidur denganmu?"
"Dengan Mom juga?" Tanyanya dengan polos dan penuh harap. Hampir saja membuat Juan tersedak. Apa selanjutnya rencana malam pertamanya dengan Carra harus tertunda lagi, karena Syan?
"Momy" Syan menatap Carra penuh harap, sedangkan Carra hanya melirik pada suaminya
"Mm, Syan memang kenapa kau ingin tidur dengan Dady mu?"
"Kau sudah besar Syan"
"No Uncle. Momy bilang aku ini masih kecil" Sahut Syan dengan polos
Carra menyentuh lengan Juan, Juan yang mengerti akhirnya hanya mengangguk pasrah. Sepertinya Carra memang lebih senang jika menuruti apa keinginan Syan dari pada dirinya, fiuh!
"Boleh Syan" Sambungnya yang langsung mendapat cengiran bahagia dari sang putri
"Sepertinya aku tidak bisa membantu jika malam ini kalian terganggu" Abram yang mengakhiri makannya lantas beranjak dengan dua tangan yang terangkat, meledek Juan yang gelisah
"Sialan kau!" Umpat Juan yang langsung mendapat sikutan dari Carra
Disana ada Syan, seharusnya Juan tidak sembarangan berbicara kasar
"Maaf" Sahutnya kemudian dengan pelan. Syan masih melanjutkan makannya
*
Malam sudah semakin larut, Syan sudah tertidur sedari tadi di tengah tengah Juan dan Carra. Sedangkan kedua orang tuanya masih terjaga dengan bersandar pada kepala ranjang
Juan sibuk mengotak atik laptopnya, sedangkan Carra hanya mengusap rambut Syan. Menatap putri kecilnya yang amat pulas tertidur
"Tidurlah Carra" Sahut Juan akhirnya, begitu mendapati sang istri yang masih terjaga
"Aku akan tidur, kalau kau juga tidur" Sahut Carra, tatapannya tidak beralih dari wajah damai Syan
Juan yang semula hanya menatap layar laptop, kini menoleh pada Carra. Melihat keseriusan di wajah istrinya dengan apa yang tadi di katakannya, lantas Juan menutup laptopnya
"Sudah selesai?" Tanya Carra begitu melihat Juan yang menyimpan laptopnya
"Sudah, atau kau tidak akan tidur nanti" Katanya sambil membenarkan letak bantalnya, lalu mencari posisi nyaman
Carra mengernyit, tidak begitu mengerti dengan ucapan suaminya
"Aku tidak akan selesai dalam dua jam, dan kau akan menungguku?"
"Hmm"
"Maka kau tidak akan tidur" Sahut Juan
Carra menatapnya, kemudia hanya tersenyum. Ternyata sehangat ini mencintai seorang Juan Zhucarlos?! Carra tidak pernah menyangka sebelumnya
"Carra"
"Hmm"
"Aku sudah memutuskan untuk kita pindah dari mansion ini" Sahut Juan
Carra diam, mendengarkan. Sebenarnya, Juan sudah cukup lama merencanakan ini. Namun mengingat beberapa hari yang lalu ia dan Carra sempat bertengkar, akhirnya Juan mengurungkan niatnya untuk membicarakan hal ini dengan Carra
"Ke luar kota?" Tanya Carra. Ia seperti tidak terkejut dengan keputusan Juan
"Tidak. Hanya saja, sedikit jauh dari mansion ini"
"Kenapa kita harus pindah?" Tanya Carra
Juan menatapnya
"Aku setuju kita pindah, tapi kenapa kau ingin kita pindah?" Tanya Carra yang melihat ada keanehan pada ekspresi Juan
"Tidak apa apa. Aku hanya ingin kita mandiri saja" Jelasnya, Carra mengangguk. Berfikir sama dengan Juan
"Apa kau tidak keberatan?"
"Tentu saja tidak, aku akan menyetuji rencana mu itu"
Juan mengangguk puas mendengar pernyataan Carra. Artinya Juan tidak perlu berdebat untuk membahas masalah ini dengan sang istri
"Apa kita akan membawa Syan?" Tanya Carra, ia jelas akan kesepian jika saja Syan tidak ikut pindah dengannya nanti
"Apa dia tidak akan mengganggu?" Sontak saja tatapan Carra tertuju pada Juan yang seperti kebingungan dengan ekspresi Carra sekarang
"Mengganggu?"
"Kau bercanda? Tentu saja tidak!"
Dia akan mengganggu kita setiap malam, Carra!
"Juan"
"Hey"
Carra melambaikan tangannya di depan wajah Juan
"Terserah dia" Putus Juan
"Maksudmu? Apa dia tidak ingin ikut dengan kita?"
"Aku tidak tau. Aku sudah biasa meninggalkannya Carra, jadi dia sudah terbiasa tidak denganku"
"Dia hanya akan menggangguku jika sudah lama tidak bertemu denganku. Dia akan terus menelponiku dan merengek meminta aku untuk pulang"
"Yah, dia keras kepala" Cerocos Juan, seolah mengadukan kelakukan Syan pada Carra
"Sama seperti mu" Carra menyahut yang membuat Juan seketika terdiam dan menatap penuh selidik padanya
Carra yang di tatap seperti itu oleh Juan lantas mengerutkan dahinya
"Apa?" Tanya Carra dengan polosnya
"Kau juga keras kepala kan Juan!" Tuduh Carra tanpa memperdulikan perasaan Juan
"Kau memancing ku Carra?" Tanya Juan
Ia menyibakan selimutnya dan bangkit hendak mendekati Carra
"Juan"
Juan merangkak hendak melewati Syan yang berbaring menjadi pembatas antara dirinya dengan Carra
"Juan, nanti Syan bangun" Sahut Carra dengan suara yang pelan
"Kau yang memancingku"
"Hey memangnya kau ikan?!"
"Carra!"
"Juan!!!"
Juan berhenti, menatap Syan yang pulas tertidur, lalu kembali di posisinya. Mengalah dan membuat Carra mampu bernafas lega
"Apa aku pindahkan saja Syan ke kamarnya?" Usul Juan
"Kau gila. Kasihan nanti jika dia bangun dan ada di kamarnya Juan. Nanti dia berfikir kita tidak sayang padanya, apa kau akan tega?" Tanya Carra
"Tidak"
Dan setelah itu. Juan hanya diam, memandang Carra yang tengah menatap Syan penuh kasih sayang
Seulas senyum nampak terbit di bibir Juan, ia bahagia memiliki Syan dengan Carra dalam hidupnya
"Tidurlah, ini sudah larut" Sahut Juan akhirnya
Carra mengangguk, memperbaiki posisinya, dan lantas tidur menyamping memeluk Syan, membuat Juan juga melakukan hal sama
"Good night dear" Ucap Juan sebelum Carra benar benar terlelap, Carra yang sudah memejamkan matanya lantas hanya tersenyum mendapat ucapan seperti itu dari Juan
Dan sang waktu, membawa mereka tenggelam dalam larutnya malam
sukses
semangat
mksh
gtu aja ko repot si juan..kau kn org berkuasa
krna dsni kyanya si jeni yg cinta mati sma juan tp juan ga prnh gubris