Memiliki pacar kaya merupakan impianku. Mengejar cinta pria kaya, walaupun hanya Om-om gemuk. Ada alasan tersendiri mengapa aku melakukannya, hanya untuk merebut perhatian ayahku dari tiga saudaraku yang berhasil memiliki kekasih direktur, dokter dan pilot.
*
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipiku, terasa kebas."Dasar pelakor!" teriak seorang wanita paruh baya. Aku yang salah karena menyangka suaminya seorang duda, pria tua gemuk yang menipuku.
Hingga pertolongan itu datang. Tetangga kostku yang paling miskin dan pelit. Seorang pemuda dengan celana pendek dan kaos kutangnya.
"Pelakor?Dia bukan pelakor, kami sudah lama menikah,"dustanya. Pemuda yang hanya tersenyum merangkul bahuku.
"Aku minta makan"
"Aku pinjam uang"
"Boleh pinjam komputer?Aku lupa beli pulsa listrik!"
Benar-benar makhluk pengiritan sejati. Hingga pada malam gelap dia berkata.
"Aku meminta anak darimu,"
Satu yang tidak aku ketahui manusia pengiritan ini, adalah konglomerat irit, posesif yang akan menjeratku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sengketa Lahan
Angin menyapu rambut mereka. Dua orang yang menikmati suasana di pinggiran kota. Tempat yang cukup jauh dari pemukiman.
"Fujiko, ayo kita membuat anak, aku janji akan menikahimu," bisik Raka tiba-tiba. Janji seorang pria yang dibuatnya dengan keyakinan dapat ditepatinya. Tanpa fikir panjang, entah dimana pemuda kikir yang memperhitungkan biaya pembelian Pampers.
Gadis itu mengenyitkan keningnya kesal, menatap tajam ke arah Raka."Membuat? Kamu kira membuatnya menggunakan adonan tepung? Kita harus mempersiapkan minimal rumah untuk tempatnya berteduh,"
"Aku sudah punya rumah untuk---" Kata-kata Raka disela.
"Sudah! Jangan fikirkan anak dulu. Aku ingin tetap seperti ini. Aku mencintaimu," ucapnya mengecup pipi Raka cepat.
Wajah pemuda itu bersemu merah, mengalihkan perhatiannya ke tempat lain."Genit!" cibirnya gemas.
Sepasang muda-mudi yang merebahkan tubuh mereka di atas tikar. Memakai headset mendengarkan musik, mata mereka menatap ke arah cahaya dari celah-celah pepohonan. Sangat nyaman, saling mengeratkan pelukan, udara sejuk membuat mereka terlelap perlahan. Begitulah pasangan kumpul kebo yang kini tidur berdua di alam terbuka.
Sungguh aneh memang, mereka tidak pernah digrebek atau berhasil di nikahkan. Bahkan saat kumpul kebo di rumah kepala desa belasan tahun lalu saja, warga seperti enggan menikahkan mereka. Sungguh pasangan yang terlalu beruntung.
Raka perlahan membuka matanya langit dengan warna kejinggaan terlihat. Aneh memang dirinya tidak begitu takut lagi, seperti saat baru sampai. Detik-detik terburuk dalam hidupnya, kala dirinya menembak seorang penculik. Tubuhnya bahkan terdorong ke belakang akibat senjata api yang dipegang tangan kecilnya.
Hari-hari itu telah berlalu, yang tersisa hanya sepinya langit senja. Gadis ini akan dinikahi olehnya, cepat atau lambat akan menjadi miliknya.
"Fujiko," ucapnya membangunkan sang gadis.
"Emh... sudah sore ya?" Sang gadis menggaruk-garuk kepalanya hingga hujan salju sedikit terlihat, maaf salah hingga ketombenya sedikit rontok.
"Ayo pulang," Raka tersenyum, membereskan kue kering dan termos kecil yang mereka bawa.
"Kita tidur terlalu lama." Gerutu Fujiko menggulung tikar.
"Jika kita menikah, pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Raka penasaran.
"Yang sederhana sudah cukup, hanya perlu ayah, ibu dan keluargaku yang hadir. Tidak perlu pesta resepsi. Malam pertama hanya perlu di tempat kost saja." Jawaban dari Fujiko.
"Bagaimana jika pernikahan yang megah seperti pernikahan keluarga konglomerat?" Raka kembali bertanya, bertambah penasaran rasanya.
"Tidak mau, terlalu memalukan memakai gaun glamor seperti anak kecil yang sedang ulang tahun. Lagi pula lebih baik menabung untuk masa depan bukan?" Kata-kata dari Fujiko membuat Raka tersenyum.
*
Hari sudah mulai gelap, motor mereka melaju, hingga tempat kost, hanya untuk sekedar mengantarkan Raka. Sedangkan Fujiko kembali ke rumah ayahnya, mengingat cutinya yang tinggal satu hari lagi.
Raka turun, kemudian melepaskan helmnya, mengecup leher kekasihnya. Itulah hobinya saat ini, memasang tanda patok agar tidak ada petani lain yang menggarap lahan miliknya.
"Hati-hati," bisik sang pemuda membuat Fujiko tersenyum-senyum sendiri. Gadis yang mengangguk malu, melajukan motornya pergi.
"Sayang! Hati-hati titip hatiku! Jangan sampai terluka, nanti aku mati!" teriak Raka, membuat gadis itu semakin salah tingkah kala melajukan motornya, menuju jalanan besar.
"Bucin!" Cibir Ragil, membuat Raka menoleh ke arah tiga orang yang duduk di teras.
"Restauran Eropa mewah seberang jalan," Evi menagih traktiran, sambil memakan kripik singkong.
"Raka tidak punya uang untuk mentraktirmu. Omong-ngomong kapan kami bisa kondangan? Biar aku yang merias Fujiko, untuk kalian gratis kok! Aku tau kalian berstatus teman dulu, karena tidak punya uang untuk menikah. Karena itu, anggap ini sebagai bantuan dariku." Cahaya terlihat tulus, menatap sepasang sahabat yang kini telah menjadi sepasang kekasih. Kisah cinta yang disaksikannya dengan mata kepalanya sendiri.
Raka menghela napas kasar, tersenyum kecil."Aku akan menghubungi ibu dan ayahku untuk melamarnya,"
Pemuda yang berjalan menuju kamar kostnya, membuat ketiga orang itu menghela napas kasar. Jiwa gosip mereka meronta-ronta mungkin karena asuhan ibu yang sering bergosip tentang janda kampung sebelah.
"Akan menikah? Apa Fujiko hamil? Bahkan di leher Raka kemarin ada cap stempel persetujuan enna-enna. Fujiko mungkin sudah hamil muda sekarang," ucap Cahaya antusias, mencomot keripik singkong milik Evi.
"Ganas!" gumam Ragil membayangkan apa yang dilakukan pasangan sahabat yang sudah menjadi kekasih itu.
"Kehidupan bagaikan Cinderella, pesta megah dengan makanan berkelas. Memakai gaun yang panjang menjuntai, bertahtakan berlian. Menggandeng seorang pria dengan tuxedo mahal, perhiasan indah di kulit putihnya. Minuman alkohol dengan harga tinggi, souvernir pernikahan, emas batangan berukuran kecil." Evi dengan pemikiran yang melayang entah kemana.
Cahaya dan Ragil menoleh bersamaan pada Evi."Hanya akan ada ayam suir, dan mie di resepsi pernikahan mereka. Itupun kalau ada resepsi." Ucap Cahaya menatap heran.
*
Adinda menghela napas kasar, dirinya hendak memesan tiket ke luar negeri. Liburan ke Afrika? Suaminya benar-benar royal, memanjakannya. Tidak seperti putranya yang benar-benar pelit, untungnya Barbara bersabar menunggunya. Jika bukan Barbara gadis mana yang mau dengan makhluk super pelit seperti putranya.
Namun, baru saja hendak memesan tiket, suara phonecell berbunyi terdengar, dengan nama pemanggil Raka.
"Halo, ada apa!? Apa kamu sudah menghamili Barbara?" tanya sang ibu pada putranya tanpa sensor atau filter.
"Bukan itu! Aku sudah bilang aku punya pacar!" Jawaban dari Raka di seberang sana.
"Kalau punya pacar, bungkus pakai plastik, bawa ke rumah! Jangan cuma cengengesan! Atau jangan-jangan kamu kaum pelangi dan pacarmu ternyata pria berotot?" geram sang ibu.
"Aku ingin melamarnya, sebenarnya aku ingin membawanya bersamaku ke luar negeri dua minggu lagi," ucap Raka terkekeh.
"Ka...kamu ingin menikah? Benar-benar menikah? Mencetak bayi?" tanya Adinda pada putranya.
Raka menghela napas kasar, terdengar jelas jika putra tunggal Adinda itu gelisah."Iya, tapi dia dari keluarga biasa. Ingin pernikahan yang biasa-biasa saja. Apa boleh?"
"Tidak! Kamu mau ibu kalah dari bibimu (ibu Imanuel). Pesta pernikahan di kapal pesiar, undang semua rekan bisnis. Kita adakan selama tiga hari." Tegas Adinda terdengar antusias. Dirinya tidak akan diejek karena belum memiliki cucu, sedangkan tunangan Imanuel kini tengah mengandung.
"Masalahnya dia tidak percaya aku dari keluarga kaya. Katanya harus berhemat. Aku tidak bisa menolak permintaannya, seperti ayah yang tidak bisa menolak permintaan ibu." Pinta Raka mengalami syndrom yang sama dengan ayahnya, menjadi budak istri.
"Biar ibu yang menjelaskan!" Adinda bertambah semangat.
"Dia mengira, ibu dan ayah orang desa. Selain itu aku pernah menciumnya dengan status putra kalian, hasilnya aku di tampar di hadapan umum." Pemuda yang merebahkan tubuhnya, masih mengenakan earphonenya.
"Jadi dia tidak menyukaimu yang kaya tapi menyukaimu yang kikir? Apa dia waras?" tanya Adinda tidak habis fikir.
"Dia waras dan lebih cantik dari tunangan Imanuel." Ucap Raka, mengirim foto tanpa mengakhiri panggilan.
Adinda membulatkan matanya, dengan tingkat kepelitan tidak wajar putranya mendapatkan gadis cantik? Senyuman terlihat di wajahnya. Memberi kejutan dengan menikahkan Raka diam-diam, kemudian memperkenalkan menantunya yang cantik, setelah hamil.
Rencana yang luar biasa bukan?
"Namanya siapa?" tanya Adinda lagi.
"Fujiko, lulusan S1, bekerja sebagai buruh pabrik. Awalnya dia seperti wanita pada umumnya, tapi setelah kami menjadi kekasih dia berubah, menjadi kikir. Aku---" Kata-kata Raka disela.
"Jadi ibu akan menjadi orang desa. Lalu bagaimana kamu membawanya ke luar negeri? Orang miskin tidak akan mempunyai tiket!" tanya Adinda.
"I...itu aku akan menjelaskan pelan-pelan," Jawaban yang terdengar meragukan dari Raka. Tapi ini adalah pilihannya, ada perasaan tidak nyaman ketika melihat Sean. Sesuatu yang buruk akan terjadi jika dirinya, membiarkan lahannya kering terlalu lama. Mungkin akan ada orang lain yang mengairi dan membajaknya.