Melody kabur dari rumah setelah hampir diperkosa oleh papa tirinya yang kasar dan pemabuk.
Karena panik, Melody naik sembarang bus hingga akhirnya gadis dua puluh empat tahun tersebut tersesat di sebuah kota metropolitan tanpa bekal maupun identitas apapun.
Di tengah kebingungannya, Melody tiba-tiba bertemu seorang pria berjas rapi yang membawa beberapa bodyguard dan memanggil Melody sebagai Nona Claudia.
Sekuat apapun Melody membantah, tidak ada seorang pun yang percaya kalau Melody adalah Melody dan bukan Nona Claudia.
Lalu siapa sebenarnya Nona Claudia yang dimaksud oleh semua orang?
Ada hubungan apa sebenarnya antara Melody dan Nona Claudia hingga membuat keduanya mempunyai wajah yang sama?
Dan dimana sebenarnya Nona Claudia yang asli bersembunyi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PULANGLAH!
Melody masih berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi ini. Gadis itu berencana memasak sup sayuran dan tempe goreng saja.
"Mel, butuh bantuan?" Tanya Claudia berbasa-basi pada Melody.
"Ya! Bisa kau potong tipis-tipis tempe yang disana?"
"Lalu sekalian kau buat adonan tepung pencelupnya juga," Melody memberikan arahan pada Claudia yang langsung garuk-garuk kepala.
Sudah hampir dua bulan Claudia tinggal di desa ini bersama Melody dan Bu Ayana. Namun sepertinya nona muda itu masih belum sepenuhnya beradaptasi bagaimana menjadi gadis desa yang harus serba bisa. Claudia pernah sekali mencoba untuk memasak sayur bening, namun rasanya malah tak karuan. Belum lagi saat membantu Melody mencuci di rumah-rumah warga, demi menggantikan pekerjaan Bu Ayana, Claudia juga malah mengacaukan semuanya.
Sepertinya Claudia memang tidak ada bakat hidup sebagai gadis miskin. Dua puluh empat tahun hidup sebagai nona muda yang selalu dikelilingi maid, membentuk sosok Claudia yang manja dan tak bisa apa-apa.
"Seperti ini, Mel?" Tanya Claudia seraya menunjukkan hasil potongan tempenya pada Melody yang langsung membelalakkan mata.
"Clau, kau tahu tempe goreng, kan?" Tanya Melody dengan nada tak percaya.
"Tunggu! Tempe ini buat digoreng? Kenapa kamu nggak bilang tadi? Aku pikir mau dimasak kecap seperti kemarin itu," Claudia menggaruk kepalanya yang tak gatal, sementara Melody hanya menepuk keningnya merasa geregetan dengan kelakuan Claudia.
"Sudahlah! Pergi saja dan biarkan aku yang menyelesaikannya!" Usir Melody kesal.
Claudia hanya merengut dan tak kunjung beranjak. Gadis itu malah mengedarkan pandangannya ke sekeliling dapur sebelum kemudian netranya tertumbuk pada tumpukan piring kotor di dalam ember.
"Aku akan cuci piring saja!" Cetus Claudia seraya mengangkat ember yang penuh dengan piring kotor. Namun sayangnya, pegangan Claudia meleset dan ember seketika jatuh ke lantai.
Suara nyaring dari ember serta piring yang terbanting membuat Melody terlonjak kaget.
"Clau!"
"Maaf, aku tak sengaja!" Kilah Claudia membela diri.
"Mel! Suara apa tadi?" Tanya Bu Ayana yang tergopoh-gopoh datang ke dapur karena mendengar suara ribut.
"Claudia mecahin piring satu ember, Bu! Maaf!" Cicit Claudia seraya meringis.
Sementara Melody hanya memutar bola mata dan kembali melanjutkan pekerjaannya, saat mendadak Melody merasakan perutnya yang tiba-tiba mual dan terasa diaduk-aduk.
"Hoek!"
Melody cepat-cepat berlari ke dalam kamar mandi dan muntah-muntah.
"Mel, kamu masuk angin?" Tanya Bu Ayana seraya menyusul Melody ke dalam kamar mandi.
"Nggak tahu, Bu!" Jawab Melody sebelum kembali muntah-muntah.
"Bu Ayana terus mengusap dengan lembut punggung Melody agar putrinya itu berhenti muntah-muntah.
"Clau! Ambilkan air hangat untuk Melody!" Titah Bu Ayana pada Claudia yang sejak tadi masih mematung di dapur.
"Iya, Bu!" Jawab Claudia cepat yang langsung menuang air panas dari termos ke dalam gelas. Setelah sedikit mencampurnya dengan air dingin, Claudia langsung memberikan air tersebut pada Melody yang masih mual-mual di kamar mandi.
"Pagi!" Sapaan seseorang dari pintu depan membuat Claudia bergegas melihat siapa yang datang.
"Sam!"
"Selamat pagi, Nona Claudia!" Sapa Sam ramah pada Claudia.
"Ck! Aku bukan nonamu lagi!" Decak Claudia yang langsung mempersilahkan Sam untuk masuk. Sudah sebulan lebih asisten papa Harun itu tak pernah datang untuk sekedar menjenguk Melody. Kalau telepon sepertinya masih sering.
Entahlah!
Melody tak pernah lagi meminjam ponsel Claudia sejak Sam membelikannya ponsel baru.
Sementara Sam hanya terkekeh dan pria itu segera duduk di kursi ruang tamu sederhana di rumah Bu Ayana.
"Kau mencari Melody? Dia-"
"Aku mencarimu," Potong Sam to the point.
"Tumben! Ada apa?" Tanya Claudia yang sudah ikut duduk bersama Sam.
"Papa kamu-" Sam belum menyelesaikan kalimatnya, saat tiba-tiba terdengar sapaan dari pintu rumah.
"Pagi! Apa aku mengganggu?" Sapa seorang pria yang ternyata adalah Aaron Hernandez.
"Masuklah, Aaron!" Jawab Claudia santai.
Aaron segera masuk dan ikut duduk bersama Sam dan Claudia.
"Apa kita tadi satu penerbangan?" Tanya Sam memastikan karena ia merasa tidak melihat Aaron di pesawat maupun di bandara saat berangkat tadi.
"Dia sudah disini sejak kemarin karena mengurus satu hal," jelas Claudia pada Sam yang langsung membuat pria itu membulatkan bibirnya.
"Jadi, kau tadi mencariku ada apa?" Tanya Claudia lagi pada Sam.
"Pulanglah, Nona Claudia!"
"Tuan Harun sedang dirawat di rumah sakit sekarang," pinta Sam pada Claudia.
"Tidak!" Jawab Claudia tegas.
"Aku tidak peduli, dia sedang dirawat di rumah sakit atau sedang sekarat, atau apapun!" Lanjut Claudia acuh.
"Dia papa kandungmu, Clau!" Sam mengingatkan Claudia.
"Tapi dia juga yang sudah membuatku berpisah dari Ibu dan Melody! Jika dia ingin aku pulang sekarang, dia seharusnya juga meminta ibu dan Melody ikut pulang dan bukannya mencaci maki seperti waktu itu!" Tukas Claudia panjang lebar dengan nada bicara yang sudah berapi-api.
"Pak Harun sakit apa?" Tanya Aaron merasa kepo.
"Tekanan darah tingginya kambuh dan sedikit serangan jantung ringan juga karena kondisi perusahaan yang sekarang carut-marut," jelas Sam pada Aaron.
"Apa ini ada hubungannya dengan batalnya pertunangan Claudia dan Matthew?" Tebak Aaron yang langsung dijawab Sam dengan anggukan kepala. Aaron sedikit meringis karena secara tak langsung ia juga turut andil dalam membuat perusahaan Papa Harun carut-marut. Aaron yang mengompori Claudia kemarin.
"Aku tidak akan pulang kemana-mana. Ini adalah rumahku sekarang!" Claudia bersedekap dan tetap keras kepala.
Sam memijit pelipisnya dan diam untuk beberapa saat sebelum kemudian pria itu menanyakan keberadaan Melody.
"Melody dimana?"
"Tadi dia mual dan muntah-muntah. Sebentar aku lihat," jawab Claudia seraya bangkit dari duduknya dan hendak masuk ke dalam saat kemudian Aaron berceletuk.
"Muntah dan mual-mual? Sudah beli testpack?"
Claudia menghentikan langkahnya dan langsung menatap pada Aaron. Pun dengan Sam yang kini menatap pada Aaron yang langsung berekspresi pura-pura bingung.
"Ada apa? Apa aku salah bicara?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹