Harap bijak membaca, ini karya fiksi belaka.
Kissky Huwl, gadis belia yang di paksa menikah dengan putra seorang konglomerat, saat ia masih berusia 15 tahun.
Meski tak ada cinta dan kecocokan di antara keduanya, namun Kissky dan Zanjiil harus tetap menjalani pernikahan muda yang telah menjadi tradisi di keluarga dan daerah mereka
Setelah Resmi menjadi menantu Rabbani, Kissky bersama Zanjiil menuntut ilmu di sekolah yang sama, tentunya dengan menyembunyikan identitas mereka yang sebenarnya
Mulanya kehidupan Kissky berjalan dengan lancar, sampai saat Kissky dan sahabatnya menjadi saksi dari gadis yang bunuh diri di sekolahnya
Kejadian aneh pun menyelimuti hari-harinya, ia yang ingin melarikan diri tak dapat kemana pun karena mendapat ancaman dari seorang yang tak di kenal
Bagaimana nasib Kissky ke depannya?
Apakah ia akan jadi korban selanjutnya?
Mana yang akan terjadi?
Ikuti terus alur cerita, Pernikahan Berdarah!
Temani Kissky dalam menjalani hari-harinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reski Muchu Kissky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 (Keputusan)
“Kau enggak lihat apa yang ku pakai?” Liza menunjukkan tas pemberian Jenny.
“Ya ampun, ku pikir apa,” ucap Kissky.
“Eh, lain kali kita pergi ke rumah Gibran lagi ya.” Liza yang ingin bertemu calon mertuanya mengajak Kissky untuk ke rumah Gibran di lain waktu.
“Insya Allah, kalau masih di ajak Gibran!”
Tet.. tet.. tet...
Percakapan keduanya terhenti, saat bel sekolah berbunyi. Riza yang tepat waktu, dengan cepat memasuki ruangan.
“Assalamu'alaikum, selamat pagi anak-anak!!” seru Riza, dengan penuh senyum.
“Pagi juga bu!!!” sahut para siswa serempak.
“Baiklah,sesuai janji kita kemarin, tugas kalian di serahkan hari ini, jadi... semuanya, silahkan kumpulkan ke depan, tugas seni yang telah kalian kerjakan,” titah Riza.
Satu persatu siswa menyerahkan tugas yang mereka ke atas meja Riza.
Setelah selesai, Riza pun memberi pelajaran baru untuk kelas XA Seni.
“Karena kita masih dalam pembahasan yang sama, maka ibu akan memberi kalian tugas, untuk melukis sesuatu, tapi kali ini ibu yang tentukan objeknya, tentunya di kerjakan secara berkelompok. Satu kelompok terdiri dari dua orang.” Riza pun melihat absen kelas, untuk membagi kelompok para siswanya.
“Covitria dan Coronia, Liza dan Luna!” seketika keduanya melirik satu sama lain dengan tatapan mata tajam.
Kenapa harus dengan dia sih? batin Luna.
Kalau dia enggak mau di ajak kerja sama, akan ku giling kepalanya sampai halus, batin Liza.
“Selanjutnya, Kissky dan Zanjiil, Gibran dan Rizal!”
Gibran yang berharap satu kelompok dengan Kissky merasa sedikit kecewa atas keputusan Riza.
Harusnya, aku dan dia yang satu kelompok, kenapa malah dengan Zanjiil. batin Gibran.
Kissky yang di pasangkan dengan Zanjiil merasa tak nyaman, namun karena ia ingin terlihat dingin dan tak mau tahu segalanya, memilih diam tanpa mengajukan protes.
“Keberatan bu!” suara lantang Luna, mengundang perhatian orang lain padanya.
“Ya Luna?” Riza mencoba mendengar keluhan siswinya.
“Kenapa Zanjiil malah satu kelompok dengan Kissky, sedang huruf nama Kissky dan Zanjiil itu sangat jauh, yang lain perasaan enggak gitu bu, contohnya aku dan Liza?!”
Rizal yang berada di depan Zanjiil pun memberi komentar, terkait sikap Luna.
“Ya Tuhan, rempong banget sih pacar mu, Jiil, perkara begitu saja harus protes sama guru, malu-maluin, kalau aku jadi kau, sudah ku putuskan, dari SMP manjanya enggak luntur-luntur,” ujar Rizal.
“Ssutt! Banyak omong kau, jangan urus yang bukan urusan mu!” pekik Zanjiil.
“Dasar Zanjiil, sepertinya kau sudah termakan tai oleh Luna, makanya nurut terus sama apa yang dia katakan.” Rizal yang memiliki mulut seperti ibu-ibu tukang gosip, tak hentinya memanasi Zanjiil untuk melepaskan Luna.
“Sekali lagi kau bicara, ku cabut bulu hidung mu sampai habis!” pekik Zanjiil.
Sontak Rizal bungkam mendengar ancaman Zanjiil, sebab dulu, Zanjiil pernah melakukannya, pada saat Rizal kalah main kelereng ketika mereka duduk di kelas VII SMP.
Gila, Zanjiil ngancamnya sampai ke bulu hidung, batin Rizal. Ia masih terauma, akan dahsyatnya guncangan di lubang hidung besarnya.
“Luna, disini ibu yang menentukan, bukan kau, atau yang lainnya, jadi terima saja apa yang sudah ibu putuskan!” ucap Riza.
“Tapi bu, masa aku di satukan dengan tokek tengil seperti Liza?!”
“Apa kau bilang? Dasar cabai rawon!” Riza yang marah melempar penanya kepada Luna.
“Ibu lihatkan? Dia kasar dan suka main tangan!” ucap Luna.
“Sudah, kalian berdua, jangan bertengkar! Seperti yang ibu katakan, kau pasti paham tanpa di ulangi kan Luna? Lagi pula kau duluan yang mengatainya, dan kau Liza!”
“Iya bu!" sahut Liza dengan sigap.
“Jangan suka membalas perbuatan buruk orang lain dengan main tangan, itu enggak baik, dan bisa merugikan dirimu sendiri, kau mengerti!”
“Baik bu." Liza menundukkan kepala karena merasa malu di tegur oleh gurunya.
“Jadi enggak bisa tukar teman bu?” Luna masih berusaha melakukan negoisasi pada Riza.
“Jalani apa yang telah ibu tentukan, lagi pula pacar mu juga enggak keberatan, tak bersama mu!” Sontak Luna menatap tajam ke arah Zanjil.
Zanjiil pun mengalihkan pandanganya, agar tak melihat sorot mata Luna yang menakutkan.
“Bu...” Luna masih merengek pada Riza. lalu Kissky pun angkat bicara.
“Kalau Luna tetap ingin bersama Zanjiil, saya bersedia kok bu, tukar kelompok dengan Luna,” ucap Kissky.
Apa-apaan sih dia! batin Zanjiil.
“Nah, ibu dengarkan, Kissky saja setuju.” Luna merasa bersemangat, karena memiliki setitik harapan untuk tetap bersama sang kekasih.
“Nehi-nehi muhabbat karongge! Tidak bisa! Kalian pikir ibu seperti guru lain? Yang bisa kalian setir!” keputusan mutlak Riza membuat mereka yang mengajukan protes tak bisa berbuat apapun.
Luna dengan bibir memancung, terpaksa menerima kenyataan yang di beri oleh gurunya.
“Ayo semuanya, kita menuju ruang praktik! Di meja ibu nanti ada sebuah toples, kalian ambil satu, apa yang tertulis di kertas, itu yang harus kalian lukis.” setelah memberi titah, semua siswa-siswi pun menuju ruang praktik seni.
Sesampainya mereka, masing-masing perwakilan kelompok mengambil kertas yang telah di gulung kecil dalam toples.
“Aku saja yang ambil! Nanti kalau kau malah bawa sial!” pekik Luna pada Liza.
“Ya sudah, ambillah!” ucap Liza.
Setelah mengambil satu kertas, Luna pun membukanya, ia dan Liza bersama-sama membaca tulisan yang ada dalam kertas tersebut.
“Ular kembar!” sontak keduanya melihat satu sama lain.
...Bersambung......