Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Meja Makan dan Logika Kemiskinan
Malam itu, suasana di meja makan keluarga Arjun terasa hangat oleh nyala lampu minyak yang berkedip redup, namun dingin oleh keheningan yang menyesakkan. Aroma rebusan daun singkong dan tumis kacang panjang yang bersahaja memenuhi ruang makan kecil berdinding papan kayu tersebut. Di luar, suara jangkrik bersahut-sahutan, menegaskan kesunyian Desa Panda yang belum terjamah gemerlap teknologi masa depan.
Valaria duduk di antara ibunya dan Raka. Di hadapannya, sang Ayah terdiam dengan tatapan yang kosong, seolah beban di pundaknya sedang menekan jiwanya hingga ke dasar bumi.
Valaria menatap piringnya. Tidak ada nasi. Hanya ada beberapa potong singkong rebus yang mengepulkan asap tipis, ditemani setumpuk sayuran hijau yang mereka petik pagi tadi. Lidahnya, yang di tahun 2030 terbiasa dengan hidangan multinasional kelas atas, merasa asing dengan pemandangan ini. Namun, otaknya yang tajam segera menyadari ada sesuatu yang tidak beres secara fundamental.
"Ibu," panggil Valaria dengan suara hati-hati. Ia berusaha menjaga nada bicaranya agar terdengar seperti gadis desa biasa, bukan seorang CEO yang sedang mengaudit laporan keuangan. "Masakan ini enak sekali. Tapi... apakah persediaan beras kita sudah habis?"
Pertanyaan itu membuat suasana seketika membeku. Orang tuanya saling pandang. Ada senyum tipis yang getir terukir di wajah mereka senyum yang menyembunyikan luka. Raka hanya bisa menunduk, memainkan remah singkong di piringnya dengan lesu.
"Nak," Arjun akhirnya bersuara. Nada bicaranya berat dan lelah. "Ayah minta maaf. Untuk malam ini, kita makan singkong dulu, ya."
Ibu meraih tangan Valaria di bawah meja. Genggamannya hangat, namun terasa rapuh dan gemetar. "Berasnya memang sudah habis, Valaria. Sawah kita... belum bisa kita tanami lagi untuk sekarang."
Valaria mengerutkan dahi. "Kenapa belum ditanami, Bu? Jika tidak ada panen dari sawah sendiri, kenapa kita tidak membeli beras saja dari pasar? Bukankah itu lebih baik daripada kita kekurangan tenaga karena hanya makan singkong?"
Pertanyaan jujur itu seolah belati yang menusuk hati sang ibu. Wajah wanita itu berubah mendung, penuh sedih yang mendalam. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab dengan suara bergetar.
"Nak, untuk membeli beras sekarang... uang kita tidak cukup," jawab Ratri perlahan. "Hasil panen sayur kemarin harus dipakai untuk membayar sisa utang pupuk yang menumpuk. Sisanya hanya cukup untuk keperluan mendesak. Bagi kita sekarang, beras adalah barang mewah."
Kenyataan itu menghantam Ria jiwa yang ada dalam raga Valaria. Ini bukan lagi soal data statistik tentang harga mie instan Rp400, melainkan keterbatasan modal yang melumpuhkan sebuah keluarga. Mereka terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan: bertani hanya untuk melunasi utang masa lalu, lalu berutang lagi untuk panen berikutnya. Tidak ada ruang untuk investasi atau perbaikan gizi.
"Saya mengerti, Ayah, Ibu," ucap Valaria dengan nada tulus. Rasa bersalah yang besar mengalir dalam dirinya rasa bersalah karena Valaria yang asli telah menghamburkan uang keluarga hanya untuk mengejar cinta palsu Damian. "Singkong ini enak. Benar-benar enak. Besok, biarkan saya ikut ke ladang lagi. Saya ingin melihat apa yang bisa kita perbaiki."
Mendengar ucapan itu, wajah ayah dan ibu seketika cerah. Seolah ada setitik harapan baru yang muncul dari putri mereka yang sebelumnya hanya tahu mengeluh.
"Tentu, Nak. Ayah senang sekali kamu mau peduli lagi dengan ladang kita," kata Arjun dengan nada bicara yang kembali optimis.
Pagi berikutnya, sebelum matahari benar-benar naik, Valaria sudah siap. Udara pagi masih sangat dingin, embun kristal menempel di ujung dedaunan liar. Valaria berjalan bersama Ratri menuju ladang di sebelah barat desa. Medan tanah merah yang becek menjadi tantangan fisik bagi raga Valaria yang masih dalam masa pemulihan, namun tekadnya sudah bulat.
Saat tiba di ladang Desa Panda, Valaria berdiri diam, melakukan observasi. Secara visual, hamparan hijau itu memang luas dan indah. Namun dari sudut pandang agrobisnis, ini adalah bencana.
Ladang itu didominasi oleh tanaman yang sama. Singkong tumbuh subur di mana-mana. Kacang panjang merambat di tiang-tiang kayu seadanya. Di petak lain, hanya ada bayam dan sawi liar. Tidak ada variasi komoditas bernilai tinggi.
Valaria menatap petak tanah milik tetangga yang juga serupa. Peta strategis mulai terbentuk di kepalanya. Di mana padi? Di mana jagung manis? Di mana investasi emas seperti tomat atau cabai keriting berkualitas tinggi?
"Ibu," tanya Valaria pelan. "Ladang ini luas. Tapi kenapa kita hanya menanam singkong dan kacang panjang? Kenapa tidak ada jagung manis atau bawang merah? Bukankah harga tomat di pasar jauh lebih mahal?"
Sebelum ibunya sempat menjawab, Raka yang baru saja selesai memetik daun singkong berlari menghampiri mereka.
"Kakak lupa ya?" Raka menimpali dengan kejujuran khas remaja desa. "Bukan kami tidak mau, Kak. Tapi bibitnya terlalu mahal. Harga bibit jagung unggul atau bawang merah itu setara dengan uang makan kita selama seminggu. Kami tidak punya uang tunai untuk membelinya. Kami hanya menanam apa yang bibitnya bisa kami dapatkan gratis dari panen sebelumnya atau yang harganya sangat murah."
Penjelasan Raka adalah kepingan puzzle yang selama ini dicari Valaria. Masalahnya bukan pada ketidakmampuan petani, melainkan akses terhadap modal. Mereka terpaksa melakukan "pertanian bertahan hidup" daripada "pertanian komersial".
"Bibit yang mahal..." gumam Valaria. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Sebagai seorang mantan tycoon, masalah modal adalah masalah yang paling mudah ia pecahkan jika ia tahu celahnya. "Baiklah, Ibu, Raka. Sekarang saya mengerti. Mari kita petik sayuran ini. Saya ingin ikut kalian ke pasar sekarang."
Perjalanan menuju pasar tidaklah mudah. Valaria harus berjalan kaki menempuh jarak yang jauh melalui jalan setapak berbatu yang berdebu. Keringat membasahi dahinya, dan kakinya mulai terasa sakit.
Di tahun 2030, aku hanya perlu menekan satu tombol dan drone akan mengantarkanku ke mana saja. Di sini, setiap butir rupiah harus dibayar dengan keringat dan rasa sakit fisik, batinnya sambil mengusap pelipis.
Saat mendekati pusat desa, riuh pasar mulai terdengar. Bau rempah, ikan asin, dan aroma khas kain pasar bercampur menjadi satu. Pasar tradisional ini bukanlah gedung modern, melainkan lapangan terbuka dengan atap seng berkarat yang disangga kayu-kayu tua. Inilah nadi ekonomi yang sesungguhnya.
Ibunya segera mencari tempat kosong di sudut yang agak ramai. Mereka menggelar tikar goni usang di atas tanah yang berdebu. Valaria mengamati sekelilingnya dengan saksama. Para pedagang besar memiliki meja kayu, sementara pedagang kecil seperti ibunya hanya duduk bersila di atas tanah, menata tumpukan singkong dan sayuran.
Valaria duduk di samping Raka, bersandar pada karung goni berisi singkong. Tubuhnya lelah, kakinya berdenyut, namun matanya tetap tajam mengawasi transaksi yang terjadi di sekelilingnya.
"Singkong! Lima kilo seribu! Lima kilo seribu!" teriak seorang ibu di seberang. "Kacang panjang, tiga ikat dua ratus perak!" sahut yang lain.
Valaria melihat ibunya mulai menjajakan dagangan dengan suara yang lembut dan sopan. Namun, Valaria menyadari satu hal: hampir semua orang menjual hal yang sama. Persaingan harga sangat ketat, dan pembeli memiliki terlalu banyak pilihan.
Ini adalah pasar persaingan sempurna yang tidak efisien, analisis Valaria. Semua orang menjual barang yang sama di tempat yang sama dengan harga yang hampir sama. Keuntungannya sangat tipis.
Ia mengamati para pembeli. Kebanyakan adalah ibu-ibu rumah tangga yang mencari bahan makanan termurah. Namun, di sudut pasar, ia melihat beberapa orang berpakaian lebih rapi mungkin pemilik warung makan atau orang dari kota yang kesulitan mencari sayuran segar berkualitas lebih baik seperti tomat atau cabai.
Valaria mengangguk pelan. Ia sudah melihat celahnya. Lelah fisiknya seolah menghilang digantikan oleh adrenalin bisnis yang mulai terpompa. Baginya, pasar yang berdebu dan riuh ini bukan sekadar tempat jualan sayur; ini adalah papan catur raksasa. Dan ia baru saja menggerakkan bidak pertamanya.
Tunggu saja, pikir Valaria sambil menatap hamparan pasar. Keluarga ini tidak akan makan singkong selamanya. Aku akan memastikan merekalah yang akan mengendalikan harga di pasar ini.