Sepuluh tahun mengejar cinta suaminya, Lara Margaret Buchanan, tidak kunjung dapat meluluhkan hati lelaki yang sejak masa kuliah itu ia sukai.
Hingga usianya menginjak tiga puluh dua tahun, akhirnya ia pun menyerah untuk mengejar cinta David Lorenzo.
Hingga tanpa sengaja, ia bertemu dengan seorang pemuda, yang memiliki usia sepuluh tahun dibawah usianya.
Siapa sangka, pesona Lara Margaret Buchanan sebagai wanita dewasa, membuat pria muda itu tidak ingin melepaskan Lara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31.
David perlahan menghela nafas untuk menenangkan perasaan tidak senang dalam dirinya.
"Lara, aku tahu kamu mencintai ku sejak kita masih kuliah, sampai kita menikah sepuluh tahun kamu masih tetap mencintai ku! kamu melakukan semua ini untuk menarik perhatian ku, kan? kamu dan dia membuat sandiwara berpura-pura menikah, dan memalsukan indentitasnya sebagai pewaris Jourell! ini sungguh konyol Lara!!"
Stefan mendengus dingin mendengar apa yang dikatakan David, dan sudut bibirnya juga menyunggingkan senyuman dingin.
"Menarik perhatian? cih! pria bodoh dan buta seperti mu tidak layak dicintai Lara, dia hanya bingung saja waktu itu telah salah mencintai pria seperti mu!!" jawab Stefan, lalu merangkul pinggang Lara.
Wajah David menjadi semakin memerah, "Bingung? apakah benar yang dia katakan?!" tanya David memandang Lara tajam.
"Ya! waktu itu aku hanya terobsesi sesaat saja, karena berhutang budi padamu! aku sudah membayar hutang ku selama sepuluh tahun, jadi.. sekarang aku sudah bebas untuk memilih pria yang tepat untukku!!" jawab Lara.
"Hem! benar! dan juga waktunya merasakan cinta tulus dariku, yang sudah lama menunggu Lara meninggalkan mu!!" kata Stefan menimpali, sembari tersenyum penuh kemenangan memandang David.
Stefan dan Lara kemudian saling memandang, lalu saling melemparkan senyuman manis satu sama lain.
Melihat pemandangan itu, perasaan David seketika tidak nyaman.
Dadanya terasa panas melihat kemesraan Lara dan Stefan, yang tampak seperti sedang memprovokasinya.
"Lara! tidak kusangka! selama ini kamu hanya berpura-pura cinta padaku! dan lebih memilih pria muda, yang layak menjadi adikmu ini? kamu sungguh tidak tahu malu, Lara!!!"
David tanpa sadar menaikkan nada suaranya semakin tinggi, dengan dada yang panas oleh amarah.
Mata Cindy seketika membulat melihat reaksi David mendengar perkataan Lara, yang tampak seperti pria yang sedang cemburu.
Permasalahan yang seharusnya mengungkapkan, kalau Stefan hanyalah seorang penipu.
Kenapa jadi mempermasalahkan tentang perasaan Lara, yang sebenarnya hanya membayar hutang budi saja kepada David.
Dengan nada lembut Cindy merangkul lengan David, "David, kamu jangan terpedaya dengan perkataan mereka, laki-laki itu bilang dia atasan mu! kamu harus mengadukannya pada atasan mu, agar dia mendapatkan hukuman karena sudah menjual nama Ceo Jourell!"
"Iya, kamu cepat hubungi Bos mu, supaya orang ini dipenjarakan! sudah begitu berani mengaku sebagai pemilik grup Jourell!!" Anna pun menimpali dengan penuh rasa benci melihat Lara.
David mengedipkan matanya.
Ia tidak memiliki nomor kontak Ceo atau pun Presiden Jourell grup, karena Ceo atau pun Presiden Jourell grup tidak pernah terlihat di kantor.
Ceo Jourell selalu diwakilkan oleh Asisten pribadinya, kalau berhadapan dengannya ataupun Direktur utama Jourell mengenai urusan kantor.
Hanya Asisten pribadi Ceo, atau Presiden Jourell yang mengenal pemilik grup Jourell.
"Kenapa kamu terlihat bimbang! cepat kamu laporkan dia!!" kata Cindy tidak sabaran.
"Aku akan menghubungi Asisten pribadinya!" jawab David.
"Kenapa Asistennya? kenapa tidak langsung saja menghubungi atasan mu?!" tanya Anna mengerutkan keningnya.
"Ceo Jourell tidak berada di ibukota, biasanya Asisten pribadinya yang ditugaskannya untuk menyelesaikan urusan kantor untuk sementara, Asistennya yang lebih mengenal Ceo mau pun Presiden Jourell!" jawab David, lalu menekan satu nomor pada layar ponselnya.
Sudut bibir Stefan menyunggingkan senyuman.
Ia memang benar tidak pernah menunjukkan dirinya di perusahaan, karena bukan hanya satu perusahaan saja yang harus ia perhatikan.
Sebelum Kakeknya meninggal, Kakeknya mewariskan beberapa aset kekayaannya kepada Ayahnya.
Gedung mall, kapal pesiar, hotel, dan beberapa aset lainnya, seperti apartemen mewah, dan resorts di berbagai tempat strategis pada sebuah pulau.
Setelah Ayahnya meninggal, ia yang mengambil alih semuanya untuk ia kelola.
Dan anak angkat Ayahnya yang licik, memiliki niat ingin menyingkirkannya.
Anak angkat Ayahnya itu, sudah berkali-kali berupaya menyingkirkannya dengan berbagai cara.
Sepertinya ia sudah tidak sabaran ingin mengambil posisi menjadi kepala keluarga Jourell.
Stefan melirik ke arah pintu toko, setelah David menghubungi Asistennya, Liam, untuk masuk ke dalam toko tersebut.
"Tuan Liam, akhirnya anda datang juga!!"
David menyambut Liam melangkah mendekati mereka.
Liam melirik Stefan.
Stefan memberi kode gerakan mata pada Liam, yang dapat Liam mengerti, apa yang Stefan katakan lewat gerakan matanya.
Liam menganggukkan kepalanya dengan gerakan pelan, tanpa seorang pun menyadarinya.
"Ada apa anda memanggil saya, Tuan Lorenzo?" yanga Liam.
"Tuan Liam, hanya anda yang mengenal dan melihat wajah Tuan Jourell yang baru! pemuda ini mengatakan dia pemilik Jourell grup, dan juga mengatakan VIP spesial di mall ini!!" kata David menunjuk Stefan.
Liam menoleh ke arah Stefan, "Oh, memang benar! beliau pemilik grup Jourell! dan gedung mall ini juga miliknya!" jawab Liam dengan tenang.
"Apa?!!" Cindy dan Anna terkejut bukan main, dan mereka nyaris jatuh terduduk mendengar jawaban Liam.
"Kami tadi sudah mengatakan, kalau Tuan Alden VIP prioritas dalam mall ini, tapi mereka tidak percaya!" kata salah satu pegawai toko.
"Tidak! tidak mungkin!!" Cindy menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan status Stefan.
"Anda pasti berbohong, Tuan Liam!!" kata David tidak percaya, dan juga tidak kalah lebih terkejutnya.
Pemuda yang ia remehkan, dan hina sebagai mahasiswa miskin ternyata atasanya.
Tubuh David terhuyung, dan nyaris jatuh ke samping seketika memperlihatkan raut wajah panik.
"Saya tidak berbohong, Tuan Lorenzo! Tuan Alden bukan hanya Ceo, dia juga Presiden grup Jourell!" kata Liam lagi menjelaskan siapa Stefan.
"Apa?!!!"
Bruk!!
David jatuh terduduk.
Ia telah menyinggung pewaris grup Jourell, habislah!
Posisinya sebagai wakil Direktur kini terancam sudah, dan ia sangat ceroboh sekali.
"Tidak mungkin! anda pasti berbohong, kan?!!" tanya Cindy yang tidak terima Lara mendapatkan yang lebih baik darinya.
"Kenapa? anda meragukan status Bos saya, Nona?!!" tanya Liam dengan nada dingin memandang Cindy.
"Iya! anda juga mungkin bukan Asisten pribadi Ceo perusahaan suami ku!!!" katanya mulai kalap, karena tidak terima keadaan Lara menjadi lebih setelah pisah dari David.
Ia ingin Lara menderita, dan tidak pernah merasakan kebahagiaan selama seumur hidupnya.
"Siapa Nona ini, Tuan Lorenzo? apakah dia istri anda?!!" tanya Liam tajam.
"Ya, wanita itu istrinya yang terlihat lemah lembut di hadapannya!!" jawab Stefan, dengan tatapan dingin memandang David yang terduduk di lantai.
Tangan Stefan memberi gerakan kode kepada salah satu pegawai toko, "Bawa ke mari rekaman cctv, saat istri Tuan ini tadi bersikap arogan pada istriku!!" katanya.
"Baik, Tuan!" jawab pegawai toko tersebut.
Stefan menerima sebuah tablet yang di ulurkan pegawai toko, yang kembali membawa hasil rekaman cctv.
Stefan melihat hasil rekaman cctv, lalu memberikannya kepada Liam, "Kasih dia lihat, seperti apa sifat asli istri yang sangat dia cintai itu!"
Liam mengambil tablet tersebut, dan menyodorkannya kepada Liam, tapi mendadak Cindy serta Anna seketika panik.
Bersambung.........