Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.
Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.
Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTANYAAN SEDERHANA BIK RETNO
"Makasih, Pak," kata Naya tulus, melangkah keluar setelah taksi berhenti di depan alamat yang dituju. Taksi pun segera melesat pergi, meninggalkan Naya berdiri sendirian menatap rumah yang ada di hadapannya.
Ia telah tiba di rumah Hana dan Reno, sebuah bangunan mewah yang sangat akrab di matanya. Berdiri anggun dengan arsitektur modern minimalis yang kaku namun elegan, persis seperti bayangan hunian impian masa kini yang kokoh. Rumah dua lantai itu didominasi oleh perpaduan dinding batu alam abu-abu dan panel bertekstur kayu vertikal, memberikan kesan hangat dan elegan.
Jendela-jendela kaca besar yang menjulang tinggi memantulkan bias cahaya sore, sementara pagar besi hitam yang panjang dan besar menjaga privasi di balik fasadnya yang megah. Di balkon lantai atas, lambaian tanaman hijau dari balik pagar kaca memberikan sentuhan asri yang menyejukkan mata. Pada pilar semen di dekat gerbang, terpasang sebuah plakat hitam minimalis bertuliskan nomor rumah mereka, "14-T".
Naya tersenyum pahit. Sampai sekarang, setiap kali ia menginjakkan kaki di properti ini, selalu ada kilas balik perjuangan Reno dan Hana untuk bisa bersama. Jalan mereka tidak mudah. Di balik sikap Hana yang manja dan terkadang kekanak-kanakan di matanya sebagai seorang sahabat sejak SMA, ternyata ia adalah sosok yang mandiri dan berdedikasi tinggi sebagai wanita karir.
Reno sendiri telah mencapai kesuksesan yang luar biasa yang kini menjabat sebagai manajer di sebuah perusahaan, tapi tetap menjadi Reno yang dulu, yakni penyabar, baik hati, dan sangat setia pada Hana. Hana benar-benar beruntung memiliki suami seperti Reno, pikir Naya.
Ah, sudahlah. Apa yang aku pikirkan? batin Naya merutuki dirinya sendiri. Mungkin nasibku memang harus seperti ini.
Mengenyahkan pikiran melankolis itu, Naya pun mulai melangkah mendekat. Ia menggeser pintu gerbang besi hitam yang besar dan panjang itu yang untungnya sudah sedikit renggang. Ia menarik napas dalam-dalam, mengencangkan cengkeraman pada tali tasnya, lalu melangkah masuk melintasi area carport luas yang bersih menuju pintu utama rumah yang tinggi dan besar itu.
Perlahan, dari dalam rumah, lamat-lamat suara tangisan Kikan yang melengking mulai terdengar di telinganya. Ia pun mempercepat langkahnya menuju teras, menaiki beberapa anak tangga kecil sebelum akhirnya berdiri di depan pintu kayu utama yang menjulang tinggi.
Naya mengetuk pintu tersebut beberapa kali dengan ketukan yang berirama konstan.
"Bik... Assalamu'alaikum, Bik," panggilnya setengah setengah berseru, mencoba mengalahkan volume suara tangisan dari dalam. "Assalamu'alaikum?"
Tak lama kemudian, terdengar suara kunci diputar dari dalam. Pintu besar itu terbuka, dan bersamaan dengan itu, gelombang suara tangis Kikan yang kencang dan serak menyapu pendengaran Naya, terasa semakin dekat dan memilukan.
Seorang wanita paruh baya dengan wajah yang tampak sangat kelelahan dan panik muncul di balik pintu. Tangannya sibuk menepuk-nepuk punggung bocah kecil dalam gendongannya yang tengah menangis sesenggukan hingga wajahnya memerah.
"Ya Allah, Waalaikumsalam Non Naya!" seru Bik Retno, asisten rumah tangga Hana, dengan raut wajah yang seketika berubah lega luar biasa seolah baru saja melihat malaikat penolong. "Alhamdulillah, Non Naya datang juga. Ini si Adek dari tadi siang nggak mau berhenti nangis, Non. Digendong salah, dikasih susu dibuang, diputar lagu kesukaannya malah makin jerit. Bibi sampai bingung harus gimana lagi."
"Ya udah, Bik, biar aku aja yang pegang Kikan," kata Naya lembut, langsung mengulurkan kedua tangannya.
Ia melepaskan tas laptop dari bahunya, lalu menyerahkannya kepada Bik Retno yang dengan cekatan menerimanya. Naya kemudian beralih mengambil alih Kikan ke dalam pelukannya.
Dan...
Ajaib, begitu tubuh mungil itu berpindah ke dekapan Naya, tangis melengking gadis kecil berusia tiga tahun itu mendadak mereda. Kikan mengendus ceruk leher Naya, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata, lalu perlahan-lahan diam dan hanya menyisakan sesenggukan kecil.
"Ya ampun... Tuh kan, Non Kikan langsung diam!" seru Bik Retno dengan mata berbinar lega. "Gendongan Non Naya emang paling nyaman buat si Non Kikan. Hebat ih, langsung mempan," puji Bik Retno tulus.
Naya tersipu, rona merah tipis mampir di pipinya. "Ah, si Bibik bisa aja. Kebetulan Kikan lagi capek aja kali, Bik, makanya langsung tenang."
"Ih, beneran, Non. Kelihatan sudah pantes banget," sahut Bik Retno sambil tersenyum lebar. "Kalau begitu, kapan Non Naya menyusul nikah? Biar cepet punya momongan sendiri."
Glek.
Sontak Naya membisu. Kalimat sederhana itu seketika menghantam dadanya seperti hantaman godam yang tak kasat mata.
Nikah.
Satu kata yang belakangan ini berubah menjadi hal yang paling menakutkan di hidupnya. Lidah Naya mendadak kelu, dan senyum manis yang baru saja terkembang di bibirnya langsung luntur tanpa sisa.
Pertanyaan itu kembali membuka kotak pandora berisi luka-luka lama yang belum sepenuhnya mengering.
Bagaimana ia bisa menjawabnya? Setelah bertahun-tahun hidup, ia bahkan belum pernah benar-benar merasakan indahnya masa pacaran yang normal. Alih-alih merajut kisah cinta yang manis, takdir justru berulang kali mempermainkannya dengan kejam. Dua kali. Dua kali ia harus menelan pil pahit, ditinggal menikah oleh orang-orang yang pernah singgah di hatinya.
Dan, rasa sakit itu kembali berdenyut, terasa tajam bagaikan sembilu yang diiriskan perlahan di atas luka menganga. Mengingat bagaimana harapan-harapannya dipatahkan sebelum sempat bertunas, membuat dadanya terasa sesak dan perih yang luar biasa.
Ia terjebak dalam ruang tunggu takdir, menyaksikan satu per satu orang di sekitarnya melangkah ke pelaminan, sementara dirinya masih di sini, sendirian, meratapi hati yang bolak-balik patah sebelum sempat memiliki.
****
Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri