NovelToon NovelToon
Melodi Yang Tidak Tersentuh

Melodi Yang Tidak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:661
Nilai: 5
Nama Author: Yumine Yupina

Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.

Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?

Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26 – Tatapan yang Tidak Pernah Salah Waktu

Hinami tidak pernah percaya pada kebetulan yang terlalu rapi.

Ia tumbuh dengan keyakinan sederhana bahwa hidup memang acak, dan manusia hanya makhluk yang gemar menarik garis di antara titik-titik yang tersebar sembarangan. Karena itu, ia jarang mencurigai sesuatu hanya karena terasa ganjil. Ia lebih suka menunggu. Mengamati. Membiarkan waktu memperlihatkan polanya sendiri.

Namun justru karena kesabarannya itulah, ketika sebuah pola muncul terlalu jelas, Hinami tidak bisa berpura-pura tidak melihatnya.

Dan Takahashi sensei adalah pola itu.

Awalnya hanya getaran kecil, seperti nada rendah yang nyaris tidak terdengar di balik musik lain. Cara Takahashi selalu hadir dengan senyum yang tepat, bukan senyum basa-basi, melainkan senyum yang terasa personal. Nada suaranya yang selalu jatuh, menenangkan, seolah ia tahu persis seberapa berat hari yang sedang dipikul Airi bahkan sebelum Airi sendiri mengakuinya.

Ia tidak pernah datang terlambat. Tapi juga hampir tidak pernah muncul terlalu awal.

Ia selalu datang di saat yang… pas.

Terlalu pas.

Hinami menyadari itu suatu siang, beberapa hari setelah latihan yang meninggalkan rasa ganjil di dada mereka semua. Siang itu koridor gedung musik sepi, hanya suara langkah sesekali dan dengung pendingin ruangan yang konstan. Ia duduk di bangku panjang di depan ruang dosen, menunggu Mei yang masih berbincang dengan salah satu pengajar.

Airi duduk beberapa meter darinya.

Tidak ada latihan hari itu. Tidak ada jadwal band. Tidak ada alasan khusus bagi Airi untuk terlihat lelah. Namun ia duduk memeluk lutut, punggungnya sedikit membungkuk, pandangannya jatuh ke lantai marmer seolah ada sesuatu di sana yang perlu ia yakinkan keberadaannya.

Wajahnya tenang.

Dan Hinami tahu, itu bukan tenang yang sehat.

Tenang Airi biasanya hidup. Ada kilau kecil di matanya, ada kesiapan untuk tertawa atau berbicara tiba-tiba. Tenang yang ini berbeda. Lebih datar. Seperti permukaan air yang sengaja ditenangkan agar tidak memperlihatkan apa pun di bawahnya.

Lalu Takahashi muncul dari ujung koridor.

Tidak terburu-buru. Tidak juga ragu. Langkahnya ringan, nyaris santai, seolah ia memang hanya lewat. Namun ia berhenti tepat di depan Airi, jaraknya pas, tidak menginvasi, tapi cukup dekat untuk terasa hadir.

“Kamu kelihatan capek,” katanya.

Suaranya rendah, hangat, seperti selimut tipis yang dilemparkan di bahu seseorang tanpa diminta. “Latihan kemarin cukup berat ya.”

Airi mendongak, sedikit terkejut, seolah baru menyadari dirinya sedang diperhatikan. “Ah… iya, sensei.”

Hinami mencatat satu hal kecil.

Airi tidak berkata enggak. Ia tidak membantah.

“Kalau mau,” lanjut Takahashi, “kamu bisa istirahat sebentar di ruang musik kecil. Di sana lebih sepi.” Ia tersenyum tipis. “Kadang, menjauh sebentar dari keramaian itu perlu.”

Perlu.

Kata itu terdengar sederhana. Bahkan bijak. Tapi Hinami merasakan kulit lengannya meremang. Bukan karena kalimatnya, melainkan karena asumsi di baliknya. Seolah kebutuhan Airi sudah diputuskan lebih dulu, tanpa memberi ruang untuk kemungkinan lain.

Airi mengangguk.

Anggukan yang sama seperti di ruang latihan. Anggukan yang cepat, otomatis, tanpa jeda untuk berpikir apakah ia benar-benar menginginkannya.

Ia bangkit dan mengikuti Takahashi.

Hinami tidak memanggil namanya. Tidak bangkit dari bangku. Tidak melakukan apa pun selain menatap punggung Airi yang menjauh, lalu mengalihkan pandangan ke jendela kaca. Di sana, bayangan mereka memanjang di lantai, dua siluet yang bergerak seirama, seolah sudah lama terbiasa berjalan berdampingan.

Saat itulah Hinami menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa dingin.

Takahashi tidak pernah muncul ketika Airi sedang tertawa.

Ia tidak terlihat saat Airi bercanda dengan Ren, atau saat suaranya pecah oleh tawa bersama Mei. Ia tidak ada ketika Airi tenggelam dalam diskusi musik dengan Yukito, ketika pikirannya sibuk dan tubuhnya penuh energi.

Ia selalu ada ketika Airi sendirian.

Ketika bahunya turun sedikit. Ketika tatapannya kosong. Ketika napasnya tidak lagi teratur.

Seolah ia tahu.

Di ruang musik kecil yang jarang dipakai, Airi duduk sendirian. Piano tua di sudut ruangan dipenuhi debu, beberapa tutsnya menguning. Lampu menyala redup, cukup untuk membuat bayangan memanjang di dinding.

Takahashi berdiri dekat pintu. Tidak menutupnya sepenuhnya. Tidak juga membukanya lebar. Jaraknya selalu terasa aman, terkendali.

“Kamu tahu,” katanya setelah beberapa saat, memecah sunyi, “banyak penyanyi hebat yang hancur bukan karena kurang bakat, tapi karena terlalu jujur.”

Airi menatap lantai. Kata-kata itu meresap perlahan, seperti air dingin. “Jujur itu salah ya, sensei?”

“Bukan salah.” Senyum Takahashi tetap lembut. “Tapi dunia enggak selalu siap menerimanya. Kadang, kamu perlu belajar menyaring.”

Menyaring.

Kata itu berputar di kepala Airi, menabrak ingatan-ingatan yang tidak ia undang. Mei yang pernah berkata bahwa suaranya indah justru karena kejujuran suaranya. Ren yang selalu bilang bahwa nyanyiannya terasa hidup karena tidak dibuat-buat. Yukito yang tertawa dan berkata bahwa nada-nadanya memang tidak selalu rapi, tapi selalu jujur.

Semua suara itu terdengar makin jauh.

“Sensei,” ucap Airi akhirnya, ragu, “kalau aku terlalu mengikuti arahan… apa aku masih jadi diriku sendiri?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja. Mentah. Tidak dibungkus. Ia bahkan tidak yakin berani mendengarnya sendiri.

Takahashi menatapnya lama.

Tatapan yang tidak menghakimi. Tapi juga tidak memberi ruang untuk jawaban yang berbeda.

“Kamu akan jadi versi terbaik dari dirimu,” katanya akhirnya. “Dan itu yang penting.”

Jawaban itu terdengar benar. Terlalu benar. Seperti kalimat yang tidak memberi celah untuk dipertanyakan.

Airi mengangguk.

Sore itu, Hinami bertemu Ren di kantin kampus. Lampu neon memantul dingin di meja logam, dan suara mesin pendingin terdengar terlalu keras di antara mereka. Ren duduk di seberangnya dengan segelas kopi hitam, matanya lelah, tapi pikirannya jelas belum beristirahat.

“Kamu kelihatan lagi mikir berat,” kata Ren.

Hinami tersenyum tipis. “Kamu juga.”

Ren menghela napas. “Airi.”

Nama itu jatuh di antara mereka seperti sesuatu yang sudah lama ingin diucapkan, tapi baru sekarang berani keluar.

“Kamu ngerasa enggak,” tanya Hinami pelan, “belakangan ini dia… berubah?”

Ren menatap kopinya lama sebelum mengangguk. “Dia masih Airi. Tapi seperti… selalu nahan diri. Dia lebih sering nanya, ‘ini udah bener belum?’ daripada bilang, ‘aku mau begini’.”

Hinami menelan ludah. “Dan sensei Takahashi?”

“Aku perhatiin,” jawab Ren jujur.

“Terus?”

Ren menggenggam cangkirnya lebih erat. “Aku enggak mau salah langkah. Dia lagi rapuh. Kalau aku terlalu frontal, aku takut jadi orang pertama yang dia jauhi.”

Hinami memahami itu terlalu baik.

“Tapi diam juga bukan tanpa risiko,” katanya. “Ada orang yang tahu caranya masuk ketika seseorang rapuh. Bukan dengan paksaan. Tapi dengan kehadiran.”

Ren tidak menjawab. Tapi wajahnya menegang.

Malam itu, Hinami membuka catatan kecilnya. Ia menulis tanggal. Waktu. Tempat. Kalimat-kalimat yang ia dengar. Tidak dengan emosi. Tidak dengan tuduhan. Hanya fakta kecil yang ia takutkan akan terlupakan jika tidak segera diabadikan.

Sementara itu, Ren berdiri di balkon rumahnya, menatap langit musim dingin yang pucat. Ia merasa ada sesuatu yang perlahan diambil dari Airi. Bukan dengan kekerasan. Bukan dengan ancaman.

Tapi dengan izin.

Dan justru itu yang paling menakutkan.

Ia tahu satu hal.

Jika ia terus diam, mungkin suatu hari Airi tidak akan tersenyum dengan suara yang sempurna, dan yang hilang bukan tekniknya, melainkan dirinya sendiri.

Musim dingin belum selesai.

Dan tatapan Takahashi, yang selalu muncul di waktu yang tepat, mulai terasa seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi.

1
Esti 523
suemangad nulis ka
mentari anggita
iihh hati aku ikut panas dan sesak. Amarah Ren kerasa nyata, tapi lebih sakit lagi waktu dia harus berhenti demi Airi dan orang tuanya. 😭
Huang Haing
Semangat kak, penulisan nya bagus banget! 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!