NovelToon NovelToon
Terjebak Nikah Dengan Dosen Killer

Terjebak Nikah Dengan Dosen Killer

Status: tamat
Genre:Tamat / Cintapertama / Dosen / Pernikahan Kilat / Cinta Paksa / Beda Usia / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:399.4k
Nilai: 4.6
Nama Author: Puji170

Agnes tak pernah menyangka, sebuah foto yang disalahartikan memaksanya menikah dengan Fajar—dosen pembimbing terkenal galak dan tak kenal kompromi. Pernikahan dadakan itu menjadi mimpi buruk bagi Agnes yang masih muda dan tak siap menghadapi label "ibu rumah tangga."

Berbekal rasa takut dan ketidaksukaan, Agnes sengaja mencari masalah demi mendengar kata "talak" dari suaminya. Namun, rencananya tak berjalan mulus. Fajar, yang ia kira akan keras, justru perlahan menunjukkan sisi lembut dan penuh perhatian.

Bagaimana kelanjutan hubungan mereka? Apakah cinta bisa tumbuh di tengah pernikahan yang diawali paksaan? Temukan jawabannya di cerita ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Fajar terpaku mendengar ucapan Agnes. Ia menatap istrinya dengan wajah kaku, seperti prosesor yang mendadak nge-lag. “Ganjel?” ulangnya pelan, bingung sekaligus merasa ada yang... salah.

Agnes, yang wajahnya sudah merah padam seperti tomat matang, menggigit bibir sambil melirik ke bawah, tepat ke arah tubuh Fajar. Dengan nada pelan tapi tetap jelas terdengar, ia bergumam, “Iya, kayak... di bagian bawah situ... kayak ada yang keras gitu.”

Mata Fajar otomatis melebar. Otaknya langsung memproses kemungkinan yang dimaksud Agnes, dan entah kenapa ia merasa harus segera memperbaiki situasi. Sayangnya, mulutnya mendadak seperti dikunci. Alih-alih berkata sesuatu yang masuk akal, ia malah berdiri kaku seperti patung.

Agnes, yang awalnya bingung, perlahan menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Wajahnya semakin merah—jika memungkinkan, mungkin sekarang sudah mirip cabai rawit. “Ya ampun...” bisik Agnes, menutup wajah dengan kedua tangan. “Pak, itu... itu bukan ganjel biasa, kan?”

Fajar yang biasanya kalem dan kontrol diri level tinggi, kali ini benar-benar kalah. Ia mengalihkan pandangan ke sudut ruangan, mencoba terlihat tenang. “Nes, kamu nggak perlu bahas itu,” katanya lirih, meski jelas nada suaranya bergetar.

Tapi Agnes tetap penasaran. Ia menurunkan tangannya perlahan, menatap Fajar dengan campuran rasa malu dan geli. “Jadi... itu karena aku, ya?” tanyanya polos, tapi dengan tatapan yang tajam—seperti tidak akan berhenti sebelum mendapat jawaban.

Fajar menghela napas panjang. Ia akhirnya berjalan mendekat, menunduk hingga wajahnya sejajar dengan Agnes. Dengan nada rendah penuh peringatan, ia berkata, “Nes, kalau kamu terus-terusan bahas ini, aku nggak yakin bisa kontrol diri.”

Kalimat itu sukses membuat Agnes terdiam. Wajahnya memerah lagi, bahkan kali ini seperti mau meledak. Ia langsung menjauh, melangkah cepat sambil berseru, “Pak, aku ke kamar mandi dulu, mau ganti baju!”

Fajar hanya bisa menggelengkan kepala, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dalam hati, ia mengutuki reaksi tubuhnya yang terlalu responsif. “Apa ini karena aku udah tua?”

***

Keesokan Paginya...

Agnes duduk di depan cermin, menatap bayangannya sendiri. Dengan napas panjang, ia meyakinkan dirinya. Baiklah, karena sudah seperti ini kenapa tidak melanjutkan saja, dari pada minta talak yang berakhir sia-sia jadi ibu rumah tangga seperti tidak buruk. Apalagi punya suami speck pak Fajar. semangat Agnes kamu pasti bisa, gumamnya dalam hati, sambil mengepalkan tangan seperti pejuang yang siap berperang.

Ia melirik kamar mandi yang kini mengalirkan air cukup deras, pertanda jika Fajar masih membersihkan diri. "Aku akan membuat kejutan untuknya," gumamnya lagi dan pergi dari kamar menuju dapur dengan terburu-buru.

Dari arah dapur suara ketukan sendok dan gelas yang samar terdengar, Agnes tahu pembantu sudah menyiapkan sarapan seperti biasa. Tapi kali ini, Agnes punya misi besar, dia ingin membuat gebrakan baru-istri idaman.

“Aku harus bisa bikin sarapan sendiri buat Pak Fajar dan Nenek Grace!” tekadnya sambil mengencangkan tali celemek yang sudah terpasang di tubuhnya—lengkap dengan tulisan Best Wife Ever.

Tanpa pikir panjang, Agnes berlari kecil ke dapur. Saat pembantu rumah tangga melihatnya, wanita itu langsung mengangkat tangan, mencoba menghentikan Agnes.

“Bu Agnes, nggak usah repot-repot, saya kan udah—”

“Biar aku aja, Mbak!” potong Agnes dengan penuh percaya diri. Ia mendorong lembut pembantu itu keluar dari dapur.

“Sekali-sekali, aku mau masakin suamiku dan nenek. Mbak santai aja, ya!”

"Tapi Bu-" tolak pembantu itu.

"Tenang, aman kok," sahut Agnes meyakinkan pembantunya.

Pembantu itu terlihat ragu, tapi akhirnya mengalah dan keluar dari dapur, meski sambil mengintip sesekali.

Agnes menatap bahan-bahan di atas meja. Telur, roti, daging asap, dan beberapa bumbu dapur. Sepertinya mudah. Dia pernah lihat tutorialnya di YouTube. Apa susahnya bikin sarapan simpel?

Satu jam kemudian...

Kepulan asap dan bau gosong langsung menyebar ke seluruh rumah. Agnes panik di dapur, memegang panci dengan sarung tangan pink yang sudah ada bekas gosongnya. “Astaga! Kenapa bisa begini?!” jeritnya penuh kepanikan.

Fajar yang baru keluar dari kamar dengan wajah sumringahnya, langsung berhenti. Ia mengendus udara, alisnya berkerut. “Apa-apaan ini? Bau gosong?” Ia segera berlari ke dapur, dan pemandangan di sana membuatnya membeku.

Agnes berdiri di tengah kekacauan—panci gosong, telur yang entah kenapa berubah jadi hitam pekat, dan tumpukan roti yang salah satu sisinya hampir terbakar. Asap mengepul ke mana-mana dan beberapa pembantunya membantu membereskan kekacauan itu.

“Agnes!” seru Fajar, setengah panik. “Kamu ngapain, Nes?!”

Agnes menoleh dengan wajah memerah. “Lagi cosplay, Pak!"

Fajar menatap Agnes dengan ekspresi tidak percaya, istrinya masih sempat bercanda ditengah kekacauan yang dibuat. Ia menghela napas panjang setelah mendengar pembantunya mengatakan jika Agnes ingin membuat sarapan untuknya.

Fajar mencoba menahan tawanya yang hampir pecah. “Nes, kita punya pembantu. Sarapan itu udah beres tiap pagi. Kamu nggak perlu repot-repot.”

“Tapi aku mau jadi istri idaman untukmu! Istri yang bisa ngurus kamu dan nenek,” jawab Agnes, hampir menangis, tapi matanya tetap penuh tekad.

"Astaga, Nes. Kamu gak perlu melakukan ini, kamu bisa mengurusku dengan cara lain. Jangan memaksa dirimu jika tidak bisa," ucap fajar.

"Loh... Bapak meragukan kemampuanku?" sahut Agnes setengah kesal.

"Nes, bukan gitu maksudku," ucap Fajar bingung menjelaskan.

Saat itu, Nenek Grace masuk dengan tongkatnya, mengintip dapur sambil tersenyum kecil. “Fajar, kamu seharusnya bangga. Istrimu ini benar-benar berusaha. Meskipun, ya... hasilnya agak... berasap.”

Fajar menarik napas lalu tersenyum hangat. Ia berjalan mendekat, mengambil panci dari tangan Agnes dan meletakkannya di wastafel.

“Baiklah, Nes,” ujar Fajar dengan nada lembut, “kita coba bareng, ya. Tapi kali ini, aku yang pegang kompor, dan kamu jadi asistenku.”

Agnes mengerutkan kening, sedikit bingung. “Maksudnya?”

Fajar tersenyum tipis, menarik tangan Agnes yang masih memegang spatula. “Kamu pengen masakin aku, kan? Kalau gitu, aku bakal ajarin. Kita mulai dari yang sederhana. Jangan langsung eksperimen kayak mau bikin menu restoran.”

Agnes menggigit bibirnya, merasa malu tapi juga senang melihat Fajar yang begitu sabar. Ia mengangguk pelan. “Oke, aku akan jadi asisten terbaik.”

Fajar langsung mengambil alih situasi. Ia membuka kulkas, mengambil telur yang masih tersisa, dan memeriksa bahan-bahan lain. “Kita bikin scrambled egg sama toast aja. Simpel, enak, dan... kecil kemungkinan dapurnya kebakaran lagi.”

Agnes mendengus, pura-pura kesal. “Itu bukan salahku sepenuhnya, tahu! Kompor ini mungkin nggak ramah pemula.”

Fajar terkekeh, tapi tidak membalas. Ia sibuk memecahkan telur ke dalam mangkuk, lalu melirik Agnes. “Nah, sekarang giliran kamu. Aduk ini, tapi pelan-pelan. Jangan sampai tumpah.”

Agnes mengambil mangkuk itu dengan hati-hati, mulai mengocok telur sesuai instruksi Fajar. “Kayak gini, kan?”

“Bagus. Terus, tambahin sedikit garam. Jangan kebanyakan, cukup sejumput.” Fajar mencontohkan dengan gerakan tangan, dan Agnes langsung meniru.

Mereka berdua sibuk dengan perannya masing-masing. Agnes merasa seperti sedang ikut kelas memasak, tapi kali ini gurunya adalah suaminya sendiri. Rasanya aneh, tapi menyenangkan. Sesekali, Fajar memperbaiki gerakan Agnes, bahkan menggenggam tangannya untuk menunjukkan cara yang benar. Setiap kali itu terjadi, Agnes merasakan pipinya memanas.

Nenek Grace dan penghuni rumah itu sejak tadi memperhatikan dari jauh, tersenyum kecil. Mereka tidak menyela atau mengganggu, justru menikmati pemandangan manis di dapur yang belum pernah terjadi.

Setelah beberapa menit, sarapan sederhana itu pun selesai. Scrambled egg yang terlihat lembut, roti panggang yang sempurna, dan sedikit potongan buah sebagai pelengkap. Agnes menatap hasilnya dengan bangga.

“Wah, ini jauh lebih bagus dari yang tadi,” ujarnya, menatap Fajar dengan mata berbinar. “Ternyata masak nggak se-susah itu kalau ada yang bantuin.”

Fajar mengangkat bahu, memasukkan piring ke dalam nampan. “Karena kamu punya guru yang hebat.”

Agnes tertawa kecil. “Iya deh, Pak Guru.”

Mereka membawa sarapan ke meja makan, di mana Nenek Grace sudah menunggu. Ketiganya duduk bersama, menikmati hasil kerja sama yang tidak hanya menghasilkan makanan, tetapi juga momen hangat yang jarang terjadi.

“Fajar,” ujar Nenek Grace di tengah-tengah sarapan, “kamu beruntung punya istri yang mau belajar dan berusaha untukmu.”

Fajar melirik Agnes yang sedang tersenyum malu-malu. Ia mengangguk pelan, hatinya terasa hangat. “Iya, Nek. Aku tahu.”

"Aku yang lebih beruntung punya nenek mertua speck malaikat."

"Jadi nenek aja ini yang dapat pujian?" tanya Fajar.

Agnes tidak menjawab ia hanya menarik sudut bibirnya sambil menikmati makanannya. Tak lama kemudian di tengah-tengah sarapan itu Agnes berbicara lagi.

"Pak Fajar, sejak semalam aku nemu barang ini, fungsinya apa ya?" tanya Agnes sambil menyerahkan sekotak kondom. Tentu saja hal itu langsung membuat Fajar dan nenek Grace tersendak.

1
Alanna Th
polooos amat agnes! pk dosen smp mesem" saking gemesnya! mana tahan!
Alanna Th
bukan pisang, nes; tapi meriam /Facepalm//Facepalm//Kiss/
Mu Shofihin
semangat
Hayurapuji: terimakasih kakak
total 1 replies
Alanna Th
sama aja dg mngumumkn bhw agnes n fajar sdh tdr bareng /Facepalm//Joyful/
Hayurapuji: terkadang agnes diluar nurul
total 1 replies
Alanna Th
biasanya kalo ada tabrakn smcm itu, tandanya othor bakak mnjdhkn mrk
Hayurapuji: gak kak serius enggak
total 1 replies
Alanna Th
Aaaa, kelepasan tuuuh
Alanna Th
waaa, nenek ksh jamu apa tuh?
Alanna Th
mati brdiri deh sang pelakor
Alanna Th
ck ck ck, bnr" swami idaman
Alanna Th
bisa gk liat iklan, matikn dulu nt nya lalu balik spt baru akan baca lnjtnny. aq juga kezel kl iklannya panjang", kdg 2 pula
Alanna Th
penazaran apakh fajar msh prjk? /Grimace//Facepalm//Joyful/
Alanna Th
waaa, trciduk keamann; dnikahkn hari itu juga?
Hayurapuji: enggak kak enggak hihi
total 1 replies
Chin Hong Tan
Luar biasa
Hayurapuji: terimakasih kakak
total 1 replies
wan hasma
Lumayan
Hayurapuji: terimakasih
total 1 replies
Muchamad Ridho
udh kuliah ko GK ngrti yg begitu..bnyk informasi lwat media..pelajaran d sekolh jg ada x..polos apa bodoh..
Hayurapuji: sepertinya dia terlalu grogi jdi ngehank balik ke Pentium 1
total 1 replies
eci
bikin s² nya cerita nya tentang rega berta dan serly punya pasangan
Hayurapuji: kita nyari hilalnya dulu kak heheh...

terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Wayan Sucani
Luar biasa
Hayurapuji: terimakasih kakka
total 1 replies
Ririn Nursisminingsih
udah nes jalani aja
Triokta
suka penyelesaian nya..
Hayurapuji: siap kak terimakasih
total 1 replies
Diana Resnawati
Luar biasa
Hayurapuji: terimakasih kakak. jangan lupa mampir di karya Autor yang lain ya kak, benih pengikat kaisar.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!