Ketika keluarganya hancur dihantam utang dan kehancuran finansial, Lin Fan tidak sengaja menemukan gulungan lontar tua milik leluhurnya yang tersembunyi di sudut rumahnya di desa terpencil. Gulungan itu membuka akses ke sebuah ritual terlarang yang membangkitkan entitas misterius bernama [Sistem Pagar Iblis], sebuah kekuatan kuno yang menuntut bayaran mahal untuk setiap keuntungan finansial dan perlindungan yang ditawarkannya. Demi menyelamatkan keluarganya dari ancaman orang-orang licik di sekitarnya, Lin Fan terpaksa melangkah ke dalam kegelapan, tanpa menyadari bahwa setiap keputusan yang ia ambil mulai mengubah dirinya dan membahayakan nyawa orang-orang yang berusaha ia lindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : Mengaktifkan Ritual Terlarang
Gugup.
Itu adalah satu-satunya kata yang bisa menggambarkan perasaan Lin Fan saat ini.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga suaranya seolah meredam derit angin malam di luar.
Ia menatap bayangan di tanah itu sekali lagi untuk memastikan matanya tidak salah lihat.
Benar saja, bayangan di atas tanah semen yang dingin itu tetap tidak bergeming sedikit pun.
Kepala pada bayangan itu memiliki dua benjolan menyerupai tanduk kecil yang mencuat kaku.
Padahal Paman Zhang yang berdiri di depannya hanyalah seorang pria paruh baya berkepala agak botak tanpa aksesori apa pun.
"Lin Fan? Kenapa kamu malah melamun begitu?" tanya Paman Zhang dengan suara yang tiba-tiba terdengar sedikit serak.
Pria tua itu mengulurkan tangan kanannya lebih maju lagi, berusaha menyodorkan kantong plastik hitam ke dada Lin Fan.
"Ayo ambil makanan ini, kasihan ibumu," kata Paman Zhang lagi.
Suaranya kini terdengar seperti dilapisi gema tipis yang sangat tidak wajar.
Lin Fan menelan ludahnya secara perlahan.
Tepat di saat jemari Paman Zhang hampir menyentuh kain kaosnya, garis-garis biru transparan mendadak muncul lagi di sudut penglihatannya.
[Peringatan: Entitas Tingkat Rendah (Roh Penyamar) Terdeteksi]
[Entitas Sedang Berusaha Menerobos Pagar Perlindungan Rumah Menggunakan Manipulasi Niat Baik]
[Rekomendasi: Tolak Pemberian Atau Usir Menggunakan Darah Pengikat Kontrak]
Lin Fan dengan cepat menarik badannya ke belakang, mundur satu langkah menjauhi ambang pintu.
"Terima kasih, Paman Zhang, tapi kami sudah makan," ucap Lin Fan dengan nada sedatar mungkin.
Ia menahan getaran pada suaranya agar tidak menunjukkan ketakutan.
Paman Zhang membeku di tempat.
Tangan yang memegang kantong plastik hitam itu menggantung kaku di udara malam.
Wajah Paman Zhang yang tadinya tampak ramah dan penuh rasa kasihan perlahan berubah menjadi kaku tanpa ekspresi.
Matanya yang tadi redup kini tidak berkedip sama sekali, menatap lurus ke arah leher Lin Fan.
"Kamu tidak mau menerima niat baikku, Lin Fan?" tanya Paman Zhang.
Suaranya kini bukan lagi suara tetangga ramah yang biasa Lin Fan dengar sejak kecil.
Suara itu berat, dingin, dan berbau amis seperti daging mentah yang sudah membusuk di pasar selama berhari-hari.
"Pintu rumah ini akan segera aku kunci, Paman sebaiknya pulang saja," jawab Lin Fan tegas.
Lin Fan memegang gagang pintu kayu dan mendorongnya kuat-kuat untuk menutup rapat.
Namun tepat sebelum pintu tertutup sempurna, sebuah tangan bersudut kaku menahan tepi pintu tersebut dari luar.
Krak!
Kayu pintu yang lapuk menahan tekanan yang amat kuat hingga menimbulkan suara retakan halus.
Jemari tangan yang menahan pintu itu perlahan berubah menjadi kehitaman, dengan kuku-kuku yang memanjang dan kotor.
"Berikan aku darahmu..." bisik suara dari luar pintu.
Sfx: Grak! Grak!
Pintu kayu tua rumah Lin Fan bergetar hebat akibat dorongan kasar dari luar.
Lin Fan menahan pintu menggunakan seluruh berat badannya, menyandarkan bahunya ke kayu yang berderit pasrah.
Ia bisa merasakan hawa es yang sangat dingin menembus celah-celah kayu pintu dan membakar kulit bahunya.
"Ibu dan adikku ada di dalam... aku tidak boleh membiarkan hal ini masuk," batin Lin Fan dengan gigi terkatuk rapat.
[Pagar Perlindungan Rumah (Tingkat Rendah) Tertekan]
[Daya Tahan Pagar: 85%]
[Diperlukan Penguatan Pagar Menggunakan Tinta Lontar Leluhur]
Lin Fan teringat pada gulungan lontar tua yang terselip di balik pinggang bajunya.
Tanpa mengendurkan tekanannya pada pintu, Lin Fan meraba pinggangnya dengan tangan kanan dan menarik gulungan lontar itu keluar.
Gulungan lontar tersebut terasa hangat saat bersentuhan dengan telapak tangannya yang gemetar.
"Tinta lontar... bagaimana cara menggunakannya?!" teriak Lin Fan di dalam hatinya, bermaksud bertanya pada sistem.
[Tekan Luka Pada Bibir Anda Dan Sapukan Darah Ke Permukaan Teks Lontar]
[Lalu Ucapkan Mantra Pembuka Pagar Iblis: 'Yin Yang Feng Yin']
Lin Fan tidak membuang waktu lagi.
Ia menekan luka memar di bibir solornya menggunakan ibu jari kanan sampai rasa perih menyengat menjalar di wajahnya.
Darah segar yang hangat kembali keluar dari lukanya.
Lin Fan langsung mengoleskan darah tersebut secara melintang di atas gulungan serat lontar tua itu.
Srekk!
Garis-garis ukiran bahasa Mandarin kuno di atas lontar seketika menyala terang dengan warna merah menyala seperti bara api.
Lin Fan membuka mulutnya dan berteriak sekuat tenaga memotong suara derit pintu.
"Yin Yang Feng Yin!"
Bzzzzzt!
Sebuah gelombang energi tak terlihat meledak dari gulungan lontar di tangan Lin Fan.
Hawa dingin yang menekan pintu rumahnya mendadak menguap dalam hitungan detik.
Suara jeritan melengking yang memekakkan telinga terdengar sangat jelas tepat dari balik pintu rumah.
Sfx: Aaaaargh!
Suara itu melengking begitu tinggi hingga membuat kaca jendela di ruang tamu berguncang hebat.
Tangan hitam dengan kuku memanjang yang tadi menahan tepi pintu ditarik secara paksa seolah-olah baru saja tersiram air raksa panas.
Brak!
Lin Fan mendorong pintu hingga tertutup rapat lalu menguncinya dari dalam menggunakan slot besi.
Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat saat ia menyandarkan punggungnya ke pintu kayu yang kini terasa dingin kembali.
Di luar, suasana desa kembali menjadi sangat hening.
Tidak ada lagi suara langkah kaki, tidak ada lagi jeritan, dan bau busuk yang menyengat perlahan menguap terbawa angin malam.
Lin Fan menatap layar transparan yang kembali muncul di depan pandangannya.
[Entitas Berhasil Diusir]
[Pagar Perlindungan Rumah Ditingkatkan Dan Diberkati]
[Daya Tahan Pagar: 100%]
[Status Keamanan Wilayah: Aman Hingga Matahari Terbit]
Lin Fan merosot duduk ke lantai semen.
Keringat dingin membasahi seluruh punggung pakaiannya.
Ia melihat ke arah lorong kamar tempat ibu dan adiknya tidur.
Pintu kamar mereka tetap tertutup rapat dan tidak ada tanda-tanda mereka terbangun oleh keributan tadi.
"Sistem ini... benar-benar melindungiku, tapi di saat yang sama juga menarik hal-hal mengerikan ke tempat ini," bisik Lin Fan sambil mengusap dahinya yang basah oleh keringat.
Ia menatap lontar di tangannya dengan perasaan campur aduk antara rasa syukur dan ketakutan yang mendalam.
Keesokan harinya, matahari pagi mulai terbit menembus kabut tebal yang menyelimuti desa terpencil tersebut.
Sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela kayu rumah Lin Fan, membawa sedikit rasa hangat yang mengusir hawa dingin sisa semalam.
Lin Fan bangun dari sofa tua di ruang tamu dengan tubuh yang terasa pegal-pegal.
Ia hampir tidak bisa tidur semalaman karena takut entitas semalam akan kembali lagi.
"Lin Fan? Kenapa kamu tidur di ruang tamu?" tanya sebuah suara lembut dari arah lorong.
Ibu Lin Fan keluar dari kamar dengan pakaian kusamnya, menatap putranya dengan raut wajah cemas.
Di belakangnya, Lin Mei menyusul sambil mengucek matanya yang masih sembab akibat menangis kemarin sore.
"Aku... aku hanya menjaga rumah, Bu. Khawatir Zhao Qiang datang lagi secara mendadak," jawab Lin Fan berbohong.
Ia berdiri dan mengibaskan celananya yang berdebu.
Ibunya menghela napas panjang dan menundukkan kepala dengan sedih.
"Hari ini sudah hari pertama dari janji dua hari itu... Ibu bingung harus mencari pinjaman ke mana lagi," ucap ibunya pelan dengan suara yang hampir putus asa.
Lin Fan tersenyum tipis, mencoba memberikan ketenangan yang selama ini tidak pernah bisa ia berikan.
Ia mengambil ponselnya dari atas meja lalu melangkah mendekati ibunya.
"Ibu tidak perlu cemas lagi. Hari ini aku akan melunasi semua utang rumah ini," kata Lin Fan tegas.
Ibunya mendongak, menatap Lin Fan dengan rasa tidak percaya.
"Apa maksudmu, Lin Fan? Dari mana kamu bisa dapat uang dua puluh ribu Yuan dalam semalam?" tanya ibunya bingung.
"Aku mendapat bantuan dari teman lama di kota, Bu. Dia meminjamkan uang tanpa bunga untuk membantu kita melunasi masalah ini," kilih Lin Fan bohong lagi.
Ia sengaja tidak menceritakan soal [Sistem Pagar Iblis] atau uang 50.000 Yuan yang misterius itu.
Akan sangat mustahil menjelaskan hal itu kepada ibunya tanpa membuat ibunya berpikir bahwa ia sudah gila atau terlibat kejahatan.
"Benarkah itu, Gege? Kita tidak akan diusir dari rumah ini?" seloroh Lin Mei dengan mata berbinar harapan.
"Benar, Mei-mei. Hari ini semua masalah sewa rumah akan selesai," jawab Lin Fan sambil mengelus kepala adiknya.
Ibunya menangkupkan kedua tangannya di depan dada sambil mengucapkan rasa syukur berkali-kali.
Melihat senyuman hangat yang kembali hadir di wajah ibu dan adiknya, Lin Fan merasa beban berat di dadanya sedikit terangkat.
Meskipun ia tahu ada bahaya besar yang mengintip di balik [Sistem Pagar Iblis], melihat keluarganya aman dan tersenyum membuat Lin Fan merasa pengorbanannya tidak sia-sia.
"Aku akan pergi ke balai desa dan menemui Zhao Qiang sekarang," kata Lin Fan.
Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan memastikan gulungan lontar tua sudah tersembunyi dengan aman di dalam tas selempang kecil yang ia bawa.
Lin Fan berjalan menyusuri jalanan tanah desa yang agak becek akibat embun pagi.
Rumah-rumah penduduk di desa ini letaknya agak berjauhan, dipisahkan oleh pepohonan rindang dan semak belukar yang lebat.
Suasana desa terasa sangat tenang di pagi hari, seolah-olah tidak ada hal mengerikan yang terjadi semalam.
Saat Lin Fan melewati rumah Paman Zhang yang terletak sekitar lima puluh meter dari rumahnya, ia melihat Paman Zhang yang asli sedang sibuk menata keranjang-keranjang sayuran di atas motor matic tuanya.
Paman Zhang tampak sehat dan segar, mengenakan topi caping dengan celana pendek kusam.
"Paman Zhang!" panggil Lin Fan dari pinggir jalan.
Paman Zhang menoleh dan tersenyum ramah melambaikan tangan ke arah Lin Fan.
"Eh, Lin Fan! Mau ke mana pagi-pagi begini?" sapa Paman Zhang dengan suara lantangnya yang khas.
Lin Fan menghentikan langkahnya dan memperhatikan Paman Zhang dengan cermat.
Di bawah terik sinar matahari pagi, bayangan Paman Zhang terlihat sangat normal.
Bentuk bayangannya mengikuti gerakan tubuhnya tanpa ada benjolan ataupun tanduk aneh seperti semalam.
"Paman... semalam Paman ada keluar rumah sekitar jam satu malam?" tanya Lin Fan berhati-hati.
Paman Zhang mengerutkan dahi lalu tertawa terkekeh-kekeh.
"Jam satu malam? Jam sembilan malam saja Paman sudah tidur nyenyak karena capek sehabis memanen sawi di ladang!" jawab Paman Zhang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa memangnya? Kamu bermimpi ketemu Paman semalam?" seloroh Paman Zhang bercanda.
Lin Fan tersenyum canggung dan menggelengkan kepala.
"Tidak apa-apa, Paman. Hanya salah dengar saja semalam," ujar Lin Fan.
Di dalam hatinya, Lin Fan makin menyadari betapa mengerikannya sosok penyamar yang mengetuk pintunya semalam.
Jika ia tidak memiliki mata dari sistem atau terlambat mengaktifkan pagar perlindungan, entah apa yang akan terjadi pada dirinya dan keluarganya.
"Ya sudah, Paman berangkat ke pasar dulu ya! Semoga masalah keluargamu cepat selesai, Fan!" seru Paman Zhang sambil menghidupkan mesin motornya yang terdengar bising.
Sfx: Brummm! Brummm!
Paman Zhang berlalu membawa motornya menuju arah pasar desa, meninggalkan kepulan asap tipis di udara.
Lin Fan melanjutkan langkahnya menuju balai desa, tempat Zhao Qiang biasanya berkumpul bersama kelompok penagih utangnya.
Balai desa adalah sebuah bangunan beton bercat putih kusam dengan halaman luas di depannya.
Di teras samping balai desa, tampak tiga orang pria sedang duduk santai sambil merokok dan bermain kartu domino.
Salah satu dari mereka adalah Zhao Qiang, pria tambun yang kemarin menampar Lin Fan dan menendang meja rumahnya.
"Lihat siapa yang datang," kata salah satu anak buah Zhao Qiang sambil menyenggol lengan atas bosnya.
Zhao Qiang meletakkan kartunya di atas meja kayu dan menoleh ke arah Lin Fan yang sedang berjalan mendekat.
Senyum ejekan langsung terkembang di wajah Zhao Qiang yang berminyak.
"Wah, anak muda ini datang lebih cepat dari perkiraanku," sindir Zhao Qiang sambil menghembuskan asap rokok dari hidungnya.
"Bagaimana, Lin Fan? Apakah kamu sudah siap menyerahkan kunci rumahmu hari ini?" lanjut Zhao Qiang dengan nada meremehkan.
Dua anak buah Zhao Qiang tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan bos mereka.
Lin Fan menghentikan langkahnya tepat di depan teras, berdiri tegak tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun.
Ia menatap lurus ke dalam mata Zhao Qiang yang licik.
"Aku datang ke sini bukan untuk menyerahkan kunci rumah," kata Lin Fan dengan suara dingin dan datar.
Zhao Qiang mengerutkan alisnya, merasa terganggu dengan nada bicara Lin Fan yang sangat berbeda dibandingkan kemarin sore.
Kemarin Lin Fan hanya bisa tersungkur di lantai dan memohon, tapi hari ini pemuda itu berdiri tegak dengan tatapan mata yang tajam.
"Lalu kamu mau apa? Mau mengemis waktu lagi? Sudah kubilang tidak ada toleransi untuk keluarga pemalas seperti keluargamu!" bentak Zhao Qiang sambil bangkit dari kursinya.
Lin Fan merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel tuanya.
Ia membuka aplikasi transfer bank dan mengarahkan layarnya ke depan wajah Zhao Qiang.
"Berapa nomor rekening milik tuan tanahmu?" tanya Lin Fan singkat.
Zhao Qiang tertegun sejenak melihat tampilan aplikasi perbankan di layar ponsel Lin Fan.
"Kamu... kamu punya uangnya?" tanya Zhao Qiang curiga.
"Jangan banyak bicara. Sebutkan nomor rekeningnya sekarang dan aku akan mentransfer dua puluh ribu Yuan seketika ini juga," jawab Lin Fan tegas.
Zhao Qiang menatap Lin Fan dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan tidak percaya.
Mana mungkin seorang buruh lepas yang miskin dan baru saja ditinggal kabur oleh ayahnya yang bangkrut bisa memiliki uang dua puluh ribu Yuan dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam?
"Jangan coba-coba menipuku, Lin Fan! Kalau ini cuma permainanmu untuk mengulur waktu, aku akan langsung mengusir ibumu hari ini juga!" ancam Zhao Qiang kasar.
"Sebutkan nomor rekeningnya atau aku akan membayar secara tunai lewat kantor balai desa agar ada bukti sah hukum!" gertak Lin Fan balik tanpa rasa gentar.
Zhao Qiang mendengus kesal lalu membacakan deretan angka nomor rekening atas nama tuan tanah desa tersebut.
Lin Fan dengan cepat mengetikkan nomor rekening tersebut di ponselnya, memasukkan nominal 20.000 Yuan, dan menekan tombol konfirmasi pembayaran.
Ting!
Sfx: Ting! (Suara notifikasi transaksi berhasil)
Layar ponsel Lin Fan menampilkan bukti transfer resmi yang berhasil dikirimkan.
Lin Fan menyodorkan bukti transfer di layar ponselnya tepat di depan mata Zhao Qiang.
"Uangnya sudah masuk. Utang sewa rumah keluarga Lin dianggap lunas sampai tahun depan," kata Lin Fan dengan nada mantap.
Zhao Qiang mengambil ponselnya sendiri dari atas meja untuk memverifikasi laporan transaksi dari bosnya.
Beberapa detik kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Zhao Qiang yang mengonfirmasi bahwa dana sebesar dua puluh ribu Yuan telah masuk ke rekening tuan tanah.
Mata Zhao Qiang membelalak lebar.
Wajahnya yang tadi tengil dan penuh kesombongan seketika menjadi pucat dan kaku.
Anak buahnya yang ada di belakang ikut terkejut dan saling berbisik heran.
"Dari mana kamu dapat uang sebanyak ini?!" bentak Zhao Qiang sambil mencengkeram bahu Lin Fan secara tiba-tiba.
"Kamu mencuri? Atau kamu menjual barang-barang terlarang?!" tuduh Zhao Qiang dengan nada penuh kecurigaan.
Lin Fan menepis tangan Zhao Qiang dari bahunya dengan kibasan yang kuat.
"Itu bukan urusanmu, Zhao Qiang. Yang penting utang keluargaku sudah lunas," balas Lin Fan dingin.
"Ingat satu hal," lanjut Lin Fan sambil mendekatkan wajahnya ke arah Zhao Qiang.
"Jangan pernah berani lagi melangkah masuk ke dalam rumahku dan menyakiti keluargaku. Kalau kamu berani melakukannya lagi, akibatnya tidak akan sederhana."
Hawa dingin yang tipis mendadak berhembus dari tubuh Lin Fan saat ia mengucapkan kalimat tersebut.
Itu adalah sisa energi dari [Sistem Pagar Iblis] yang tanpa disadari keluar dari aura tubuh Lin Fan.
Zhao Qiang merasa merinding seketika, tubuhnya yang gemuk melangkah mundur satu langkah secara refleks karena rasa takut yang tiba-tiba melingkupi dadanya.
Lin Fan membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan teras balai desa tanpa mempedulikan Zhao Qiang yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Saat Lin Fan berjalan kembali menyusuri jalan desa yang sepi menuju arah hutan dekat rumahnya, udara di sekitarnya mendadak terasa makin berat.
Langkah kakinya menjadi semakin lambat karena rasa pusing yang hebat tiba-tiba menyerang kepalanya.
Pandangan matanya mulai berkunang-kunang dan pandangannya berbayang.
Garis-garis teks transparan dari sistem mendadak muncul secara agresif di depan matanya dengan warna merah menyala, berbeda dengan warna putih yang biasanya.
[Peringatan: Batas Waktu 24 Jam Untuk Bayaran Pertama Hampir Habis]
[Waktu Tersisa: 10 Menit]
[Sistem Membutuhkan Pengorbanan Energi Vital Sebagai Penyeimbang Transaksi 50.000 Yuan]
[Silahkan Menuju Ke Area Hutan Terlarang Untuk Menyelesaikan Ritual Bayaran]
[Hukuman Jika Menolak: Kematian Mendadak Bagi Pengikat Kontrak]
Lin Fan memegang kepalanya yang terasa seperti dihantam oleh palu berat.
"Kematian mendadak...?" ringis Lin Fan sambil menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke tanah dengan menyandarkan tangan pada batang pohon besar di pinggir jalan.
Uang lima puluh ribu Yuan yang ia terima kemarin memang telah menyelamatkan rumahnya dari ancaman penagih utang.
Namun kini, tagihan sesungguhnya dari iblis telah tiba.
Lin Fan melihat ke arah kegelapan hutan lebat yang membentang di batas desa.
Pohon-pohon tua yang tinggi menjulang dan diselimuti kabut tebal tampak seolah-olah sedang memanggil nama Lin Fan dari kejauhan.
Tanpa ada pilihan lain jika ingin tetap hidup, Lin Fan mengubah arah langkahnya dan mulai berjalan memasuki area hutan terlarang tersebut secara perlahan.
Setiap langkah yang ia ambil terasa makin berat, seiring dengan terbenamnya matahari di batas ufuk dan malam yang mulai datang kembali