Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.
update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Suara langkah kaki yang menuruni tangga kayu perlahan-lahan memudar, meninggalkan ruang klub OSIS dalam keheningan yang absolut. Reya, Momo, Tomoe, dan Nimura telah meninggalkan ruangan beberapa menit yang lalu, disusul oleh Tsubaki yang membimbing Saji keluar dari balik pintu kayu ek yang kini permukaannya dipenuhi retakan panjang.
Sisa-sisa dari keributan, tawa, dan kehangatan yang sebelumnya memenuhi seluruh penjuru ruangan kini telah menguap tanpa bekas.
Sinar matahari sore telah bergeser sepenuhnya, mengubah warna langit di balik jendela menjadi jingga kemerahan yang pekat.
Cahaya tersebut menerobos masuk melalui celah-celah tirai vertikal, mencetak pola garis-garis panjang di atas lantai kayu yang berdebu. Debu halus masih terlihat melayang-layang lambat di udara, tersorot oleh cahaya senja.
Di tengah ruangan yang kini terasa jauh lebih luas, hanya tersisa dua sosok manusia. Sona Sitri duduk di balik meja kerja utamanya yang terbuat dari kayu mahoni gelap. Punggungnya tegak lurus, menempel sempurna pada sandaran kursi kulitnya. Di seberang meja, Yudi duduk di sebuah kursi tamu.
Postur tubuh pemuda itu sedikit membungkuk. Tangan kirinya sesekali bergerak mengusap sisi kanan dadanya—tempat di mana memar kebiruan masih membekas samar meski telah diobati oleh sihir Tsubaki.
Sona mengangkat tangan kanannya. Jari telunjuk dan ibu jarinya bergerak pelan memegang ujung bingkai kacamatanya, mendorongnya sedikit ke atas pangkal hidungnya. Pantulan cahaya jingga dari jendela menutupi kedua matanya selama sepersekian detik.
"Menjadi seorang iblis, pada dasarnya, menawarkan banyak sekali privilese," ucap Sona memecah keheningan. Nada suaranya kembali pada intonasi yang datar, tegas, dan terstruktur. Ia melipat kedua tangannya di atas permukaan meja.
"Privilese pertama adalah umur panjang yang membentang jauh melampaui batas biologis manusia biasa. Kedua, kekuatan fisik dan magis yang bisa terus berkembang. Ketiga, akses menuju kekayaan materi. Dan yang keempat..."
Sona memberikan jeda sejenak. Ia memiringkan kepalanya sedikit. "...jika kau memang tertarik, kau bahkan memiliki kebebasan absolut untuk memiliki sebuah harem."
Mendengar rentetan penawaran tersebut, Yudi yang tadinya sedang mengusap dadanya tiba-tiba terbatuk pelan. Ia menarik tangannya dari dada dan menegakkan postur duduknya. Matanya berkedip dua kali menatap Sona.
"Terdengar sangat menarik..." balas Yudi. Sudut bibirnya sedikit tertarik, membentuk senyum asimetris. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua sikunya di atas paha.
"...tapi, tidak ada hal di dunia ini yang benar-benar gratis. Sebagai pihak yang mendapatkan semua keuntungan itu, apa yang sebenarnya harus kulakukan sebagai bentuk bayarannya, Kaichou?"
Sona tidak langsung menjawab. Ia menarik laci paling atas dari meja kerjanya. Terdengar bunyi gesekan rel besi pelan. Tangan kanannya masuk ke dalam laci dan menarik keluar setumpuk kertas berukuran A5. Sona meletakkan tumpukan kertas tersebut tepat di tengah meja dengan bunyi buk yang pelan.
Kertas-kertas itu bukanlah kertas HVS biasa. Permukaannya memiliki tekstur kasar layaknya perkamen kuno yang telah berusia ratusan tahun. Warna dasarnya sedikit kekuningan, dengan tepian yang bergelombang.
Di bagian tengah setiap lembar perkamen tersebut, terdapat sebuah lingkaran sihir yang dicetak dengan tinta berwarna merah darah. Lingkaran sihir itu memancarkan pendaran cahaya merah yang sangat tipis dan berdenyut pelan seirama dengan detak jantung.
"Sebagai tuanmu, aku memang yang akan menjamin dan menanggung seluruh keperluan finansial serta fasilitas hidupmu," Sona melanjutkan penjelasannya seraya menunjuk tumpukan kertas tersebut dengan jari telunjuknya. "Namun, ini adalah hal pertama yang harus kau lakukan sebagai bayarannya. Kau harus menyebarkan semua kertas kontrak pemanggilan ini."
Yudi memajukan kepalanya, matanya memicing menatap lingkaran sihir yang berpendar merah di atas kertas tersebut.
"Aku sudah melakukan ritual penyinkronan pada seluruh lembaran ini dengan menggunakan tetesan darahmu semalam saat kau tidak sadarkan diri," jelas Sona. Ia menarik tangannya kembali. "Mekanismenya sangat sederhana. Jika ada seorang manusia yang menemukan kertas ini, lalu mengaktifkan lingkaran sihirnya untuk memanggilmu, kau diwajibkan untuk datang merespons panggilan tersebut dan melayani apa pun kebutuhan klienmu. Syarat mutlak dari sebuah kontrak agar dinyatakan berhasil adalah saat klien tersebut merasa puas, senang, dan pada akhirnya memberikan bayaran atas jasamu."
Yudi mengangkat sebelah alisnya. Tubuhnya kembali bersandar pada sandaran kursi. Ia mengetukkan jari telunjuknya di sandaran tangan kursi secara berirama.
"Hn... jadi pada intinya ini adalah sebuah sistem penyedia jasa supranatural," gumam Yudi pelan. Ia kemudian menatap lurus ke arah Sona. "Lalu, bentuk bayaran seperti apa yang biasanya diberikan oleh klien? Apakah uang tunai? Ataukah... mungkin bayarannya berupa tumbal darah manusia dan jiwa seperti yang sering dikisahkan dalam lembaran sejarah kitab suci atau cerita-cerita horor urban masa lalu?" tanyanya dengan nada suara yang sedikit merendah, raut wajahnya mengeras.
Sona menggelengkan kepalanya pelan. Gerakan itu membuat ujung rambut hitam pendeknya bergoyang di udara.
"Metode pembayaran kontrak atas jasa kita sebagai iblis sudah mengalami evolusi dan perubahan yang sangat drastis seiring dengan bergantinya zaman," terang Sona. Ia menyandarkan punggungnya kembali ke kursi.
"Di masa lalu yang kelam, memang benar bahwa transaksi utama yang ditetapkan oleh kaum kita adalah menuntut darah klien atau bahkan persembahan seorang gadis suci sebagai bentuk bayaran absolut. Tapi..."
Sona menatap mata Yudi lekat-lekat. "...sejak pemerintahan Maou (Raja Iblis) yang baru naik tahta, seluruh aturan biadab tersebut sudah dihapuskan dan dirombak total."
Gerakan jari Yudi yang sedang mengetuk sandaran kursi terhenti seketika. Matanya membelalak pelan. Ia menarik tubuhnya tegak lurus, merapatkan kedua kakinya di atas lantai.
"Tunggu sebentar," sela Yudi, tangannya terangkat dengan telapak tangan terbuka mengarah pada Sona. Kepalanya sedikit dimiringkan. "Kau baru saja bilang... pemerintahan baru?"
Yudi memicingkan matanya, menganalisis dua kata tersebut. "Apa sistem monarki para iblis di dunia bawah sana juga mengalami sistem pergantian pemimpin akibat revolusi, mirip seperti kudeta atau pemilu yang terjadi pada sejarah peradaban manusia? Bukankah jabatan seorang Raja Iblis itu bersifat absolut, mutlak dari garis keturunan, dan tidak bisa digeser atau digulingkan oleh siapa pun? Setidaknya... seperti itulah konsep yang selama ini tertulis di dalam literatur manusia yang kuketahui."
Sona menatap pemuda di depannya dalam diam selama dua detik. Ia merapatkan kedua tangannya di atas meja, menyilangkan jari-jarinya satu sama lain.
"Apa yang tertera di dalam buku-buku kitab suci atau cerita dongeng masa lalu umat manusia itu sebenarnya sedikit melenceng dari realita," jawab Sona. "Jabatan seorang Raja Iblis—seorang Lucifer—memang bersifat absolut dan tidak tertandingi. Namun, konsep keabsolutan itu hanya berlaku pada masa beberapa ratus tahun sebelumnya."
Sona memutar pandangannya ke arah jendela, menatap awan jingga di langit Kuoh. "Namun pada akhirnya, kami para iblis, terkhusus para generasi penerus dari pilar-pilar bangsawan, melakukan sebuah revolusi berdarah berskala besar. Kami memberontak karena rezim Maou lama yang memimpin saat itu menolak untuk berubah dan sama sekali tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Kepemimpinan mereka akan membawa ras iblis menuju kepunahan mutlak."
Sona kembali menatap Yudi. "Apalagi, dalam perang saudara tersebut, muncul entitas-entitas mutan di luar nalar dari pihak kami. Sebuah anomali genetik di mana kekuatan yang mereka miliki bahkan mampu melampaui kekuatan dari para Yondai Maou (Empat Raja Iblis Besar) generasi pertama sebelumnya."
Yudi mendengarkan penjelasan panjang lebar tersebut tanpa berkedip. Ia menopang dagunya dengan tangan kanannya, pandangannya tidak lepas dari wajah Sona. Otaknya memproses kepingan-kepingan informasi politik tersebut dengan kecepatan tinggi.
"Oh... jadi begitu situasinya," gumam Yudi. Ia perlahan menurunkan tangannya dari dagu dan meletakkannya di atas lutut. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
"Kalau kutarik benang merahnya, bisa dibilang bahwa faksi bangsawan kalian pada saat itu terpecah menjadi dua kubu besar. Kubu pertama adalah para konservatif radikal yang masih setia mengikuti rezim pemerintahan lama, yang akan kusebut sebagai faksi Maou Lama."
Yudi mengangkat tangan kirinya, memberikan gestur menunjuk ke arah udara kosong di sisi kirinya. Kemudian ia mengangkat tangan kanannya, menunjuk ke udara kosong di sisi kanannya.
"Sedangkan kubu kedua adalah kumpulan bangsawan muda progresif yang menginginkan adanya reformasi total, yang bisa kusebut sebagai faksi pengikut Maou Baru. Dan perang saudara itu dimenangkan oleh kubu Maou Baru, sehingga mereka yang saat ini memegang kendali pemerintahan." Yudi menghentikan gestur tangannya, menatap lurus ke mata ungu di depannya. "Apakah menurutmu... pernyataan atau kesimpulan politik yang baru saja kubuat ini benar, Kaichou?"
Di seberang meja, retina mata Sona membesar selama sepersekian detik. Tangan kirinya yang terkepal di atas meja sedikit mengencang hingga urat-urat halus di punggung tangannya terlihat. Rahangnya terkatup rapat, menahan ritme pernapasannya yang mendadak terasa sedikit lebih berat.
Di balik ekspresi wajahnya yang tidak berubah, sebuah gelombang keterkejutan menghantam dinding rasionalitas Sona. Ia sama sekali tidak pernah menyangka, bahkan dalam estimasi tertingginya sekalipun, bahwa bidak Pawn yang baru saja ia rekrut belum genap satu hari ini akan memiliki kapasitas analitik yang begitu tajam.
Saat Sona mulai menceritakan topik tentang politik dunia bawah yang rumit, ia sudah bersiap untuk melihat Yudi memijat pelipisnya, mengeluh kebingungan, atau bahkan berteriak menyerah karena tidak sanggup mengikuti obrolan yang berat ini. Itulah sebabnya Sona sengaja menggunakan kalimat-kalimat analogi untuk mempersingkat ceritanya agar tidak terlalu rumit untuk dicerna.
Namun pada kenyataannya, pemuda yang duduk di depannya itu tidak hanya menyimak dengan sempurna, tetapi juga mampu mengolah serpihan informasi sejarah tersebut, menarik kesimpulan yang sangat presisi, dan memetakan lanskap geopolitik dunia bawah hanya dalam waktu kurang dari satu menit.