NovelToon NovelToon
Magic Knight: Sunder-soul

Magic Knight: Sunder-soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Antagonis
Popularitas:110
Nilai: 5
Nama Author: Arion Saga

Arion adalah seorang pemuda biasa yang terobsesi dengan novel fantasi populer berjudul Magic Knight, ia bukan penggemar pahlawan suci kerajaan Ashford, namun seorang antagonis yang namanya samapersis Arion. Arion didalam cerita novel, merupakan seorang antagonis yang dikhianati oleh kerajaannya sendiri, ia putra mahkota yang dilengserkan karena alasan Arion terlalu kejam dan tidak layak untuk menduduki tahta, namun kenyataannya para petinggi istana taku akan kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Saga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Sebelum Malam Berdarah

Malam di Ibukota Kerajaan Beast tidaklah seindah pilar-pilar emas kastilnya.

Di bawah naungan kegelapan, Kael bergerak. Kemampuannya memang belum sempurna, namun insting alaminya untuk "tidak terlihat" membuatnya mampu menyatu dengan bayang-bayang gang sempit yang becek. Semakin dalam ia melangkah ke distrik kumuh, semakin sesak napasnya.

la melihat anak- anak ras Beast meringkuk di balik tumpukan sampah, dan para orang tua yang menatap kosong ke langit malam.

Kael akhirnya sampai di sebuah bar reyot tempat para buruh kasar menenggelamkan penderitaan mereka dalam bir murahan.

Dalam keadaan mabuk, lidah mereka menjadi longgar.

"Pajak lagi... mereka mengambil jatah makan anakku hanya untuk memperbaiki air mancur di taman Putri Pertama," geram seorang pria bertelinga serigala.

Kael meringkuk di sudut gelap, mencatat setiap rintihan rakyat yang terabaikan itu ke dalam memorinya.

Tatanan hirarki di sini jauh lebih mengerikan dari yang dibayangkan; rakyat diperas sampai kering, keluarga terlantar, dan anak-anak dijual menjadi budak demi membayar upeti.

Di sisi lain kota, Liora bergerak tanpa perintah resmi.

la tidak bisa hanya duduk diam menunggu laporan.

Dengan insting pembunuhnya, ia menyusup ke kawasan gudang di pinggiran kota.

Di sana, ia bertemu dengan beberapa informan dan anak buah lamanya yang ternyata mengelola jaringan bawah tanah di wilayah Beast.

Dari mereka, Liora mendapatkan informasi yang jauh lebih gelap.

"Putri Pertama, Valerica... dia pelanggan tetap kami, Nona Liora," bisik salah satu informan dengan wajah ngeri.

"Tapi bukan untuk tenaga kerja. Dia menerima kiriman budak ilegal secara rutin. Dia membawa mereka ke ruang bawah tanah pribadinya dan... memperlakukan mereka tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun. Jeritan dari sana sering terdengar sampai ke luar tembok jika malam sedang sunyi." Mata Liora berkilat merah.

Tangannya mencengkeram belati hingga urat-uratnya menonjol.

Baginya, ada perbedaan antara membunuh di medan perang dan menyiksa yang lemah untuk kesenangan.

Apa yang dilakukan Valerica telah melewati batas kewarasan.

Sementara itu, di tempat persembunyian Black Knight, Sebas sedang menjalankan interogasi.

la berdiri di depan Boris, satu- satunya tawanan yang kini justru memuja keganasan Arion sebagai bentuk "kekuatan murni".

Sebas memberinya apresiasi lebih karena kejujurannya.

"Katakan padaku, Boris. Siapa yang memegang kendali saat Raja terjatuh?"

"Putri Valerica," jawab Boris gemetar.

"Aku tidak terlalu mengetahui apa yang ia dapatkan dalam korupsi besar-besaran ini, namun ada satu hal..." Boris diam sejenak ragu untuk melanjutkan.

"Apa itu?" Tanya Sebas dengan nada memaksa.

"Ada satu perintah khusus yang tidak sengaja aku dengar ketika Putri Elara dikirim menemui Pangeran Arion. Putri Valerica memberi perintah untuk tidak membawa Putri Elara kembali."

"Hahaha, jadi itu alasan kenapa ia terburu-buru dan kabur begitu saja... entah apa yang akan terjadi jika Tuan Muda tau tentang hal ini."

Sebas kembali menghilang, membiarkan Boris.

***

Di dalam ruang kerja penginapan yang temaram, Arion duduk tenang di sebuah kursi tinggi.

Di hadapannya, Kael berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu.

Arion menyesap teh pahitnya, lalu melirik ke arah pemuda itu dengan tatapan tajam yang seolah bisa menembus jiwa.

"Kael," panggil Arion datar.

"Kau terlihat baru saja melihat neraka... apa yang kau temukan di luar sana?"

Kael maju satu langkah, kepalan tangannya mengeras hingga buku jarinya memutih. Suaranya sedikit bergetar, bukan karena takut pada tuannya, melainkan karena amarah yang meluap.

"Tuan Muda... ini memang neraka. Tempat ini sudah tidak bisa lagi disebut sebuah kerajaan,"

ucap Kael pelan namun penuh penekanan.

"Saya melihat rakyat yang dulunya bangga sebagai prajurit, kini merangkak di tanah. Banyak dari mereka terpaksa menjual lahan satu-satunya milik keluarga hanya untuk menutupi pajak yang tidak masuk akal."

Arion mengetukkan jarinya ke meja, matanya yang ungu berkilat dingin.

"Bagaimana dengan anak-anak? Apa mereka juga menjadi korban karena pajak itu?"

"Iya, Tuan Muda," jawab Kael dengan nada pedih. "Mereka yang tidak mampu membayar, harus menyerahkan anak-anak mereka sebagai jaminan. Kerajaan ini memakan masa depannya sendiri demi kemewahan di atas bukit itu."

Arion menerima informasi itu dengan ekspresi yang sangat tenang.

Di dalam pikirannya, ia teringat garis besar cerita aslinya.

Seharusnya, pahlawan atau protagonis utama dalam novel inilah yang akan datang menyelamatkan rakyat jelata ini melalui sebuah perjuangan yang heroik.

Namun, Arion tidak peduli. la tidak butuh menjadi pahlawan bagi rakyat; ia hanya butuh alasan untuk meruntuhkan kekuasaan yang menghalanginya.

Tepat saat keheningan menyelimuti ruangan, pintu kayu besar itu terbuka perlahan.

Liora melangkah masuk dengan langkah yang berat namun teratur.

Zirah ringannya memercikkan noda merah, dan tangannya tampak penuh dengan darah yang mulai mengering.

"Tuan Muda,"

ucap Liora sambil membungkuk dalam,

"maafkan saya karena telah bergerak tanpa perintah langsung dari Anda."

Arion tidak sedikit pun terkejut dengan noda darah di tubuh ajudannya itu. la justru menatap Liora dengan ketertarikan.

"Apa kau juga mendapatkan sesuatu yang sebanding dengan noda darah di tanganmu itu?"

"Lebih dari itu, Tuan Muda..." Liora terdiam sejenak.

Matanya yang biasanya liar kini meredup, digantikan oleh kegelapan yang pekat.

"Putri Pertama, Valerica... dialah pusat dari segala kejahatan di kerajaan ini. Dan dia melakukan hal yang paling tidak kukusui."

Tiba-tiba, aura membunuh yang sangat dingin dan pekat meledak keluar dari tubuh Liora secara tidak sengaja.

Udara di dalam ruangan mendadak membeku. Kael, yang belum memiliki ketahanan mental sekuat para ajudan senior, langsung tersungkur jatuh ke lantai karena tekanan yang menyesakkan itu.

"Dia adalah pembeli utama untuk budak- budak ilegal di pasar gelap," desis Liora, suaranya terdengar seperti gesekan pisau.

"Dia membawa mereka ke ruang bawah tanah pribadi bukan untuk bekerja. Dia menyiksa mereka satu per satu, menikmati setiap jeritannya tanpa peduli usia. Banyak nyawa anak kecil yang melayang di tangannya hanya untuk memuaskan kesenangannya yang menjijikkan."

Suasana di dalam Penginapan itu semakin berat. Kael masih berusaha mengatur napasnya di lantai setelah terkena tekanan aura membunuh Liora, sementara Liora sendiri berdiri kaku dengan mata yang berkilat dendam.

Namun, di antara kegelapan itu, Sebas melangkah maju dengan ketenangan yang kontras.

la telah menunggu saat yang tepat untuk memberikan potongan puzzle terakhir yang paling personal.

"Tuan Muda..."

suara Sebas memecah keheningan.

"Apa yang saya dapatkan dari Boris sedikit berbeda dari laporan Kael dan Liora, namun semuanya bermuara pada satu titik yang sama: Putri Pertama, Valerica."

Arion menyesap sisa tehnya, matanya yang dingin melirik Sebas.

"Apa ini tentang Elara?"

"Benar, Tuan Muda,"

jawab Sebas dengan nada rendah.

"Ksatria lancang bernama Eric yang kita hadapi waktu itu... ternyata dia membawa perintah khusus dari Valerica. Perintahnya singkat namun keji: Jangan pernah membawa Elara kembali ke istana ini."

BRAKK!

Meja kayu solid di depan Arion bergetar hebat hingga retak di bagian tengahnya.

Tekanan atmosfer di dalam ruangan itu mendadak turun drastis.

"Lanjutkan," desis Arion.

"Putri Valerica memanfaatkan obsesi gila Eric yang menginginkan Putri Elara," lanjut Sebas.

"Dia memberikan Elara sebagai 'hadiah' kepada Eric agar pria itu bisa melakukan apa saja padanya di wilayah terpencil, asalkan Elara menghilang dari garis suksesi takhta selamanya. Valerica menjual adiknya sendiri demi ambisinya."

Mendengar itu, Elara yang berdiri di sudut ruangan seolah kehilangan seluruh kekuatannya. la jatuh terduduk, tangannya menutupi wajah saat isak tangis yang tertahan mulai pecah.

Kenyataan bahwa kakak kandungnya sendiri menganggapnya sebagai komoditas untuk memuaskan monster seperti Eric adalah luka yang lebih dalam dari hujaman pedang.

Aura kegelapan yang menggebu-gebu meledak dari tubuh Arion.

la berdiri, setiap langkahnya saat berjalan menuju jendela besar membuat lantai marmer di bawahnya berderit seolah akan hancur.

la melewati Kael yang masih gemetar dan Elara yang sedang hancur, lalu menatap tajam ke arah kastil Beast yang bercahaya di kejauhan.

Arion berhenti, suaranya terdengar dingin dan absolut saat ia bertanya tanpa menoleh.

"Elara..." panggil Arion.

"Beri tahu aku satu alasan... satu alasan saja untuk membiarkan ada yang tetap hidup dari istana busuk itu."

Keheningan menyelimuti ruangan sejenak, hanya menyisakan suara napas berat Kael dan isak tangis Elara.

Dengan sisa tenaganya, Elara mendongak, matanya yang sembab menatap punggung Arion yang kokoh.

"Tolong..." Elara memohon dengan suara parau.

"Selamatkan Ayahanda... hanya dia satu-satunya keluarga yang tersisa bagiku. Jangan biarkan dia mati di tangan mereka."

Arion terdiam sejenak, lalu berbalik dengan tatapan yang mampu membekukan darah siapa pun yang melihatnya.

"Baiklah... Siapkan semua pasukan. Fajar masih terlalu lama untukku bisa sabar menunggu."

Mendengar perintah itu, seringai liar muncul di wajah Liora, sementara Sebas membungkuk dengan senyum tipis yang mematikan.

Keduanya menjadi orang yang paling bersemangat; haus darah mereka akhirnya mendapatkan izin untuk dilepaskan.

Arion melangkah keluar dari penginapan, turun langsung ke tengah-tengah jalanan ibukota yang mulai sunyi.

Di belakangnya, pasukan yang hanya berisi 50 ksatria Black Knight berbaris.

Jumlah yang seolah mustahil untuk memenangkan perang, Namun aura yang mereka pancarkan seolah-olah mewakili jutaan pasukan kematian.

Berdiri di tengah jalanan utama yang menghadap ke arah kastil, Arion melepaskan mana yang sangat pekat, memaksa setiap penduduk dan penjaga kota untuk menoleh ke arahnya.

"Rakyat Kerajaan Beast!" suara Arion menggelegar, beresonansi dengan wibawa yang absolut.

"Malam ini, pemerintahan kalian telah berakhir! Aku, Arion von Astra, menyatakan perang terhadap setiap pengkhianat yang menjual darahnya sendiri demi takhta yang busuk! Pembersihan dimulai sekarang!"

Malam itu, dengan jumlah pasukan yang sedikit namun mematikan, Arion mengumumkan jatuhnya sebuah kekaisaran sebelum matahari sempat terbit.

Bersambung...

1
Leon 107
ngak tau lagi apa yang mau dibaca...
Leon 107
pertama...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!