Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Tangan yang Gemetar di OK 1
Suara air mengalir dari keran wastafel scrub station terdengar seperti air terjun di telinga Adrian.
Dia menatap tangannya yang berlumuran sabun antiseptik oranye. Tangan itu gemetar hebat. Tremor. Bukan getaran halus, tapi getaran yang membuatnya menjatuhkan sikat pembersih kuku dua kali.
"Ad," suara Rania terdengar di sebelahnya. Rania juga sedang mencuci tangan. Cepat, agresif, efisien.
"Gue nggak bisa, Ran," bisik Adrian, matanya nanar menatap sabun yang berbusa. "Gue liat Mama di sana. Gue liat monitor itu jadi garis lurus. Kalau Papa mati di meja operasi gue... gue bakal gila. Gue bakal beneran gila."
Rania mematikan keran airnya dengan sikunya. Dia tidak bicara. Dia melangkah mendekati Adrian, mematikan keran Adrian, lalu mencengkeram kedua pergelangan tangan Adrian yang basah dan licin.
"Tatap gue," perintah Rania.
Adrian mendongak. Wajah Rania tertutup masker, tapi matanya... mata itu menyala dengan keberanian yang menular.
"Lo bukan pembunuh. Lo Adrian Bratadikara. Lo dokter yang nyambungin tangan Mas Yanto pake alat rongsokan. Lo dokter yang bersihin kosan gue waktu gue sakit."
Rania meremas pergelangan tangan Adrian, menyalurkan panas tubuhnya.
"Malam ini, tangan lo adalah tangan gue. Otak lo adalah otak gue. Kita satu badan. Kalau lo gemeter, gue yang bakal pegangin. Kita selamatin bokap lo bareng-bareng. Oke?"
Adrian menarik napas panjang, menahan oksigen di paru-parunya. Dia merasakan kehangatan Rania menembus kulitnya, menenangkan badai di sarafnya.
"Oke," Adrian mengangguk sekali. "Ayo kita bedah."
Ruang Operasi 1.
Suasana tegang. Dokter anestesi berteriak, "Tensi 60/palpasi! Nadi 140! Cairan guyur dua jalur! Cepat buka perutnya, dia bleeding ke dalam!"
Pak Wijaya terbaring tak sadarkan diri, terintubasi selang napas. Perutnya sudah disterilkan dengan betadine. Wajahnya yang hancur ditutup kain steril sementara. Prioritas utama: Hentikan pendarahan perut.
"Pisau," Rania mengulurkan tangan.
Sret. Sayatan vertikal panjang di garis tengah perut (midline incision). Darah menyembur sedikit. Rania tidak berkedip. Dia membuka lapisan demi lapisan. Kulit, lemak, fascia, peritoneum.
Begitu rongga perut terbuka, darah merah segar membanjiri lapang pandang.
"Suction! Sedot yang banyak!" teriak Rania. "Pasang retractor! Ad, pegang ini!"
Adrian memegang alat pembuka perut. Matanya membelalak melihat banyaknya darah. "Hepar (hati)," diagnosa Adrian cepat. "Luka robek di lobus kanan. Grade 4. Dalam sekali."
"Kita harus jahit," kata Rania. "Gue packing (sumbat) pake kasa dulu buat kontrol perdarahan sementara. Ad, lo siapin benang Chromic ukuran besar buat jahit hepar. Jarum tumpul."
Adrian menerima pemegang jarum (needle holder). Saat ujung jarum itu berada di atas organ hati ayahnya yang koyak, tangannya kembali bergetar.
Gemetar.
Ujung jarum itu menari-nari tidak terkendali.
"Ad!" tegur Rania tajam. "Fokus!"
"Gue... gue..." Adrian berkeringat dingin. Dia tidak bisa membidik.
Tanpa banyak bicara, Rania melepaskan alat di tangan kirinya. Dia mengulurkan tangannya, memegang punggung tangan Adrian yang sedang memegang jarum.
"Ikutin napas gue," bisik Rania di balik maskernya. "Tarik... hembus..."
Rania menstabilkan tangan Adrian secara fisik.
"Tusuk sekarang," perintah Rania.
Adrian menusukkan jarum menembus jaringan hati yang rapuh.
Tangan Rania masih di sana, menjadi jangkar.
Adrian menarik benang, membuat simpul.
Satu jahitan.
Jahitan kedua, Rania mulai melonggarkan pegangannya.
Jahitan ketiga, Adrian mulai menemukan ritmenya sendiri.
Tremor itu perlahan menghilang, digantikan oleh memori otot (muscle memory) yang sudah dilatih ribuan jam. Adrian masuk ke dalam "The Zone". Dia lupa bahwa pasien ini adalah ayahnya. Dia hanya melihat jaringan yang harus disatukan.
"Bagus," puji Rania. "Terus, Ad. Lanjut ke vena yang robek di belakang."
Dua puluh menit yang menyiksa berlalu.
"Perdarahan terkontrol," lapor Rania lega sambil melihat rongga perut yang mulai bersih. "Tensi naik 100/70. Nadi turun ke 90."
Dokter anestesi mengacungkan jempol. "Hemodinamik stabil."
Rania menatap Adrian. Mata pria itu basah oleh keringat, tapi sorot matanya tajam kembali.
"Perut aman. Gue tutup lapis demi lapis," kata Rania. "Sekarang giliran lo. Wajah beliau."
Kain penutup wajah dibuka.
Luka robek menganga dari pelipis kiri, melewati pipi, sampai ke sudut bibir. Tulang pipi (zygoma) retak. Wajah Pak Wijaya yang biasanya angkuh dan sempurna, kini rusak parah.
Adrian menatap wajah ayahnya. Wajah yang selalu menuntut kesempurnaan darinya.
"Kalau gue jahit biasa, bakal ada bekas luka besar," gumam Adrian. "Papa bakal benci liat cermin seumur hidupnya."
"Maka lakukan 'sihir' lo," kata Rania sambil membantu membersihkan luka. "Bikin dia ganteng lagi."
Adrian mengganti sarung tangannya. Dia meminta benang Prolene 6.0—benang sehalus rambut yang dulu dia ajarkan ke Kevin.
Kali ini, tidak ada tremor.
Ini adalah wilayah kekuasaan Adrian. Bedah Plastik.
Adrian bekerja dengan kelembutan seorang seniman yang sedang merestorasi lukisan kuno. Dia menjahit otot wajah terlebih dahulu agar ekspresi ayahnya nanti tidak kaku. Lalu jaringan lemak. Dan terakhir, kulit.
Setiap tusukan jarum terasa seperti Adrian sedang menjahit kembali hubungannya yang robek dengan ayahnya.
Ini buat Papa yang marahin aku pas dapet nilai 90. (Tusuk).
Ini buat Papa yang ngusir aku dari rumah. (Simpul).
Tapi ini juga buat Papa yang dulu gendong aku waktu Mama meninggal. (Potong benang).
Ini buat Papa yang sebenernya kesepian.
"Maafin Adrian, Pa," bisik Adrian pelan saat menjahit bagian sudut bibir. "Adrian belum bisa jadi anak yang sempurna. Tapi Adrian janji, jahitan ini sempurna."
Rania, yang menjadi asisten di sebelahnya, mendengarkan bisikan itu. Hatinya tersentuh. Dia melihat cinta yang besar di balik rasa sakit hati Adrian.
Satu jam kemudian.
Operasi selesai.
Luka di wajah Pak Wijaya tertutup rapat, garis jahitannya nyaris tidak terlihat, tersembunyi di lipatan alami wajah.
"Selesai," Adrian menjatuhkan gunting bedahnya ke nampan logam. Bunyi klanting yang menandakan akhir dari perang batinnya.
"Vitals stabil. Pasien akan dipindah ke ICU," kata dokter anestesi.
Adrian mundur selangkah, lalu kakinya lemas. Dia terduduk di lantai ruang operasi yang dingin.
Rania langsung berjongkok di hadapannya.
"Hei," panggil Rania, membuka maskernya, memperlihatkan wajahnya yang lelah tapi tersenyum bangga. "Lo berhasil, Pangeran. Lo nyelamatin nyawa dan wajah bokap lo sekaligus."
Adrian membuka maskernya dengan tangan gemetar (kali ini gemetar karena lelah). Dia menatap Rania.
"Gue nggak bisa ngelakuin itu tanpa lo," kata Adrian serak. "Tangan lo... tangan lo yang megangin gue tadi..."
Rania tersenyum, mengusap rambut Adrian yang lepek oleh keringat.
"Itu gunanya partner, kan?"
Adrian tidak peduli lagi dengan sterilitas ruang operasi. Dia menarik Rania ke dalam pelukannya. Dia memeluk wanita itu erat-erat, menumpahkan segala kelegaannya.
"Terima kasih, Rania. Terima kasih."
Di brankar, Pak Wijaya didorong keluar menuju ICU. Dia belum sadar. Dia belum tahu bahwa anaknya, yang dia anggap gagal dan dia usir, baru saja menyelamatkan nyawanya dengan tangan yang pernah dia remehkan.
Dan dia belum tahu bahwa di sampingnya, ada dokter "kelas dua" yang menahan tangan anaknya agar tidak goyah.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
ceritanya bagus banget