Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Pengagum yang Berbahaya
Dan justru karena itu, tengkuk Ning mendadak dingin.
Ia masih berdiri di ruang ganti Maison Fevre, memegang kartu kecil di antara dua jari. Aroma mawar putih memenuhi ruangan sempit itu, terlalu manis, terlalu dekat.
Pintu diketuk dari luar.
"Ning? Kamu di dalam?" suara Jia masuk pelan.
Ning membuka pintu. Jia langsung melihat bunga di bangku, lalu matanya membesar.
"Buset. Siapa?"
"Tidak ada nama."
Jia mengambil kartu itu, membacanya, lalu mengangkat alis. "Besok siang, aku traktir makan. Ini bukan gaya Pak Kevin, ya?"
Ning menatapnya.
Jia buru-buru menutup mulut. "Oke, aku sok tahu. Tapi suami kamu kelihatannya tipe yang kalau ngajak makan tinggal kirim supir, bukan kartu anonim."
Ning tidak bisa membantah.
Ia memasukkan kartu itu ke dalam laci kecil di ruang ganti, lalu membawa bunga keluar. Ia tidak meletakkannya di meja kerja. Bunga itu ia taruh di dekat tempat sampah kain perca.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Dimas muncul di area kerja.
Ia membawa paper bag kecil dari toko pastry terkenal. Kemeja biru mudanya rapi, rambutnya disisir licin, dan senyumnya terlalu siap.
"Ning," panggilnya. "Aku belikan tea cake. Katanya kamu suka yang tidak terlalu manis."
Jia yang sedang menggambar pola di tablet langsung menoleh.
Ning meletakkan gunting kain. "Dimas, terima kasih. Tapi saya tidak bisa terima."
"Cuma kue."
"Justru karena cuma kue, lebih baik diberikan ke pantry. Semua orang bisa makan."
Senyum Dimas menegang sedikit. "Kamu selalu formal banget sama aku."
"Kita rekan kerja."
"Aku ingin lebih dari itu."
Suara mesin jahit di sudut ruangan tetap berjalan, tetapi beberapa kepala mulai menunduk terlalu cepat. Semua orang mendengar.
Ning menarik napas pelan. "Saya sudah menikah."
Dimas tertawa kecil, seolah kalimat itu hanya alasan yang lucu. "Aku tidak pernah lihat suamimu jemput kamu. Kamu juga tidak pernah cerita soal dia."
"Pernikahan saya bukan konsumsi kantor."
Jia nyaris menjatuhkan penggaris.
Wajah Dimas berubah. Untuk pertama kali, Ning melihat sesuatu yang lebih tajam di balik senyum laki-laki itu. Bukan kecewa biasa. Seperti orang yang merasa barang incarannya tiba-tiba dipindahkan dari etalase.
"Aku cuma peduli sama kamu," katanya lebih pelan. "Kenapa kamu langsung defensif?"
"Karena saya sudah menjawab."
Boss Fendi keluar dari ruangannya, membawa map sampel. Tatapannya berpindah dari paper bag di tangan Dimas ke wajah Ning.
"Ada masalah?"
Ning belum sempat menjawab, Jia sudah bicara, "Dimas mau taruh tea cake di pantry, Pak."
Boss Fendi menatap Dimas. "Kalau untuk pantry, taruh di pantry. Kalau untuk urusan pribadi, jangan di jam kerja."
Dimas tertawa kaku. "Siap, Pak."
Hari itu berjalan seperti biasa, tetapi Ning bisa merasakan pandangan Dimas dari meja seberang. Saat ia mengambil gulungan kain, laki-laki itu menawarkan bantuan. Saat ia keluar untuk membeli kopi, Dimas sudah berdiri dekat pintu. Setiap bantuan terdengar sopan, tetapi menempel seperti benang basah di kulit.
Menjelang sore, Boss Fendi meminta Ning mengambil sampel brokat yang tertinggal di supplier dekat PIK. Jia harus menyelesaikan moodboard JEIS, jadi Ning pergi sendiri.
Ia sengaja mampir ke De Ming Tea House setelah urusan selesai. Kian pernah menyebut siomay udang di sana enak, walau kalimatnya waktu itu hanya, "Lumayan, gak bikin marah." Untuk Kian, itu sudah berarti pujian tinggi.
Restoran itu ramai. Aroma teh melati dan dim sum panas bercampur di udara. Ning mengambil nomor antrean, lalu berdiri di dekat pintu sambil mengecek pesan dari Jia.
Bayangan seseorang jatuh di sampingnya.
"Kebetulan banget."
Ning mengangkat wajah.
Dimas berdiri di sana.
Kali ini, tidak ada paper bag manis di tangannya. Hanya senyum yang membuat jarak di antara mereka terasa terlalu sempit.
"Kamu mengikuti saya?" tanya Ning.
"Jangan gitu. Aku juga mau makan di sini."
"Dari Kemang ke sini?"
"Jakarta kecil."
Ning memindahkan tas kain ke sisi lain tubuhnya. "Saya sedang menunggu pesanan. Setelah itu saya pulang."
"Aku antar."
"Tidak perlu."
"Ning." Dimas menurunkan suara. "Kamu kenapa selalu keras? Aku tidak akan menyakiti kamu."
Kalimat itu justru membuat punggung Ning kaku.
Nomor antrean dipanggil dari dalam. Ning melangkah maju, tetapi Dimas ikut bergerak dan tangannya tiba-tiba menutup pergelangan lengan Ning.
Cengkeramannya tidak terlalu kuat, tetapi cukup untuk membuat kulit Ning merinding.
"Lepas."
"Dengar dulu."
"Saya bilang, lepas."
Beberapa pelanggan mulai menoleh.
Sebelum Ning menarik tangannya lebih keras, sebuah suara remaja yang tenang terdengar dari arah pintu.
"Tante Ning?"
Dimas menoleh.
Remo Lim berdiri dengan seragam sekolah JEIS yang sudah dilonggarkan dasinya. Di belakangnya, seorang staf De Ming langsung menunduk hormat.
"Kok Tante di sini? Kian tadi bilang Tante mungkin mampir, jadi saya minta dapur siapin pesanan dulu."
Ning menatap Remo. Anak itu bahkan tidak berkedip saat berbohong.
"Remo."
Remo melangkah mendekat. Matanya turun ke tangan Dimas yang masih memegang lengan Ning.
Nada suaranya tetap sopan.
"Pak, di sini antreannya panjang. Kalau mau komplain atau minta perhatian staf, bisa ambil nomor dulu. Tapi kalau mau pegang tamu kami, itu beda urusan."
Wajah Dimas memerah. "Saya temannya."
Remo mengangguk pelan. "Teman biasanya lepas waktu diminta."
Kalimat itu tidak keras, tetapi cukup jelas. Pelanggan di belakang langsung saling berbisik. Seorang ibu bahkan berkata, "Iya, Pak, kasihan perempuannya. Dari tadi kelihatan tidak nyaman."
Dimas akhirnya melepas tangan Ning.
Remo langsung berdiri setengah langkah di depan Ning. "Tante, pesanannya sudah siap. Saya antar ke mobil."
"Saya tidak bawa mobil."
"Kalau begitu saya panggilkan taksi online dari akun restoran."
Dimas mencoba tertawa. "Kamu siapa, sih?"
Staf di dekat kasir menjawab sebelum Remo sempat bicara. "Ini Tuan Muda Lim."
Bisik-bisik pelanggan berubah lebih ramai.
Remo menatap Dimas dengan wajah tetap datar. "Saya bukan siapa-siapa. Cuma orang yang tidak suka melihat tamu De Ming diganggu."
Dimas menggertakkan rahang. Ia melihat Ning, melihat Remo, lalu melihat para pelanggan yang sekarang terang-terangan memperhatikannya. Akhirnya ia mundur.
"Kamu salah paham, Ning."
Ning tidak menjawab.
Dimas pergi dengan langkah cepat, tetapi sebelum keluar, ia sempat menoleh. Tatapannya tidak lagi manis.
Setelah pintu tertutup, Remo mengembuskan napas.
"Tante baik-baik saja?"
Ning menatap lengannya. Bekas jari Dimas tidak membiru, tetapi rasa dinginnya masih tertinggal.
"Baik. Terima kasih."
"Saya benar-benar akan bungkuskan siomay udang. Kalau pulang tangan kosong, Kian bisa marah sama saya."
Ning tertawa kecil, tegang di dadanya retak sedikit.
Remo mengantar Ning sampai taksi online datang. Begitu mobil bergerak menjauh, ia langsung mengeluarkan ponsel.
Ia mengirim pesan ke Kian.
Tante Ning tadi hampir ditarik cowok aneh di De Ming. Sudah aman. Tapi menurut gue, kasih tahu rumah.
Balasan Kian datang kurang dari lima detik.
Nama?
Remo mengetik.
Dimas. Katanya teman kantor.
Di ruang belajar Menteng, Kian membaca pesan itu dengan wajah gelap. Ia tidak membuang waktu untuk bertanya lebih banyak. Jarinya langsung membuka kontak Kevin.
Pak Kevin, istri Anda hampir direbut orang.
Tiga menit kemudian, di ruang rapat Semesta Group, ponsel Kevin menyala di samping berkas akuisisi.
Jovi yang berdiri di belakangnya melihat layar itu, lalu melihat wajah bosnya berubah.
Kevin menutup map di depannya.
Direktur keuangan yang sedang presentasi berhenti bicara. "Pak Kevin?"
Kevin berdiri.
"Rapat selesai."
Semua orang di ruangan itu membeku.
Kevin merapikan mansetnya, suaranya rendah dan datar.
"Mulai besok, jam kerja kantor pusat selesai pukul lima lewat sepuluh."
Tidak ada yang berani bertanya.
Hanya Jovi yang menunduk, menahan napas.
Ia tahu.
Maison Fevre selesai kerja pukul lima.
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya