NovelToon NovelToon
PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA

Status: tamat
Genre:Roman-Angst Mafia / Menikah dengan Musuhku / Cinta Murni / Romansa / Tamat
Popularitas:53.2k
Nilai: 5
Nama Author: CACING ALASKA

Bocil Harap Skip!

"Aku tidak akan membiarkanmu mati secepat itu. Aku akan membuatmu mencintaiku dan setelahnya aku akan meninggalkanmu. Aku akan menciptakan neraka untukmu." –Vernon–

"Aku akan hidup di neraka yang kau ciptakan untukku." –Vivian–

Vivian Zeta La Nostra harus menerima kenyataan untuk menikah dengan musuh bebuyutan sang kakak.

Keluarganya La Nostra adalah mafia kelas atas di Italia, namun Sang kakak Arthur Dellinger La Nostra melakukan sebuah dosa sepuluh tahun lalu kepada seorang pria berkembangsaan Norwegia bernama Vernon Arkyn Skjoldbjærg, hingga akhirnya pria itu menginginkan Vivian sebagai penebus dosa sang kakak.

Hingga akhirnya Vivian terjebak dalam pernikahan dengan pria yang baru ia temui tersebut. Sedangkan Vivian mencintai pria bernama Alec Gustavson yang ia yakini adalah cinta pertama dan terakhir untuknya.

Apakah akhirnya Vivian membiarkan dirinya mencintai Vernon atau tetap tidak bisa menghilangkan rasa cintanya pada Alec?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACING ALASKA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DIA SUDAH MATI

Satu bulan berlalu dengan sangat cepat, luka di perutku sudah mulai membaik saat ini sehingga aku sudah berjalan keluar dari kamar dan bebas bergerak kemanapun.

Rasa bosan juga sudah menghinggapi diriku. Ketika lukanya masih sakit aku memang enggan kemanapun dan bertahan di atas tempat tidur walau sudah bosan namun ketika badanku sudah merasa lebih baik, rasanya aku tidak bisa menahan rasa suntuk sekarang.

"Art, aku akan keluar hari ini." Ucapku saat sarapan pagi bersama Arthur di meja makan.

Kami hanya sarapan berdua karena hanya ada kami berdua di rumah seluas ini. Dan tumben sekali Renata tidak menginap, biasanya dia akan selalu menginap setiap kali Arthur berada di rumah.

"Aku sangat bosan dan ingin pergi berbelanja." Ujarku dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Arthur. "Aku akan berbelanja nanti siang."

"Sudah aku bilang kau harus selalu berada di rumah, Viv!!" Seru Arthur dengan nada suara yang kesal. "Kau tidak akan kemanapun."

"Aku merasa sangat bosan, Art." Protesku. "Aku ingin pergi keluar karena sudah merasa sangat jenuh. Sudah lebih dari sebulan aku terus berdiam diri di atas tempat tidur."

"Kali ini kau harus mendengarkan aku." Ujar Arthur.

"Aku tidak akan mendengarkanmu." Jawabku tidak mau kalah. "Aku akan meminta Sesya ke sini dan kami akan pergi berbelanja."

"Viv!!" Arthur terlihat sangat marah karena sifat keras kepalaku. "Sangat berbahaya kalau kau berpergian dalam waktu dekat ini. Tidak, untuk sekarang kau tidak akan kemanapun."

Mendengar perkataan Arthur rasanya membuatku menjadi merasa kalau kondisi diriku saat ini tidak ada bedanya dengan saat aku masih tinggal di rumah Vernon. Dia juga mengurungku dan tidak membiarkan aku pergi kemanapun saat berada disana.

"Kalau begitu ini sama saja dengan keadaanku saat masih tinggal dengan si berengsek itu!!" Seruku kesal. "Kalian semua akan membuat aku gila!!"

Dengan segera aku beranjak meninggalkan meja makan walau baru beberapa suap aku memakan spagetti yang ada di piringku.

"Sialan!! Kalau begini tidak ada bedanya aku tinggal di mana pun!!" Geramku sangat kesal ketika berada di dalam kamar.

Tiba-tiba handphone-ku yang ada di genggaman ku bergetar. Sesya menghubungiku. Dengan sangat cepat aku langsung menjawabnya. Aku harus meminta tolong padanya agar dia mau mengeluarkan aku dari penjara ini.

"Ses, cepatlah datang ke sini, keluarkan aku dari sini! Aku benar-benar sudah sangat bosan berada terus menerus di dalam ruangan." Ujarku pada Sesya yang menelepon.

"Viv, apa kau tahu? Baru saja terjadi tembak menembak di Genoa, apakah Vernon ikut berada di sana, atau dia hanya menyuruh anak buahnya?" Tanya Sesya. "Aku mendengar kalau terjadi keributan yang sangat parah, bahkan polisi tidak berani bertindak. Apa kau sudah mendengar kabar terbaru Vernon?"

Kabar yang diberitahu Sesya padaku membuat diriku seperti mendengar sesuatu yang buruk. Walau aku berusaha untuk tidak peduli namun tetap saja aku merasakan sesuatu hingga jantungku berdegup dengan cepat dan keras.

"Viv, kau mendengarku kan? Banyak yang mati dalam penyerangan itu. Camorra menyerang Sacra Unita namun sepertinya Sacra Unita sudah mengetahui rencana tersebut hingga mereka mengerahkan banyak orang-orang ke Genoa. Banyak korban dari pihak Camorra. Apa kau sudah tahu, Viv?"

"Tidak, aku tidak tahu." Jawabku dengan sebuah kebingungan. "Ses, aku ingin ke Genoa."

"Gila kau Viv, itu tidak mungkin, Sisilia ke Genoa membutuhkan waktu 15 jam perjalanan dengan mobil—"

"Aku akan naik pesawat, tolong carikan aku tiketnya. Aku akan berusaha keluar dari sini." Ujarku. Entah apa yang ada dipikiranku saat ini namun aku tidak bisa membiarkan rasa cemasku pada Vernon.

"Tidak, Viv. Apa yang bisa kau lakukan saat di sana? Sebelum sampai ke tempat dimana Vernon berada, Sacra Unita akan menangkapmu lebih dulu. Itu hanya akan memperburuk keadaan Vernon. Sebaiknya kau tidak perlu kemanapun. Benar kata Arthur, kau harus terus berada di rumahmu. Arthur sudah menarik orang-orang dari Genoa sejak seminggu yang lalu."

"Lalu aku harus apa?"

"Memang ada apa? Apa kau mengkhawatirkan Vernon? Bukannya kau bilang kau tidak peduli padanya dan tidak ingin bertemu dengannya lagi?" Tanya Sesya.

Aku tidak langsung menjawab karena aku mulai tersadar mengenai diriku yang tidak bisa untuk tidak mengkhawatirkan Vernon saat ini. Itu membuat diriku sedikit merasa bodoh dan malu, namun tetap, aku ingin tahu kabar Vernon saat ini.

"Cobalah hubungi Vernon, Viv." Seru Sesya. "Atau mintalah bantuan Arthur agar mengirim orang-orangnya ke Genoa untuk membantu Camorra. Jumlah Camorra tidak terlalu banyak saat ini karena kau pasti tahu kan kalau paman Vernon tidak mungkin membiarkan Napoli tanpa penjagaan."

Mendengar perkataan Sesya aku langsung menutup teleponnya. Dan dengan cepat aku mencari nama Vernon di handphone-ku, langsung meneleponnya. Namun dugaanku benar, nomernya tidak aktif.

Secepatnya aku langsung berlari keluar kamar dan mencari Arthur menuju ke ruang kerjanya. Tanpa mengetuk terlebih dahulu aku langsung membuka pintu, membuat beberapa orang anak buahnya bersiaga melihat kehadiranku yang tiba-tiba.

"Art." Panggilku berjalan masuk mendekati Arthur yang sedang duduk di balik meja kerjanya dengan segelas wine di genggamannya dan saat ini dia sedang menonton televisi yang memberitakan mengenai baku tembak di Genoa.

Tampaknya Arthur sedang menikmati semuanya. Dia tampak senang ketika melihat tayangan televisi tersebut hingga tidak memedulikan kehadiranku. Ya, bagaimana dia tidak senang, dia hanya diam saja di saat kedua musuhnya berada dalam situasi seperti sebuah peperangan.

"Arthur!!" Seruku sedikit dengan suara yang keras karena Arthur masih tidak memperhatikan kedatanganku.

Arthur menoleh padaku dengan sebuah senyuman yang mungkin hanya dia perlihatkan pada diriku, adik perempuannya.

"Ada apa, Viv? Kau ingin minum juga?" Tanya Arthur menyodorkan gelas berisi wine yang dipegangnya. "Aku rasa kau pun juga merasa senang sekarang, kan?"

Sejenak aku menahan apa yang ingin aku katakan padanya setelah perkataan Arthur barusan. Memang seharusnya aku merasa senang seperti dirinya karena aku akan berpisah dengan Vernon segera akan tetapi apa yang aku rasakan terasa aneh, aku tidak bisa untuk tidak memedulikan keberadaan dan keadaan Vernon saat ini, apalagi merasa senang, itu tidak mungkin.

"Art, aku ingin tahu keberadaan Vernon." Ucapku.

"Kemungkinan besar dia sudah mati." Tersungging sebuah senyum senang dari wajah Arthur.

Melihatnya aku menjadi ragu kalau dulu mereka berdua adalah sahabat. Dan perkataan Renata yang bilang kalau Arthur menganggap Vernon sahabat itu sesuatu yang mustahil.

"Kau sudah bebas darinya, Viv. Itu kabar yang pasti membuatmu senang kan?" Ujar Arthur setelah itu meneguk wine-nya.

"Art, aku tidak ingin Vernon mati. Kau harus membantunya. Jangan biarkan dia mati." Ucapku dengan suara bergetar karena rasa takutku jika Vernon benar-benar sudah mati.

...–NATZSIMO–...

1
off
hilih, vernon wkwk
off
akhirnya sampai di ending. terimakasih banyak author😁
off
esteban, ecieee☺️☺️☺️
off
ayo lah, katakan alec
off
sedih sekali Olivia 😭😭😭
off
kau memilih jujur, viv😁😁😁
off
pikiran mu viv 😮😮😮
off
tapi dengan menangis perasaan lebih lega, lebih plong😒😒😒
off
sakit sekali ya viv😭😭😭
off
bagaimana caranya?
off
ada apa dengan vernon? kenapa terus2san menyebut nama winetta 😒😒😒
off
bagaimana ceritanya orang tua viv membunuh orang tua vernon?🤔🤔
off
syukurlah hubungan oliv dan viv bisa membaik😁😁😁
off
masih teka teki 😁😁😁
off
waahh 😮😮😮viv bener2😁😁😁
off
jadi sekarang vernon bertekuk lutut sama viv ckck
off
vernon cemburu sepertinya
off
hargai kesetiaan esteban, viv 🚶‍♂️🚶‍♂️🚶‍♂️
off
vivian berubah haluan akhirnya😁😁😁
off
vernon pandai berkata-kata😒😒😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!