NovelToon NovelToon
Setelah Hujan

Setelah Hujan

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:154.7k
Nilai: 5
Nama Author: Restviani

Bagaikan buah simalakama. Aku pergi, dia hancur. Aku bertahan, aku yang hancur. Lalu, jalan seperti apa yang harus aku ambil?

Siapa yang tidak mengharapkan hubungan harmonis dengan keluarga pasangan. Setiap pasangan pasti berharap hubungan yang baik-baik saja dalam keluarga besarnya. Pepatah mengatakan, jika kau siap untuk menikah dengan anaknya, maka kau pun harus siap menikah dengan keluarganya? Lalu apa jadinya ketika orang tua pasangan kita tidak menerima kita sepenuhnya? Pilihannya hanya ada dua. Bertahan, atau melepaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelakar Double D

Dua jam mata kuliah telah terlewati. Bel istirahat pun sudah berbunyi. Daniar menggeliat, meregangkan otot-ototnya. Rasanya, badan dia begitu kaku harus duduk manis seraya menatap lurus ke papan tulis. Maklum saja, di dua mata kuliah yang pertama, sang dosen tidak memberikan kesempatan para mahasiswa untuk bergerak nyaman.

Huh, sudah seperti anak SMA saja. Daniar mendengus dalam hatinya.

"Kantin yuk, Ni!" ajak Nida, sahabatnya.

"Duluan aja deh, gua mau ke toilet dulu. Nggak nyaman banget nih," jawab Daniar seraya memegang larangannya.

"Lo masih PMS?" tanya Nida

"Hem-eh," jawab Daniar, menganggukkan kepalanya.

"Oh, ya sudah. Yuk, gua temenin ke toilet, abis itu kita ke kantin."

"Ish, nggak usah. Lo ke kantin aja duluan, pesenin gua bakso. Biar abis dari toilet, gua bisa langsung makan bakso," cegah Daniar.

"Oke deh, sesuai perintah lo, Bestie!" pungkas Nida.

Sejurus kemudian, kedua sahabat itu keluar dari kelasnya. Mereka berjalan beriringan sepanjang koridor. Hingga di ujung koridor, mereka berpisah. Daniar pergi ke toilet, sedangkan Nida pergi ke kantin untuk memesan makan siang mereka

Saat Daniar hendak memasuki koridor toilet, tanpa sengaja dia bertemu Yandri. Daniar sudah memasang senyum terbaiknya. Namun, saat mereka berpapasan, Yandri sama sekali tidak melirik Daniar. Ekspresi wajahnya begitu datar, seolah-olah dia tidak mengenal Daniar. Kening Daniar pun berkerut melihat sikap Yandri.

Apa tuh orang sudah pikun, ya? Sampai nggak ngenalin gua sama sekali, batin Daniar.

Sejenak, Daniar hanya menatap punggung Yandri, hingga akhirnya laki-laki itu berbelok dan tak nampak lagi. Daniar pun melanjutkan niatnya untuk pergi ke toilet. Meskipun kerutan di dahinya sama sekali belum hilang. Tapi, ya sudahlah. Toh mungkin memang Yandri tipe laki-laki pelupa, pikir Daniar.

Setelah menuntaskan hajat buang air kecil, Daniar pergi ke kantin untuk makan siang. Tiba di kantin, dia mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Nida. Matanya terkunci pada sebuah meja yang berada di sudut kantin. Daniar pun melangkahkan kakinya menuju meja tersebut.

"Sudah pesan baksonya, Nid?" tanya Daniar.

Nida menoleh saat mendengar pertanyaan sahabatnya.

"Sorry Ni, baksonya habis. Jadi gua pesenin siomay aja. Nggak pa-pa, 'kan?" kata Nida.

Daniar tersenyum, dia kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Nida.

"Ya sudah, nggak pa-pa. Yang penting ada buat mengganjal perut," ucap Daniar.

Sejurus kemudian, Daniar mulai menyendok siomay yang ada di hadapannya. Kedua sahabat itu tampak lahap menyantap hidangannya. Sesekali, mereka ngobrol ringan tentang banyak hal.

"Hai girls!" Sapaan suara cempreng yang tidak asing lagi, membuat kedua gadis itu memutar kedua bola matanya, jengah.

"Haish, ngapain si biang kerok ke sini?" Nida mendengus kesal.

Daniar hanya menggedikkan kedua bahunya. Tak berapa lama kemudian, Deni mendaratkan bokongnya di samping daniar.

"Nyicip dong, Ni!" ujar Deni sambil merebut sendok Daniar. Sesaat kemudian, Deni menyendok siomay milik Daniar dan memakannya.

"Ish, lo nggak sopan banget sih, Den!" tukas Nida.

"Nggak sopan sebelah mananya, Neng?" balas Deni.

"Lah itu, maen rebut sendok orang aja!" balas Nida, sewot.

Ya, Deni dan Nida memang tak pernah akur. Jika ketemu, mereka seperti anjing dan kucing yang selalu menggonggong dan mengeong satu sama lain. Pertanda jika mereka tak pernah saling suka untuk bertemu.

"Yaelah ... sendok si Niar yang gua pake, kenapa jadi elo yang sewot," jawab Deni, acuh tak acuh.

"Ish, tetep aja nggak sopan. Risih gua lihatnya," dengus Nida.

"Ya jangan dilihat, gitu aja kok repot" tukas Deni.

"Kelihatan, Bambang!" tekan Nida seraya menggerutu kesal.

"Hus! Sudah-sudah, ah. Kalian ini kalau ketemu selalu saja bertengkar. Ini tanda-tandanya jodoh, nih," gurau Daniar menengahi pertengkaran kedua sahabatnya.

"Ish, amit-amit jabang bayi. Jangan sampai hal itu kejadian Tuhaaaan," ucap Deni seraya mengangkat kedua tangannya untuk berdoa.

Nida semakin terlihat kesal saat mendengar ucapan Deni. Dia kemudian melemparkan sendok yang sedang dipegangnya seraya berkata, "Idih, siapa juga yang mau sama elu. Udah ah, Ni. Gua cabut duluan!"

"Eh Nid, mau ke mana?" teriak Daniar yang merasa terkejut melihat Nida beranjak dari tempat duduknya.

Nida terus melangkahkan kakinya meninggalkan meja kantin. Pertanyaan Daniar pun tak digubrismya. Otaknya selalu spaneng saat harus berdekatan dengan laki-laki berambut gondrong itu.

"Sobat lo kenapa sih, Ni? Kok dia kayak sebel gitu kalau lihat gua. Perasaan gua nggak pernah bikin salah ma dia, apalagi masalah," keluh Deni setelah melihat Nida menghilang dari kantin.

"Udah nggak usah dipikirin. Mungkin dia lagi datang bulan," jawab Daniar, mencoba menghibur Deni.

"Ya, gua sih, nggak nyaman aja. Kok, kesannya dia tuh kek ngajak ribut mulu ma gua," balas Deni.

"Ish, sensi banget sih lo, Den. Udah deh, ganti topik aja. Omong-omong, ngapain lo ke sini? Minta traktiran?" tebak Daniar, ngasal.

"Yaelah, mulut lo, Ni ... lemes banget," gerutu Deni.

"Hehehe, maaf-maaf." Daniar hanya terkekeh seraya meminta maaf, "terus, ngapain?" lanjutnya.

"Hmm, gua cuma pengen nanyain tentang cowok yang waktu itu kita ketemu, Ni. Jujur aja, gua penasaran. Sejauh mana hubungan lo sama dia? Masih PDKT-kah, atau sudah jadian?" tanya Deni cukup serius.

"Jangan ngaco deh, Den. Nggak usah mancing-mancing lagi. Lo tahu sendiri, 'kan, kalau gua nggak berniat untuk menjalin hubungan lagi," jawab Daniar seraya mereguk minuman dinginnya.

"Meskipun sama gua?" celetuk Deni.

Uhuk... Uhuk...!

Seketika Daniar tersedak mendengar celetukan Deni. Entah serius atau tidak perkataan yang diucapkan laki-laki itu. Namun, bagi Daniar itu hanya kelakar seorang Deni saja.

Daniar tersenyum seraya menatap Deni. Tangannya terulur untuk mengusap pipi laki-laki itu. Daniar berkata, "Nggak usah yang aneh-aneh, Deh."

"Ish, gua serius Niar. Gua nggak mau lo salah pilih dan jatuh ke orang yang salah. Lo tuh udah salah dengan mencintai si Seno. Dan gua nggak mau lo nikah ma pria sombong kayak si ... emm siapa namanya?"

"Dadan?"

"Ya, si Dadan itu! Udah deh, lebih baik lo nikah ma gua aja. Gua juga nggak kalah ganteng loh, dibandingkan cowok-cowok mantan lo!"

"Idih, narsis! Lagian, ogah banget gua merit ma elo. Daripada ma elo, mending gua nikah ma sahabat lo! Dah ah, gua mo ke kelas dulu. Bye!"

"Eh, sobat gua yang mana, Ni?" teriak Deni yang melihat Daniar beranjak dari tempat duduknya dan menuju kedai siomay.

"Itu tuh, yang body-nya tinggi kek tiang listrik!" kelakar Daniar seraya berlalu pergi.

Deni pun hanya terbahak mendengar jawaban Daniar.

"Awas loh, Ni. Gua bilangin entar ma orangnya!" teriak Deni.

"Bilangin aja. Sapa takut!" jawab Daniar.

Setelah membayar makanannya, Daniar pun pergi meninggalkan Deni yang masih senyam-senyum sendiri.

Begitulah Daniar dan Deni. Jika bertemu, selalu saja ada hal-hal yang akan membuat mereka melempar senyum satu sama lain. Double D adalah julukan mereka di kampusnya. Kedua sahabat itu memang selalu saja memiliki bahan untuk berkelakar.

1
Atik
emangnya ibu kamu, yg manfaatin anaknya buat kepentingan pribadi
Atik
sedih banget mikirin nasib bintang
Atik
gila nih orang!!
Atik
astaga, apa maunya nih nenek tua...
aarhh...bikin emosi aja
Atik
satu kata untuk ibu mertua. "Gila"
Atik
selamat jalan khadijah
Atik
aduh...gak tahan sama kelakuan habibah...uuuh
Atik
rasain...
ngeyel sih
Atik
ngeyel
Atik
dasar kk ipar gila. nimbrung aja kerjaannya
Atik
jangan nekat daniar
Atik
daniar terus yang disalahin. dasar mertua gak tau diri
Atik
ya elah, banyak gaya amat. kalo gak punya duit mah, diem bae napa
Atik
gedek lama" sama sikap mwryam
Atik
idih, dikasih hati minta jantung. gak tau malu banget
Atik
bini lu pengertian, tapi lu sendiri, bego...
Atik
nyusahin banget ni orang
Atik
ampun banget dah ma bu maryam itu. gak pernah bersyukur jadi orang
Atik
Sejauh ini, ceritanya masih ringan dibaca. Konfliknya berisi tentang keseharian hidup, jadi masih logis.
Semangat Thot, Luar biasa ceritanya
Atik
astaga, Deni...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!