"Aku sangat mencintaimu dan tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Bian.
Bian yang mengalami kecelakaan dan amnesia, akhirnya jatuh cinta kepada Mika seorang Bidan desa cantik yang sudah menolongnya.
Akibat kecelakaan itu, Bian tidak mengingat apa pun bahkan Bian tidak mengingat kalau dirinya sudah menikah.
Bagaimanakah kalau suatu hari ingatan Bian pulih, apakah Bian akan kembali kepada istrinya atau tetap bersama Mika?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bian Yang Manja
Beberapa saat kemudian, Bian pun keluar dari dalam kamar mandi dengan melilitkan handuknya di pinggang. Mika dengan sigap mengambil handuk kecil dan menghampiri Bian.
"A duduk di sini."
Bian pun menurut dan Mika mengeringkan rambut Bian yang basah dengan handuk kecil itu, Bian terus saja memperhatikan wajah Mika, sungguh Bian serasa punya istri kalau diperlakukan seperti itu.
Selama menikah dengan Ririn, jangankan diperlakukan seperti itu, Ririn tidak pernah memperhatikan dan memperdulikan Bian.
"Ngapain lihatin Mika kaya gitu?"
"Kalau sama kamu, aku merasa punya istri karena kamu selalu memperhatikanku."
"Suami itu pahalanya istri, jadi Mika akan berusaha membahagiakan suami Mika semampu Mika."
Bian tersenyum dan menarik tangan Mika, sehingga Mika terduduk di pangkuan Bian.
"Beruntung sekali mempunyai istri sepertimu, pokoknya mulai sekarang, kamu harus ikut ke mana pun aku pergi bahkan ke kantor pun kamu harus ikut."
"Mau ngapain Mika ikut ke kantor, Mika tidak akan bisa membantu pekerjaan AA kok."
"Siapa bilang kamu harus bekerja, aku hanya ingin kamu selalu berada di sampingku supaya kamu tidak kabur lagi."
"Ya Allah A, Mika tidak akan kabur kok."
"Pokoknya jangan banyak membantah, katanya pahala istri ada di suami, jadi kamu harus mengikuti apa keinginan suamimu biar pahalamu semakin banyak."
"Alasan saja."
Sesaat Mika dan Bian saling pandang satu sama lain, hingga akhirnya Bian pun mulai memajukan wajahnya mendekati Mika dan Mika mulai memejamkan matanya.
Perlahan tapi pasti, bibir keduanya mulai menempel satu sama lain. Keduanya tampak menikmati kegiatan di pagi hari itu, hingga Mika pun mendorong dada Bian karena sudah kehabisan napas.
"Sudah ah, nanti kelepasan," seru Mika bangkit dari pangkuan Bian.
Bian tersenyum, dan Mika pun segera menyerahkan kemeja kepada Bian.
"Pakai bajunya dulu."
"Siap Tuan Putri."
Selagi Bian memakai pakaiannya, Mika pun merapikan tempat tidur. Mika memang terbiasa melakukan semuanya sendirian tanpa mengandalkan orang lain.
Setelah selesai, Mika menghampiri Bian dan membantu memakaikan dasi.
"Waw, suami Mika tampan sekali kalau pakai jas seperti ini," seru Mika.
"Iya dong, baru sadar kalau kamu punya suami dengan kadar ketampannya di atas rata-rata."
"Idih, narsis."
"Oh iya, di lemari itu ada baju-baju kamu yang sudah Mami siapkan untuk kamu."
"Hah, serius A?"
"Seriuslah, ayo kita lihat."
Bian pun menuntun Mika menuju lemari itu, dan Mika tampak membelalakkan matanya sampai menutup mulutnya saking terkejut melihat lemari itu sudah penuh dengan gaun-gaun yang bagus dan mahal.
"Ini semuanya buat Mika, A?"
"Iya buat kamu."
"Ya Allah, terima kasih A."
Mika membalikan tubuhnya dan memeluk Bian membuat Bian senyum-senyum gak jelas.
Mika ingin melepaskan pelukannya tapi justru Bian yang menahannya.
"A, lepasin."
"Lagi enak, sayang."
Mika dengan kesalnya mencubit perut Bian membuat Bian langsung melepaskan pelukannya.
"Sakit, sayang."
"Makanya jangan macam-macam."
Bian memilih satu stel baju buat Mika. "Kamu pakai ini, sekarang kamu ikut aku ke kantor."
"Gak mau ah, ngapain ikut ke kantor," tolak Mika.
"Pokoknya aku gak mau tahu, mulai hari ini kamu harus ikut aku ke kantor."
Mika tidak bisa menolak, hingga akhirnya Mika pun mengganti bajunya dengan gaun selutut serta dipadu padankan dengan blazer. Bian menunggu di sofa sembari mengotak-ngatik ponselnya, hingga tidak lama kemudian, Mika selesai mengganti baju.
Mika yang biasa memakai pakaian sederhana dan baju dinasnya, sekarang Mika memakai gaun yang membuat dirinya tampak cantik, anggun, dan elegan.
"A...."
Bian mengangkat kepalanya dan tampak terkejut dengan penampilan Mika.
"Ya ampun kamu cantik sekali sayang."
"AA bisa saja."
"Seriusan, kamu cantik banget."
"Sudah ah, kita turun ke bawah soalnya Mika belum bertemu dengan orangtua AA."
"Oke, yuk!"
Mika pun mengalungkan tangannya ke lengan Bian, keduanya menuruni anak tangga dengan raut wajah yang berseri-seri. Sementara itu, Mami Maharani dan Papi Ganendra sudah duduk di meja makan.
"Pagi Mi, Pi."
Kedua orangtua Bian mengangkat kepalanya dan tatapan mereka tertuju kepada wanita cantik yang saat ini berdiri di samping Bian dengan menundukkan kepalanya karena merasa takut.
Mami Maharani bangkit dari duduknya dan menghampiri Mika, kemudian mengangkat dagu Mika supaya menatap ke arahnya.
"Kenapa menundukkan kepala?" tanya Mami Maharani dengan lembut.
"Ma-af Nyo-nya," sahut Mika gugup.
"Hai, kenapa manggil Nyonya? panggil saja Mami, sekarang kan, kamu menantu Mami. Kamu cantik sekali sayang."
Mika tersenyum, sedangkan Mami Maharani langsung memeluk menantunya itu.
"Sekarang kamu sudah menjadi bagian keluarga Ganendra, Mami harap kamu bisa membahagiakan Bian dan tidak membuat Bian sedih."
"Insya Allah, Mami."
Mami Maharani pun melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Mika untuk duduk di meja makan.
Mika dengan sigap mengambilkan nasi dan lauk pauknya untuk Bian, Mami Maharani dan Papi Ganendra tampak tersenyum karena selama menikah dengan Ririn, Ririn tidak pernah melakukan itu untuk Bian.
"Terima kasih sayang."
"Hmm...masakannya enak, ini tidak seperti masakan Bi Yati," seru Papi Ganendra.
"Itu hasil masakan Mika, Pi," sahut Bian.
"Hah, iyakah? kamu suka masak?"
"Suka Tuan, eh maksud Mika, Papi."
"Masakan kamu benar-benar enak, sayang."
"Terima kasih, Mami."
Suasana pun mencair, mereka berempat makan sembari mengobrol ringan dan sesekali mereka tertawa bersama.
"Mika, kamu mau ke mana?" tanya Mami Maharani.
"A Bian ngajak Mika ke kantor, Mami."
"Tumben kamu Bian, ngajak ke kantor?"
"Mi, Bian masih rindu sama Mika jadi Bian gak mau jauh-jauh dari Mika," sahut Bian.
"Ckckck....kaya anak remaja aja, ingat umur Bian," ledek Papi Ganendra.
Mika hanya tersenyum, begitu pun dengan Bian.
"Tapi ingat, kalian jangan melakukan hubungan suami istri dulu sebelum besok kalian di sahkan kembali," seru Mami Maharani.
"Tenang saja Mi, Bian bisa nahan kok."
"Oh iya Mika, Mami sudah kirim orang ke kampung untuk menjemput orangtua kamu dan kemungkinan nanti sore mereka sampai."
"Iya Mi, terima kasih."
Setelah selesai sarapan, Mika dan Bian pun berangkat ke kantor dengan di jemput oleh Irwan. Sesampai di kantor, Bian memperkenalkan secara resmi kalau Mika itu adalah istrinya membuat semua karyawan terkejut tapi tidak sedikit juga mereka terlihat sangat senang melihat Bosnya sangat bahagia.
Bian pun mengajak Mika masuk ke ruangannya. "Ini ruangan kerjaku, sayang."
"Wah, besar juga ya."
"Di sebelah sana ada kamar kecil untuk istirahat, jadi kalau kamu ngantuk, kamu bisa istirahat di sana."
"Oke."
Bian duduk di meja kerjanya dan mulai melakukan kegiatannya, sedangkan Mika duduk di sofa sembari membaca majalah yang ada di sana.
😊😊😊😊😊
suami bu aisyah, pak ade sama pak usman
ditunggu cerita mereka ,pasti bakalan seru dehh nantii
tahun depan yaa rilisss 😂
abis ini nungguin cerita 3G 🤣🤣🤣
semangat slalu kak poppy.... 🥳🥳🥳🥳🥳
nawar aj y 🙏
uhh visualnya cakep cakep ,cwe cwo cocok kaaaa 😉😉😉
kutunggu para twins bucin 🤣🤣🤣