Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.
Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.
"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)
#CintaRomantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
"Sejauh hasil pemeriksaan ini, saya tidak melihat tanda reaksi alergi yang berat atau iritasi akibat bahan yang berbahaya."
Rani tampak bingung. "Lalu kenapa wajah saya jadi begini?"
Dokter Monik menjelaskan dengan tenang.."Pada sebagian orang, terutama yang sebelumnya memiliki banyak komedo atau jerawat yang belum muncul ke permukaan, penggunaan produk tertentu dapat membuat jerawat yang sudah terbentuk di bawah kulit muncul lebih cepat. Kondisi seperti ini memang bisa terjadi pada beberapa jenis perawatan kulit, tetapi tidak dialami oleh semua orang."
Beliau kemudian menambahkan, "Karena itu, kita tidak boleh langsung menyimpulkan penyebabnya hanya dari munculnya jerawat. Yang terpenting sekarang adalah memantau perkembangannya, menggunakan produk sesuai petunjuk, dan menghentikan pemakaian jika muncul tanda-tanda yang mengarah pada alergi atau iritasi berat."
Dira menghela napas lega, tetapi tetap menggenggam tangan Rani. "Aku tetap akan bertanggung jawab. Kalau selama proses ini kamu perlu kontrol lagi, aku akan menemanimu."
Rani menatap Dira dengan mata yang mulai melunak. "Kamu benar-benar tidak kabur dari masalah."
Dira tersenyum kecil. "Kalau aku ingin usahaku dipercaya, aku juga harus berani bertanggung jawab."
Dokter Monik mengangguk bangga. "Seorang pebisnis bukan dinilai dari seberapa jarang ia menghadapi masalah, tetapi dari bagaimana ia menyelesaikan masalah ketika masalah itu datang."
Kalimat itu kembali menjadi pelajaran berharga bagi Dira. Hari itu, ia belajar bahwa membangun sebuah usaha bukan hanya soal menjual produk, tetapi juga tentang menjaga kepercayaan dengan kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian kepada setiap pelanggan.
***
Cara Dira menangani keluhan Rani justru menjadi titik balik bagi usahanya.Kabar tentang kejadian itu cepat menyebar di sekolah. Namun, yang paling banyak dibicarakan bukanlah jerawat Rani, melainkan sikap Dira yang tidak lari dari tanggung jawab. Ia langsung membawa pelanggannya menemui Dokter Monik. Ia bersedia menanggung biaya pemeriksaan. Ia mendampingi pelanggan hingga mendapatkan penjelasan yang jelas.
Sikap itu membuat banyak orang semakin percaya kepadanya.
"Dira itu enak diajak konsultasi."
"Kalau ada masalah, dia tidak menghilang."
"Makanya aku lebih nyaman beli sama dia."
"Pengetahuannya tentang skincare juga nggak main-main. Itu tandanya usahanya profesional."
Dari mulut ke mulut, nama Dira mulai dikenal. Awalnya, pelanggannya hanya teman-teman sekelas. Lalu bertambah menjadi siswa dari kelas lain. Tak lama kemudian, para guru juga mulai membeli produk melalui Dira karena percaya pada cara ia melayani pelanggan. Perlahan, jangkauan usahanya semakin luas. Teman-temannya yang mengikuti lomba antar sekolah memperkenalkan Dira kepada siswa dari sekolah lain. Ada pula pelanggan yang merekomendasikannya kepada saudara dan tetangganya.
Setiap hari, pesan yang masuk ke ponselnya semakin banyak. Pesanan berdatangan tanpa perlu ia menawarkan secara berlebihan. Selain pelayanan yang baik, ada satu hal lain yang membuat usahanya semakin dikenal.
Dira sendiri menjadi bukti nyata dari kedisiplinan merawat kulit. Wajahnya yang bersih, sehat, dan cantik alami membuat banyak orang penasaran dengan rutinitas perawatan yang ia jalani. Mereka melihat bahwa Dira tidak sekadar menjual produk, tetapi juga memahami cara penggunaan dan pentingnya perawatan kulit yang tepat.
Namun, setiap kali seseorang memujinya, Dira selalu menjawab dengan rendah hati. "Produk yang bagus tetap harus dipakai dengan cara yang benar. Dan hasilnya bisa berbeda pada setiap orang." Jawaban itu membuat kepercayaan pelanggan semakin kuat.
Dira tidak pernah menjanjikan hasil yang berlebihan. Ia lebih memilih bersikap jujur daripada membuat janji yang tidak bisa dipastikan.
Beri yang melihat perkembangan itu hanya bisa tersenyum bangga. "Dira," katanya suatu sore sambil melihat laporan penjualan, "sekarang aku tahu kenapa usahamu berkembang secepat ini."
"Kenapa, Kak?"
"Karena yang membuat pelanggan kembali bukan hanya produknya."
Dira menatapnya penasaran. "Melainkan orang yang menjualnya."
Dira tersenyum tipis. Ia sadar, kepercayaan adalah modal yang jauh lebih berharga daripada keuntungan sesaat. Dan selama ia menjaganya, usahanya akan terus memiliki kesempatan untuk tumbuh lebih besar lagi.
***
Sore itu, Dira berjalan pulang menuju yayasan setelah menyelesaikan pekerjaannya di salon. Tas berisi buku sekolah dan beberapa produk skincare tergantung di bahunya. Wajahnya tampak lelah, tetapi senyum tipis masih menghiasi bibirnya. Hari itu penjualannya kembali meningkat.
Saat melewati sebuah gang yang mulai sepi, tiba-tiba seseorang menghadangnya. "Dira!"
Langkah Dira langsung terhenti. Suara itu... Sangat dikenalnya. Perlahan ia menoleh. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Seorang pria berwajah kusut dengan pakaian dekil berdiri beberapa meter di depannya. Bau alkohol masih begitu menyengat meski jaraknya tidak dekat. Ayahnya.
Lelaki itu menyeringai lebar. "Ha! Ternyata benar itu kamu, Dira." Tatapannya menyusuri wajah hingga tubuh putrinya tanpa rasa malu. "Wow... anakku sekarang sudah cantik."
Dira mundur selangkah. Tubuhnya mulai gemetar.
Ayahnya tertawa pelan. "Kalau dulu dijual saja sudah ada yang mau. Apalagi sekarang..." matanya berbinar serakah. "Kalau kamu dijual sekarang, pasti laku mahal."
Kalimat itu menghantam Dira seperti mimpi buruk yang kembali hidup. Napasnya memburu. Tubuhnya membeku. Bayangan malam ketika ia diseret menuju rumah bordil kembali memenuhi kepalanya. "Tidak..."
Ayahnya melangkah mendekat. "Dira, sini. Ayah cuma mau ngobrol."
"Jangan...!" Dira mundur lagi sambil menggeleng keras. "Biarkan aku sendiri!"
Namun lelaki itu terus mendekat. "Kamu kan anak Ayah."
"Tolong... jangan dekati aku!" Suara Dira berubah menjadi jeritan histeris. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. "Jangan ganggu aku! Pergi!" Ia memeluk tubuhnya sendiri, gemetar hebat. Trauma yang selama ini berusaha ia kubur kembali menyeruak. Di matanya, lelaki di hadapannya bukan seorang ayah. Melainkan sosok yang pernah menjual hidupnya demi sebotol minuman keras. Ketakutan yang selama ini berhasil ia kendalikan akhirnya pecah begitu saja di tengah jalan yang mulai dipenuhi tatapan orang-orang yang kebingungan melihat seorang gadis menangis ketakutan.
Sebelum Dira sempat melarikan diri, ayahnya lebih dulu merampas tas yang tergantung di bahunya. "Balikin tas itu!" teriak Dira panik.
Lelaki itu membuka ritsleting tas dengan kasar. Matanya langsung berbinar ketika menemukan dompet berisi hasil keuntungan penjualan Dira. "Wah... banyak juga uangmu."
"Itu uangku!" Dira berusaha merebutnya. "Kembalikan!"
Namun ayahnya mendorong Dira hingga gadis itu terjatuh ke aspal. Lelaki itu tertawa serak. "Anak sama ayah kok hitung-hitungan. Uangmu ya uang Ayah juga." Ia memasukkan uang itu ke saku celananya dan berbalik hendak pergi. "Sekarang kau ku lepaskan karena uang ini sudah cukup untuk beli minuman. Besok lagi kau tak akan ku lepaskan!" ia menyeringai.
Tiba-tiba... "Berhenti!" Sebuah tangan mencengkeram bahu lelaki itu dengan keras.
Ayah Dira menoleh.
Seorang pria berkacamata berdiri di belakangnya dengan tatapan dingin. Pria itu adalah Beri. Ia yang baru pulang dari salon ibunya tak sengaja melihat Dira dari ujung gang. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Beri dengan suara tegas.