Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.
Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.
Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.
Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 — HARI BERKABUNG
Pintu utama Joglo dibuka tepat pukul sembilan pagi. Bukan oleh kunci yang diputar pelan, melainkan dengan palang kayu yang ditarik kasar dari luar, menimbulkan bunyi berderit yang menyakitkan telinga. Cahaya matahari menyerbu masuk, debu-debu berterbangan di udara yang pengap, menyoroti wajah-wajah mahasiswa yang semalaman tidak tidur.
Kang Jaya berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna hitam dengan motif parang rusak—motif yang seharusnya hanya dipakai oleh kalangan bangsawan atau dalam situasi perang, namun di sini dipakai untuk melayat.
"Siap-siap," perintah Kang Jaya datar. "Jenazah mau diberangkatkan. Tidak sopan kalau teman-temannya tidak mengantar sampai liang lahat."
Nara bangkit dengan susah payah. Kakinya kram, dan perutnya perih karena belum diisi nasi sejak kemarin siang. Ia menatap Kang Jaya dengan kebencian yang membara, namun ia tahu perlawanan fisik saat ini percuma. Raka masih meringkuk di sudut, matanya bengkak dan merah. Siska terlihat kosong, bibirnya kering pecah-pecah. Dion memeluk jurnalnya seperti kitab suci.
Hanya Lala yang tampak siap. Gadis itu sudah berdiri di dekat jendela, membiarkan sinar matahari menerpa wajahnya yang dirias tipis namun memberikan efek dramatis. Ia mengenakan kebaya hitam—yang entah ia dapat dari mana, mungkin dari lemari tua di kamar itu—dan kain jarik bermotif bunga kamboja.
"Ayo," ajak Lala riang, suaranya sedikit melayang. "Kasihan Bima nunggu lama. Tanah udah manggil."
Mereka digiring keluar.
Suasana di luar Joglo membuat bulu kuduk Nara meremang.
Ratusan warga Desa Wanasari sudah berkumpul di sepanjang jalan utama. Mereka semua mengenakan pakaian hitam atau gelap. Bapak-bapak memakai peci hitam, ibu-ibu memakai kerudung atau selendang hitam.
Sekilas, ini tampak seperti suasana duka yang mendalam. Namun, Nara merasakan kejanggalan yang menusuk.
Tidak ada isak tangis. Tidak ada mata sembab.
Wajah-wajah itu... cerah. Kulit mereka tampak segar, pipi mereka merona sehat. Mata mereka berbinar-binar, seolah mereka sedang berbaris menunggu pawai karnaval kemerdekaan, bukan iring-iringan mayat. Mereka saling berbisik, tapi nada bisikan itu antusias, diselingi anggukan kepala yang cepat dan senyum tipis yang buru-buru disembunyikan di balik ujung selendang saat rombongan mahasiswa lewat.
"Liat mereka, Yon," bisik Nara, meremas lengan Dion. "Mereka nggak sedih."
Dion mengangguk kaku, matanya liar mengamati mikro-ekspresi warga. "Mereka kayak abis menang lotre, Nar. Atau kayak petani yang ngeliat padi siap panen."
Di depan Balai Desa, keranda Bima sudah siap. Bukan keranda hijau besi seperti di kota, melainkan keranda dari bambu kuning yang dianyam kasar, ditutupi kain jarik batik berlapis-lapis. Di atas keranda itu, bukan bunga melati yang ditabur, melainkan bunga kantil dan kenanga yang baunya menyengat, bercampur dengan bau amis yang samar namun persisten—bau besi berkarat.
Bau darah.
Pak Wiryo berdiri di samping keranda, memegang payung hitam besar. Ia melihat Nara dan teman-temannya mendekat, lalu mengangguk takzim.
"Mari, Nak Nara. Jalan di depan. Kalian keluarga terdekatnya di sini," kata Pak Wiryo.
Prosesi dimulai.
Tidak ada La ilaha illallah yang dikumandangkan. Sebagai gantinya, para penabuh gamelan di pendopo memukul instrumen mereka dengan irama lambat yang menghipnotis. Dung... tak... dung... gong...
Suara itu berat, merambat lewat tanah, menggetarkan telapak kaki.
Nara berjalan di samping keranda. Ia bisa mencium bau busuk yang mulai menguar dari balik kain batik itu, meski Bima baru meninggal semalam. Pembusukan di desa ini berjalan sepuluh kali lebih cepat.
Mereka berjalan menuju area pemakaman yang terletak di bukit kecil di ujung timur desa. Jalan menanjak itu dipenuhi pohon kamboja tua yang batangnya meliuk-liuk seperti tubuh penari.
Sesampainya di pemakaman, Nara menahan napas.
Ini bukan pemakaman biasa. Tidak ada nisan batu atau kayu nama. Yang ada hanyalah gundukan-gundukan tanah merah dengan pasak kayu ulin hitam yang ditancapkan di bagian kepala. Ribuan pasak hitam, berbaris rapi sampai ke dalam hutan.
Sebanyak inikah orang yang mati di sini?
Liang lahat untuk Bima sudah digali. Tanah merahnya basah dan lengket. Lubang itu tampak terlalu dalam, gelap, dan... lapar.
"Turunkan," perintah Mbah Sakir.
Empat pemuda desa menurunkan keranda bambu itu. Mereka tidak mengeluarkan jenazah Bima dari keranda. Mereka menguburkannya bersama keranda bambunya.
"Lho, Pak? Kok nggak dibuka? Nggak dihadapkan kiblat?" protes Siska, suaranya parau.
"Di sini kiblatnya ke bawah, Ndhuk," jawab Mbah Sakir dingin. "Ke pusat bumi. Ke pangkuan Ibu."
Siska hendak maju, tapi Raka menahannya. Raka menggeleng lemah, wajahnya pucat pasi. "Jangan, Sis. Jangan cari masalah. Gue nggak mau digituin juga."
Saat keranda menyentuh dasar liang, suara benturan bambu dengan tanah terdengar seperti suara tulang patah yang keras.
Krak.
Mbah Sakir mengambil sebuah kendi tanah liat. Ia tidak menyiramkan air mawar. Ia memecahkan kendi itu di atas nisan kayu yang belum ditanam.
Cairan di dalamnya tumpah ke dalam liang. Cairan hitam pekat.
Darah.
Itu darah ayam cemani—ayam hitam legam. Baunya langsung menyerbak, manis dan anyir, membuat lalat-lalat hijau besar mendadak muncul entah dari mana, berdengung bising di atas lubang kubur.
"Makanlah..." bisik Mbah Sakir, matanya yang buta menatap langit. "Anak bungsu sudah pulang. Dagingnya muda. Tulangnya kuat. Terimalah sebagai panjar (uang muka)."
Panjar? batin Nara berteriak. Jadi Bima cuma uang muka?
Setelah itu, warga mulai menimbun tanah. Mereka tidak menggunakan cangkul. Mereka menggunakan tangan.
Puluhan warga maju bergantian, mengambil segenggam tanah merah, lalu melemparkannya ke dalam lubang sambil menggumamkan sesuatu.
Nara menajamkan telinganya. Ia mendengar apa yang diucapkan seorang ibu muda yang menggendong bayi saat melempar tanah.
"Maturnuwun, Gusti... Panen tahun ini bakal melimpah."
Lalu seorang bapak tua yang batuk-batuk.
"Semoga sakitku pindah ke dia. Amin."
Darah Nara mendidih. Mereka tidak sedang mendoakan Bima. Mereka sedang memindahkan kesialan, penyakit, dan kemiskinan mereka ke dalam kubur Bima. Mereka menjadikan mayat temannya sebagai tempat sampah spiritual.
Tubuh Bima adalah tumbal pembersih desa.
"Biadab," desis Nara. Tangannya mengepal hingga kuku menancap ke telapak tangan. "Kalian semua sakit jiwa."
Dion menyenggol bahu Nara keras. "Tahan, Nar. Tahan emosi lo. Itu yang mereka mau. Liat Pak Wiryo."
Nara menoleh ke arah Pak Wiryo. Kepala desa itu sedang mengamatinya. Senyum tipis bermain di bibirnya, mata tuanya berkilat penuh harap. Ia menunggu Nara meledak. Ia menunggu Nara mengamuk, menangis, atau menyerang, karena emosi yang meledak adalah bumbu penyedap bagi entitas yang mereka sembah.
Nara menarik napas panjang, menelan ludah pahit kemarahannya. Ia memasang wajah datar, sedingin batu nisan. Ia tidak akan memberikan kepuasan itu pada mereka.
Tiba-tiba, Lala maju ke bibir liang lahat.
Lala tidak melempar tanah. Ia melempar bunga kantil yang ia ambil dari sanggulnya.
"Tidur yang enak ya, Bim," ucap Lala lembut, suaranya merdu namun membuat ngilu. "Jangan kangen. Nanti giliran kita nyusul kok. Antre."
Lala tersenyum manis ke arah lubang kubur yang kini sudah tertutup setengah. Lalu ia berbalik, menatap teman-temannya dengan tatapan yang asing.
"Udah kan?" tanya Lala santai. "Laper nih. Katanya ada makan-makan abis ini."
Ritual pemakaman ditutup dengan "kenduri" di sekitar kuburan. Warga menggelar tikar di antara nisan-nisan pasak hitam itu. Nasi tumpeng dikeluarkan. Ayam ingkung disuwir.
Mereka makan dengan lahap di atas tanah kuburan.
Suasana berubah menjadi piknik yang mengerikan. Tawa mulai terdengar lepas. Anak-anak berlarian di antara makam, bermain petak umpet di balik pohon kamboja. Para pemuda merokok sambil membicarakan rencana panen singkong.
Seolah-olah gundukan tanah merah yang masih basah di tengah mereka itu tidak ada. Seolah-olah seorang manusia tidak baru saja mati dengan cara yang mengenaskan.
Bu Kanti mendekati kelompok mahasiswa yang berdiri kaku di pinggir area pemakaman. Ia membawa piring berisi nasi kuning dan potongan hati ayam.
"Makan, Nak," tawar Bu Kanti. "Nasi berkah. Biar nggak ketempelan sawan mayit."
Nara menatap potongan hati ayam yang merah kecokelatan itu. Perutnya bergejolak. Dalam imajinasinya, hati itu terlihat seperti organ manusia.
"Kami nggak laper," tolak Nara dingin.
"Harus makan," desak Bu Kanti, senyumnya mulai retak, matanya melotot sedikit. "Menolak nasi berkah itu sombong. Orang sombong umurnya pendek di sini."
Dion maju, mengambil piring itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Bu. Kami makan. Kami... kami cuma masih syok."
Dion menyuapkan nasi itu ke mulutnya, memaksanya masuk meski kerongkongannya menolak. Ia mengunyah pelan, air mata menggenang di sudut matanya. Ia melakukan ini agar Bu Kanti pergi. Agar mereka selamat satu jam lagi.
"Pintar," Bu Kanti mengelus rambut Dion seperti mengelus kucing peliharaan. "Temanmu yang kacamata ini penurut ya, Nak Nara. Sayang... biasanya yang penurut habis duluan."
Bu Kanti berlalu sambil tertawa kecil, bergabung dengan ibu-ibu lain yang sedang membagi-bagikan jajan pasar.
Nara menarik Dion menjauh, ke balik pohon besar. Raka dan Siska mengikuti.
"Muntahin, Yon," perintah Nara.
Dion membungkuk, memuntahkan nasi kuning itu ke tanah. "Gila... rasanya... rasanya kayak tanah, Nar. Nasi itu rasanya kayak tanah kuburan."
Raka merosot duduk di akar pohon. Ia memeluk lututnya, pandangannya kosong menatap gundukan tanah Bima di kejauhan.
"Mereka seneng Bima mati," bisik Raka. "Gue liat Kang Jaya tadi. Dia salaman sama Pak Wiryo. Salaman kayak orang abis deal jual beli mobil. Mereka jual Bima, Nar. Mereka jual kita."
"Gue tau," kata Nara, matanya menatap tajam ke arah kerumunan warga yang sedang berpesta. "Ini bukan hari berkabung. Ini hari syukuran."
"Terus kita gimana?" isak Siska. "Bima udah. Siapa lagi abis ini? Gue? Lo?"
"Nggak ada yang bakal mati lagi kalau gue bisa nyegah," kata Nara, meski ia sendiri tidak yakin bagaimana caranya.
"Gimana caranya, Nar?" Raka mendongak, keputusasaan terpancar jelas di wajahnya yang lebam. "Kita dikurung. Jalan ilang. Mobil ancur. Temen kita sendiri..." Raka melirik ke arah Lala yang sedang tertawa bersama para pemuda desa, "...udah jadi salah satu dari mereka."
Nara menatap Lala. Gadis itu sedang disuapi ketan hitam oleh seorang pemuda. Lala menerima suapan itu dengan manja, bibirnya merah, matanya berkilat nakal. Tidak ada lagi jejak Lala yang dulu—mahasiswi ceria yang hobi update status. Yang ada hanyalah onggokan daging cantik yang kini dikemudikan oleh nafsu purba.
"Kita harus cari tahu pusatnya," kata Nara. "Setiap ritual pasti ada pusatnya. Ada jantungnya. Kalau kita bisa hancurin itu..."
"Jantungnya di sumur hutan," potong Raka cepat, trauma di matanya kembali menyala. "Gue liat. Di dalem air itu. Ada ratunya. Ada bayi-bayinya."
"Bukan," sela Dion. Ia membersihkan mulutnya dengan lengan baju. "Sumur itu cuma pintu gerbang, Rak. Dapur mereka. Tapi ruang kendalinya bukan di situ."
Dion mengeluarkan secarik kertas lusuh dari saku celananya. Itu sobekan dari jurnalnya yang ia sembunyikan.
"Gue sempet baca buku sejarah desa di balai desa pas kita nunggu jenazah tadi malem. Ada satu lembar yang hampir sobek," jelas Dion. "Di situ tertulis: Pancer Omah, Pancer Desa. (Pusat Rumah, Pusat Desa)."
"Artinya?"
"Pusat mistis desa ini terikat sama satu bangunan," mata Dion menatap lurus ke arah Nara. "Rumah kita. Joglo itu."
Nara terdiam. Rumah itu. Pintu hitam yang terkunci. Kamar tanpa jendela.
"Kamar itu..." gumam Nara. "Kamar yang selalu dikunci."
"Bener," angguk Dion. "Apa pun yang ngendaliin desa ini, atau seenggaknya 'induk' semang dari entitas yang ngerasukin Lala dan bunuh Bima... ada di dalem kamar itu. Kita tidur di sebelah jantung iblis selama ini."
Angin berhembus kencang, menggugurkan bunga kamboja di sekitar mereka. Aroma kemenyan dan darah kembali menusuk hidung.
Di tengah pesta kematian itu, Nara membuat keputusan gila.
"Nanti malem," bisik Nara. "Kita bongkar kamar itu. Apa pun yang terjadi."
Di kejauhan, Pak Wiryo menatap mereka dari balik kerumunan. Ia mengangkat gelas berisi cairan merah, seolah bersulang untuk keberanian bodoh mereka. Ia tahu rencana mereka. Di Wanasari, bahkan pikiran pun tidak bisa disembunyikan dari tanah yang lapar.
Hari berkabung telah selesai. Kini, hari perburuan dimulai.