Warning 21+ guys ... harap cek umur dulu sebelum baca.
***
Arya seorang Presdir di sebuah perusahaan terjebak pesona sekretaris pribadinya sendiri yang setiap hari sering berinteraksi dengannya.
Suatu hari mereka terpaksa tinggal satu kamar dan tidur satu ranjang. Bisakah Arya bertahan dengan godaan ranjang dari sekretaris mudanya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Tertangkap Basah Abis Basah-Basahan
Alin dan Nurul hanya tertawa kaku dan secara sembunyi-sembunyi Arya mengacungkan satu jempolnya untuk memuji kedua pembantunya itu yang sudah mirip seperti aktris dalam berakting.
"Sayang, udah sih biarin aja mereka," celetuk Arya kepada anak gadisnya. "Lebih baik kamu segera antar Papa ke kamar. Udah pusing banget nih," lanjut lelaki itu yang bertingkah bak seperti lelaki baik hati yang toleran.
Vania pun menghela napasnya pelan dan memilih mengabaikan kedua pembantu itu, lalu dia mulai menuntun ayahnya lagi agar segera sampai ke kamar.
"Euu," cegah Alin dan Nurul yang kini malah mengejar kedua majikannya tersebut serta menghalangi jalannya.
"Ada apa lagi?" kesal Vania.
"Anu, Non, lebih baik Non sama Bapak duduk dulu di ruang tengah. Istirahat dulu di sini!" pinta Alin. "Nanti kami buatin minuman hangat untuk mengobati rasa pusingnya Bapak."
Vania tak menghiraukan ucapan Alin dan terus mencoba melanjutkan jalannya.
Alin dan Nurul kembali menghalangi keduanya.
"Duduk dulu di sofa yuk, Non, Pak!" kali ini Nurul yang berbicara.
Kedua pembantu itu sikapnya sangat natural sekali berakting layaknya bawahan yang sedang mencoba mengulur waktu.
"Kalian ini sebenarnya kenapa sih?" kesal Vania yang lama-lama bete dengan sikap kedua pembantunya. "Minggir!" usir Vania kepada mereka berdua.
"Non," ucap Alin lirih dengan raut wajah memelas.
"Minggir!" tegas Vania yang kesal sekali karena masih dihalangi oleh keduanya. "Milih minggir atau saya pecat?" ancam gadis remaja itu.
"Maaf, Non," ucap Alin seperti orang yang sangat menyesal dan pergi dari hadapan Vania serta Arya.
Kedua pembantu itu pun tidak menghalangi laju langkah majikannya lagi, namun mereka masih mengikuti keduanya dari arah belakang.
"Ck," decak Vania yang sebal karena langkahnya masih diikuti oleh kedua pembantu itu.
***
Saat ini Vania dan Arya sudah berada di depan pintu masuk ruang kamar lelaki dewasa itu.
Vania mulai memutar knop pintu dan membuka pintu itu cukup lebar agar bisa muat untuk masuk keduanya.
Namun saat arah pandangannya tertuju ke arah ranjang, Vania langsung lemas saat melihat ibunya yang tidak berbusana sedang dipeluk oleh laki-laki muda yang tidak memakai pakaian juga.
Mereka berdua masih tertutup oleh selimut tapi tubuh bagian atasnya masih terekspos.
"Mama," lirih Vania memanggil ibunya dengan pandangan mata yang tidak percaya.
Dikuceknya kedua matanya karena Vania takut kalau saat ini sedang salah lihat.
Arya juga berakting seolah-olah dirinya sangat syok berat melihat pemandangan ini.
"Kak, Papa nggak lagi salah lihat kan?" gumamnya lirih yang masih bisa didengar oleh anak gadisnya.
Vania hanya terdiam.
"Kak, Papa lagi berhalusinasi kah?" ucap Arya kemudian.
Vania terisak karena dia sudah menyadari apa yang ada dihadapannya bukanlah halusinasi semata.
"Mama!" teriak Vania yang sedikit membentak karena dia begitu marah dengan kelakuan Nisa yang tertangkap basah olehnya.
Kedua insan yang awalnya tertidur nyenyak setelah tadi asik berolahraga siang langsung bangun seketika dan kaget saat melihat ada orang di ambang pintu.
"Vania," gumam Nisa yang masih belum menyadari posisinya saat ini.
"Ada apa sih, Sayang," tanya Andre yang langsung berakting berpura-pura belum menyadari ada orang lain di ruangan ini.
"Aaa!" kaget Nisa yang kini menyadari ada laki-laki lain di sampingnya.
"Aaa!" kali ini Andre yang kaget.