Di usia yang sudah cukup matang, nyatanya ArXy Rahardian Wijaya belum juga mau menikah. Ia masih begitu nyaman dengan kesendiriannya meski julukan Si bujang lapuk melekat padanya.
Hingga kedua orangtuanya pun terpaksa menjodohkan Putra sulung mereka itu dengan gadis manis bernama Starla.
Starla adalah anak Piatu yang dibesarkan hanya oleh ayahnya saja yang seorang pemabuk juga penjudi. Demi menebus pria itu di dalam penjara ia menerima tawaran menikah dengan Pewaris Rahardian Group.
Pernikahan yang hanya diatas kertas itupun akhirnya berujung dengan perceraian.
Mereka berpisah dan sibuk dengan kehidupan masing-masing hingga takdir justru membawa keduanya kembali bertemu.
Rasa yang berbeda pun ArXy rasakan pada Mantan Istrinya tersebut.
Akankah cintanya diterima kembali?
Usaha apa yang akan di lakukan ArXy demi kembalinya Si masalalu?
Yuk, kepoin kisah cucu anak bawang yang tak seindah keturunan Buaya 🤣🤣
Like komen dan Subscribe ya, Sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenengsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Starla.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Yeeeeeeeeee, aku lulus!" teriak Starla sambil berlari kearah Arlan yang sudah menunggunya sejak tadi, ia memang membiarkan wanita itu bersenang senang dulu bersama teman-temannya di hari wisudanya saat ini.
Ya, kurang lebih 4 tahun janda muda yang kini berusia 23 tahun tersebut menikmati hari harinya sebagai mahasiswi di salah satu universitas ternama di kota X. Ia hanya fokus belajar dan bersenang senang dengan berbagai kegiatan positif. Di tempat barunya ini tak ada yang tahu siapa dirinya, tak ada yang tahu jika ia anak yatim piatu yang bapaknya dulu seorang yang tak patut di contoh dalam memberikan nafkah, orang juga tak ada yang tahu jika ia adalah jandanya Tuan Muda ArXy Rahardian Wijaya.
Selama itu juga Starla hanya menggunakan uang dalam rekeningnya yang masih saja banyak meski ia pakai untuk kebutuhan sehari-hari serta biaya kulianya, jadi sudah bisa di bayangkan berapa banyak harta yang di berikan mantan suaminya tersebut untuk ibu dari putri kecilnya.
"Selamat ya, aku ikut senang."
"Berkatmu, jika kamu tak ada, aku tak akan sekuat ini, Kak," ucap Starla yang selalu berterima kasih pada mantan asisten pribadi direktur utama Rahardian group.
Hubungan keduanya tetap baik sampai sekarang, Arlan satu-satunya pria yang dekat dengan Starla selama 4 tahun ini. Bahkan, banyak yang curiga jika keduanya memiliki hubungan spesial padahal nyatanya tidak sama sekali. Entah harus di sebut apa, mereka pun tak paham karna semua mengalir begitu saja tanpa ada ungkapan cinta dari bibir keduanya terutama Arlan yang sampai detik ini pun tak memiliki kekasih.
Rasa nyaman satu sama lain membuat keduanya semakin terbuka, tak ada kalimat sayang yang ada hanya sikap memberi dan menerima.
"Apa rencanamu setelah ini?" tanya Arlan.
"Entah, aku mau pulang dulu, Kak."
Arlan pun mengangguk setuju, mungkin terlalu dini juga bagi ia menanyakan hal tersebut.
Keduanya pun masuk kedalam mobil bergegas menuju rumah Starla.
.
.
Bangunan rumah itu tak mewah, hanya ada satu lantai dengan dua kamar tidur, ruang tamu, tengah, dapur dan halaman. Starla memang sengaja memilih yang tak begitu besar karna ia tinggal sendiri dan semua pun ia kerjakan sendiri kecuali masak yang memang jarang ia lakukan karna lebih sering makan diluar di tengah aktifitasnya yang padat. Tak ada satu makananpun yang ia rindukan karena sejak kecil lidahnya terbiasa dengan nasi bungkus dan mie instan. Yang ia rindukan mungkin beberapa cemilan dan kue yang dulu sering di bawa Rindu dan Qia.
Hem, apa kabarnya dua wanita ber gelar istri sempurna tersebut ya?
Starla kadang mengulum senyum saat ingat dulu mereka sering bercerita tentang tingkat kemesuman Si Bayi besar dan Terompet kiamat.
Sedih kadang, karna ia tak bisa di ratukan oleh pasangannya. Tapi tak apa, karna acuhnya pria yang ia cintai menjadikannya wanita kuat dan mandiri.
"Aku sudah pesan makanan, kita makan dirumah saja ya," terang Arlan saat Starla keluar dari kamarnya usai membersihkan diri. .
"Terserah Kak Arlan saja," sahut Starla pasrah, protes pun tak ada guna karna pria baik itu sudah memesannya lebih dulu tanpa bertanya lagi tapi sialnya justru selalu tepat dengan yang ia inginkan.
Keduannya kini duduk di kursi meja makan, Arlan membuatkan jus mangga kesukaan Starla seperti biasa dan lagi lagi itu tanpa ia minta.
"Terimakasih," ucap Starla, entah sudah berapa banyak kalimat itu di lontarkan nya untuk Arlan.
Starla menyesap sedikit demi sedikit minumannya sambil ia aduk aduk sampai akhirnya ia berani mengutarakan keinginannya yang cukup lumayan lama ia pendam.
"Kak, aku mau pulang sebentar bisa?"
"Untuk apa?" tanya Arlan.
"Aku ingin ziarah ke makan ibu dan bapak, meski doaku tak putus dari sini tapi bukan berarti aku tak ingin mengunjungi makam mereka walau sebentar saja, sembari mengelus nama keduanya di batu nisan dan menabur bunga," jawab Starla lirih, rindunya sungguh menggebu gebu apalagi hari kematian Bapak sama dengan hari kelahiran putrinya.
Entah harus perasaan apa yang Starla suarakan di tanggal tersebut, tanggal yang membuat ia mati rasa juga sampai detik ini, dimana hatinya bukan lagi di cubit tapi sudah di tusuk dan di hancurkan hingga berserak sedemikian rupa.
"Kapan?jangan minggu-minggu ini, kerjaanku lumayan padat." Arlan pun mulai bernegosiasi waktu, ia yang kini sedang merintis usaha kecil kecilan tentu harus me-manage waktu sabaik mungkin, mana urusan pribadi dan mana untuk pekerjaannya.
"Tak apa jika tak bisa mengantar ku, Kak."
"Jangan buatku khawatir, tanpamu didepan mataku sudah sangat membuatku cukup cemas," tegas Arlan agar Si janda muda itu paham.
"Hem, baik lah, kamu saja yang atur waktunya karna habis ini aku hanya ingin bersantai lebih dulu. Dan saat pulang ziarah nanti di ibu kota aku baru mulai melamar pekerjaan," kata Starla.
"Kamu ingin bekerja sebagai apa? meski kantorku tak besar tapi semua karyawanku di gaji sesuai hak mereka," balas Arlan yang masih berharap Starla tak jauh darinya.
"Bukan masalah gaji, aku hanya ingin tempat yang nyaman karna bekerja bukan perkara satu dua hari, Kak."
"Kamu tak nyaman denganku, Hem?" selidik Arlan dengan tatapan serius dan itu membuat Starla serba salah.
.
.
.
Bukan begitu, aku hanya --,