NovelToon NovelToon
MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

SINOPSIS

Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.

Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.

Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.

Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.

Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.

[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]

[Saldo rekening: memprihatinkan.]

[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]

[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]

[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]

Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.

Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 PROTOKOL RAHASIA ABADI

Arkan menurunkan ponsel.

Untuk beberapa detik, ia tidak bicara. Ruang tamu kecil itu kembali dipenuhi suara kipas tua dan suara gang dari luar. Namun di antara suara-suara biasa itu, Arkan bisa merasakan sesuatu yang baru.

Pintu tak terlihat telah terbuka.

Dan di balik pintu itu ada dunia yang jauh lebih besar dari gang kecil mereka.

Bu Sari akhirnya bertanya, “Orang itu siapa, Kan?”

Arkan duduk perlahan.

Kali ini, kursi kayu tidak berderit keras. Atau mungkin Arkan sudah tidak terlalu memperhatikannya.

“Namanya Olivia Tan. Dia konsultan hukum dan aset. Dia akan bantu Arkan supaya semuanya rapi.”

Naya mengerutkan kening. “Dia tahu uang Abang dari mana?”

Arkan diam sebentar.

Sistem muncul di layar ponsel, menampilkan satu baris kalimat yang hanya bisa ia lihat.

[Rahasia sistem tidak boleh punya saksi.]

Arkan mengangkat wajah.

“Dia tahu jalur legalnya,” jawab Arkan akhirnya. “Tapi tidak semua hal.”

Naya menatapnya lama.

Bu Sari juga.

Untuk sesaat, Arkan takut mereka akan terus mendesak. Namun Bu Sari hanya menghela napas pelan, lalu mengangguk kecil.

“Kalau orang itu bisa bantu kamu tetap aman, Ibu ikut.”

Kalimat itu membuat Arkan merasa lega.

Bukan lega penuh.

Tapi cukup untuk bernapas.

Naya memeluk mapnya lagi. “Besok jadi ke rumah sakit?”

“Jadi.”

“Terus setelah itu lihat rumah?”

Arkan menatap ibunya sebentar, memastikan perempuan itu tidak terlalu terkejut.

“Lihat dulu,” jawabnya. “Belum tentu langsung pindah.”

Sistem berbicara di kepalanya.

[Peluang pindah dalam 72 jam: tinggi.]

Arkan mengabaikannya.

Bu Sari tersenyum lemah. “Ibu masih belum siap kalau rumahnya terlalu besar.”

“Tidak akan terlalu besar,” jawab Arkan.

[Sistem tidak menyetujui batasan tersebut.]

Arkan menahan diri.

“Yang penting nyaman,” lanjutnya cepat. “Aman. Dan Ibu bisa istirahat.”

Naya tiba-tiba mengangkat tangan kecil seperti anak sekolah. “Kalau ada kamar belajar, Naya mau.”

Arkan menatap adiknya.

“Kamu akan punya kamar belajar.”

Mata Naya membesar.

“Serius?”

“Serius.”

Naya tersenyum.

Senyum itu lebih berharga daripada semua angka yang muncul di layar ponsel Arkan hari itu.

Bu Sari mengusap kepala Naya pelan, lalu menatap Arkan dengan mata yang masih penuh takut, tetapi juga mulai menyimpan percaya.

Arkan tahu perjalanan mereka belum tenang.

Rumor sudah bergerak.

Riko pasti akan bicara.

Bu Lilis mungkin sudah mulai menyebarkan cerita.

Bank menunggu.

Olivia akan datang.

Sistem masih tersembunyi.

Dan dunia lama Arkan perlahan mulai retak.

Namun malam itu, di ruang tamu kecil dengan kipas tua, rak miring, dan piring gorengan yang sudah dingin, Arkan membuat satu keputusan dalam diam.

Ia tidak akan membiarkan siapa pun mengetahui sistem.

Tidak ibu.

Tidak Naya.

Tidak Olivia.

Tidak bank.

Tidak Aluna suatu hari nanti.

Sistem adalah rahasia yang tidak boleh punya nama.

Yang dunia boleh lihat hanyalah hasilnya.

Uang.

Aset.

Keputusan.

Perubahan.

Dan Arkan Pradipta, pemuda Pontianak yang mulai belajar berhenti hidup seperti orang yang selalu takut besok tidak punya apa-apa.

Ponselnya bergetar sekali lagi.

Bukan panggilan.

Bukan pesan dari Olivia.

Melainkan notifikasi sistem.

[Protokol Rahasia Abadi dikunci.]

[Mulai sekarang, setiap upaya pengungkapan sistem akan dialihkan menjadi narasi legal.]

[Identitas sistem: tidak dapat ditemukan.]

[Jejak sistem: tidak dapat dilacak.]

[Kesimpulan: hanya Tuan Rumah yang akan mengetahui kebenaran.]

Arkan menatap tulisan itu sampai menghilang.

Lalu sistem menambahkan satu baris terakhir.

[Catatan tambahan: rahasia sudah aman.]

[Sekarang, Tuan Rumah disarankan makan malam yang lebih layak daripada gorengan dingin.]

Arkan menutup layar ponsel.

Untuk pertama kalinya hari itu, ia tertawa pelan.

Bu Sari dan Naya menatapnya heran.

“Kenapa, Bang?” tanya Naya.

Arkan menggeleng kecil.

“Tidak apa-apa.”

Ia berdiri, menatap piring gorengan di meja, lalu mengambil napas panjang.

“Arkan beli makan dulu.”

Naya langsung berdiri. “Naya ikut?”

“Tidak usah. Di rumah saja sama Ibu.”

Bu Sari menatapnya cemas. “Jangan jauh-jauh.”

“Iya, Bu.”

Arkan mengambil kunci motor.

Sistem langsung bersuara.

[Peringatan.]

[Tuan Rumah hendak keluar menggunakan kendaraan yang secara moral sudah pensiun.]

Arkan berhenti sejenak di depan pintu.

Ia menatap kunci motor di tangannya.

Lalu menatap ponsel.

Lalu menarik napas panjang.

“Besok,” batinnya. “Besok kita ganti motor.”

[Sistem menyambut keputusan tersebut.]

[Catatan: akhirnya ada kemajuan peradaban.]

Arkan membuka pintu rumah.

Udara malam Pontianak menyambutnya dengan lembap dan hangat. Di luar, gang masih hidup dengan suara orang mengobrol, motor lewat, dan lampu-lampu rumah yang menyala satu per satu.

Dunia lama masih di sana.

Tapi Arkan tahu, mulai besok, ia tidak akan berjalan di dalamnya dengan cara yang sama lagi.

1
irena
arkan harus lanjut kuliah.. klo perlu tambah pintar dianya thor.. supaya ga dibegoin dan dimanfaatkan sama orang orang jahat
AntoniusSadi
teruskan, gas pol bang
irena
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!