NovelToon NovelToon
Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi

Status: tamat
Genre:Keluarga / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: sinta amalia

"Hamili aku, please!"

Pemuda itu mengangkat sebelah alisnya lalu melirik dan meneliti gadis di depannya dengan seksama.
"Badan kamu ngga se mok, terkesan kaya orang kampung, mana bau kembang 7 rupa! Mana gue nav su!" gidiknya acuh sama sekali tak tertarik, bahkan mantan-mantannya 3 kali lipat lebih sempurna darinya.

Sontak saja mata bulat itu membola, "kamu ngga tau saya siapa?! Saya R.Rr. Rashmi Sundari Kertawidjaja!" logatnya sundanese banget.
Alva malah meneguk air mineral dalam botol sampai tandas, lalu berdiri. Tingginya cukup membuat gadis itu mendongak kaya lagi liatin jerapah, "lo kayanya kurang minum, dehidrasi bikin lo halu."

"Tunggu! Rakyat jelata!" jeritnya meneriaki Alva yang sudah berlalu.

Warna-warni kisah kasih si princess Rashmi yang ternyata seorang keturunan menak bersama Alvaro si pemuda datar, cuek terhadap sekitarnya terkesan apatis, mencintai kehidupan dari sisi hitam.
Bagaimana lika-liku perjalanan cinta keduanya, ditengah aturan dan pemahaman aristok rat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BCR # 34. CITRARESMI

Asmi melambaikan tangannya melepas kepergian teman-teman, lebih kepada Alva sebenarnya. Sementara Katresna masuk kembali ke dalam rumah.

"Senior neng?" Agah melipat kedua tangan di dadhanya, ikut menatap jauh ke depan dimana rombongan motor itu pergi.

"Engga juga, ada yang satu kelas. Anak Rampes sama KMT, yang kemaren satu project bareng."

"Kalo Alvaro?" tembaknya to the point sukses bikin Asmi menoleh.

"Senior di fakultas Antropologi budaya dan media."

"Pacar?" tembaknya lagi. Air muka Agah berubah keruh.

"Bukan," geleng Asmi. Ia dan Alva memang tak ada kata sepakat menjalin hubungan, Alvaro tidak meminta Asmi untuk jadi kekasihnya begitupun Asmi.

Agah melihat Asmi lekat nan dalam, mencari kebohongan di dalam matanya, "akang pegang kata-kata neng Asmi. Jangan coba bermain api neng, takut kebakar," ujarnya.

Asmi memutar badannya hingga menghadap Agah yang ada di sampingnya, "Asmi hormati raden, karena raden..."

"Jangan panggil raden!" ia menaikan nada bicaranya, "kamu bisa panggil Alva dengan sebutan akang, tapi kenapa saya tidak?"

"Maaf," Agah kembali menurunkan nada bicaranya.

"Asmi hormati dan hargai kang Agah karena akang menak murni bukan turunan sikep--sentana kaya Asmi, Asmi juga hormati akang karena akang baik, sopan, dan menurut Asmi akang sosok mengayomi. Keluarga akang juga baik. Tapi dari awal Asmi ngga pernah bilang mau terima perjodohan ini, jadi kalo akang bilang Asmi main api, di sisi mananya, Asmi bermain api? Kalaupun Asmi punya seseorang spesial, apa Asmi salah?" tatapnya berani.

"Jadi maksud neng Asmi, neng mau batalin perjodohan ini?"

"Apa Asmi punya hak disini selain dari kewajiban?" Asmi balik bertanya.

Agah mele nguh kasar, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, "dari sekian banyak turunan ningrat, saya hanya menyukai kamu, Asmi. Hanya neng Asmi yang mampu membuat saya bertekuk lutut, sampai meminta Ambu dan Apa untuk meminang neng Asmi pada raden Amar dan raden Sekar."

"Saya tau kita tertaut perbedaan usia yang sedikit jauh, tapi apa salahnya? Kita sudah sama-sama dewasa."

"Saya suka karakter neng Asmi, saya jatuh cinta pada pribadi neng Asmi. Banyak disana yang berharap mempererat silaturahminya dengan Apa dan ambu, sampai menawarkan putri mereka dengan suka rela termasuk gadis-gadis menak itu yang mau karena latar belakang saya," Agah menjeda ucapannya ingin mencoba meraih Asmi.

"Tapi neng Asmi----hati neng Asmi tak bisa dibeli dengan bibit, bebet, bobot. Itu yang membuat saya jatuh hati. Selain karena paras neng Asmi yang bikin saya susah tidur," akuinya. Tak seperti Alvaro yang terkesan to the point tanpa aba-aba, Agah memang lebih dewasa dan tertata. Namun entah, Asmi seolah tak tersentuh.

"Beri saya kesempatan, neng. Minimalnya beri ruang untuk saya bisa mendekati neng Asmi...."

"Kalau itu tetap tak berhasil, maka saya akan mundur. Jika memang neng Asmi tidak bahagia dengan saya,"

Yeah! Asmi mengagumi sosok Agah hanya karena ia menganggap Agah adalah seseorang yang berwibawa dan bijak, namun tidak dengan hal lainnya apalagi urusan hati.

Asmi mengangguk, membuat Agah senang bukan kepalang.

Asmi berlari pelan dan kecil, mirip si kancil ke arah basecamp anak antropologi media, seraya menaruh telunjuknya di depan bibir saat Filman dan Vera melihatnya.

Ia menodongkan tangannya yang membentuk pistol di belakang kepala Alva yang tengah sibuk merancang project anak Antropologi untuk tugas bulanan, "Pilih harta atau nyawa?!" tanya nya tertawa renyah saat Alvaro sedikit terjengkat.

"Ah, gagal nodong teh!" ujar Filman mengulas senyum, ketika Alva malah terkekeh dan meraih tangan itu untuk menggigit telunjuk Asmi pelan dengan gigi-gigi rapinya. Dan semua moment manis itu terekam oleh Filman dan Vera.

"Tumben kesini? Udah abis gitu kelasnya?"

Asmi mengambil posisi duduk di samping Alva, "belum. Masih ada kelas lagi abis ini, cuma istirahat dulu ah! Nunggu dosennya aga lama,"

"Udah sehat?" tanya Alva menghentikan pekerjaannya.

"Udah." jawabnya singkat melihat apa yang sedang dikerjakan Alva.

"Mi, yang kemaren teh kakak ipar?" tanya Saka baru bergabung.

Asmi mengangguk, "dia istri a Candra, kakak kedua Asmi yang kerjanya di KAI, bagian managemen..." jelas Asmi.

"Wiss, lumayan euy gajinya!" decak kagum Saka.

Asmi hanya bergidik acuh tak terlalu peduli, memilih asik memperhatikan apa yang sedang dikerjakan Alva, "ini teh tentang perang Bubat? Diah Pitaloka?"

Alva mengangguk, "kok tua?!" tangannya masih menggenggam jemari Asmi dan memainkannya.

"Tau atuh, udah berapa kali nonton resital dramanya, *aku...Citraresmi masih berdiri tegak memegang bakti, tak akan lari juga tak akan berserah diri. Tak akan kuberikan diri sebagai upeti. Aku Citraresmi, perempuan yang mereka cari, perempuan yang akan menentukan takdirnya sendiri*!" lirih Asmi.

"Jleb!" tukas Filman menusuk dadhanya sendiri dengan tangan kosong, yang sontak dikekehi Asmi.

"Asmi sampe hafal di luar kepala adegan itu, keren sekaligus tragis, apalagi waktu Hayam Wuruknya terpukul hampir stress," ucapnya. Alva memperhatikan Asmi yang baru saja mengucapkan kalimat dialog dalam sebuah teater pertunjukan legenda sunda lama dengan lirih seperti menjiwai.

"Jangan kaya gitu," sahut Alva membuat Asmi mengerutkan dahinya dan mendengus geli, "apanya?"

"Jangan berpikir buat jadi Citraresmi..."

"Ngaco ah! Beda jaman, beda konsep juga kang kuman." Asmi menangkap ikatan rambut Alva dan memainkannya.

"Citraresmi kan dijodohin juga,"

"Tapi dia ditipu, ya...meskipun bukan sama Hayam Wuruknya tapi sama patihnya sendiri Gajah Mada yang berambisi buat rebut kekuasaan Sunda Galuh," balas Asmi memutar-mutar rambut Alva di telunjuknya.

"Iya buat kerjasama, buat besarin kekuasaan." jawab Alva, keduanya malah saling mendebatkan kisah tragis Hayam Wuruk dan Diah Pitaloka Citraresmi.

"Sama ya, persis Asmi. Dijodohin dengan dalih mempererat silaturahmi padahal ada tujuan terselubung----mungkin! Padahal raden Agah suka beneran. Cuma Asmi'nya ngga mau," gadis itu menggeleng.

"Pokonya pikiran kamu jangan sependek itu,"

"Citraresmi kan bunuh diri buat mempertahankan harga diri dan kehormatan kerajaannya, yang udah ditipu mentah-mentah. Bukan karena dia yang ngga mau di jodohin, dia nya mah mau-mau aja sama Hayam Wuruk... Asmi kan beda," senyum Asmi.

Asmi beranjak menghentikan perdebatan tentang legenda yang tengah mereka bahas, "Fajrin udah teriak-teriak di hape, kayanya dosen udah masuk kelas. Asmi balik ke kelas dulu!"

"Kang Filman, teh...kang!" Asmi mengangguk singkat pada yang lain disana untuk pamit.

"Yo, Mi!"

Alva ikut berdiri dari duduknya menarik ujung kaosnya, dan meraih tangan Asmi, "gue ke fakultas teater dulu, nganterin Asmi." ijinnya.

"Sok atuh kang, bisi ada yang colek ah!" goda Saka usil.

"Lebay ah, mesti dianter segala. Asmi bukan anak tk, kang kuman!" dumelnya tertawa geli, namun tak urung ikut melangkah. Tangannya di gandeng Alvaro mirip mau nyebrang jalan.

"Takut kebawa emosi yang barusan. Kamu orangnya nekat!" jawab Alva.

"Cieee, akang kuman takut kehilangan neng daki!" tawa Asmi.

"Kalo ngga dakian, manusia ngga akan mandi atuh?!" ia melihat Asmi.

.

.

.

.

"Mang Dedi udah di parkiran, Mi?" tanya Elisa.

Asmi menggeleng, "ngga tau, belum nelfon."

"Pantes dikasih reward, mang Dedi adalah supir berdedikasi!" ucap Fajrin berjalan bersama Asmi dan Elisa.

"Asmi mah sih berharap mang Dedi ngga jemput dulu, pengen ketemu ibun dulu," jawabnya menuju parkiran gedung keluar.

"Cih, kalian tuh jadian engga sih? Mi, kemaren si kanh Alva beneran nembak kamu? Ih, ngga kebayang kalo iya." gidik Fajrin mengingat kejadian kemarin. Elisa menyemburkan tawanya membuat Asmi mengerutkan dahi.

"Kenapa emangnya?"

"Si Fajrin, Mi. Hahaha! Digeret kang Alva dari kelas sampe basecamp anak Rampes," Elisa kembali tertawa, yang langsung dihadiahi dorongan Fajrin, "serem Mi, ah! Garang! Sangar! Bener yang dibilang anak-anak teh,"

Asmi mencebik, "ah, perasaan kamu aja kali! Dia emang kaya gitu orangnya tapi baik," Asmi tersenyum simpul.

"Cih, udah kelilipan lope!" cibir Elisa.

Dari kejauhan mereka dapat lihat anak Rampes, KMT, dan beberapa anak Karawitan berkumpul bercengkrama termasuk ada Alvaro disana.

Namun di sisi lain, seorang pria dewasa sedang berdiri di depan kap mobilnya menunggu Asmi.

Netra Asmi jatuh padanya, "kang Agah?"

.

.

.

.

.

.

1
ngakaakk
😭😭😭😭😭
udh brpa x baca part ini bikin nangisss😔😔😔
tunggu rakyat jelata
part bikin ngakak👏👏👏
😁😁
nesiew fatt
Kl sunda gaul masih ngerti klo sunda alus priyayi gini loading juga 🤭
Anonymous
/Good//Good//Good//Good//Good/
Erni Fitriana
asikkkkkk
Erni Fitriana
JLEBBBB YA GAS😁😁😁😁
Erni Fitriana
😘😘😘😘😘😘....teh sin...hbs ini tolong bikinin cerita keluarga kakaknya raden amar yah...plisssd🙏🙏🙏🙏
Erni Fitriana
28 november ultah akuuuuuu😊😊😊😊😊
Erni Fitriana
sashiiii🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣gesrek
Erni Fitriana
inalillahiwainaillaihi rojiuun...abah menghembuskan nafas hidupnya setelah menunaikan kejujuran leluhur😭😭😭😭
Erni Fitriana
jalele jayyyy😁😁😁😁😁
Erni Fitriana
Rahmi😘😘😘😘😘😘😘😘😘
Erni Fitriana
oala keturunan agah tohhh...circle nyaaaaa menak....dan ternyata alvaro berdarah biru juga
Erni Fitriana
bulu kuduk kuhhhhh😖😖😖😖😖... percaya tidak percaya..kekuatan farah..kekuatan silsilah tidak bisa disembunyikan..abah eman bisa melihat itu didiri alvaro
Erni Fitriana
berasa aya sesuatu nyak bah ..abah bertatapan sama kang kuman😊
Erni Fitriana
jarrrr..Cintya menghilang elisa datanggggggg😆😆😆😆
Erni Fitriana
kang kuman👍🏾👍🏾👍🏾👍🏾👍🏾...teh sin,nuhun tos berbesae hati menterjemahkan suju sundanies..jasi berasa kita ijut KKN nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!