Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 23.
Mobil Jenny berhenti di depan rumah dengan rem yang sedikit terlalu keras. Ia tak peduli, yang penting Milea sampai dengan selamat.
Begitu pintu terbuka, Milea turun dengan langkah pelan. Wajahnya pucat, bibirnya kehilangan warna. Jenny mematikan mesin, lalu ikut turun dan langsung memeluk Milea dari samping, seperti memastikan sahabatnya tidak ambruk.
“Ayo masuk,” ujar Jenny lembut, jauh dari nada bercandanya yang biasa.
Milea mengangguk. Kepalanya masih berat, seolah ada tangan tak terlihat yang menekan pelipisnya dari dalam.
Begitu pintu tertutup, Milea melepaskan sepatunya asal, lalu duduk di sofa tanpa tenaga. Pandangannya lurus ke depan, kosong.
Jenny menuangkan air putih dan menyodorkannya. “Minum dulu.”
Milea menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Ia minum beberapa teguk, lalu berhenti. Dadanya naik turun tak beraturan.
“Mil, kamu aman. Pria brengsek itu nggak ada di sini, kamu sudah pulang.” Jenny duduk berhadapan dengannya.
Milea memejamkan mata, lalu mengangguk kecil. “Aku tahu aku aman, tapi tubuhku… masih tetap bereaksi seolah semuanya baru terjadi kemarin.”
Jenny menggenggam tangan Milea. “Itu bukan salahmu.”
Terdengar suara mobil, “Rangga sudah datang.“
Di ambang pintu, Rangga berdiri di sana dengan napas sedikit memburu dan rambut yang berantakan.
“Milea lagi rapuh, hati-hati kalau ngomong.” Ucap Jenny.
Rangga tak menjawab. Ia melangkah masuk, langkahnya melambat saat melihat Milea duduk di sofa. Punggung wanita itu sedikit membungkuk, bahunya turun seperti seseorang yang kehabisan daya untuk berdiri.
“Lea…” panggil Rangga pelan.
Milea menoleh.
Begitu melihat wajah Rangga, sesuatu di dadanya runtuh. Benteng terakhir yang ia bangun sejak keluar dari pusat perbelanjaan itu roboh seketika.
Rangga belum sempat melangkah lebih dekat ketika Milea sudah berdiri dan berjalan ke arahnya, lalu berhenti ragu di tengah jarak.
“Aku—” suara Milea pecah. “Aku ketemu dia.”
Rangga tak bertanya siapa, ia langsung menarik Milea ke dalam pelukannya.
Pelukan itu kuat, begitu posesif. Rangga ingin memastikan Milea merasa dilindungi, tidak terlepas lagi ke masa lalu yang suram.
Milea mencengkeram punggung Rangga, jemarinya menekan keras.
“Tarik nafas dalam-dalam sayang... hembuskan.” Bisik Rangga di dekat telinga istrinya.
Dada Milea naik turun perlahan, ritmenya stabil. Sedikit demi sedikit, gemetar itu mereda.
“Aku di sini, kamu nggak sendirian.” Ujar Rangga, suaranya serak.
Air mata Milea jatuh, membasahi kaus Rangga.
Jenny berdiri beberapa langkah dari mereka, lalu mengambil tasnya. “Aku ke dapur,” katanya singkat, memberi ruang tanpa diminta.
Pelukan itu tak langsung terlepas.
“Apa yang laki-laki itu lakukan padamu?” tanya Rangga akhirnya, masih memeluk Milea.
“Nggak apa-apa, dia cuma muncul dan minta maaf. Hanya saja, aku—“
Rangga menutup mata, rahangnya mengeras. Ada amarah yang naik, tapi ia menahannya mentah-mentah.
“Kamu takut padanya?” tanyanya.
Milea menggeleng kecil. “Tidak, aku hanya takut pada bayangan masa lalu kami.”
Rangga menarik napas panjang, lalu mengendurkan pelukannya sedikit agar bisa menatap wajah Milea. Tangannya naik, menguvsap rambut Milea dengan gerakan berulang untuk menenangkan.
“Kamu mau cerita sekarang, atau nanti?”
Milea berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Nanti.”
“Oke,“ Rangga langsung mengangguk.
Ia menggenggam tangan Milea dan menuntunnya duduk kembali di sofa. Ia duduk di sampingnya, begitu dekat sampai lutut mereka bersentuhan.
Jenny kembali dari dapur membawa dua gelas teh hangat, ia meletakkannya di meja lalu melirik Rangga. “Aku udah kirim pesan ke kamu tadi, maaf kalau bikin panik.”
Rangga menggeleng. “Terima kasih.”
Jenny mendengus kecil. “Jangan sok formal, aku titip Milea ke kamu ya. Jangan biarin dia sendirian malam ini. Aku mau pergi dulu, mungkin pulang agak malam.”
“Makasih, Jen. Hati-hati...“ Milea tersenyum lemah.
Jenny hanya mengangguk, lalu berjalan keluar rumah.
Malam turun perlahan. Di luar, hujan mulai jatuh. Di dalam rumah itu Milea duduk bersandar di bahu Rangga, matanya terpejam.
Masa lalu memang belum selesai, tapi untuk malam ini, Milea aman. Dan Rangga akan memastikan, ia akan melindungi istrinya dari siapapun.
Sementara di sebuah klub yang riuh oleh dentuman musik dan cahaya lampu yang berpendar, Jenny duduk di meja bar bersama Arga. Gelas di tangan mereka nyaris tak tersentuh, seolah percakapan jauh lebih penting daripada minuman.
“Milea baik-baik saja?” tanya Arga tiba-tiba, nadanya terdengar terlalu serius untuk sekadar basa-basi.
Jenny menoleh cepat, keningnya mengernyit. Ia menatap wajah temannya itu tajam, mencoba membaca maksud di balik pertanyaan sederhana itu.
“Ini murni nanya biasa, atau kamu mulai punya perasaan lebih ke dia?” Jenny mendekat sedikit. “Ingat, Ga. Milea itu... bini orang.”
Arga mendengus kasar. Tangannya naik mengacak rambutnya sendiri, frustasi. “Entahlah, aku kayaknya kepikiran dia terus. Sial!”
Jenny terperangah. Bibirnya terbuka, nyaris menegur keras. “Aku sudah bilang, jangan baper.”
“Aku nggak bisa ngatur perasaan, Jen!” suara Arga naik satu tingkat, bercampur kesal dan kalah.
Jenny hendak membalas, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Matanya terpaku pada satu sosok di sisi lain ruangan.
“Ga…” suaranya menurun, serius. “Lihat laki-laki di sana, yang bule itu.”
Arga mengikuti arah pandang Jenny. “Mana?” Ia menyipitkan mata, lalu menemukannya. “Siapa dia?”
“Ethan,” jawab Jenny lirih, rahangnya mengeras. “Mantan kekasih Milea, lelaki yang bikin Milea buta dalam sebuah kecelakaan. Dia kabur setelah kecelakaan itu. Dan sekarang… aku punya firasat dia bakal gangguin Milea.”
Arga menatap pria itu lebih lama. “Kenapa kamu yakin?”
“Cara dia menatap,” balas Jenny tanpa ragu. “Bukan tatapan orang yang menyesal, lebih kayak… obsesi.”
Tangan Arga mengepal, ia berdiri tiba-tiba bahkan kursinya bergeser keras.
Jenny terkejut dan ikut bangkit setengah. “Ga! Kamu mau ke mana?”
“Hajar dia,” jawab Arga singkat, matanya menyala.
“Eh—!” Jenny refleks ingin menarik lengan temannya, tapi terlambat. Arga sudah berjalan pergi dengan wajah emosi.
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌