NovelToon NovelToon
Wedding Drama

Wedding Drama

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:16.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Kim Meili

Hervinda Serana Putri, seorang gadis dengan kesabaran setebal baja. Hidup dengan keluarga angkat yang tidak pernah menganggapnya keluarga. Hidup terlunta dan diperlakukan seperti pembantu. Bahkan, dia seperti membiayai kehidupannya sendiri. Suka, duka dan bahkan segala caci makian sudah diterimanya.

Kejadian besar menimpa Hervinda ketika saudaranya, Rensi kabur dari rumah ketika hari pernikahannya. Seluruh keluarga bingung. Akhirnya, mereka menjadikan Hervinda sebagai ganti tanpa sepengetahuannya.

Michael yang merupakan calon Rensi sudah sangat bahagia. Sayangnya saat dia tau wanita yang dinikahinya bukanlah Rensi, emosinya meluap. Dia berjanji akan menyiksa Hervinda dan mendapatkan kembali Rensinya.

"Apapun untuk mendapatkannya. Kamu bukan yang aku inginkan. Bahkan melukaimu pun aku sanggup."

-Michael Adithama-

"Setidaknya tatap aku dan belajarlah mencintaiku."

-Hervinda Serana Putri-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Meili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 34_Harapan

*Vinda berdiri di tengah ruangan serba putih. Matanya menatap sekitar dengan kening berkerut heran. Di mana dia berada? Kehidupan tanpa penghuni. Bahkan, tidak ada satu benda pun yang ada di dekatnya. Vinda menatap sekeliling dengan bingung.

“Permisi. Ada orang?” tanyanya dengan suara bingung. Vinda menatap sekeliling ruangan yang tak berujung.

Tidak lama, sebuah kubalan asap putih datang tepat di depannya. Vinda mundur perlahan dan menatap ragu sosok di balik asap tersebut.

“Vinda, kamu datang, sayang?”

Suara lembut itu membuat Vinda membelalakan mata. Dia ingat dengan suara tersebut. Bahkan, dia sudah sangat merindukan pemilik suara lembut dan penuh kasih sayang itu. Tanpa ragu, kakinya melangkah mendekati pemilik suara tersebut, tetapi langkahnya terhenti. Ada benteng besar yang memisahkan keduanya. Benteng tak terlihat dan tak dapat ditembusnya.

“Ibu, Vinda gak bisa ke situ, Bu,” adu Vinda dengan mata berkaca. Wajahnya sudah panik dan segera ingin mendatangi ibunya.

Seorang wanita keluar dari kumpulan asap tebal yang perlahan menghilang. Tampak ibunya dengan pakaian putih dan tersenyum manis ke arahnya. Senyum yang bahkan sudah hampir dua belas tahun dirindukan olehnya. Vinda langsung menitikan air mata melihat langkah ibunya yang mendekat.

“Ibu, Vinda ingin dipeluk Ibu,” ucap Vinda dengan suara serak karena menangis.

“Sayang, Ibu selalu memelukmu,” jawab ibunya tanpa menyentuhnya sama sekali, “tanpa kamu tahu, Ibu selalu memeluk dan mendekapmu, Nak.”

“Ibu, Vinda ingin ikut Ibu,” keluh Vinda dengan suara tercekat. Jika Tuhan memberikannya kesempatan untuk bisa bersama dengan ibunya, dia akan dengan senang hati menerima tawaran tersebut.

Wanita dengan rambut tergerai panjang tersebut menggeleng dan menatap anaknya lembut. “Tidak, sayang. Kamu tidak boleh ikut Ibu sekarang. Kamu masih harus bahagia.”

“Tetapi Vinda lelah hidup tanpa merasakan bahagia, Bu.”

Perlahan, senyum manis wanita tersenyum menghilang dan berganti dengan senyum yang menunjukan rasa iba. “Kamu tahu, Nak. Ibu berharap saat Ibu meninggalkanmu, kamu akan menjadi wanita yang kuat. Ibu percaya kamu bisa melakukannya. Kamu adalah wanita hebat. Ibu yakin dengan hal itu, sayang.”

“Tapi Vinda sudah lelah, Bu,” keluh Vinda lagi dan langsung terduduk lemah.

Wanita tersebut menatap ke belakang, tampak asap tebal kembali datang dan perlahan mendekatinya. Dia kembali menatap Vinda dengan wajah sendu. “Sayang, Ibu tidak memiliki banyak waktu. Tetapi Ibu mohon, tetaplah kuat dalam menjalani hidup. Kamu tidak sendiri, sayang. Akan ada cinta yang datang untukmu dan percayalah pada sebuah harapan. Ibu selalu ada di sampingmu. Ibu mencintaimu,” putusnya ketika asap tebal sudah menutupi sebagian tubuhnya.

Vinda yang melihat langsung bangkit. Pemisah diantara keduanya seakan menghilang dan langkahnya dengan ringan menyusul asap yang menarik tubuh ibunya menjauh. Namun, seperti sebuah lorong waktu, Vinda seakan tersedot dan siap keluar dari dimensi lain tersebut. Tangannya berusaha menggapai ibunya yang hanya menatapnya dengan senyum lembut dan gagal. Vinda tidak berhasil meraih tangan ibunya*.

“Ibu,” teriak Vinda keras dan langsung membuka mata, kembali ke ruangan yang sejak tadi ditempatinya.

Vinda mengusap air matanya yang perlahan menitik. Dia kembali memeluk tubuhnya sendiri. Rasanya dia benar-benar merindukan ibunya dan pertemuan tadi membuat kerinduannya semakin membuncah. Ibu menyuruh Vinda kuat? Tetapi Vinda sudah lelah.

Vinda menormalkan deru napasnya yang sudah memburu sejak tadi. Keningnya berkeringat dan tangannya langsung mengelapnya dengan cepat. Matanya menatap pintu ruangan ketika terdengar suara seseorang membuka pintu kamarnya dan terdengar helaan napas lega ketika dilihat siapa yang datang untuk menemuinya.

“Vinda. Kamu baik-baik saja?” tanya Dave dengan wajah khawatir.

Vinda mengangguk dengan sorot mata bingung. Dia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya. Mimpinya seakan nyata dan benar-benar dirasakannya. Sampai sekarang, jantungnya masih berdetak tak karuan mengingat pertemuannya dengan almarhumah sang ibu.

“Aku mendengarmu berteriak. Aku pikir kamu ada masalah,” jelas Dave yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.

Vinda hanya diam dan menatap Dave yang memperhatikannya lekat. Dia tidak berniat sama sekali membalas. Pikirannya masih berkelana mengartikan mimpinya. Bahkan, ibunya yang sudah meninggal menemuinya? Meski dalam mimpi, ini adalah kali pertama dia dijumpai dengan wajah ayu yang tetap tidak berubah.

“Kalau memang tidak ada apa-apa, aku akan keluar,” ujar Dave dan hendak keluar. Tangannya baru akan menutup pintu, tetapi Vinda mencegahnya.

“Dave, tunggu,” ucap Vinda yang langsung bangkit dan mendekati pria tersebut, “aku ingin meminta sesuatu kepadamu.”

Dave yang mendengar menyipitkan mata dan menatap Vinda curiga. Beberapa hari yang lalu, wanita di hadapannya meminta untuk dibunuh. Apa sekarang juga dia meminta hal yang sama?

“Kalau kamu minta aku untuk membunuhmu, maaf, Vinda. Aku tidak bisa,” jawab Dave tanpa mendengar terlebih dahulu permintaan Vinda.

Vinda langsung menggeleng keras. “Kali ini aku tidak minta di bunuh, Dave. Aku sudah menemukan semangat untuk tetap hidup.”

“Jadi?” Dave menatap Vinda semakin curiga. Jangan-jangan Vinda minta untuk dilepaskan. Jika memang itu yang diminta, dia tidak akan pernah melakukannya.

“Bisa kamu biarkan aku keluar dari kamar? Aku bosan di kamar terus-menerus. Aku butuh suasana baru,” jelas Vinda dengan wajah tenang.

“Apa? Tidak,” tolak Dave dengan tegas. Sampai kapan pun dia tidak akan setuju dengan permintaan Vinda tersebut.

“Ayolah, Dave. Aku janji tidak akan kabur,” mohon Vinda dengan kedua telapak tangan yang disatukan. Matanya menatap Dave dengan tatapan memohon.

“Vinda, jangan minta....”

“Kalau terus-terusan di kamar, aku bisa gila, Dave. Kalau itu terjadi, kamu mau Michael semakin mempersulit hidupmu?” tegas Vinda dan langsung meminta maaf dalam hati karena menggunakan Michael dalam hal ini.

Dave yang mendengar langsung menghela napas dan menatap Vinda tanpa minat. “Baiklah-baiklah. Kamu boleh keluar kamar, tetapi jangan harap kamu bisa kabur dari tempat ini.”

Vinda yang mendengar mengangguk semangat. Dia tersenyum lega karena nyatanya Dave tidak seburuk yang pernah dilihatnya. Dia masih tetap seorang pria yang pernah menolongnya dan itu membuat perasaannya menjadi nyaman. Setidaknya Dave tidak akan menyakitinya.

“Apa setelah tinggal bersama dengan Michael dia juga jadi pemaksa sepertinya? Dasar,” gerutu Dave yang langsung keluar kamar. Dia membiarkan kamar Vinda tidak terkunci dan membebaskan Vinda untuk keluar dan menghirup udara di luar. Dia yakin, Vinda tidak sebrutal Rensi. Itu sebabnya dia tidak perlu bertingkah kasar kepada gadis tersebut.

Vinda yang mendengar langsung bersorak senang dan masuk ke kamar. Entah mengapa, rasanya mendapatkan dorongan dari ibunya membuatnya menjadi memiliki alasan untuk tetap hidup. Meski semua hanya ada dalam mimpi.

_____

Michael melangkah memasuki rumah dengan wajah lesu dan juga penampilan yang sudah tidak beraturan. Kemeja putihnya sudah tampak begitu lusuh, rambutnya acak-acakan, dasi yang dikenakan hanya menempel di leher saja. Bahkan, jas kerjanya hanya diseret dan dijadikan alat untuk membersihkan lantai.

Michael melangkah tanpa menatap kemana pun. Sejak dia mengetahui bahwa Vinda adalah malaikatnya, dia hanya mencari dan terus mencari. Bahkan dia lupa dengan Rensi yang masih di rumah sakit dan tidak pernah dia jenguk. Yang dipedulikannya sekarang adalah Vinda.

Michael mendudukan tubuhnya di sofa ruang tengah dan menyandarkan tubuhnya lemah. Matanya menatap langit-langit rumah dengan tatapan kosong. “Aku harus mencari ke mana lagi, Vinda?”

“Kamu boleh mencari, tetapi kamu juga harus mengurus diri sendiri, Ael.”

Suara tersebut membuat Ael menatap sekilas kepada wanita yang tengah melangkah ke arahnya dengan membawa secangkir teh. Setelahnya, dia sedikit menegakan tubuh dan menatap mamanya yang sudah berada di rumahnya.

“Mama di sini?” tanya Michael dengan suara malas.

Tasya meletakan teh yang memang sengaja di bawa untuk diberikan kepada Michael. “Tentu. Mama tidak mau anak Mama semakin tidak keurus,” jelasnya dan menyodorkan cangkir tersebut, “minumlah. Itu akan membuatmu kembali segar.”

Michael yang mendengar hanya mengangguk dan menuruti permintaan mamanya. Kali ini dia benar-benar enggan untuk berdebat dengan mamanya.

“Kamu sudah makan?” tanya Tasya dengan wajah tenang.

“Ael gak lapar, Ma.”

“Jika kamu sendiri tidak mengurus diri, bagaimana bisa kamu mencari Vinda, Ael,” ujar Tasya dengan mata memprotes tindakan anaknya, “jadi, kamu harus bisa mengurus diri agar tidak sakit dan bisa terus mencari Vinda.”

Michael yang mendengar hanya menghela napas panjang dan bangkit. Dia mengabaikan teriakan mamanya yang mengatakan akan menunggu di meja makan. Perutnya sedang tidak dalam keadaan memiliki nafsu makan. Dia hanya ingin tidur di kamar dan memikirkan kemana dia akan mencari Vinda. Dia yakin, seseorang yang cukup dikenalnya tau di mana kebaradaan Dave saat ini.

Tunggu, Vinda, aku akan menjemputmu, batin Michael dan langsung terbawa ke alam mimpi karena sudah beberapa hari dia tidak bisa tidur nyenyak.

_____

Rensi beberapa kali menghela napas kesal karena sudah beberapa hari di rumah sakit, dia tidak melihat Michael menjenguknya. Apa itu yang dinamakan mencintai? Rasanya Rensi sekarang benar-benar tengah di uji dengan sikap pria tersebut.

Sebuah ketukan pintu menyadarkannya. Dia tersenyum dan merapikan diri. Menatap penampilannya alam pantulan cermin. Matanya menatap pintu ruangan dengan penuh harap. Hatinya berdoa semoga saja Michael yang datang. Namun, ternyata Tuhan berkehendak lain karena nyatanya, bukan Michael yang datang, melainkan pria berpakaian serba hitam dan wajah datar. Rensi yang melihat langsung menghela napas kesal.

“Ada apa?” tanya Rensi jutek. Dia bahkan tidak melihat ke arah pria yang berdiri tegak dan menatapnya dengan wajah layaknya patung. Tanpa ekspresi.

“Maaf, Nona. Perkenalkan, saya Roy. Tuan Michael menyuru....”

“Michael?” potong Rensi dan menatap Roy dengan penuh tanya, “jadi, kamu anak buahnya?”

Roy mengangguk. Dia masih menatap Rensi lekat. Matanya menangkap kondisi Rensi yang sudah baik-baik saja. Namun, kenapa dia belum juga kembali ke rumah?

“Bilang sama Micahel, suruh dia datang. Jika dia tidak datang hari ini juga, aku akan pergi lagi dari kehidupannya. Aku bahkan tidak akan pernah menunjukan wajahku di depannya. Jadi, saat aku pergi, jangan sampai di memohon agar aku kembali dan menerima perasaannya. Itu tidak akan pernah terjadi,” kata Rensi dengan wajah sombong.

“Maaf, Nona. Tetapi....”

“Silahkan keluar. Aku sudah tidak ingin berurusan dengan kasta rendah sepertimu,” celetuk Rensi dengan pandangan menghina.

“Baik,” ucap Roy sembari menunduk dan langsung keluar ruangan. Sedangkan Rensi, dia hanya tersenyum penuh kemenangan. Dia yakin, hari ini Michael akan meneumuinya. Bukankah dia masih sangat sayang? Hal itu membuatnya benar-benar melambung tinggi dan benar-benar mengangkasa.

_____

🍁🍁🍁🍁🍁

Selamat membaca. Jangan lupa klik favorit, like dan comment. Untuk crazy up-nya tunggu ya. Kim masih persiapan.

Selamat beraktivitas sayang-sayangkuh. 😘😘😘

🍁🍁🍁🍁🍁

1
kalea rizuky
halahhh klo jd michael mending nikah lagi ngapain nunggu orang koma hadeh ksian anaknya lahh
kalea rizuky
vinda goblok harusnya urus cerai sendiri lah tolol suami bego aja di pertahanin knp semua tokok di novel mu bodoh
Dian Oktaviya
Luar biasa
nhenhe
pede gilaaaa lu ...
YuWie
enakmen jadi resti ya..sdh hampir jadi pembunuh tapi masih bebas melenggang.
ael apakabar, gak pingin bales tuh
YuWie
semangat Vin
fifa
baru mampir Thor 🙂
Dewi Melow
********* itu maksudnya apa?
masa bacanya Michael bintangbintangbintang kertas 😑🙄
Nani Desmiwati
Ceritanya bagus
Mei Muntiani
Kecewa
Amirah iz
die bkn gila lagi dave saraf akut malah
Lusiana Serly
pasti alur nya kayak Michael sama vinda yg langsung memaafkan, sama kayak cerita tanpa perjuangan panjang
Ruk Mini
oohhh... thorr..kau buat aq mewek2...haru biru..sukaa bgt bucin .walo d awal ngeselin bgt..ok tq thorr d tunggu karya2 mu Bu lgi
just mi🤫
bagus
Hida Hida
ketembak di dada itu tindakan nya harus nya di operasi,masak tindakan nya cuma di panggil kan dokter ke rumah 😅
Ana Marina
good
KING'Tozis - Fingerstyle Ndr
top👍 buat bara
Leli Darwika
penyesalan selalu datang terlambat.
Leli Darwika
asli, karya oThor banyak mengandung bawang.🥺🥺🥺🥺
Leli Darwika
memang kamu keeejaaammmm teramat kejammmm Randy.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!