NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Kecelakaan

Bogor, 23 Desember 2024.

"Si kembar kesini dulu atau langsung ke stasiun?" tanya Ghifari.

"Kesini dulu, nanti juga mereka lewat depan rumah katanya." jawab Arinta.

Perjalanan mereka ke Kalimantan memang sedikit banyak memakan waktu. Mulai dari perjalanan naik kereta ke Jakarta, lalu ke Bandara Soekarno Hatta, terakhir sampai ke Balikpapan. Mungkin kalau ditotal akan menempuh kurang lebih delapan jam, itu pun kalau tidak ada kendala.

Ghifari ikut mendudukan bokongnya tepat disebelah Arinta. Menatap jalanan sepi yang hanya sesekali ada motor lewat.

"Ayah masih di kamar mandi?" tanya Arinta.

"Masih." jawab Ghifari santai.

"Kok lama banget sih. Dari tadi kan? Udah mau setengah jam loh." Arinta melirik jam di pergelangan tangannya, sudah menunjukan pukul sembilan lewat.

Raut wajah khawatir Arinta dapat dengan mudah menulari Ghifari. Sang kakak langsung bangkit berjalan masuk, tepatnya kearah kamar mandi, Arinta pun membuntuti di belakang.

Tok.. Tok.. Tok..

Ghifari mengetuk pintu perlahan.

"Yah? ayah masih didalem kan?" panggil Ghifari.

Tidak ada sahutan, bahkan suara air pun tidak terdengar.

"Ayah?" entah firasat dari mana, suara Arinta sudah terdengar bergetar menahan tangis.

"Ayah?!" panggil Ghifari sekali lagi dengan suara lebih kencang.

"Ari buka ya?"

Tanpa persetujuan, Ghifari membuka pintu kamar mandi. Arinta mematung di tempat, sementara Ghifari sudah menghampiri sang ayah yang sudah terbujur kaku.

Pakaiannya masih melekat disana, kecuali atasan, pertanda beliau sama sekali belum sempat mandi.

"Ayah?!" pekikan Arinta terdengar sangat menyakitkan.

Ghifari rapuh serapuh-rapuhnya, persetan dengan segala rencana, booking tiket dan segala perintilannya, pikirannya hanya terpusat pada satu, ayah.

Dua manusia itu sibuk meraung sampai tidak menyadari kedatangan dua manusia lain.

Tama dan Tami ikut merasakan lukanya, mereka bisa tahu hanya dengan melihat.

"Kabarin ke tetangga, Mi," titah Tama, sementara ia berusaha menginterupsi dua kakak beradik itu untuk membiarkan ayah mereka dipindah.

"Bang, ayahnya dipindah dulu." ucap Tama dengan nada selemah mungkin.

Ghifari merasa hampir kehilangan kesadarannya, matanya memburam. Diluar ekspetasi, laki-laki itu benar menutup matanya, pingsan, berbarengan dengan para tetangga yang datang.

Lagi dan lagi, Tuhan menjemput orang yang mereka sayang. Walaupun kehilangan sebelumnya tidak benar-benar mereka berdua rasakan.

Ghifari sudah dibawa ke kamar untuk sekedar diistirahatkan. Sementara, Arinta..

Tama masih belum melepaskan rangkulannya dari sejak jasad Zaid dipindahkan. Ia sekali-kali merasakan getaran pelan dari tubuh mungil disebelahnya. Menangis, terdiam, melamun, lalu menangis lagi, hanya itu yang Arinta lakukan.

Halaman rumah mereka sudah dipenuhi oleh bangku-bangku, serta para warga yang mulai berdatangan, tak luput dengan bendera kuning yang sudah dipasang.

"Udah siap. Jenazahnya langsung bawa aja ke tempat pemandian." titah seorang bapak-bapak.

"Ari masih belum sadar?" tanya seorang bapak-bapak yang lain, bertanya pada siapa saja yang mendengar.

"Belom! Belom!" sahut pemuda yang masih menemani Ghifari.

"Yowis, cuma ini aja. Kalo udah sadar biar bisa ikut mandiin jasadnya."

Bahu Arinta kembali bergetar saat mendengar rentetan kalimat tersebut.

"Ayah bisa mandi sendiri kok.." lirihnya.

Tama mengusap pelan bahu Arinta.

"Maaf." ucap Arinta tiba-tiba.

Tama menatap wajah Arinta mencari maksud dari kata-kata barusan.

"Maaf buat apa?"

"Buat.. Kabar duka yang ngebuat kita gagal lib-"

"Shuut.. Shuut.. Lu ga perlu minta maaf atas nama musibah, musibah kan ga ada yang tau." jawab Tama sebelum Arinta menyelesaikan kalimatnya.

Arinta kembali bungkam. Sebelum pertanyaan lain muncul.

"Tami kemana? Kok ngilang?"

"Tadi ada didepan kok. Mungkin lagi keluar sebentar."

Panjang umur. Tami datang, lalu duduk disebelah kembarannya.

Arinta yang sedari tadi melamun, terkesiap saat seseorang datang berlari memeluknya.

"Taa.." ucap Aru sambil memeluk Arinta.

"Lu jemput Aru?" tanya Tama sambil sedikit berbisik.

"Iya lah. Seenggaknya Arinta jadi punya temen." jawab Tami juga ikut berbisik.

"Terus gua lu anggep apa?" bisik Tama lagi dengan emosi.

"Ya.. Kan Aru temen deketnya, sama-sama perempuan pula."

Tama tak membantah lagi. Ia diam seribu bahasa. Rangkulannya pun sudah terlepas sejak Aru datang berhambur kepelukan Arinta.

Suara gaduh memecah keheningan yang sebelumnya sempat tercipta. Ghifari adalah pelaku utamanya.

"Ayah?! Ayah dimana?"

Arinta sontak mendekati ke sumber suara.

"Ta.. ayah, Ta.." ucap Ghifari saat melihat wajah sang adik yang sembab.

Arinta memeluk Ghifari sambil kembali terisak.

Mungkin reaksi Ari terkesan berlebihan bagi sebagian orang, tapi bagi orang yang sudah kenal dekat dengannya, pasti tahu kalau separuh nyawa Ari ada di ayahnya. Jika dibandingkan dengan Arinta, Ari lah yang paling tahu segala suka duka ayah, pembawaan anak tertua?

"Ayah nyusul ibu sama bang Fara." ucap Arinta.

Si kembar dan Aru masih bisa mendengar apa yang diucapkan Arinta. Nama yang asing di telinga mereka, Fara?

"Engga!! ayah masih disini! Tadi ayah cuma ketiduran! ayah engga pergi!" bantah Ghifari.

Orang-orang disana dengan kepo tingkat tinggi berusaha melihat apa yang terjadi, karena suara bariton Ghifari terdengar sampai teras rumah.

Akhirnya setelah amukan tak henti dari Ghifari, jenazah sudah siap untuk di sholatkan, dan Ari ikut serta.

"Eh, Aguil kabarin ga nih?" cegah Aru yang melihat si kembar sudah mau ikut rombongan untuk mensolatkan.

"Kan dia lagi di perjalanan pulkam." ucap Tami.

"Iya, tau. Tapi kan seenggaknya dikabarin gitu, biar dia tau." ucap Aru.

"Kabarin aja, tapi nanti pas dia udah sampe sana. Takutnya dia malah pulang lagi kalo baru separo jalan." usul Tama.

"Oke." Aru kembali memasukan ponselnya ke saku jaket.

"Temenin Arinta tuh, sodara-sodaranya masih pada dijalan, jangan ditinggal sendirian."

"Siap, bapak Tama!" sahut Aru.

Arinta masih saja melamun saat Aru berusaha mendapatkan atensinya.

"Ta, jangan gitu lah, nanti kesambet."

"Suruh cuci muka aja dulu neng, terus minum air anget." titah tetangga yang melihat kearah mereka berdua.

"Oh iya bu." Aru mengajak Arinta untuk menepi sebentar kedalam.

"Doraemon beneran ada ga sih, Ru?" tanya Arinta setelah selesai cuci muka, tatapannya sudah tak sekosong tadi.

"Ya engga lah. Dia kan cuma tokoh fiksi." jawab Aru sekenanya.

"Kalo lintas waktu?"

Aru mulai terganggu dengan pertanyaan ngelantur sahabatnya satu ini. Ia memilih menuang air dari termos, dicampur dengan air teko agar tidak terlalu panas.

"Minum dulu. Pikiran lu mulai ngelantur kemana-mana." titah Aru sambil menyodorkan secangkir gelas.

Arinta meneguknya pelan-pelan.

"Iya, gua tau. Pasti kaget banget rasanya ya, Ta? Ga ada tanda-tanda sama sekali, tau-tau ditinggal gitu aja." ucap Aru.

"Katanya, Tuhan ga bakal ngambil sesuatu, kecuali bakal diganti sama sesuatu yang lebih baik. Emangnya apa yang lebih baik dari ayah?" tanya Arinta sendu.

Aru ikut terdiam. Seakan setuju dengan pertanyaan yang terlontar.

"Tapi coba pikirin lagi pertanyaan lu, Ta. Apa yang bisa lu dapet setelah kepergian ayah?"

Wajah Arinta terlihat tidak sedang berpikir, ia hanya menatap Aru penuh tanya.

"Arinta Prameswari." tunjuk Aru pada diri Arinta.

"Diri lu sendiri yang lebih baik dari ayah. Tadi lu tanya, apa yang lebih baik dari ayah? Itu diri lu sendiri."

"Lu bakal dapet versi diri lu yang lebih kuat, yang lebih mandiri, yang lebih dari sebelumnya."

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!