Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11 Kehidupan Baru
Pagi itu, Desa Sekar diselimuti oleh udara sejuk setelah diguyur hujan semalaman. Di teras Poskesdes, aroma tanah basah berbaur dengan embun pagi yang menenangkan.
Kael duduk di bangku kayu sambil memandangi laut lepas yang tenang. Jemarinya sejak semalam tidak berhenti mengusap permukaan sebuah kerang kecil benda sederhana pemberian Rani yang entah kenapa selalu berhasil membuat beban di kepalanya terasa sedikit lebih ringan.
"Kerang itu bagus sekali. Kamu memegangnya sejak semalam, ya?" tanya Hana yang tiba-tiba muncul dari dalam Poskesdes sambil membawa segelas teh hangat.
Kael tersentak kecil, lalu buru-buru memasukkan kerang itu ke dalam saku kemejanya.
"Ah, tidak. Hanya kebetulan sedang ingin kupegang saja," jawabnya, mencoba mengulas senyum tipis untuk menutupi kegelisahannya.
Hana meletakkan gelas teh di atas meja kecil di samping Kael, lalu ikut memandangi laut. "Syukurlah kalau benda itu bisa membuatmu sedikit lebih tenang. Beberapa hari ini kamu terlihat sering melamun."
Kael tidak langsung merespons. Ia hanya menatap uap teh yang mengepul ke udara. Jauh di dalam benaknya, ingatan yang telah kembali sejak semalam terus berputar seperti gulungan film tua. Ia sudah tahu siapa dirinya yang sebenarnya, dan ia tahu betul apa saja yang pernah ia lakukan di masa lalu.
Karena alasan itulah, sebuah keputusan bulat kini tertanam di kepalanya, ia harus menyembunyikan identitas aslinya. Setidaknya untuk sementara waktu. Desa Sekar ini terlalu damai, terlalu suci untuk terseret ke dalam pusaran masa lalunya yang kelam.
"Kael!"
Suara lantang Pak Kades tiba-tiba membuyarkan lamunan panjang Kael. Pria paruh baya itu berjalan mendekat dengan senyum lebar yang selalu menghiasi wajah ramahnya.
"Pagi, Pak," sapa Kael, langsung berdiri dari duduknya untuk menghormati sang kepala desa.
"Pagi, Pagi. Duduk saja, jangan sungkan," kata Pak Kades sambil menepuk pundak Kael lalu ikut mengambil posisi duduk di bangku kayu sebelah. Ia menatap Kael dari atas ke bawah dengan saksama.
"Kondisimu tampaknya sudah jauh lebih baik sekarang."
"Sudah jauh lebih baik, Pak. Terima kasih atas bantuan warga di sini," jawab Kael sopan.
Pak Kades mengangguk beberapa kali, namun raut wajahnya perlahan berubah seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu. "Sebenarnya, kedatangan saya ke sini ingin menawarkan sebuah pekerjaan untukmu."
Kael menoleh, sedikit terkejut. "Pekerjaan?"
"Iya, pekerjaan sementara," jawab Pak Kades sambil berdeham kecil, membetulkan posisi duduknya. "Desa kita ini sedang sangat kekurangan guru di Sekolah Dasar."
Kael terdiam, menatap Pak Kades dengan dahi berkerut.
"Salah satu guru PNS di sana pindah tugas ke kota bulan lalu. Sampai sekarang dinas belum mengirimkan penggantinya," lanjut Pak Kades menjelaskan situasi pelik yang dihadapi desa.
"Lalu... apa hubungannya dengan saya, Pak?" tanya Kael, masih belum menangkap arah pembicaraan.
"Kami hanya butuh bantuanmu untuk mengajar sementara waktu di sana," kata Pak Kades dengan nada memohon.
Kael hampir saja tertawa getir mendengar permintaan itu. "Aku? Menjadi guru?"
"Iya, kamu," ucap Pak Kades mantap.
"Tapi Pak, saya bahkan tidak bisa mengingat masa lalu saya sendiri. Bagaimana mungkin saya bisa mengajar anak-anak?" tanya Kael, menggunakan alasan amnesianya sebagai perisai.
"Memang kamu tidak ingat masa lalumu, tapi saya lihat sendiri kamu bisa membaca, menulis, berhitung, dan cara bicaramu sangat teratur," kata Pak Kades, tersenyum meyakinkan. "Lagipula, anak-anak di sini sangat butuh guru agar pelajaran mereka tidak tertinggal."
Kael tidak langsung menjawab. Menjadi seorang guru sekolah dasar sama sekali tidak pernah terlintas dalam kamus hidupnya, apalagi setelah semua memori kelam yang baru saja ia ingat semalam. Namun, setelah dipikirkan kembali, mungkin pekerjaan inilah yang ia butuhkan sekarang sesuatu yang murni, sederhana, dan menjauhkannya sejauh mungkin dari kehidupan lamanya.
"Baiklah, Pak. Aku akan mencobanya," ucap Kael akhirnya.
Wajah Pak Kades langsung berseri-seri mendengar keputusan itu. "Bagus! Terima kasih banyak, Kael. Oh ya, sekalian ada satu hal lagi."
Pak Kades menjeda kalimatnya sejenak, menatap Kael dengan pandangan penuh harap. "Karena kamu tidak mungkin selamanya tinggal di Poskesdes, saya sudah memintakan tempat tinggal untukmu. Kamu akan tinggal di rumah Rani. Ibunya sudah sangat tua di usia senjanya, dan suaminya baru saja meninggal dunia enam bulan yang lalu. Rumah mereka sepi, dan kehadiranmu pasti akan sangat membantu menjaga mereka."
Kael sempat tertegun mendengar pengaturan itu, namun ia akhirnya mengangguk paham. Tinggal bersama Rani dan ibunya yang lansia rasanya jauh lebih baik daripada harus merepotkan fasilitas desa.
✨✨✨
Keesokan harinya, Kael sudah berdiri tegap di depan bangunan SD kecil Desa Sekar. Bangunan itu sangat sederhana; dindingnya terbuat dari kayu papan yang mulai memudar, jendelan bersarnya terbuka lebar tanpa kaca, dan halamannya dipenuhi oleh guguran daun dari pohon ketapang yang rindang. Suara riuh anak-anak yang saling berkejaran terdengar jelas dari dalam kelas.
"Kenapa aku merasa lebih gugup di sini daripada saat harus menghadapi kerbau mengamuk?" gumam Kael pada dirinya sendiri.
Tepat saat ia hendak melangkah, rasanya ada seseorang yang menarik ujung kemejanya pelan. Kael menoleh ke bawah dan menemukan Rani sedang berdiri di sana. Gadis kecil tunawicara itu tersenyum sangat lebar sambil mendekap buku gambar kesayangannya.
"Kau ikut ke sini juga?" tanya Kael.
Rani mengangguk cepat penuh semangat. Ia lalu membuka buku gambarnya dan menunjukkan tulisan yang sudah ia persiapkan
Aku sekolah di sini juga.
Kael hanya bisa menghela napas pasrah, namun sebuah senyuman tulus tak mampung ia sembunyikan dari wajahnya dan senyuman itu hanya akan terlihat saat Kael bersama Rani.
"Kalau begitu masuk di kelasn mu."
Rani mengangguk mengerti dan berlari kecil menjauh dari Kael untuk pergi menunju kelasnya.
Begitu Kael melangkah memasuki ruangan kelas, suasana yang semula riuh seketika langsung hening senyap. Belasan pasang mata kecil yang jernih menatap ke arahnya dengan pandangan penuh rasa penasaran. Bisikan-bisikan polos langsung memenuhi ruangan.
"Itu guru baru kita, ya?"
"Wah, masih muda!"
"Tinggi sekali badannya."
"Katanya dia om-om yang ditemukan pingsan di pantai waktu itu."
Kael berjalan menuju depan kelas lalu berdeham pelan untuk menenangkan suasana. "Selamat pagi semuanya."
"SELAMAT PAGI, PAK GURU!" jawaban kompak dari anak-anak itu begitu keras dan menggelegar, hingga membuat Kael sedikit terkejut dan refleks mundur setengah langkah.
Melihat ekspresi kaget sang guru baru, beberapa anak di barisan depan langsung meledak dalam tawa. Tanpa sadar, sudut bibir Kael ikut terangkat naik. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, ia merasakan kebahagiaan yang tulus.
Proses pelajaran ternyata berlangsung jauh lebih baik dan menyenangkan dari apa yang Kael bayangkan sebelumnya. Meskipun ingatan personalnya sengaja ia kubur, pengetahuan dasar di otaknya masih tersimpan dengan sangat sempurna. Ia bisa mengajarkan matematika dengan metode yang mudah, membantu anak-anak mengeja bacaan, hingga menjelaskan pengetahuan alam yang sederhana. Sesekali, ia bahkan menyelipkan candaan di sela-sela materi.
"Kalau tiga ekor ikan ditambah dua ekor ikan, jadinya berapa?" tanya Kael sambil menulis angka di papan tulis.
"Lima!" seru anak-anak serempak.
"Bagus. Kalau tiga ekor kambing ditambah dua ekor kambing?" tanya Kael lagi.
"Lima!" jawab mereka lagi tanpa ragu.
"Sekarang pertanyaan terakhir. Kalau tiga orang guru ditambah dua orang guru, jadinya berapa?" tanya Kael sambil menopang dagu, memancing kreativitas mereka.
Anak-anak kelas satu itu saling berpandangan, tampak kebingungan. Tiba-tiba, seorang bocah laki-laki di sudut belakang mengangkat tangannya dan menjawab dengan wajah tanpa dosa,
"Lima guru yang pusing, Pak!"
Seketika itu juga seluruh ruang kelas meledak dalam tawa yang sangat riuh. Bahkan Kael tidak bisa menahan dirinya untuk tidak ikut tertawa lepas bersama murid-murid barunya.
Di luar ruang kelas, Rani duduk di atas bangku kayu panjang yang terletak tepat di bawah jendela. Dari sana, ia memperhatikan seluruh jalannya pelajaran dengan mata yang berbinar-binar penuh kekaguman. Sesekali jemarinya bergerak lincah menggambar di atas kertas, lalu tersenyum lebar setiap kali melihat Kael berinteraksi dengan anak-anak.
Di koridor sekolah, Hana yang kebetulan datang untuk mengantarkan program obat cacing bulanan dari Puskesmas juga ikut menghentikan langkahnya. Ia berdiri agak jauh, mengamati sosok Kael dari balik pilar bangunan sekolah. Tatapan mata Hana perlahan melembut.
Selama beberapa hari terakhir ini, Kael selalu tampak murung, penuh beban, dan seperti menyimpan misteri yang sangat berat. Namun hari ini, pemandangan di dalam kelas itu sungguh berbeda. Pria itu terlihat jauh lebih hidup, senyumnya lepas, dan auranya terasa begitu ringan. Melihat perubahan itu, Hana ikut merasakan seulas kelegaan yang mendalam di dalam hatinya.
✨✨✨
Menjelang siang hari, suara bel bambu penanda pulang akhirnya berbunyi nyaring. Anak-anak langsung berhamburan merapikan buku dan berlari keluar kelas dengan ceria. Namun, alih-alih langsung pulang ke rumah, beberapa murid laki-laki justru memilih untuk mengerumuni meja kerja Kael.
"Pak Guru, besok masuk lagi dan mengajar kami kan?" tanya salah satu murid dengan mata penuh harap.
"Iya, besok saya pasti datang lagi," jawab Kael sambil merapikan sisa-sisa kapur tulis.
"Pak Guru jangan pindah ke kota, ya!" timpal murid yang lain, memegang lengan kemeja Kael.
"Betul, Pak! Kami semua sangat suka belajar bersama Pak Guru Kael!" seru mereka bersahutan.
Kael tertegun di tempatnya selama beberapa saat. Kalimat polos dari anak-anak desa itu mendadak menghangatkan relung hatinya yang sempat membeku. Ia kemudian tersenyum kecil dan mengusap rambut mereka satu per satu.
"Baik, saya berjanji tidak akan pergi dalam waktu dekat."
Sorak gembira langsung terdengar riuh dari anak-anak itu sebelum mereka akhirnya benar-benar berlarian pulang ke rumah masing-masing. Dari arah samping jendela, Rani tampak mengangguk-angguk puas dengan senyuman lebar, seolah-olah mengisyaratkan bahwa keputusan Kael untuk tinggal dan mengajar adalah hal paling benar yang pernah ada.
Kael berjalan keluar kelas, menatap langkah kaki anak-anak yang mulai menjauh di halaman sekolah, lalu mengalihkan pandangannya menatap langit biru cerah di atas Desa Sekar. Untuk pertama kalinya sejak ingatan masa lalunya kembali menghantamnya, ia benar-benar merasa bisa menikmati arti dari sebuah kehidupan.
Di dalam hatinya yang paling dalam, Kael mulai membiarkan dirinya percaya pada sebuah harapan fana; bahwa mungkin saja... mungkin saja ia bisa menjalani kehidupan baru yang sederhana dan damai ini sedikit lebih lama lagi.
Bersambung..