Selalu dianggap jelek dan dihina oleh suami dan keluarganya, bahkan hingga diceraikan. Membuat Nadi Djiwa membalaskan dendamnya dengan merubah penampilannya, ia ingin membuat mantan suaminya menyesal karena telah menceraikannya, dan ia pun ingin merebut kembali perusahaan yang ia rintis dari nol.
Akankah Nadi berhasil membalaskan dendamnya? Cerita selengkapnya hanya ada di novel Beauty - NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
"Saya Terima Nikah dan Kawinnya Nadi Djiwa BINTI Almarhum Panuntun Djiwa, dengan Maskawinnya Tersebut Dibayar Tuani," ucap Aaron dalam satu tarikan napasnya.
Setelah penghulu menanyakan kebsahan ijab kabul kepada para saksi, dan membacakan doa-doa pernikahan, barulah MC mempersilahkan Nadi memasuki ruangan untuk penandatanganan buku nikah. Nadi berjalan secara perlahan di dampingi oleh Alyssa, mereka berdua tersenyum ke arah Aaron.
Aaron tak hentinya menatap wajah cantik kedua wanita kesayangannya yang sedang berjalan arahnya, ia bahkan tak dapat menahan haru bahagianya, hingga tanpa sadar ia menitikan air matanya.
Setelah mengantar Nadi ke meja ijab kabul, Alyssa bergabung bersama eyang dan kerabat lainnya di kursi tamu undangan, sementara Nadi duduk di sebelah Aaron untuk melakukan penandatanganan buku nikah, kemudian Aaron memasangkan cincin berlian dijari manis Nadi dan Nadi pun memasangkan cincin kawin dijari manis Aaron, setelahnya Nadi mencium tangan Aaron dan Aaron mencium kening Nadi.
Aaron menyerahkan mas kawin berupa mata uang asing (Euro) sesuai dengan tanggal pernikahan mereka yang jika di rupiahkan mencapai 165 miliar, kepada Nadi yang kini telah resmi menjadi istrinya.
"Bukannya itu pria yang kamu incar ya? Kira-kira Nadi pake ilmu pelet apa ya? sampai bisa dapet durian runtuh?" bisik Mentari kepada putri bungsunya di balik meja prasmanan.
Bintang mengerutkan keningnya. "Loh, bukannya Kak Nadi juga sama-sama kaya ya?" meski tak tahu seberapa jumlah kekayaan kakak iparnya, yang jelas Bintang tahu jika Nadi mengendarai mobil sport, tinggal di apartement mewah dan memiliki perusahaan yang kini telah tergabung bersama perusahaan Sofia. Setidaknya itulah yang tertulis dalam surat kabar yang ia baca beberapa hari yang lalu. Wajah Nadi terpampang dalam kolom bisnis, berjudul Inspirasi Anak Muda Zaman Sekarang.
'The next aku yang akan berada berita bisnis ini,' batin Bintang sembari menutup surat kabar itu.
"Hasil menipu," sahut Mentari.
"Sadar-lah mah, kalau dia menipu Mas Surya sudah dari dulu Mas Surya menyeret Nadi ke polisi. Nyatanya Mas Surya sendiri tak bisa melakukan apa-apa ketika Nadi mengambil uang dan perusahaannya."
Wajah Mentari memerah. "Kau ini kenapa justru malah membela wanita yang telah membuat hidup kita susah?"
"Kita sudah susah sejak dulu, Mah," batah Bintang. "Hidup kita jadi lebih baik semenjak Mas Surya berpacaran dengan Nadi, kalau mama mau menyalahkan hidup kita kembali susah, harusnya mama menyalahkan diri mama sendiri yang tak mau bekerja keras!" Bintang yang sudah muak dengan sikap mamanya yang selalu menyalahkan orang lain atas apa yang menimpa dirinya tanpa mau mengkoreksi diri dan bersyukur dengan apa yang saat ini di miliki. Ia bergeser berpindah posisi dengan Ika, dari pada bersebelahan dengan mamanya yang terus menggerutu.
Acara akad nikah berlangsung sakral dan tertutup. Acara ini hanya di hadiri oleh keluarga dan kerabat terdekat Nadi dan Aaron sehingga sesuai dengan arahan WO, Bintang hanya menyediakan 1.000 porsi sop buntut dan sisanya yang 4.000 porsi di siapkan untuk acara resepsi nanti malam.
Mentari terpaksa ikut sebab pegawai Cindy yang bernama Caca, mengalmi insiden kecil tadi pagi. Kakinya terkilir ketika hendak turun dari tangga di teras kediaman Cindy, sehingga mau tidak mau Mentari menggantikan posisi Caca dan Caca yang menggantikan posisi Mentari menjaga anak-anak di rumah.
Sementara untuk Cindy dan Surya sendiri menjadi groomsmen dan bridesmaid, sesuai dengan permintaan Nadi.
Usai rangkaian acara adat, Bintang dan timnya sibuk melayani para undangan yang mengunjungi standnya. Dari banyaknya tamu ada satu pria yang sedari tadi nampak memperhatikannya, pria itu adalah adik sepupu Aaron yang datang dari New York.
Perlahan ia berjalan menghampiri stand Bintang ketika, stand tersebut nampak sepi. Namun langkahnya terhenti ketika Sofia menepuk bahunya. "Hi Sean, Whassup??"
Sean berbalik. "Oh Sofia! Long time no see." ia merangkul dan mencium pipi kanan dan kiri Sofia, kemudian menyalami Harry yang ada di sebelahnya.
Mereka bercakapa-cakap cukup lama, karena sudah lama sekali Sofia tak jumpa dengan Sean, terakhir mereka jumpa saat Sofia masih satu sekolah dengan Aaron kala itu Sean tengah berlibur ke Indonesia.
Sekilas Bintang memperhatikan keakraban mereka. Benar apa yang di katakan oleh kakak iparnya tentang jodoh dan pertemanan itu merupakan cerminan diri. Kalau kita mau memiliki circle yang bagus maka kita juga harus memantaskan diri, karena kita tidak hidup di negeri dongeng di mana seorang upik abu bisa menikah dengan dan berkumpul bersama keluarga pangeran kaya raya. Tapi bahkan sejelas cinderlela pun dulunya memang orang berada bukan benar-benar seorang kelas bawah.
Bintang sudah menyingkirkan semua angan itu, ia memilih fokus pada apa yang bisa ia kerjakan sekarang, untuk tetap bisa bertahan hidup bersama keluarganya dan berharap bisa melanjutkan kembali kuliahnya.
Di tengah obrolan serunya bersama Sofia dan Harry, tiba-tiba ada seorang photografer mendatangi mereka dan meminta mereka berfoto bersama Nadi dan Aaron. "Oh Astaga aku sampai lupa kita belum berfoto bersama," ujar Sofia sambil menepuk jidatnya.
Sebelum beranjak dari tempatnya menuju pelaminan, Sean kembali menoleh ke arah Bintang, ia tersenyum ke arah gadis yang masih terlihat sibuk melayani tamu undangan. Setelah Sean melangkah menyusul Sofia, Bintang baru menyadari jika sepertinya ada seseorang yang nampak memperhatikannya namun ia tak begitu menghiraukannya sebab banyak mangkuk sop yang belum ia tuang.