Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!
Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.
Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.
1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.
Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Habis sehat masa sakit lagi
Eits, ga kena... mau lempar Vera pakai sapu ya! 😝
Kedua mata Aluna terbuka lebar, dadanya sesak entah tak ia ketahui apa alasannya, dia bangun mengusap wajahnya cepat. Ia baru sadar kalau lehernya diperban oleh seseorang, ingatan terakhirnya bersama Kaza, padahal dia sudah bangun saat demam kemarin. Sekarang di mana keberadaan Kaza?
'Kenapa aku bisa ada di kamar? ' pikirnya pelan.
Ia melangkah turun dari ranjang, menyadari bahwa Arkan tertidur dengan posisi duduk di kursi bersamaan dengan memegang iPad, Aluna tak memedulikannya—entah mengapa perutnya sangat keroncongan meminta diisi sesuatu.
Saat ia melangkah akan melewati pintu dekat suaminya berada, dari belakang ada tangan yang memegang dirinya hingga ia hampir terjungkal karena tertarik ke belakang.
"Mau ke mana kau? "
"Ma—mas?! Kamu sudah bangun! " Aluna segera menghadap pada Arkan, yang pelan-pelan terbangun dari tidurnya. Pria itu mengucek mata, kedua matanya merah semua karena semalaman hampir tidak tidur, terus dalam posisinya.
Aluna mencoba mencari alasan yang masuk akal,
"Aku mau ke dapur Mas—"
"Kau lapar? "
Aluna sedikit canggung mendengarnya, kenapa Arkan peduli dengannya? Dia lapar atau tidak biasanya tak perlu ditanyakan bukan? Aluna angguk kepala sebagai jawaban.
Pria itu berdiri, menuntunnya ke dapur. Aluna di belakang sedikit gugup saat tangannya terus dipegang, padahal ia yakin pria itu ogah-ogahan di waktu tertentu untuk menyentuhnya kecuali kalau saat ada modelan pria seperti Reno, pasti arkan akan terus memaksanya untuk berciuman.
Apa karena dia sakit? Atau setelah dia disekap? Aluna sadar bahwa Kaza itu jahat, tapi dia merasa Kaza bukanlah orang yang akan melakukan itu tanpa alasan.
Di saat Arkan sedang memasakkan sesuatu di dapur, juga menjadi keahlian pria itu selama dulu tinggal di asrama luar negeri, pria itu membawakan makanan tepat di depan matanya. Aluna terkesiap, baru kali ini pria itu membawakannya makanan yang khusus dibuat untuknya.
Aluna bingung sendiri, "Ini... untuk aku Mas? "
"Gak, buat setan. Buang aja, kalau tanya-tanya terus. "Aluna langsung merinding sendiri, dia segera menurut takutnya pria itu malah semakin memarahinya. Ia menyantap nasi mentega pulen tersebut, dia berbinar-binar bahagia setelah satu suap masuk ke dalam mulutnya.
'Enak... enak!! '
"Ini enak Mas! Daripada nasi goreng yang aku buat kemarin, yang ini lebih gurih menurutku. "
"Oh jadi... nasi goreng itu kau yang buat? " tanya Arkan pelan, Aluna langsung memalingkan pandangan seolah dirinya sedang dipergoki. Arkan mendesah berat, "Tak akan ada yang marah kalau kau masak juga, kenapa kau bilang itu masakan Bu Lastri? Cukup bilang itu masakanmu. "
"Kenapa Mas? Emang itu urusan Mas kalau aku yang masak? Lagian juga pastinya Mas kalau tahu itu aku, pasti dibuang ya kan! " seru Aluna entah mengapa dia lebih sensitif, pria itu nampak terkejut mendengarnya—dia akan membanting meja, tapi ia ingat saran pepatah dari sang asisten—Dion kemarin malam.
"Tuan tolong jaga ucapan Tuan di depan Nyonya Aluna, karena penderita kejiwaan ini tidak boleh sampai terguncang ataupun terkekang oleh Anda... saya sudah feeling sejak dulu kalau Nyonya Aluna ini pasti memiliki sesuatu yang dia sembunyikan, coba Tuan Arkan bersikap baik dan sabar jangan sampai emosi, itu untuk membantu terapinya... "
Arkan menarik napas dalam, dia mengambil sepiring ayam kriuk untuk ditambahkan di atas nasi wanita itu. "Makan yang banyak, kalau kau sakit lagi malah merepotkan saya di sini. "
"Kalau sakit di rumah? Mas emang masih peduli? " tanya Aluna menaikkan sebelah alis. Arkan memegang garpu erat, kenapa dari tadi wanita itu sengaja mengundang amarahnya? Pria itu berdehem sedikit, mencoba tetap sabar.
"Dimakan dulu ya Aluna... nanti istirahat lagi, kau kan masih sakit... ya? "
Aluna meneguk ludah, kenapa ia merasa sifat lembut pria itu sedikit menyeramkan untuknya.
...****************...
Saat Aluna bersantai di balkon ia dihampiri pria itu dari belakang. Aluna tak menyadari kehadirannya, ia yang melamun menatap ombak deburan laut —tak sadar kalau lehernya dikalungkan sesuatu.
"Mas?! "
Arkan mundur beberapa langkah setelah memasangkan kalung tersebut di lehernya, Aluna kaget dia mencoba melepaskan kalung yang diberikan padanya—bukannya tak suka, tapi terlalu mendadak membuatnya tak tahu apa maksudnya, ia takut kalau kalung ini adalah sesuatu yang malah nantinya membuat pria itu semakin semena-mena padanya.
"Apa ini Mas! Kenapa ga bisa dilepas?! " seru Aluna, wanita itu sudah panik sendiri bahkan tangannya sampai membekas merah. Arkan menghentikan hal tersebut, melepas tangan wanita itu kasar. "Diam. Kau mau lehermu terluka??! Sudah cukup, jangan menambah perban lagi... "
"Tap—tapi kalau Mas yang ngelakuin ini tanpa maksud apa-apa—"
Aluna berhenti bicara saat pria itu memotong ucapannya, "Siapa bilang tak ada tujuannya? Di dalamnya ada GPS khusus, kemarin kau tidak ingat hampir terbunuh oleh imigran gelap itu? Kalau saya tak sempat menemukanmu, kau mau mati di sana? "
"Maksud Mas Arkan, itu Kaza?! "
Arkan langsung mendelik, dia berpikir kenapa istrinya tahu nama teroris tersebut? Arkan memegang tangan wanita itu erat, kembali kepada kebiasaannya.
"Mas lepas—"
"Apa hakmu bisa tahu nama pria itu hah! Apa kalian saling berkenalan saat di gudang?! "
"Mas sakit—" ringisan Aluna tak digubris sama sekali, justru wanita itu dihantamkan ke tembok, Aluna merintih kala kepalanya kembali dibenturkan seperti di sisi kolam, kepalanya pusing sendiri diakibatkan hal tersebut, bersamaan dengan dadanya yang ngilu tanpa sebab.
"Jawab!! "
"Jawab apa Mas—"
"Jawab! Bagaimana kau bisa mengenal pria itu?! "
"Aku—uhuk! Aku... aku mengenalnya karena pada saat itu aku terbangun dan menemukan dia disampingku, juga dia bukan orang jahat Mas. Aku yakin! Tapi sayangnya aku gak bisa bahasa Inggris, jadi aku tidak yakin apa yang dia katakan itu benar atau tidak—"
"Kau membelanya sekarang?! "
BRAK!
Leher wanita itu kembali dicekik, Aluna merasa sesak sendiri berusaha melepaskan tangan pria itu yang mengikat lehernya, ia mendongak ke atas meminta tolong pada yang Maha Kuasa untuk menenangkan suaminya.
"JAWAB ALUNA! APA KAU BERSENGKONGKOL DENGAN PRIA ITU HAH! APA KAU PELAKUNYA! —"
"Tuan Arkan! Tuan! Tolong jangan sakiti Nyonya Aluna—" untungnya Dion datang cepat, dia yang tadinya akan membawakan minuman herbal yang sudah diresepkan oleh Edola kepada Aluna, kini harus dikejutkan pertikaian mereka berdua di ujung balkon—untungnya tak ada orang di sekitar mereka.
Dion melihat seberapa marahnya tuannya, sampai ada uap napas yang keluar dari lubang hidung pria itu. "Tuan Arkan... tolong tarik napas dalam... hembuskan—"
"Ck, sudah saya bilang kan Dion?! Saya tak bisa! Kalau saya di depan wanita ini, mau saya marahi terus dia! "
"Tapi Tuan kemarin Anda sudah janji untuk tidak memarahi Nyonya lagi. "
Arkan berdecak, dia membola mata malas. "Hm, itu kemarin... sekarang ya sekarang. "
Dion menepuk jidat keras, 'Tuan... Tuan... sampai kapan Anda seperti ini terus... anak orang Anda sakiti, kalau polisi tahu Anda melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga Anda bisa dipenjara Tuan... '
Arkan mengusap wajah resah, dia menatap kembali ke arah wanita itu yang jatuh luruh tak berdaya. Arkan berlalu pergi tak mau tanggung jawab, menyuruh Dion menjaganya saja.
Dion geleng kepala sendiri melihat tingkah laku tuannya, dia berjongkok memberikan tepukan pelan di bahu wanita itu sebagai penghibur.
"Nyonya yang sabar ya... silakan Anda ke kamar tidur, untuk beristirahat jangan terlalu dipikirkan omongan Tuan Arkan tersebut. "
Wanita itu diam saja, tanpa Dion sadari setitik air mata jatuh dari pelupuk matanya. Aluna mengusap air matanya yang jatuh tanpa izin, ia mengusap kedua matanya cepat. Dion mendengus pelan, dia menawarkan sapu tangan ke wanita itu. "Silakan Nyonya Anda istirahat dulu, jangan di sini... nanti Anda kedinginan... "
"Dion... aku mau bertanya padamu... satu saja, "
Dion meneguk ludah, dia merasa memiliki perasaan buruk saat wanita itu mengajaknya berbicara, Dion angguk kepala siap menerima semua curhatan.
"Tentu saja Nyonya, apa keresahan yang Anda pendam? Ceritakan saja kepada saya, anggap saya teman paling dekat Anda... "
"Di mana aku bisa mencari tempat paling tinggi yang tak bisa dijangkau orang lain Dion? "
"Tempat tinggi... untuk apa Anda mencari—" seketika Dion berhenti bicara, wanita itu tertawa gila sendiri mengusap matanya yang memerah.
"Kau bertanya untuk apa Dion? Tentu saja, Mas Arkan pasti berharap aku cepat mati kan? Itu yang paling dia inginkan bukan? Dia seolah berpura-pura membuat kontrak denganku, tapi padahal sebenarnya dia menginginkan aku mati saat itu juga. "
Dion geleng kepala, tak menyetujui pendapat spontan wanita itu. Dia sampai menggoyang-goyangkan badannya. "Nyonya, tolong Anda jangan berpikir macam-macam, saya tahu bahwa Tuan Arkan itu kadang suka pemarah, mengancam, bahkan sampai melakukan kekerasan fisik, tapi saya sebagai asistennya yang sudah bekerja di bawah naungan Tuan Arkan saya tahu bagaimana bila Tuan Arkan bila sudah mencintai pasangannya—"
"Mencintai pasangannya Dion? Kau mau bilang yang dia sayangi di sini adalah Clarissa kan? Bukan aku budak kontrak pernikahannya... "
"Itu... " Dion langsung berhenti bicara, pria itu mengatup bibirnya tak dapat berkata-kata, kenapa wanita ini selalu saja bisa menjawab? Padahal Dion meyakinkan wanita itu kalau mungkin saja tuannya bisa berubah dan entah kapan itu, pasti akan mencintai Aluna dengan tulus, tapi apalah daya tak Arkan tak Aluna sama-sama sedang dalam kesulitan yang tak mau saling memahami.
Dion berbisik kecil, "Nyonya... Tuan Arkan benar-benar mempedulikanmu, dia yang telah merawatmu seharian saat sakit demam kemarin... dia juga yang menyelamatkanmu dari orang jahat di gudang kemarin... jangan Anda berpikir lagi bahwa Tuan Arkan itu jahat pada Anda—"
"Maaf...saya malah berkata seperti ini.."
Mendengarnya Aluna langsung berhenti membayangkan kematian, dia mengedip mata tak percaya. Saat Dion akan pergi, tangannya segera dipegang. "Tunggu dulu Dion... "
"Aku... aku... "
"Ya Nyonya? Apa Anda mau saya antar ke kamar untuk beristirahat? " tebak pria itu menaikkan sebelah alis. Aluna mengepal tangan erat, entah apa yang akan dia katakan ini bisa dipercaya atau tidak tapi kalau tidak berusaha apa salahnya kan?
"Dion.. tolong kamu selidiki motif di balik pria yang kemarin menculikku... aku ingat namanya Kaza, dia... dia berbicara tentang kehidupannya, entahlah karena aku melupakan keahlianku dalam berbahasa Inggris seharusnya aku tahu apa yang dia maksud, tapi aku sedikit menangkap apa yang dikatakan Kaza. Pokoknya menyangkut keluarganya dan seseorang yang menculiknya lalu, menawarkan pekerjaan dengan gaji besar. "
"Anda tahu itu dari pria itu Nyonya? Anda berbicara dengannya? "
Aluna angguk kepala, dia masih ingat betul bahwa saat mendung dan hujan deras tersebut ia dan Kaza asyik bermain bahkan walau mereka berdua tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan, Aluna yakin kalau Kaza bukan orang berbahaya.
"Baiklah Nyonya, terima kasih telah menyampaikan informasi penting tersebut. Sangat berguna untuk saya ke depannya, "
Aluna angguk kepala, akhirnya dia bisa tenang untuk sebentar.
...****************...
Titt—
"Kau gila Arkan! Kau pria brengsek sialan, katamu kau tak akan menyentuh istrimu... bajingan! Kau mau menipuku? "
"Clarissa hentikan, apa masalahmu pada saya... "
"Masalah—wah dasar gila, kau anggap aku apa hah! Padahal aku sangat mencintaimu sejak kita kuliah bersama, apa kau tak sayang lagi padaku seperti dulu?! "
Arkan terdiam, dia mendengus berat. Wanita itu telah menganggap bahwa ia masih mencintainya secara ugal-ugalan seperti dulu, padahal entah mengapa Arkan tak lagi memiliki perasaan sama, entah sejak kapan. Mungkin setelah tahu bahwa Clarissa kedapatan memiliki pria lain saat karyawisata bersama?
"Fuck you Arkan! Rasakan nanti balasannya, pokoknya aku tak mau tinggal diam! Lihat saja nanti, kau ataupun si jalang istrimu itu tak akan kubiarkan hidup tenang. "
Titt— telepon kembali dimatikan, setelahnya Arkan melempar handphonenya ke arah Dion yang bersiap menangkap dengan gesit. "Tuan, bolehkah saya melapor—"
"Tunggu dulu Dion, biarkan saya istirahat sebentar. Ngomong dengan Clarissa seolah menghabiskan setengah baterai tenaga saya. "
"Baik Tuan. " Dion membungkuk, setia tetap di sana menunggu dirinya dipanggil lagi.
...****************...
Akhirnya mereka sampai juga kembali ke bandara Indonesia, Kakek Seo dengar-dengar kalau cucunya akan pulang lebih awal padahal belum sehari menginap tapi rupanya dibatalkan. Kakek Seo juga tak tahu apa alasan cucunya melakukan hal tersebut.
"Oh Aluna... akhirnya... "
Aluna dipeluk erat, bahkan hampir dicium pipinya seperti anak kecil saja. Aluna memakai sweater tebal jadi perbannya tak terlihat dan memakai riasan yang menutupi wajah pucatnya.
"Bagaimana? Apakah di sana kalian membuahkan hasil? "
Arkan tak menjawab, dia terus memalingkan muka sedangkan Aluna diminta jawaban angguk kepala ragu. "Iya Kek... kami... mungkin—"
"ALUNA! ALUNA!!! ALUNA!!! "
Kakek Seo menjerit, "Siapa dia?!"
"Ayah!" Kakek terkejut, pria tua itu tak tahu rupa ayah dari Aluna karena kemarin tak hadir saat pernikahan, si kakek mengira kalau ayah Aluna sudah mati.
"Itu ayahnya Arkan?! Kenapa kau tak bilang kalau Aluna punya ayah! Katanya sudah meninggal! " seru Kakek Seo menghardik cucunya yang sudah berani berbohong. Arkan malah menjulur lidah, tanpa rasa bersalah.
"Oh saya mana tahu Kek, saya kira juga begitu... " ucapnya cukup memberikan alasan yang tak masuk akal ini.
Keldo menghampiri putrinya dan dia peluk erat, pelukan ayahnya membuatnya sesak napas sendiri. "Aluna... Ayah rindu padamu Aluna... Ayah mau minta sesuatu padamu... "
"Uang kemarin yang diberikan suamimu masih kurang Aluna... kau mau menambahkan uang lagi ke Ayah Aluna? Ayah mohon, Ayah utang 1 miliar ke debt collector! "
Aluna terkejut, Kakek Seo tambah dua kali terkejut, mulai menatap tajam Arkan. "Arkan... jelaskan pada Kakek! Kenapa orang ini meminta uang kepada anaknya sendiri! Apa kau juga ikut campur! "
Arkan menepuk jidat pelan, malah menatap Dion sebagai dalang kesalahannya. Arkan juga ingat kalau kakeknya hanya tahu tentang Aluna tapi tidak dengan latar belakang wanita itu yang buruk.
Dion:
Saya lagi... saya lagi... susah nih 😟