NovelToon NovelToon
Fajar Di Gerbang Hijau

Fajar Di Gerbang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar digerbang Hijau Bab 3

Malam itu, suasana di meja makan keluarga Sarawati terasa hangat oleh nyala lampu minyak yang redup, namun dingin oleh keheningan yang menahan. Aroma rebusan daun singkong dan tumis kacang panjang yang sederhana mengisi ruang makan kecil yang berdinding kayu.

Valaria duduk di antara Ratri dan Raka, sementara Arjun duduk di hadapannya.

Valaria menatap piring di hadapannya. Hanya ada singkong rebus yang mengepulkan asap tipis, dan setumpuk sayuran hijau yang baru dipetik pagi tadi dari ladang. Pikirannya, yang terbiasa dengan hidangan multinasional, segera menyadari ada sesuatu yang hilang.

"Ibu," panggil Valaria dengan suara hati-hati, berusaha terdengar seperti Valaria yang lama yang mungkin tidak tahu apa-apa. "Ini enak sekali. Tapi... apakah... apakah beras kita sudah habis?"

Arjun dan Ratri saling pandang. Senyum tipis dan getir terukir di wajah mereka. Raka menunduk, memainkan remah singkong di piringnya.

"Nak," Arjun memulai, suaranya terdengar berat dan lelah, mencerminkan beban seorang kepala keluarga di pedesaan. "Ayah minta maaf. Untuk malam ini, kita makan singkong dulu, ya."

Ratri meraih tangan Valaria di bawah meja, genggamannya hangat namun rapuh. "Berasnya memang sudah habis, Valaria. Sawah kita... belum bisa kita tanam lagi untuk sekarang."

Valaria mengerutkan dahi. "Belum ditanam? Kenapa, Bu? Jika belum ada panen, kenapa kita tidak beli saja beras dari pedagang? Bukankah itu lebih baik?"

Pertanyaan Valaria menusuk hati Ratri. Ekspresi Ratri berubah menjadi sedih yang mendalam. Dia menarik napas panjang.

"Nak, untuk membeli beras sekarang... uang kita tidak cukup," jawab Ratri perlahan, suaranya bergetar dengan pengakuan pahit. "Hasil panen kita kemarin harus kita pakai untuk membayar sedikit utang pupuk. Sisanya... hanya cukup untuk kebutuhan mendesak. Beras itu barang mewah saat ini bagi kita."

Kenyataan itu menghantam Ria. Bukan sekadar harga Rp 400 untuk mie instan, tetapi keterbatasan modal yang melumpuhkan keluarga ini. Mereka hidup dalam lingkaran kemiskinan di mana panen hanya cukup untuk bertahan hidup dan melunasi utang, bukan untuk investasi atau peningkatan kualitas hidup.

"Oh," Valaria mengangguk, rasa bersalah yang kuat mengalirinya rasa bersalah karena Valaria yang lama telah menghamburkan sisa uang mereka. "Saya mengerti, Ayah, Ibu. Singkong ini juga enak. Besok, biarkan saya ikut ke ladang."

Mendengar janji itu, wajah Arjun dan Ratri seketika cerah. Itu adalah sinyal bahwa putri mereka yang hilang ingatan telah membawa keberkahan, dan kini mau berbagi beban keluarga.

"Tentu, Nak. Tentu," kata Arjun, nada suaranya kembali optimistis. "Ayah senang sekali kamu mau melihat ladang kita lagi."

Pagi berikutnya, Valaria sudah siap. Udara pagi masih dingin menyegarkan, dan embun masih menempel di daun-daun liar. Valaria berjalan bersama Ratri. Mereka menuju ladang di sebelah barat, meninggalkan rumah yang kini terasa lebih berarti baginya. Medan tanah merah yang becek kini lebih menantang untuk dilalui.

Mereka tiba di Ladang Desa Panda.

Pemandangan yang terbentang luas memang mengagumkan dari segi ukuran, tetapi mengkhawatirkan dari segi keragaman. Valaria melihat hamparan yang didominasi oleh tanaman yang sama.

Singkong tumbuh subur dengan daun-daun lebar yang rimbun, akarnya menyimpan harapan di bawah tanah. Kacang panjang merambat di tiang-tiang kayu sederhana. Dan di beberapa petak, bayam liar dan sawi yang tumbuh dengan mudah tanpa perawatan intensif.

Di kejauhan, Raka dan Arjun sudah terlihat, berinteraksi dengan banyak penduduk desa lainnya yang juga bekerja di ladang.

Valaria terus berjalan di sisi Ratri, matanya mengamati petak-petak tanah milik tetangga. Di situlah peta strategis Valaria mulai terbentuk.

Di mana padi? Di mana jagung yang bisa diolah? Di mana investasi emas masa depan, seperti tomat atau semangka?

"Ibu," tanya Valaria, suaranya pelan. "Ladang ini luas sekali. Kenapa kebanyakan yang ditanam hanya singkong, kacang panjang, dan bayam? Kenapa tidak ada jagung atau bawang? Atau tomat yang harganya pasti lebih mahal?"

Saat Ratri hendak menjawab, Raka, yang baru selesai memetik beberapa daun singkong, berlari menghampiri mereka.

"Kakak tidak tahu, ya?" Raka menimpali, wajahnya menunjukkan pengetahuan pedesaan yang jujur. "Bukan tidak mau. Tapi bibitnya terlalu mahal, Kak. Bibit jagung manis yang bagus, bibit bawang merah, apalagi bibit tomat dan semangka, harganya bisa setara dengan uang makan kita seminggu. Kami tidak punya uang untuk membelinya. Kami hanya menanam yang bibitnya bisa kami dapatkan sendiri atau harganya sangat murah."

Penjelasan Raka adalah kunci bagi Valaria. Masalahnya bukan lagi teknis bertani, tetapi modal awal. Penduduk desa terpaksa terjebak dalam monokultur bertahan hidup (menanam yang paling murah) daripada menanam tanaman komersial yang berpotensi menghasilkan untung besar.

"Bibit yang terlalu mahal..." gumam Valaria. Modal. Aku hanya perlu modal kecil untuk memecahkan masalah ini dan membuat keluarga ini kaya.

Valaria tersenyum tipis. "Baiklah, Ibu, Raka. Sekarang saya mengerti. Mari kita petik sayuran ini. Saya ingin ikut kalian ke pasar."

Setelah mengumpulkan beberapa ikat sayuran di bawah terik matahari, Valaria, Ratri, dan Raka memulai perjalanan ke pasar. Mereka harus berjalan kaki menempuh jarak yang cukup jauh. Jalan yang dilalui kini berubah dari tanah merah menjadi jalan setapak berbatu yang berdebu. Keringat membasahi dahi Valaria, dan kakinya terasa sakit.

Di tahun 2030, aku hanya perlu memanggil drone untuk mengantarku. Di sini, setiap langkah adalah keringat dan kerja keras.

Saat mereka mendekati pusat desa, suasana pasar mulai terasa. Bau rempah-rempah, ikan asin, dan kain baru bercampur dengan hiruk pikuk suara orang menawar.

Pasar tradisional itu adalah pusat nadi ekonomi desa. Bukan gedung modern, tetapi lapangan terbuka yang dipayungi oleh atap seng yang sudah berkarat.

Ratri segera mencari tempat, yang hanya berupa sebidang tanah kosong di sudut yang agak ramai. Mereka menggelar tikar goni yang sudah usang di tanah yang berdebu.

Valaria mengamati sekitarnya. Lapak-lapak di pasar itu sangat bervariasi. Beberapa pedagang yang lebih mapan memiliki meja kayu atau bahkan menyewa lapak permanen dengan tenda.

Tetapi kebanyakan pedagang, seperti Ratri, hanya membuka tikar mereka, menata hasil dagangan mereka tumpukan singkong, kacang panjang, dan bayam yang serupa langsung di depan mereka.

Valaria merasa kelelahan yang luar biasa setelah perjalanan dan penataan ini. Dia duduk di samping Raka, di atas tikar yang terasa kasar, tubuhnya bersandar pada karung goni berisi singkong.

Emosi yang bercampur aduk memenuhi dada Valaria, rasa sakit fisik karena kelelahan, keheranan pada betapa sederhananya perdagangan ini, dan tekad baja untuk mengubahnya.

Di sekelilingnya, hiruk pikuk transaksi terjadi. "Singkong! Lima kilogram seribu, lima kilogram seribu!" teriak seorang ibu di seberang.

"Kacang panjang, tiga ikat dua ratus! Tiga ikat dua ratus!"

Valaria melihat Ratri mulai menjajakan dagangannya dengan senyum ramah dan suara lembut, sementara Raka membantu menimbang.

Dia mengamati para pembeli yang berdatangan. Kebanyakan dari mereka membeli singkong dan kacang panjang.

Valaria mengangguk, melihat betapa mudahnya ia mengendalikan situasi ini. Permainan telah dimulai. Pasar yang sunyi itu kini terasa seperti papan catur raksasa bagi Valaria. Dan ia baru saja membuat langkah pertamanya.

1
panjul man09
pak Arjun dan bu Ratri 👍👍
panjul man09
banyak hal2 yg kurang dipahami masalah tanah , berikan yg lebih menarik lagi
panjul man09
sayang tahunnya agak jauh seandainya di tahun yg belum pake drone untuk transportasi atau mundur 4 tahun dari 2030 kayaknya lebih cocok
panjul man09
sebaiknya untuk orang tua valaria gunakan kata ayah dan ibu supaya posisinya jelas
Dewiendahsetiowati
hadir thor
anggita
ikut dukung ng👍like aja, 2👆👆iklan. moga novelnya lancar.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!