Terbelenggu dalam pernikahan yang tidak diinginkan, mampukah pernikahan itu bertahan?
Bagaimana bila yang selalu berjuang justru menyerah saat keduanya sudah disatukan dalam ikatan suci pernikahan?
“Cinta kita seperti garis lurus. Bukan segitiga atau bahkan persegi. Aku mencintai kamu, kamu mencintai dia dan dia mencintai orang lain. Lurus kan?” ucap Yuki dengan tatapan nanar, air mata yang mulai merembes tertahan di pelupuk mata. “Akan lucu dan baru menjadi bangun datar segi empat bila sosok yang mencintai aku nyatanya dicintai orang yang kamu cintai.”
“Di kisah ini tidak ada aku, hanya kamu dan kita. Bukankah kita berarti aku dan kamu? Tapi mengapa kisah kita berbeda?” Ucapan lewat suara bergetar Yuki mampu menohok lawan bicaranya, membungkam bibir yang tiba-tiba beku dengan lidah yang kelu.
Ini adalah cerita klise antara pejuang dan penolak hadirnya cinta.
*
*
*
SPIN OFF Aara Bukan Lara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karma
Sebuah ruangan penuh peralatan memasak lengkap dengan lalu lalang orang-orang yang sibuk menyiapkan pesanan pelanggan, Alia dan Keven berdiri di sudut ruangan itu. Memeriksa bahan baku yang baru saja berdatangan dari pintu penghubung bagian dapur dan gudang pasokan.
“Kamu bahagia?” Tanya Keven pada Alia memecahkan keterdiaman diantara keduanya.
“Bahagia?” Mengerutkan dahinya, Alia seolah mengulang pertanyaan yang Keven berikan. Ia ingin memastikan jika pendengarannya tidak salah menangkap kata yang Keven ucapkan. Riuh suara di belakang mereka tentu membuat Alia sempat berpikir dirinya salah mendengar.
“Iya, kamu bahagia sama Saka?” Tanya Keven lagi tanpa menatap Alia sama sekali. Keven tetap fokus meneliti kualitas kentang, apel, asparagus, tomat, alpukat dan masih banyak lainnya. Tentu saja semua itu hanya kepura-puraan yang sengaja dilakukan agar Alia tidak menyadari intonasi suaranya yang berubah.
“Seperti yang kamu lihat.” Jawab Alia yang terasa ambigu bagi Keven. Tidak jelas benar-benar bahagia atau tidak, yang jelas di mata Keven hubungan Alia dan Saka sangat manis dan harmonis.
“Kamu gak mau cari pacar juga?” Tanya Alia tiba-tiba yang membuat Keven langsung tersedak saliva nya sendiri. Melirik sekilas pada Alia dengan masih terbatuk-batuk, Keven memilih berlalu untuk kembali ke ruangannya.
“Segitunya kaget Kev. Hahaha..” Tergelak tawa kencang, Alia terlihat sangat mempesona. Tawanya yang lepas juga menarik perhatian orang lain. Spontan saja semuanya menatap Alia dan Keven yang Nampak akrab, termasuk sepasang mata Yuki.
Semenjak Yuki mencurigai Keven menaruh hati pada Alia, kini mau tidak mau Yuki menyadari ada sesuatu yang lain diantara Keven dan Alia. Memang benar mereka bersahabat, namun sebagai wanita dan perempuan yang mencintai Keven meski tidak dianggap, Yuki jelas menangkap gelagat tidak biasa.
Bercermin pada persahabatannya dengan Dimas, Yuki merasa sikap Keven dan Alia terlalu mesra. Awalnya Yuki merasa Keven dingin pada setiap orang, tapi saat ini Yuki bisa lebih membuka matanya. Sikap Keven berbeda jika berkaitan dengan Alia. Senyumnya juga seolah tidak lekang oleh waktu.
Bodoh, hanya satu kata itu yang mampu Yuki ucapkan untuk dirinya sendiri. Sebodoh dan sebuta itu Yuki sampai hanya memandang Keven tanpa memperhatikan sekitarnya.
“Semangat Yuki!! Kamu masih bisa berjuang!” Ucap Yuki mantap sembari mengepalkan tangannya. Tidak perduli bahwa pemandangan yang tampak jauh di sana bukan hanya menyakitkan mata, tapi juga menggores perih ulu hati tidak kasat mata.
Berlari keluar dari bangunan dengan aksen warna dominan coklat dan putih tulang, Yuki memasok udara sebanyak-banyaknya ke rongga paru-paru. Menghembuskan sekuat-kuatnya dan dalam kurun waktu panjang. Tidak hanya sekali, ia melakukan hal itu berulang kali.
“HAAH..!!” Desah Yuki kasar, sedikit berteriak serta menyentak ke belakang kedua tangan yang terkepal.
“SEMANGAAAATTTTT!!!!!” Yuki berteriak dengan lantang hingga sesak di dada seakan ikut terlepas, matanya terpejam selama ia meneriakkan kata ‘semangat’ yang menimbulkan bunyi menggema hingga ke dalam restoran.
Berjalan santai kembali masuk ke dalam restoran, Yuki mengernyit heran pada setiap pasang mata rekan kerjanya yang menatap penuh makna. Mengambil sikap acuh dan berdiri kembali pada posisi seharusnya, Yuki semakin dilanda kebingungan saat matanya bersirobok dengan Keven yang mengedikkan dagu, menggerakkan jari telunjuk seakan mengkode agar Yuki mengikutinya.
Sejenak Yuki bergeming, memilih tidak terlalu percaya diri pada dugaan asal yang terbentuk di otaknya. Yuki terus tersenyum pada setiap pasang mata yang tidak sengaja bertemu pandang dengannya.
Selalu bersikap ramah, itulah yang Yuki tekankan. Selain itu juga Yuki memang mudah bergaul, jadi dirinya tidak terlalu canggung saat menghadapi para pengunjung restoran, baik pelanggan tetap atau pada pelanggan dengan kunjungan pertama.
Sama seperti saat Yuki mulai mendekati Keven, tampak santai dan berani, meski nyatanya sudah gemetaran sangat gugup. Jika diingat-ingat lagi, hanya satu kali Yuki tampak canggung, yaitu saat pertemuan kedua mereka dikala hujan.
“Kenapa kamu gak datang ke ruangan aku?” Suara ketus meluncur cepat dari balik punggung Yuki. Sontak Yuki terkejut, memutar badannya dengan helm yang sudah ia kenakan.
“Mas Keven?” Mengernyitkan dahinya, benar-benar fenomena langka Keven menghampiri Yuki di parkiran restoran.
“Kenapa kamu gak datang ke ruangan aku?” Tanyanya sekali lagi dengan kalimat yang sama.
“Ke ruangan Mas? Kenapa?” Bukannya menjawab, Yuki justru kebingungan dengan pertanyaan Keven. Entah sadar atau tidak, Yuki menggaruk helm yang ia kenakan seakan berusaha mengurangi rasa gatal.
“Lupakan!” Ucap Keven tiba-tiba, memutar tubuh dan berjalan meninggalkan Yuki yang hanya mampu terbengong heran.
Berlari menyamakan langkah mengejar Keven, Yuki tersenyum sumringah. “Mas Keven mau modus aja kan? Ngaku deh kalau sebenarnya cuma mau ngobrol sama aku!??” Seloroh Yuki terlalu percaya diri dan berharap bahwa itu memang kebenarannya.
“Ngaco.” Ucap Keven ketus dengan terus melangkah menghampiri mobilnya yang terparkir di sisi yang berbeda.
“Kev, buruan!” Suara melengking memudarkan senyum sumringah Yuki. Mengerucutkan bibir dan mengerutkan dahi, Yuki merasa aneh pada tatapan Alia yang sinis kepadanya.
“Udah selesai urusan kamu sama dia?” Tanya Alia pada keven sembari mengedikkan dagunya pada Yuki yang mematung cukup jauh.
Mengangkat bahunya acuh, Keven membuka pintu penumpang di bagian depan. Tanpa kata Keven menyuruh Alia masuk ke dalam mobil. Mengabaikan Yuki yang terus memberinya tatapan lekat. Sadar, namun memilih abai, itulah yang Keven lakukan.
Sedetik kemudian mobil Keven melesat meninggalkan Yuki yang menatap sendu. Entah mengapa Yuki seakan lemah tidak berdaya. Jika biasanya ia akan bertindak heboh dan menyebalkan, tapi kini ia hanya terdiam dengan bodoh.
Berpikir mood nya yang buruk dipengaruhi efek datang bulan yang sedang melanda, Yuki akhirnya memacu motornya meninggalkan area restoran dengan perasaan gamang. Sepanjang jalan Yuki terus memutar memori lama bersama para fans yang biasa mengejar-ngejar dirinya, mengucapkan kata cinta dengan seribu janji manis.
“Apa ini yang namanya karma?” Gumam Yuki dengan tatapan kosong. Matanya memang fokus pada jalanan di depannya, namun otak yang sibuk memproses berbagai kilas balik menguasai fokus utama Yuki pada jalanan yang ia lalui.
Tanpa sadar motor Yuki sudah bergerak semakin menepi dan sebentar lagi dirinya akan berakhir manis terkapar di jalanan dingin jika tidak segera menyudahi putaran film di benaknya.
“Eh! Eh? Yaaa..!!” Teriak Yuki seketika saat motor yang dikendarainya oleng. Mencoba menyeimbangkan motor yang melewati bagian trotoar yang belum dibangun, hanya sebuah tanah merah yang berlubang dan bergelombang tidak rata.
Brak!
Gagal. Yuki terjatuh saat ban depan motornya tergelincir. Kaki sebelah kanannya tertimpa bobot motor, sikunya membentur kasar tepi aspal.
Sungguh miris nasib Yuki di bawah sinar rembulan yang bersinar terang tanpa seorangpun yang berlalu lalang, ia berusaha seorang diri mengangkat motor dengan suara yang menggeram layaknya Bapak-bapak berusaha mengangkat kotak container dengan tangan kosong seorang diri.
...****************...
*
*
*
Sebentar ya.. Alurnya memang lambat😄 Nanti kita buka satu-satu sampai akhirnya kembali ke Yuki di masa kini😁