Bukan bacaan anak di bawah umur, mengandung kata-kata kasar dan adegan ranjang.
Gadis berusia 18 tahun itu nekat mendatangi mansion Tuan Leonel Dankar, demi kebebasan kakaknya yang telah dijebloskan ke dalam penjara usai menggelapkan dana perusahaan Dankar Company. Dan sebagai imbalannya, gadis muda itu harus merelakan keperawanannya untuk direnggut oleh Tuan Leonel.
Namun bagaimana jadinya jika gadis itu malah jatuh cinta pada Tuan Leonel? Sedangkan ia hanyalah dianggap sebagai mainan ranjang tuan. Akankah gadis itu mampu merebut hati Tuan Leonel? Atau justru harus menanggung sakit akibat cinta yang tak berbalas.
~~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PC. Priyanka Chandler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua kisah yang berbeda
Kulangkahkan kaki cepat mengikuti Erdhan yang sudah berlari memasuki bandara seperti orang gila, ia terus berlari dan aku terus mengikuti meski langkah kakiku kalah cepat.
Kami mendatangi meja Customer officer untuk menanyakan beberapa hal, seperti jam terbang tujuan ke Amerika yang sudah take off sejak satu jam yang lalu, kemudian Erdhan meminta daftar penumpang, namun tak dapat langsung diberikan, bisa, tapi ada beberapa prosedur yang harus dilakukan, banyak, lama.
Erdhan merogoh ponsel di saku celana, menghubungi seseorang.
"Bisa kau membantuku untuk mengurus sesuatu?" pinta Erdhan dalam sambungan telepon, yang kuyakin itu adalah Tuan Leonel.
Erdhan kembali berlari, dan aku mengikuti, menuju waiting room penumpang, ia terus mencari keberadaan Crishtie yang kunilai percuma, jika benar Crishtie ke Amerika, bukankah pesawat dengan tujuan penerbangan itu telah lepas landas semenjak satu jam yang lalu?
Tak kami temui Crishtie di manapun meski kami telah berpindah tempat dari satu tempat ke tempat yang lain. Dan aku lelah.
Erdhan masih akan melangkah ke meja Customer Officer, kupegangi tangannya, menghentikannya.
"Cukup!" tatapan mata kami bertemu, bulir bening dari mata Erdhan menetes dengan rasa sesal yang menyelimuti.
"Aku ingin bertemu Crishtie," ucapnya lirih.
"Dia sudah pergi,"
"Dia tidak bisa meninggalkanku seperti ini?"
"Kenapa tidak? Bahkan aku pun akan melakukan hal yang sama jika aku berada dalam posisinya."
"Erdhan?" teriakan seorang pria yang sangat kukenal, yang kurindukan dalam diam. Tuan Leonel.
_
Mereka berbicara, aku hanya diam, mendengarkan, tapi tak sepenuhnya mendengarkan, datangnya Tuan Leonel mengusik hatiku, mengganggu pikiranku. Tentang cinta kami yang tak mungkin bersatu.
"Re?"
Aku mendongak, melihat Tuan Leonel yang memanggilku.
"Tunggu di mobil bersama Emilio," perintah, yang tak dapat di bantah. Setelah itu Tuan Leonel dan Erdhan berlari menuju Customer Officer, Erdhan masih menginginkan daftar penumpang, untuk memastikan apakah nama Crishtie menjadi salah satu dalam daftar tersebut.
Aku hanya diam, cukup lama, berdiri mematung melihat punggung Tuan Leonel yang setengah mati kurindukan semakin menjauh dari pandangan, kemudian benar-benar menghilang di balik pintu kaca.
Seseorang menepuk pundakku dari belakang, aku menoleh. Emilio.
_
Sekitar satu jam aku menunggu di dalam mobil, sambil memainkan ponsel, mencoba terus menghubungi nomor Crishtie yang sudah tidak aktif, begitu pun dengan semua akun sosmednya, yang kurasa telah dihapus permanen. Dia benar-benar pergi tanpa meninggalkan jejak, sahabatku telah pergi, meninggalkan semua yang menyakitinya di sini.
"Brak!"
Tuan Leonel kembali. Emilio melajukan mobil dengan kecepatan sedang, keluar dari are parkir bandara.
"Bagaimana?" tanyaku.
"Masih harus menunggu persetujuan dari pihak maskapai," jawab Tuan Leonel. Aku mengangguk, mengerti.
"Kenapa?" tanya Tuan Leonel. Aku menoleh, melihatnya yang hanya menatap lurus ke depan, dengan raut wajah sendu. Masih dengan gaya duduknya seperti biasa, anggun dan berkharisma.
"Apa?" ucapku yang menjawab pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan.
"Block," ucapnya satu kata.
"Itu yang terbaik,"
"Dari segi apa?"
"Agar kita tidak melakukan kesalahan,"
"Apakah jatuh cinta itu sebuah kesalahan?" teriaknya tidak terima. Seketika posisi duduknya berubah, menghadapku dan kakinya yang bersilang anggun itu turun.
"Tidak, jatuh cinta memang tidak salah, tapi menjalin hubungan dengan mengkhianati hubungan yang sudah terlebih dulu ada, itu salah."
"Aku mencintaimu, Re,"
"Aku juga sama, Tuan. Tapi aku memilih untuk tidak merusak kebahagiaan Nyonya Annora."
"Aku akan menyelesaikan hubunganku dengannya,"
"Lantas Darren?"
___
Kami saling menatap dalam, sendu. Dengan mata yang mulai basah dan merah.
Kupejamkan kedua mata membiarkan buliran bening itu lolos satu persatu.
"Kau tidak bisa melakukannya, Tuan." kupalingkan muka ke samping melihat keluar dari kaca pintu mobil.
"Tuan Emilio, tolong hentikan mobilnya, aku berhenti di sini," aku tidak tahan berada dalam situasi seperti ini, berada dekat dengan Tuan Leonel membuatku merasa sesak, tersiksa, meskipun menjauhinya tak juga membuatku bahagia.
"Tidak, kau pulang bersamaku," sahut Tuan Leonel.
"Tuan Emilio, kumohon, hentikan mobilnya."
"Tidak!"
"Kalau begitu aku akan melompat dari mobil,"
"Re?" teriak Tuan Leonel memegangi tanganku. Aku menatapnya sendu, dengan sorot mata permohonan.
"Berhenti," ujar Tuan Leonel pelan, dan mobil berhenti.
Aku dan Tuan Leonel sempat saling menatap, dengan tangisan kami masing-masing. Kemudian aku keluar dari mobilnya, berjalan menyusuri trotoar yang mulai terasa dingin oleh hembusan angin malam.
Namun belum jauh aku melangkah, terdengar derap langkah sepatu yang berlari mendekat, Tuan Leonel mengikuti.
"Apa yang kau lakukan, Tuan? Pergilah!" teriakku padanya yang sudah mensejajari langkahku.
"Aku tidak akan membiarkanmu menjauhiku,"
"Jangan bersikap seperti anak kecil,"
"Kalau begitu mengertilah, aku mencintaimu dan aku tidak bisa menahan diri dengan sikapmu yang mengabaikanku,"
Tak kujawab ucapannya, aku terus berjalan menyusuri trotoar menuju rumah, yang masih cukup jauh.
"Buka blokirnya,"
"Tidak,"
"Re?" Tuan Leonel menarik tanganku, hingga aku jatuh ke dalam pelukannya.
"Tuan, apa yang kau lakukan? Lepaskan!"
"Tidak, Re. Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau setuju untuk berjuang bersamaku,"
"Tidak, Tuan. Aku tidak mau, lepaskan aku!"
"Kita saling mencinta, Re. Kita saling terluka dengan saling menjauh,"
"Tapi itu yang terbaik, Tuan,"
"Tidak ada hal baik yang kurasakan, Re! Aku menderita, aku tersiksa, apa kau mengerti itu?"
Aku terus berusaha melepaskan diri dari pelukan Tuan Leonel, mendorong dadanya sekuat tenaga, memberontak, dan setelah mendapatkan sedikit celah, aku bahkan menamparnya, tidak sengaja, spontan.
Hening.
Hanya hembusan nafas terengah kami yang terdengar. Tuan Leonel terdiam dengan tangisnya yang terus luruh. Wajah yang masih berpaling akibat tamparanku yang sangat keras di pipinya.
Tanganku gemetar mendapati tindakanku sendiri yang keterlaluan, aku telah menamparnya, menampar seseorang yang sangat aku cintai.
"M-ma maafkan aku, Tuan!"
Aku berlari meninggalkannya, menyeberang jalan menuju trotoar sebelah, berpikir jika Tuan Leonel tidak akan mengikutiku lagi karena mobilnya tidak bisa melewati jalur yang berlawanan.
Namun aku salah, ia tak menyerah.
"Ciiitt,,,, dugh!"
"Aaahhh,,,," teriakan Tuan Leonel seketika menarik perhatianku yang berlari, ia mengejarku tanpa memperhatikan jalanan saat menyeberang, dan sebuah mobil yang melaju menyerempet tubuhnya. Ia jatuh ke jalan beraspal.
"Tuan?" teriakku, berbalik, berlari ke arahnya. Begitu pun dengan Emilio yang keluar dari mobil, berlari cepat ke arah Tuan Leonel.
"Aaahh,,,," desis Tuan Leonel menahan sakit di lututnya, mobil yang menyerempet susah pergi.
"Tuan?"
***
Kami membawa Tuan Leonel ke rumah sakit, setelah menjalani semua pemeriksaan, ia diobati dan diberikan obat. Tak ada luka serius, hanya sebuah benturan ringan, yang membuat lutut Tuan Leonel memar, dan dia harus berjalan tertatih karena menahan sakit itu.
Aku dan Emilio membantunya masuk ke dalam mobil. Dan Emilio kembali melajukan mobil menembus jalan malam kota London.
"Apa yang kau lakukan tadi itu sangat ceroboh, Tuan. Kau bisa membahayakan dirimu sendiri,"
Tuan Leonel hanya menanggapi ocehanku dengan seutas senyum yang melengkung menghiasi bibirnya. Tanpa menjawab, dan hanya menatapku.
Kulihat telapak tangannya yang terdapat luka beret akibat tersungkur ke jalan.
"Ini pasti perih," kutiup telapak tangan yang terluka itu, berdarah, meski sedikit, ada rasa bersalah melihat Tuan Leonel yang terluka karenaku.
"Kau mengkhawatirkanku, Re?" tanya Tuan Leonel.
"Tentu saja, Tuan. Aku sangat takut tadi,"
"Kau takut kehilangan diriku?"
Baru kusadari suara Tuan Leonel yang berat berubah lirih, parau. Aku mendongak, mendapati sorot matanya yang sudah sayu, sangat cantik. Seperti sorot mata waktu itu, caranya melihatku, ketika ia ingin.
Tuan Leonel mendekat, tangannya yang tadi berada dalam genggamanku terlepas, ia terus mendekat dan aku mundur, hingga punggungku membentur pintu mobil.
"T-tu tuan?" rasa gugup mulai menyelimuti. Debaran halus yang menghangat di dalam hati membuatku tak melakukan perlawanan.
Ia menciumku, tepat di bibirku, menautkan bibir kami dengan lembut, sangat lembut.
Aku tak membalas, tapi juga tak melawan, ia terus menautkan bibir kami, mencium, menyesap dan me.lu.mat, memiringkan kepala menambah kenikmatan.
Ciuman yang semula pelan bertambah cepat, ia memasukkan lidahnya ke dalam mulutku lebih dalam, dan aku mulai terbawa suasana.
Kunikmati ciuman kami, bahkan aku membalasnya sekarang.
"Aahh,,,," de.sahku tak tertahan, saat Tuan Leonel melepas ciuman kami dan berpindah menjelajah area leherku, memberikan hisapan kecil di sana, membuat seluruh tubuhku meremang, merasakan sensasi dan gelanyar aneh yang sangat hebat.
"Aahh,,, tuan?"
Tangan Tuan Leonel bergerilya, masuk ke dalam kemeja putih yang kukenakan. Mengelus are perutku yang rata, seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di sana. Geli, nikmat.
Tangan itu terus bergerak lembut semakin ke atas, hingga ia mendapatkan apa yang dicarinya, mengelus, menangkup, dan mere.mas pelan dadaku yang terbungkus bra.
"Aahh,,,,tuan?"
Kepalanya yang semula berada dalam ceruk leherku terangkat, kami saling menatap diam, dalam, penuh arti.
"Emilio, hotel." ucap Tuan Leonel memberi perintah.
***
emang klw dilihat dari sufut pandang orang ketiga kelakuan re itu keterlaluan sama tuan leon dan nyonya annora pasti sakit hati banget
ya tapi gimana ya pilih jalan yg terbaik buat kedua sisi ajah
re dan tuan leon saling mencintai
nyonya annora jga gak kan publikasi pernikahannya karena jadi model