NovelToon NovelToon
Dark Impulsif

Dark Impulsif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Egi Kharisma

Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.

Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konflik Tak. Terduga

Sekitar pukul 21.30, Misca memutuskan sudah waktunya untuk pulang sesuai dengan jadwal yang ia tentukan sendiri—satu jam di festival sudah lebih dari cukup menurutnya. Ia sudah keluar dari zona nyaman lebih dari yang ia rencanakan, dan ia merasa perlu kembali ke rutinitas normalnya sebelum terlalu larut.

"Aku pulang duluan," ujar Misca tiba-tiba di tengah konser yang masih berlangsung.

Vino menoleh dengan wajah kecewa. "Eh, masa udah mau pulang? Konsernya belum selesai, Mis! Masih ada satu lagu lagi!"

"Aku sudah cukup lama di sini," jawab Misca dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Kalian lanjutkan saja. Aku akan antar Raya pulang dulu."

Mendengar nama Raya disebut, semua mata langsung tertuju pada gadis itu yang langsung merasa wajahnya memanas lagi.

"Oh, mau nganter Raya pulang dulu ya?" goda Vino dengan senyum jahil yang sangat lebar. "Romantis banget sih, Mis. Bener-bener gentleman."

Misca menatap Vino dengan pandangan datar—pandangan yang mengatakan "satu kata lagi dan kamu akan membayar mahal"—tapi Vino sudah terlalu senang untuk peduli dengan ancaman diam-diam itu.

Dhea merangkul Raya dengan erat sambil berbisik cukup keras, "Hati-hati di jalan ya, Ray. Jangan lupa, kalau ada apa-apa langsung chat aku! Aku mau dengar semua detailnya nanti!"

Raya hanya mengangguk dengan wajah yang sangat merah, tidak berani menatap mata Dhea yang penuh dengan arti.

Mereka berpamitan dengan yang lain—Jeka mengangguk sambil tersenyum kecil, Vino masih menyeringai penuh kemenangan—lalu berjalan menuju parkiran tempat motor Misca diparkir.

Saat mereka berjalan meninggalkan area festival menuju parkiran yang lebih sepi, suasana yang tadinya ramai dan penuh dengan musik perlahan memudar. Hanya tersisa suara langkah kaki mereka di aspal dan suara distant dari festival yang semakin jauh.

Tapi suasana tenang itu tidak berlangsung lama.

Tiba-tiba, di area parkiran yang lebih gelap dan sepi dari area festival, suasana yang tadinya tenang berubah drastis. Jeka, yang ternyata sudah berjalan duluan untuk mengambil sesuatu di motornya, tidak sengaja bertabrakan keras dengan seseorang yang berjalan dengan tergesa-gesa dari arah berlawanan.

BRAK!

Benturan itu cukup keras hingga membuat Jeka terdorong ke belakang dan hampir jatuh. Kacamatanya hampir lepas dari wajahnya. Ia sempat terhuyung beberapa langkah sebelum berhasil menjaga keseimbangannya.

"Aduh!" Jeka refleks memegang bahunya yang terbentur cukup keras.

Orang yang menabraknya adalah pria bertubuh sangat besar dan berotot—jauh lebih besar dari Nanda bahkan. Pria itu memakai hoodie gelap dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya, tapi aura yang mengancam sangat terasa bahkan dari jarak jauh. Ini bukan sekadar orang biasa—ini adalah someone yang berbahaya.

"Jalan pakai mata, bocah!" bentak pria itu dengan suara yang sangat berat dan menggelegar—suara yang membuat beberapa orang di sekitar mereka menoleh dengan takut.

Jeka, yang memang bukan tipe orang yang suka konflik fisik, berusaha tetap tenang meski jantungnya berdebar kencang. Ia membetulkan kacamatanya yang miring sambil mencoba mencairkan situasi dengan cara yang diplomatis.

"Maaf, Bang," ucapnya dengan nada yang berusaha tetap tenang dan sopan. "Saya benar-benar tidak sengaja. Saya tidak lihat Abang dari arah situ karena gelap."

Tapi pria besar itu—sebut saja Gus—tidak terlihat akan menerima permintaan maaf itu. Ia melangkah maju dengan langkah yang berat dan mengancam, lalu mendorong dada Jeka dengan sangat kasar menggunakan kedua tangannya.

BRAK!

Jeka terdorong mundur beberapa meter dan hampir jatuh terduduk. Napasnya tercekat karena dorongan yang sangat kuat itu. Kacamatanya kali ini benar-benar lepas dan jatuh ke aspal.

"Tidak sengaja? Kamu pikir ini jalanan punya nenek moyangmu?!" Gus semakin mendekat dengan wajah yang sangat mengancam.

Bima, yang kebetulan juga ada di area parkiran karena bertugas sebagai pengaman informal mengikuti perintah Misca, melihat situasi itu dari kejauhan. Ia segera berlari menghampiri untuk membantu Jeka—sahabat ketua yang telah menerimanya dengan baik.

"Eh, Bang! Jangan kasar-kasar!" Bima mencoba membelanya sambil berdiri di antara Gus dan Jeka. "Teman saya sudah minta maaf. Ini cuma kecelakaan kecil, nggak usah dibesar-besarkan."

Tapi Gus hanya menatap Bima dengan pandangan meremehkan—seolah Bima hanyalah semut kecil yang bisa ia injak kapan saja. Tatapan pria itu begitu tajam dan penuh dengan pengalaman bertarung hingga membuat Bima—yang sebenarnya cukup berani—sedikit ragu dan mundur setengah langkah.

Ini bukan sekadar preman biasa. Ini adalah orang yang sudah terbiasa bertarung—mungkin bahkan membunuh. Aura yang terpancar dari tubuhnya sangat berbeda dari orang-orang yang biasa Bima hadapi.

Vino, yang mendengar keributan dari arah festival, segera berlari ke parkiran bersama Dhea. Melihat Jeka yang masih berusaha bangkit dan Bima yang sudah dalam posisi defensif, Vino langsung mengerti situasinya.

"Sudah, Bang," ujar Vino sambil mencoba menepuk bahu Gus dengan ramah—mencoba menggunakan pendekatan yang lebih bersahabat. "Teman saya juga sudah meminta maaf. Kita selesaikan secara baik-baik saja. Nggak perlu ribut-ribut di sini. Ini tempat umum, banyak orang."

Tapi tangannya ditepis dengan sangat keras oleh Gus—sekeras orang menampar lalat yang mengganggu. Kekuatan tepisan itu membuat Vino terhuyung mundur beberapa langkah dan hampir kehilangan keseimbangan.

"Jangan sentuh aku, bocah!" bentak Gus dengan suara yang semakin keras.

Tiba-tiba, seorang pria lain yang lebih ramping namun gerakannya sangat lincah muncul dari balik bayangan area parkir yang gelap—seolah ia memang sudah mengintai dari tadi dan menunggu momen yang tepat. Pria ini, sebut saja Pria A, bergerak dengan sangat cepat dan tiba-tiba.

Tanpa basa-basi atau peringatan apa pun, ia langsung melayangkan pukulan keras ke arah wajah Jeka yang masih mencoba mengambil kacamatanya yang jatuh.

BUGH!

Pukulan itu mendarat telak di sudut bibir Jeka, membuat kepala pemuda berkacamata itu terlempar ke samping. Rasa sakit yang luar biasa langsung menyerang wajahnya. Ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari sudut bibirnya—darah.

Jeka tersungkur ke aspal dengan keras, tangannya refleks menyentuh bibirnya yang berdarah. Kacamatanya yang sudah retak tergeletak beberapa meter darinya. Pandangannya blur tanpa kacamata, tapi ia masih bisa merasakan rasa sakit yang luar biasa di wajahnya.

"Sudah, Gus. Biarkan saja anak-anak sekolah ini," ucap Pria A dengan nada yang sangat meremehkan sambil meniup buku-buku jarinya yang baru saja memukul—seolah apa yang baru ia lakukan adalah hal yang sangat sepele. Tatapannya kemudian tertuju tajam pada Vino, seolah sedang menandai dan mengingat wajahnya untuk nanti. "Mereka tidak layak buat dilawan di sini."

Vino, yang merasa harga dirinya terinjak karena melihat sahabatnya dipukul dan ditepis dengan kasar seperti sampah, tidak bisa lagi menahan amarahnya. Darah mudanya mendidih. Ia tidak peduli seberapa besar atau berbahaya lawan di depannya—yang ia tahu, sahabatnya baru saja disakiti dan ia tidak bisa diam saja.

Ia maju lagi dengan kepalan tangan yang mengeras, siap untuk membalas pukulan yang dilayangkan pada Jeka. Matanya menyala dengan kemarahan yang jarang muncul—Vino yang biasanya santai dan ceria kini berubah menjadi sosok yang siap bertarung habis-habisan.

"BERANI-BERANINYA KAMU PUKUL TEMAN AKU!" teriak Vino sambil melayangkan pukulan ke arah wajah Pria A.

Tapi pukulan itu bahkan tidak sampai. Gus, si pria besar, dengan mudah menangkap kepalan tangan Vino di udara menggunakan satu tangannya yang sangat besar—seolah menangkap bola yang dilempar anak kecil. Kemudian dengan gerakan yang sangat cepat untuk ukuran tubuhnya yang besar, Gus menahan dada Vino dengan tangan satunya, menghentikan gerakan Vino seketika.

Vino meronta dengan sekuat tenaga, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman yang terasa seperti cengkeraman besi itu. Tapi tidak ada gunanya—perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh. Seperti anak ayam yang mencoba melawan elang.

"Minggir, bocah!" bentak Gus dengan suara yang menggelegar, membuat beberapa orang yang lewat di area parkir berjengit ketakutan dan mempercepat langkah mereka—tidak ingin terlibat dalam masalah.

Melihat teman-temannya dalam posisi yang sangat terdesak dan berbahaya, insting Misca—yang baru saja keluar dari area festival bersama Raya—langsung bereaksi dengan sangat cepat. Otaknya yang biasanya sangat kalkulatif langsung beralih ke mode pertarungan.

Ia berlari dengan kecepatan penuh, membelah kerumunan orang-orang yang mulai berkumpul menonton keributan ini, menuju pusat konflik di area parkir yang semakin ramai dengan penonton.

Di mata Misca, semuanya seolah terjadi dalam gerakan slow motion yang sangat detail—kemampuan persepsi yang hanya dimiliki oleh petarung-petarung yang sudah sangat berpengalaman.

Ia melihat Vino yang meronta dalam cengkeraman Gus yang seperti besi, mukanya sudah merah karena kemarahan dan frustrasi tidak bisa berbuat apa-apa.

Ia melihat Bima yang tampak terpaku karena shock melihat level intimidasi yang jauh melampaui apa yang pernah ia hadapi selama ini—tangannya gemetar meski ia berusaha keras terlihat berani.

Dan yang paling menyakitkan—ia melihat Jeka, sahabat terbaiknya sejak SMP, tersungkur di aspal dengan bibir berdarah, kacamata retak tergeletak di sampingnya, tubuh gemetar tidak berdaya menghadapi kekasaran dan kekerasan yang baru saja ia alami.

Jeka adalah sahabat yang selalu ia jaga dengan sangat hati-hati. Jeka adalah orang yang paling tidak suka kekerasan di antara mereka semua. Jeka adalah sosok yang selalu tenang, selalu berpikir jernih, selalu menjadi otak di balik banyak strategi mereka. Dan sekarang, seseorang telah melukainya secara langsung di depan matanya.

Saat melihat pemandangan itu—saat melihat darah mengalir dari bibir Jeka—kemarahan yang sangat dingin menyelimuti Misca. Bukan kemarahan yang panas dan membabi buta seperti kebanyakan orang. Tapi kemarahan yang sangat dingin, sangat terkontrol, sangat fokus—Kemarahan yang jauh lebih berbahaya karena datang bersama dengan perhitungan akurat tentang bagaimana cara menyakiti lawannya secara paling tepat sasaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!