NovelToon NovelToon
Bloom In Rot

Bloom In Rot

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / Enemy to Lovers / Dark Romance / CEO
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."

Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.

Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.

Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.

Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.

Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan dengan Lily

Tok. Tok. Tok.

Ketukan lembut di pintu kamar tidur membuatku tersentak.

Aku cepat-cepat keluar dari kamar mandi, berusaha menyembunyikan kepincanganku. Sebelum aku sempat menjawab, pintu kamar tidur terbuka perlahan.

Sebuah kepala menyembul masuk. Rambut cokelat terang yang ikal. Mata yang berbinar.

"Kak Elara? Kau sudah bangun?"

Itu Lily.

Dan Tuhan, dia terlihat... berbeda.

Dia masuk ke dalam kamar, setengah berlari kecil. Gaun rumah katun berwarna kuning pastel membalut tubuh kurusnya dengan pas. Renda-renda putih menghiasi kerah dan ujung lengan. Rambutnya yang biasanya kusut dan diikat karet gelang bekas nasi bungkus, kini tergerai rapi, bersih, dan berkilau.

Dia tidak lagi terlihat seperti anak jalanan yang kelaparan. Dia terlihat seperti boneka porselen yang baru saja dipoles.

"Kak!" pekiknya riang, langsung menerjang memelukku.

Aku menegang, belum terbiasa dengan sentuhan yang tidak menyakitkan. Lily memelukku erat, aroma sabun stroberi dan bedak bayi menguar dari tubuhnya.

"Aku takut sekali semalam!" celotehnya cepat, melepaskan pelukan dan menatap wajahku dengan khawatir. Tangannya yang kecil dan bersih menyentuh pipiku yang lebam. "Paman Ciarán membawamu pulang dalam keadaan pingsan. Wajahmu penuh darah... Aku pikir Kakak mati."

Paman?

"Aku baik-baik saja," jawabku kaku, menepis pelan tangannya. "Cuma lecet."

Lily tidak tersinggung. Senyumnya justru kembali merekah, lebih lebar dari sebelumnya. Dia merentangkan tangannya, berputar sekali di tengah kamar mewah itu, rok gaunnya mengembang indah.

"Lihat ini, Kak! Lihat kamarmu! Kamarku di sebelah, warnanya biru muda, dan ada boneka beruang sebesar aku di atas kasur!" matanya berbinar-binar memantulkan cahaya chandelier.

"Kita selamat, Kak," bisiknya, suaranya penuh kekaguman. "Bibi Eleanor bilang kita tidak perlu khawatir soal makan lagi. Koki di bawah sedang membuat pancake blueberry. Pancake, Kak! Dengan sirup mapel asli!"

Dia menatapku dengan mata basah karena bahagia. "Kita di surga. Doaku didengar. Kita benar-benar di surga."

Aku menatap adikku. Dia terlihat begitu bahagia, begitu polos. Dia tidak melihat dinding-dinding ini sebagai pembatas. Dia melihatnya sebagai pelindung.

Perlahan, aku berjalan melewati Lily menuju jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Aku menyisihkan tirai beludru berat itu.

Di bawah sana, terhampar taman yang luas dengan rumput hijau yang dipangkas rapi hingga milimeter. Ada air mancur marmer di tengahnya. Ada pagar tembok tinggi yang mengelilingi seluruh properti, dilengkapi dengan kawat berduri halus dan kamera pengawas di setiap sudut.

Dan di gerbang utama, aku melihat dua orang penjaga berseragam hitam berdiri tegap dengan anjing penjaga.

Ini bukan tempat perlindungan. Ini benteng. Dan benteng dibuat untuk dua hal: menahan musuh di luar, atau menahan tawanan di dalam.

"Ini bukan surga, Lily," gumamku pelan, mataku terpaku pada anjing penjaga yang sedang menggigit tulang di dekat pos satpam.

"Apa?" tanya Lily bingung.

Aku berbalik menatap adikku, si optimis yang naif. Aku ingin membiarkannya bahagia, tapi aku tidak bisa membiarkannya buta.

"Lihat sekelilingmu," kataku dingin. "Makanan enak. Baju bagus. Tempat tidur empuk. Kandang yang bersih."

"Kandang?" Lily mengerutkan kening.

"Ini bukan surga," ulangku, suaraku tajam dan pahit. "Ini kebun binatang, Lily. Dan kita adalah hewan peliharaan barunya."

Senyum Lily memudar perlahan. Tapi sebelum dia sempat membantah, pintu kamar kembali terbuka. Kali ini tanpa ketukan.

Seorang pelayan wanita berseragam hitam-putih masuk, menunduk hormat dengan wajah tanpa ekspresi.

"Nona-nona," katanya datar. "Tuan Muda Ciarán menunggu kalian untuk sarapan. Beliau tidak suka menunggu."

Aku bertukar pandang dengan Lily.

Waktu makan telah tiba. Dan sang pemilik kebun binatang ingin melihat koleksi barunya.

***

"Silakan ikuti saya, Nona-nona."

Pelayan wanita itu—namanya Greta, kalau aku tidak salah dengar dari bisikan pelayan lain—berbalik dengan tumit sepatu yang berbunyi tak-tak-tak ritmis di lantai kayu koridor. Punggungnya tegak kaku, seolah ada papan kayu yang ditanam di tulang belakangnya.

Aku dan Lily mengikutinya.

Atau lebih tepatnya, Lily setengah berlari kecil mengikutinya dengan antusiasme anak anjing yang akan diajak jalan-jalan, sementara aku menyeret kakiku yang diperban beberapa meter di belakang.

Setiap langkah adalah siksaan. Bukan hanya karena pergelangan kakiku yang masih berdenyut nyeri, tapi karena setiap inci dari rumah ini dirancang untuk membuatmu merasa kecil.

Koridor lantai dua ini lebarnya dua kali lipat lorong panti asuhan. Dindingnya dilapisi wallpaper sutra bermotif damask warna emas tua. Di sepanjang dinding, tergantung lukisan-lukisan potret orang-orang mati dengan wajah masam—leluhur keluarga Vane, kurasa. Mata mereka yang dilukis dengan cat minyak seolah bergerak mengikuti langkahku, menilai piyama sutra yang kupakai, menilai jalanku yang pincang, menilai keberadaanku yang mengotori udara suci mereka.

"Ayo, Kak! Jangan lambat!" panggil Lily, menoleh ke belakang dengan senyum lebar.

Aku ingin meneriakinya: Berhenti tersenyum, bodoh. Kita sedang berjalan menuju kandang singa. Tapi lidahku kelu. Rasa mual di perutku semakin menjadi-jadi.

Kami sampai di ujung koridor, tempat tangga utama berada.

Greta berhenti di puncak tangga, menepi sedikit untuk mempersilakan kami turun lebih dulu. Gestur sopan yang terasa seperti perintah.

Aku berhenti, tanganku mencengkeram railing tangga yang terbuat dari kayu mahoni dingin yang dipoles licin.

Aku melihat ke bawah, dan kepalaku langsung berputar.

Tangga utama Vane Manor adalah sebuah pernyataan arogansi arsitektur. Tangga ini melingkar lebar, terbuat dari marmer putih yang berkilauan di bawah cahaya chandelier raksasa di atasnya. Anak tangganya lebar dan curam, membentang turun menuju foyer luas di lantai satu yang lantainya bermotif papan catur hitam-putih.

Dari ketinggian ini, lantai di bawah sana terlihat begitu jauh.

Vertigo menyerangku.

Aku merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang. Bukan hanya jurang fisik, tapi jurang sosial. Di atas sini, di kamar tidur tamu, aku masih bisa berpura-pura aman. Tapi turun ke bawah sana... itu artinya masuk ke dunia mereka. Dunia di mana Ciarán berkuasa. Dunia di mana aku hanyalah orang asing yang cacat.

Kakiku gemetar.

Bagaimana kalau aku jatuh? bisik suara paranoid di kepalaku. Bagaimana kalau kakiku yang sakit ini tergelincir di marmer licin itu? Aku akan menggelinding ke bawah seperti bola sampah. Dan mereka akan tertawa. Ciarán akan menatapku dengan tatapan bosan itu lagi.

"Kak Elara?" Lily sudah turun tiga anak tangga. Dia mendongak, wajahnya bingung melihatku yang mematung mencengkeram pegangan tangga sampai buku jariku memutih. "Kau baik-baik saja?"

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungku yang memburu.

"Jalanlah duluan, Lily," kataku serak. "Aku... kakiku sakit. Aku butuh pelan-pelan."

Lily mengangguk patuh, lalu berbalik dan menuruni tangga dengan ringan, seolah dia terlahir untuk berjalan di atas marmer.

Aku memperhatikannya turun. Lalu, dengan enggan, aku memaksakan kaki kananku melangkah ke anak tangga pertama.

Satu langkah. Aman.

Dua langkah.

Dari arah ruang makan di lantai bawah, suara denting gelas kristal dan percakapan samar mulai terdengar. Suara tawa wanita yang tinggi dan melengking, disusul suara tawa pria yang berat dan mengejek.

Suara-suara itu membuat bulu kudukku merinding. Itu bukan suara keluarga yang hangat. Itu suara predator yang sedang berkumpul membagi hasil buruan.

Dan malam ini, buruannya adalah kami.

1
marchang
lanjuttt thorr inii baguss banget
Leel K: Hehe, tenang... ini udah aku tamatin kok. Cuma lupa-lupa aja kapan mau up. Makasih ya, jangan lupa tinggalin like 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!