Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Keira tidak mengejar Richard malam itu.
Ia cukup pintar untuk tahu kapan harus menahan diri. Luka kecil yang dibiarkan terbuka kadang lebih efektif daripada luka yang langsung ditutup perban. Richard pergi dengan marah, tetapi marah itu punya arah yang salah. Ia tidak marah pada Keira sepenuhnya. Ia marah karena nama Kevin masih bisa masuk ke meja makan Villa Awan.
Keesokan paginya, Richard tetap mengirim pesan.
Jangan lupa obat.
Keira membaca pesan itu sambil duduk di tepi ranjang. Hanya empat kata. Tidak ada tanda tanya. Tidak ada kata maaf. Tetapi bagi Richard, itu sudah seperti mengetuk pintu dengan kedua tangan.
Ia mengetik balasan perlahan.
Baik, Om.
Tidak ada balasan lagi.
Di kantor, Keira kembali masuk lantai proyek. Pak Dharma menyambutnya dengan senyum yang terlalu ramah.
"Sudah sehat, Nona Tan?"
Siska yang duduk dua meja di sebelah langsung mengangkat wajah. Keira menangkap kilatan waspada dari mata perempuan itu.
"Sudah lebih baik, Pak. Terima kasih."
"Bagus. Anak muda jangan gampang sakit. Di divisi ini, semua orang harus tahan banting."
"Saya akan belajar."
Pak Dharma mendekat sedikit. "Belajar dari saya saja. Saya paling tahu cara bertahan di sini."
Keira menahan senyum. Ia menunduk seperti pegawai magang yang patuh, sementara ponsel di laci mejanya sudah merekam suara sejak Pak Dharma masuk.
Pada jam makan siang, Siska menyeret kursinya lebih dekat.
"Lo yakin mau tetap di divisi ini?" bisiknya.
"Kenapa?"
"Pak Dharma itu kalau udah mulai sok baik, biasanya ada maksud."
"Maksud seperti apa?"
Siska menatap sekeliling, lalu menurunkan suara. "Ada anak kontrak tahun lalu. Dia sering diminta lembur berdua. Setelah nolak, kontraknya nggak diperpanjang."
Keira menatap layar laptop, pura-pura membaca tabel biaya. "Ada bukti?"
"Nggak ada. Itu masalahnya."
Keira mengangguk kecil. "Kalau begitu, kali ini harus ada."
Siska terdiam. "Kei, jangan main api."
"Aku tidak main api." Keira tersenyum tipis. "Aku cuma menaruh korek di tempat orang yang suka membakar bisa mengambilnya sendiri."
Siska membuka mulut, lalu menutupnya lagi. "Kadang gue lupa lo baru lulus."
"Jangan lupa. Itu berguna."
Sore itu, Richard memanggil Keira ke ruangannya.
Jason ada di luar, mengetik di tablet. Ketika melihat Keira, ia berdiri sedikit. "Nona Tan, Pak Lim sudah menunggu."
"Terima kasih, Ko Jason."
Jason berkedip sangat halus. Ia belum terbiasa dipanggil Ko oleh Keira, tetapi tidak memperbaiki. Keira sengaja melakukannya. Jason bukan staf biasa. Dalam peta hubungan Richard, Jason adalah pintu yang harus tetap terbuka.
Richard berdiri di depan jendela ketika Keira masuk. Kemejanya putih, dasinya longgar sedikit, manset jade di pergelangan tangan memantulkan cahaya sore. Ia tidak menoleh sampai pintu tertutup.
"Duduk."
Keira duduk di sofa.
Richard tetap berdiri. "Setelah Engkong pulang dari Singapura, aku akan bicara soal pembatalan pertunanganmu dengan Kevin."
Keira mengangkat wajah pelan.
Ia tahu ini akan datang, tetapi tetap perlu memainkan bagian yang tepat. Pertunangan dengan Kevin memang sudah kehilangan sebagian fungsi, tetapi belum sepenuhnya. Selama Ong Corporation masih punya kaitan bisnis dan saham, Kevin masih bisa dijadikan umpan. Kalau Richard memotong terlalu cepat, beberapa rencana Keira akan kehilangan panggung.
"Om mau membatalkan?"
"Itu pertunangan yang tidak perlu dipertahankan."
"Engkong yang mengatur dari dulu."
"Engkong menyayangimu. Dia tidak akan memaksamu menikah dengan orang yang mempermalukanmu di depan umum."
Keira menunduk. "Tapi keluarga Ong..."
"Aku urus."
Kalimat itu pendek, terlalu mudah, seperti seluruh keluarga Ong hanya satu dokumen yang bisa ia tandatangani.
Justru itu masalahnya.
Jika Richard mengurus semuanya sekarang, Kevin akan jatuh terlalu cepat. Keluarga Ong akan sibuk menyelamatkan perusahaan, Vanya akan mencari panggung lain, dan Keira kehilangan kesempatan untuk membiarkan mereka sendiri menunjukkan kerakusan di depan keluarga besar Tan. Pertunangan itu kotor, tetapi kotoran kadang perlu dibiarkan menempel sampai semua orang bisa mencium baunya.
Keira tidak membutuhkan Kevin sebagai calon suami.
Ia membutuhkan Kevin sebagai bukti berjalan.
Ia membutuhkan panggung resmi, undangan keluarga, kamera, dan saksi yang terlalu banyak untuk disuap satu per satu. Di sana nanti, ia bisa menarik kain penutup dari wajah Vanya dan Kevin bersamaan. Tetapi rencana itu tidak mungkin dijelaskan pada Richard tanpa membuka terlalu banyak kebohongan.
Keira menggenggam ujung rok. "Om, kalau pembatalan itu terjadi terlalu cepat, orang akan bilang saya dibuang."
"Mereka sudah melihat siapa yang membuang martabatnya di wisuda."
"Orang tetap suka cerita yang menyalahkan perempuan."
Richard diam.
Keira tahu ia menyentuh titik yang tidak bisa dibantah Richard. Di dunia mereka, reputasi perempuan sering diadili lebih cepat daripada kontrak bisnis. Satu kalimat dari keluarga Ong bisa berubah menjadi puluhan versi di grup WhatsApp keluarga besar, dan pada akhirnya, semua orang akan bertanya kenapa Keira tidak bisa mempertahankan pria yang sejak awal tidak pantas dipertahankan.
Richard mungkin bisa membeli diam banyak orang.
Keira ingin membuat mereka menelan kata-kata sendiri.
Keira membiarkan matanya memerah. Kali ini tidak terlalu sulit. Ia membayangkan kehidupan pertama dalam mimpi, ketika semua orang memang menyalahkannya. Anak palsu, tunangan gagal, cucu tidak tahu diri. Gelar-gelar itu pernah menempel di tubuhnya seperti lumpur.
"Saya cuma tidak mau terlihat menyedihkan," katanya.
Richard akhirnya berjalan mendekat. "Kamu lebih peduli terlihat menyedihkan daripada bebas dari Kevin?"
Keira menggeleng. "Bukan begitu."
"Lalu?"
"Saya pernah percaya dia akan berdiri di sisi saya." Suaranya mengecil. "Mungkin bodoh. Tapi dulu saya percaya."
Ruangan menjadi sunyi.
Richard menatapnya seperti ada sesuatu yang patah di dalam dadanya, tetapi ia tidak tahu apakah itu milik Keira atau miliknya sendiri.
"Jangan menangis untuk pria yang tidak pantas."
Keira mengangkat mata. Air mata sudah menggantung, belum jatuh.
"Kalau bukan untuk dia, untuk siapa saya boleh menangis?"
Pertanyaan itu seharusnya menjadi kail.
Namun ketika keluar, kalimat itu terasa terlalu jujur.
Richard tidak menjawab. Ia berbalik, mengambil dokumen dari meja, lalu meletakkannya lagi tanpa membacanya. Gerakan kecil itu cukup untuk menunjukkan kacau yang ia sembunyikan.
"Pulang lebih awal hari ini," katanya.
"Om marah?"
"Tidak."
Suara itu terlalu dingin untuk tidak marah.
"Om."
Richard berhenti di depan pintu penghubung ruang istirahat pribadinya.
"Saya tidak menangis untuk Kevin," bisik Keira.
Punggung Richard menegang.
Keira tidak melanjutkan. Ia tahu kapan harus berhenti.
Richard membuka pintu, masuk, lalu menutupnya.
Tidak dibanting. Hanya tertutup pelan.
Tetapi justru karena pelan, kemarahannya terasa lebih dalam.
Di balik pintu itu, Richard berdiri tanpa bergerak. Ia menekan satu tangan ke dada sendiri, tepat di tempat yang terasa sesak sejak Keira bertanya untuk siapa ia boleh menangis.
Ia marah.
Bukan pada Keira.
Pada dirinya sendiri, karena ia mulai ingin menjadi jawaban.