Haruskah cinta dan pernikahan yang diberikan sahabatnya, ia kembalikan?
Ini gila!
cinta dan pernikahan yang Elea jaga untuk Radjendra dan demi amanah yang diberikan sahabatnya, Erika. justru malah dihancurkan oleh Erika sendiri.
Apa yang harus Elea lakukan?
Haruskah ia kembalikan cinta dan pernikahan itu?
Atau ia harus mempertahankannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membalas sikap dinginmu.
Jika memang Rajendra belum juga menceraikannya, maka ia sendiri yang akan menggugatnya. Lebih cepat lebih baik, dari pada ia harus terus dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Selanjutnya, ia akan memikirkan cara untuk mengambil hak asuh kedua putrinya.
Rajendra membulatkan matanya, pendengarannya ia tajamkan. Apa Elea sudah gila?
Elea meminta cerai, memangnya ia punya apa untuk menggugatnya. Bahkan ia sudah lama menjadi ibu rumah tangga, bagaimana bisa ia seberani itu mengatakan perceraian ia sendiri berusaha mempertahankannya.
"Kau bilang apa? Bercerai?" Rajendra membalikkan badannya, kembali menatap Elea namun kali ini dengan mata yang meremehkan.
"Kau sedang mabuk, aku anggap kau cuma mengigau," lanjut Rajendra tak mengindahkannya, lelaki itu pergi begitu saja tanpa peduli lagi.
"Tapi aku benar-benar ingin bercerai, Rajendra." Elea kesal, sikap suaminya tak begitu menghargainya. Selalu begitu.
Kedua tangan Elea mengepal, rasa sakit yang sempat hilang sejenak kembali menderanya. Benci ia melihat muka suaminya itu, ia lepas dan ambil sepatu tingginya dan melemparkannya hingga mengenai punggung kokoh suaminya.
Rajendra berhenti dan melihat sepatu itu, sepatu yang pernah ia belikan asal untuk Elea setelah si kembar lahir. Ia tak peduli dan memilih mengabaikannya, kakinya melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kamar mereka.
"Aaahhh," teriak Elea yang makin tak bisa menahan diri lagi, saat Rajendra berlalu pergi dan mempedulikannya.
Tubuhnya luruh dan terduduk, ia sentuh dadanya yang sangat sesak sampai sulit rasanya baginya untuk sekedar bernafas.
**
Sedangkan dikediaman Orang tua Rajendra.
Arimbi, ibu dari Rajendra yang tengah duduk santai menikmati malamnya didatangi oleh putrinya, Raisa.
Janda muda yang satu ini membawa sesuatu ditangannya, sudah lama ia mencari sesuatu tentang rumah tangga adiknya itu. Raisa duduk dikursi tepat didepan ibunya, ia menaruh apa yang dibawanya diatas meja.
"Apa itu?" tanya Arimbi melihat sebuah map yang tipis berwarna coklat.
"Mamah lihat saja," jawab Raisa membuat bu Arimbi berdecak kesal.
Beliau mengambilnya dan membukanya, mendadak matanya membulat ketika lembaran ditangannya ia lihat dengan jeli. Sebuah gambaran yang dipotret dengan sebegitu rapinya, ada wajah putranya disana bersama wanita yang sangat ia kenal namun bukan menantunya Elea.
Ia lihat gambar yang lain, dimana foto itu begitu jelas memeperlihatkan keintiman pasangan tanpa ikatan tersebut. Hidung sang nyonya kembang kempis ia berdiri sambil meremas semua foto tersebut, lalu ia lempar lembaran-lembaran yang rusak itu tepat diwajah sang putri.
"Apa kau sudah gila? Jangan pernah menuduh Rendra, ia tak akan pernah seperti ayah kalian," sergah bu Arimbi membantah setiap gambaran itu.
"Tapi itu fakta, mah. Aku sudah memberikan buktinya, sekarang mamah percaya kan sama aku. Bahwa Rajendra sudah berselingkuh dengan Erika," ungkap Raisa dengan jelas.
"Diam kamu!" bentak Arimbi, "jangan pernah memberitahu Elea, ia tak boleh tahu soal itu." ucap bu Arimbi yang membalikkan badannya dari putri sulungnya.
Raisa mengepalkan tangan kanannya, seburuk apapun Rajendra masih saja ibunya membela adiknya. Sementara dirinya, baik pun tak pernah dipuji dan buruk pun malah dianggap aib.
Sikap pilih kasih ibunya membuat Raisa kesal, anak lelaki selalu dipuji dan dibela sedangkan anak perempuan dianggap beban. Apa ini yang namanya keluarga?
Raisa berdiri menatap punggung ibunya, sekian detik ia pun pergi meninggalkan kamar Arimbi. Tentunya dalam perasaan benci yang sudah lama ia pendam, perasaan yang muncul sejak kelahiran adik lelakinya.
🌺🌺🌺
Keesokan harinya ...
Rajendra berjalan ke ruang makan, ia duduk dikursi yang menghadap pada meja yang sudah ditata dengan banyak makanan. Diantara banyak makanan tersebut ia memilih toti tawar, ia olesi dengan selai kacang lalu memakannya.
Suasana tempat itu ramai, karena banyak asisten berdiri dan juga kepala asisten yang berada dibelakangnya. Namun entah mengapa ia merasa sepi, biasanya ada istrinya yang sudah duduk manis menyambutnya disana menyiapkan makanan dan minum untuknya. Pagi ini ia mulai dilayani oleh pembantu dirumahnya, bukan lagi oleh istrinya.
"Dimana Elea?" tanya Rajendra pada kepala bibi Halim.
"Nona belum keluar dari kamarnya, tuan," jawab kepala asisten rumah tangganya itu.
Rasa manis dan gurih dari selai kacang dan roti berubah jadi pahit, bom nuklir dihatinya serasa ingin meledak tapi mengingat kejadian semalam membuatnya kembali berpikir. Setelah kembali ke kamarnya, Elea sudah tak ada diatas ranjang biasa. Istrinya itu benar-benar memilih untuk tidur terpisah.
Saat ia turun untuk melihatnya ke kamar yang sudah dipilih istrinya, ia bahkan tak bisa masuk sama sekali karena dikunci dari dalam. Elea berubah sekarang, bukan lagi Elea yang begitu patuh padanya dan selalu diam kala ia merendahkan bahkan memarahinya.
Rajendra menyudahi sarapannya ia menyeruput kopi hitamnya sedikit kemudian ia sandarkan punggungnya pada kursi sambil melihat topik hari ini. Ia masih membaca berita lewat tabletnya sembari sesekali melirik kursi tempat Elea duduk.
"Kenapa ia belum juga turun? Apa ia begadang semalam?" tanya Rajendra dalam benaknya.
Sementara disisi lain Elea mengirim pesan pada bi Halim, bahwa sarapannya dibawa ke kamarnya karena ia tak suka melihat wajah suaminya. Kemudian dia kembali merebahkan tubuhnya, ia merasa malas untuk melakukan apapun hari ini.
Drrrt
Ponsel bi Halim bergetar, langsung ia merogoh saku blazernya untuk melihat pesan.
"Siapa itu?" tanya Rajendra, tak biasanya bi Halim mendapat pesan dipagi ini.
"Nona meminta saya mengirim sarapannya ke kamarnya, Tuan," jawab bi Halim dengan jelas.
"Apa?!" mata Rajendra membelalak, apalagi ulah istrinya dipagi yang sangat cerah ini.
"Tak perlu, biar aku yang datang ke kamarnya. Ini sudah sangat keterlaluan," geram Rajendra yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
Ia menaiki tangga untuk ke kamar kenangan, dimana tempat baru istrinya tidur itu berada dilantai dua. Hanya berbelok dan berjalan sebentar ia sudah sampai didepan pintu kamar tersebut.
Tok tok
"Sebentar!" sahut dari dalam kamar itu.
Klek
Pintu terbuka menampakkan Elea yang memakai pakaian terbuka, ia hanya memakai tanktop dan celana pendek dengan rambut yang terurai bebas.
Saat tahu Rajendra yang datang, segera Elea menutup pintunya kembali dan menguncinya.
"Elea, apa yang kau lakukan?" tanya Rajendra berusaha membuka pintu tersebut, ia memutar-putar knopnya namun tak bisa membukanya.
"Pak Rendra, anda belum berangkat kerja ini sudah melewati jam 7 pagi," itulah yang dijawab Elea didalam kamar, jujur ia takut pada suami yang marahnya mengalahkan bom.
Elea menyentuh dadanya karena kaget, ia menelan ludahnya dan menjauhi pintu kamarnya. Ia tahu betul kalau suaminya sudah marah, makanya ia menutup pintunya kembali.
Brak
Brak
Suara pintu itu terdengar mengilukan.
"Elea, buka pintunya! Aku ingin bicara," pinta Rajendra sambil menggebrak pintu berkali-kali.
"Bicara saja, aku tidak tuli. Suaramu yang keras bisa aku dengar," ucap Elea menyahutnya dengan cukup ragu.
Rajendra menghentikan aksinya, bicara seperti ini apa enaknya?
Ia memilih pergi, dari pada berbicara dengan pintu yang tertutup ini membuatnya serasa diabaikan.
Sementara yang didalam, Elea mendekati pintu ia menajamkan telinganya pada pintu yang sudah mulai hening. "Apa ia sudah pergi?"
Elea membuka pintunya, ia lihat depan pintu kamarnya sudah sepi artinya suaminya sudah pergi. Ia menghela nafas lega dan kembali menutup pintunya.
"Kamu yang mulai mas, maka aku juga akan begitu," gumam Elea, ia melihat jarinya yang dilingkari oleh cincin pernikahan.
Selama ini ia tak pernah melepaskan cincin itu, kini ia harus merasa melepaskannya karena dari awal ia bukanlah pemilik cincin itu.
Perkataan pria asing itu kembali terngiang, ia tak boleh terluka lagi ia harus menjadi Elea yang egois dan mandiri. Elea melepaskan cincin itu, disaat itu suara ponselnya berdering.
Ia berjalan ke nakas samping ranjang, lalu mengambil benda pipih yang berdering disana. Tertera nama sahabatnya disana yang membuatnya sebal untuk mengangkatnya, namun ia penasaran akan apa yang dilakukan sahabatnya itu.
"Mau apa Erika menghubungiku?" banyak pertanyaan dikepalanya, tapi banyak pula rasa keponya.
Setelah menimang-nimang, ia pun menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya.
"Baiklah, aku akan pura-pura tak tahu," ucap Elea dalam hati.
Kening Elea berkerut, saat ia menghubungkan sambungan ponselnya. Ia mendengar suara aneh disebrang sana, suara gemericik air yang bersahutan dengan suara seseorang yang tengah mual dan muntah.
Ia lihat kembali siapa yang menghubunginya, jelas sekali itu nama Erika yang berada diatas layar. Namun, kenapa suara aneh yang muncul?
"Erika," panggil Elea menyapanya.
"Uo, ah... Uo,"
Mata Elea membulat, "Tidak mungkin, Erika hamil," pikirnya yang segera menutup mulutnya.
Benarkah begitu???