Novel ini mendapat JUARA HARAPAN LOMBA YOU ARE A WRITER SEASON 6
Terima kasih atas dukungannya.
_
_
Blurb :
Akibat kesalahpahaman, Xena Fathari memilih bercerai dengan suaminya yang bernama Evan Dimitri. Gadis itu meninggalkan tanah kelahirannya dengan membawa luka hati. Bagaimana tidak? seorang wanita datang dan mengaku mengandung anak Evan. Hingga saat kembali, Xena tidak bisa menghindari pertemuannya dengan pria itu lagi.
Karena sebuah situasi, Xena terpaksa mengungkit keinginan Evan satu tahun lalu yang memintanya menjadi istri selama 40 hari.
Kini semua terbalik, Xena yang meminta Evan menjadi suaminya selama 40 hari. Akankah Evan bersedia menerima tawaran Xena?
cover by Tiadesign_
_
_
Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
“Kalian-“
Dimitri melongo melihat putranya dan Xena berpegangan tangan. Menyadari hal itu Xena langsung menarik tangannya dari genggeman Evan tapi ditahan oleh pria itu.
“Papa mau kemana? aku dan Xen akan pergi makan siang,” ucap Evan setelah melangkahkan kaki keluar lift masih dengan menggandeng tangan Xena.
“Papa ingin menemuimu tapi karena kamu sudah punya acara, kita bicarakan nanti saja.” Dimitri menoleh ke sekretaris yang berdiri tepat di belakangnya, berdehem lalu memberi jalan ke putra dan menantunya.
Evan pun tersenyum lebar, dia masih menggenggam erat tangan Xena seolah ingin semua orang di perusahaan itu melihatnya.
-
-
Xena celingukan seperti tak merasa nyaman, dia gusar karena Evan mengajaknya ke restoran kesukaan Hana. Bagaimana nasipnya nanti jika wanita itu tiba-tiba saja muncul dan melihatnya bersama Evan.
“Kamu mau makan apa?” tanya Evan yang sibuk melihat buku menu sementara Xena masih saja gusar.
“Ev, kenapa tempat ini? apa tidak ada restoran lain?”
“Makanan di sini enak, Pak Prawira yang merekomendasikannya,” jawab Evan dengan mata yang masih terfokus pada buku menu di tangan.
Xena memutar bola mata malas, dari jawaban Evan jelas pria itu sengaja mengajaknya ke sana. “Jangan bilang kamu mengajak ke sini karena Bu Hana dan Pak Prawira juga akan makan di sini.”
Menutup buku menu di tangan dan dengan gaya sombong, Evan tersenyum. Ia mengangkat telunjuk dan jari tengah secara bersamaan untuk memanggil pelayan.
“Beri kami dua steak wagyu,” ucap Evan lantas menganggukkan kepala setelah pelayan mengkonfirmasi pesanan.
Xena masih saja merasa tidak nyaman, terlebih Evan sejak tadi menatapnya seolah dirinya adalah sebuah karya seni yang layak untuk dikagumi.
“Berhenti menatapku seperti itu!” gerutu Xena yang lantas berdiri.
“Mau ke mana? Apa kamu mau kabur?” goda Evan.
Dengan hati dongkol, Xena menunjukkan ponselnya ke Evan lalu meletakkannya ke atas meja, begitu juga dengan tas miliknya.
“Aku hanya ingin pergi ke kamar mandi,” ketusnya seolah meninggalkan tas dan ponsel adalah jaminan untuk Evan bahwa dia tidak akan kabur ke mana-mana.
Xena memilih duduk di atas closet cukup lama, dia pandangi tangannya yang tadi digenggam oleh Evan lalu mengusapnya.
“Ayolah Xen, hentikan! Hentikan!” Xena memukuli dada yang selalu saja mengkhianati dirinya. Hatinya selalu ingin tunduk pada kebaikan dan perlakuan Evan, tapi logikanya masih tidak mengizinkan.
Xena pun keluar dari kamar mandi dengan malas, tapi seketika syok sampai terhuyung membentur pintu bilik toilet, karena mendapati sosok Hana sedang bercermin dan membetulkan lipstik.
“Xena!”
“Bu … bu Hana.” Xena gemetaran, dia merasa seperti kelinci yang baru saja tertangkap musang.
“Apa kamu sedang makan siang juga?” tanya Hana sumringah.
Menelan saliva, Xena menganggukkan kepala. Dia berdoa semoga Hana sudah selesai makan dan hendak pulang. Namun, sayang dugaannya salah. Wanita itu baru saja datang bersama Prawira. Dan kini pria tua itu malah sedang berbincang dengan Evan.
Dari jarak beberapa meter Hana mulai curiga, dia toleh Xena yang berjalan di sampingnya. “Xen, apa kamu ke sini bersama Evan?”
“Hah? iya.” Xena tiba-tiba saja menjadi bego, dia menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaan Hana.
“Xen, apa kamu tidak tahu kalau Evan sudah menikah? sebaiknya jangan terlalu dekat, nanti kamu bisa dikira pelakor, dia sudah punya istri. Ya, meskipun selama mengenalnya belum pernah sama sekali dia menunjukkan istrinya. Evan salah satu pengusaha yang misterius, foto pernikahan sampai profilnya saja tidak bisa dicari di internet,” ungkap Hana panjang lebar.
“Aku tidak ingin berburuk sangka, tapi kalau kamu mendekatinya hanya karena dana CSR, sebaiknya jangan! kamu masih muda, banyak perjaka di luar sana, tidak usah dekat-dekat suami orang.”
Xena terdiam mendengar wejangan Hana, dia ingin jujur bahwa hubungannya dan Evan masih suami istri, tapi dia juga ragu.
Meski memang memanfaatkan pria itu untuk mendapatkan dana CSR, tapi entah kenapa Xena merasa malu jika sampai Hana tahu, selain takut dicap memanfaatkan posisi Evan, dia juga takut dicap pembohong. Hal ini jelas tidak Xena inginkan.
Semua ini gara-gara kecerobohan Rudi Tabuti, jika saja pengacara itu lebih waspada saat menghadapi Evan. Dulu, Xena menganggap urusannya dengan Evan sudah selesai, sehingga dia berkata single saat Hana bertanya akan statusnya.
“Ah … halo Xena,” sapa Prawira ramah.
Xena mengulas senyum di bibir, lantas melirik Evan yang terlihat bersikap santai dan biasa. Mereka akhirnya makan di satu meja, membicarakan hal-hal menarik, hingga Prawira mengajak Evan dan Xena pergi berlibur ke pulau Kilikili.
“Ajak istrimu Ev, dan Xena bisa mengajak kekasihnya. Bagaimana?”
Xena yang sedang menenggak minuman seketika terbatuk-batuk, sementara Evan yang melihat gadis itu ketakutan memilih tersenyum dan tidak langsung menerima ajakan Prawira.
“Istriku sepertinya susah untuk diajak pergi, tapi akan aku usahakan untuk membujuknya,” ucap Evan.
“Bagaimana denganmu Xen?” tanya Hana sambil menepuk paha Xena yang duduk tepat di sebalahnya.
“A-aku, aku tidak memiliki kekasih.”
Xena menundukkan kepala, di titik ini lah dia baru menyadari, besarnya harga yang harus dibayar dari sebuah ketidakjujuran.
_
_
_
_
Sajennya Geng
like
komen
🤣🤣
jangan ngembek terus, jadi kayak Zoya kamu.
di nyanyiin sendiri lagi...
jagal JD kayak sapi om...