Marline Miller seorang pembunuh bayaran dan ahli peretas hanya sebuah pion yang dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang sangat membenci keluarga Smith.
Demi memanfaatkan dirinya untuk sebuah tujuan, sekelompok orang menghancurkan pernikahan Marline. Serum disuntikan membuat Marline melupakan kejadian itu.
Dia diperintahkan untuk mendekati Michael Smith dan mencuri Virus berbahaya yang sedang Michael kembangkan dan setelah itu dia ditugaskan untuk menghabisi seluruh klan Smith.
Musuh lama berkumpul untuk menghancurkan klan Smith. Dua kubu organisasi berbahaya dari Hongkong dan Jepang ikut terlibat karena mereka mencari orang yang membunuh ketua mereka.
Karena sebuah tugas yang diberikan, membuat Marline membunuh kedua ketua organisasi berbahaya itu. Ketika efek obat yang dia konsumsi habis, Marline mulai mengingat kejadian tragis yang dia alami dan yang membuatnya terpukul adalah, ternyata orang yang dekat dengannya terlibat dalam pembantaian di hari pernikahannya. Sang mantan Agen pun terlibat, membantu mengusut kasus itu untuk mengungkap seorang musuh dalam selimut. Apa mereka berhasil mengungkap siapa saja musuh yang mengincar mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tidak Mau Berhutang Budi Padamu.
Tas yang berisi senjata Marline keluarkan karena dia mau mengambil beberapa senjata dari dalam sana. Hari ini Marline akan pergi menjalankan misinya, membunuh dua orang yang menjadi targetnya.
Tas diletakkan di atas ranjang dan Marline mengeluarkan senjata Barret M82 dari dalam tas dan melihat senjata api itu. Dia bahkan mencoba membidik dan ngintip sebuah target yang ada di dalam kamarnya menggunakan benda itu.
Dia juga mengeluarkan Barret M95 dan mencoba senjata itu juga. Setelah mencoba dua senjata yang sama-sama mematikan, Marline lebih membilih membawa Barret M82 karena senjata itu sedikit lebih ringan.
Dua pistol juga dia keluarkan dan pelurunya diisi sampai penuh. Dia harus membawa benda itu untuk berjaga-jaga.
Marline mengeluarkan sebuah tas lain dan memasukkan Barret M82 ke dalam tas. Dia juga memasukkan dua pistol dan beberapa selongsong peluru. Laptop adalah benda yang tidak boleh dia lupakan jadi dia juga memasukkan benda itu ke dalam tas karena dia sangat membutuhkan benda itu.
Setelah semua yang dia perlukan siap, Marline juga bersiap-siap. Rambut panjangnya diikat ke atas dan dia memakai dua lapis pakaian untuk berjaga-jaga.
Target akan melakukan pertemuan jam empat sore dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul dua sore. Dia masih punya waktu dua jam sebelum menuju lokasi jadi dia akan pergi ke Smith Corporation terlebih dahulu untuk mengembalikan uang Michael.
Dia tidak mau berhutang budi pada pria itu apalagi suatu hari nanti kemungkinan mereka akan menjadi musuh.
Amplop coklat berisi uang yang diberikan oleh Michael diraih oleh Marline. Setelah misinya selesai dia harus kembali menjadi Betty untuk mendekati Michael.
Sebuah jaket kulit Marline kenakan dan dia juga mengambil sebuah topi. Dia sudah siap untuk pergi karena selain mengembalikan uang Michael, dia juga harus mempersiapkan banyak hal.
Dia segera bergegas dan yang dia tuju pertama kali adalah Smith Corporation. Begitu dia tiba, Marline melangkah memasuki gedung itu dengan terburu-buru.
Marline berjalan menuju resepsionis karena dia berniat menitipkan uang itu lalu pergi. Dia tidak mau bertemu dengan Michael lagi menggunakan wajah aslinya.
"Tolong berikan ini pada Michael Smith," pinta Marline seraya memberikan amplop coklat yang dia bawa.
"Apa ini, Nona?" tanya resepsionis yang adalah seorang wanita.
"Uang, katakan padanya Marline mengembalikan uang yang dia berikan," jawab Marline.
"Jika begitu mohon Nona menunggu sebentar," pinta resepsionis itu.
"Apa? Tidak! Berikan uangnya karena aku harus pergi!" tolak Marline.
"Nona, ini uang ratusan dolar. Kau tidak bisa memberikan begitu saja kepadaku. Bagaimana jika ada yang hilang? Aku tidak mau jadi tersangka," ucap wanita itu lagi setelah melihat isi amplop.
"Aku percaya padamu jadi tolong berikan uang itu pada Michael karena aku sudah harus pergi," ucap Marline.
"Jika begitu bawa serta amplopnya, aku tidak berani mengambil resiko," amplop kembali diberikan kepada Marline, sedangkan Marline tampak frustasi. Sepertinya mau tidak mau dia harus bertemu dengan Michael lagi.
"Baiklah," ucap Marline pasrah.
Resepsionis itu tersenyum dan segera mengangkat gagang telepon, dia berbicara dengan bosnya sebentar dan setelah itu dia memandangi Marline sambil tersenyum.
"Nona, bos memintamu naik ke atas."
"Oh my God, kenapa dia begitu menyebalkan!" gerutu Marline.
Mau tidak mau dia naik ke atas mengikuti seorang karyawan yang diperintahkan untuk membawanya ke atas. Marline benar-benar tidak punya pilihan dan ketika dia sudah tiba dan masuk ke dalam Michael, Michael menyambutnya dengan senyuman.
"Aku tidak menyangka kau akan datang mencariku," ucap Michael basa basi.
"Aku terpaksa," jawab Marline.
"Oh ya? Aku kira kau rindu denganku," Michael bangkit berdiri dan berjalan mengampiri Marline, sedangkan Marline melotot ke arahnya.
"Jangan terlalu percaya diri, aku hanya ingin mengembalikan uangmu!"
"Kenapa? Kau tidak perlu mengembalikannya," ucap Michael dan dia semakin mendekati Marline, sedangkan mulai melangkah mundur. Mau apa pria itu?
"Stop, jangan mendekat!" pinta Marline.
"Baiklah, Nona. Jadi katakan padaku kenapa kau ingin mengembalikan uang itu?" tanya Michael seraya menghentikan langkahnya.
"Aku tidak mau berhutang budi padamu."
"Tapi aku tidak merasa kau berhutang budi."
"Oh ayolah, walau aku matre dan suka uang tapi aku tidak suka menerima uang orang lain sembarangan," ucap Marline
"Jadi kau suka uang?" tanya Michael sambil terkekeh. Marline benar-benar unik, baru kali ini dia bertemu dengan seorang wanita yang mengaku dirinya suka dengan uang secara terang-terangan tanpa merasa malu.
"Tentu saja, aku miskin. Tapi aku tidak bisa menerima uang darimu," jawab Marline seraya memberikan amplop ke arah Michael.
"Bawa kemari," pinta Michael seraya menggerakkan jari telunjuknya.
Marline kembali melotot dan berjalan mendekati Michael. Sebaiknya dia segera memberikan uang itu karena dia sudah harus pergi tapi dia tidak menyangka tiba-tiba Michael meraih pinggangnya dan merapatkan tubuh mereka berdua.
Marline sangat kaget dan meletakkan kedua tangannya di dada Michael agar tubuh mereka berdua memiliki jarak.
"Bagaimana jika kita makan malam berdua menggunakan uang ini?" tanya Michael seraya menyelipkan rambut Marline ke belakang telinganya.
"Ti-tidak mau!" Marline jadi gugup dan dia berusaha mendorong tubuh Michael.
"Kenapa, Marline?"
"A-aku ada pekerjaan jadi aku sudah harus pergi!" jawab Marline seraya mendorong tubuh Michael dengan sekuat tenaga.
"Kau bekerja?" Michael melihat Marline dengan serius, sedangkan Marline melangkah mundur.
"Tentu saja, kau kira aku pengangguran!"
"Apa pekerjaanmu?"
"Rahasia," jawab Marline singkat.
"Hei, bagaimana jika besok kita makan siang berdua?" ajak Michael.
"No!" tolak Marline.
"Why?"
"Tidak apa-apa. By, aku sudah harus pergi," ucap Marline seraya melambaikan tangannya.
Michael hanya tersenyum melihat kepergiannya dan setelah Marline keluar dari ruangannya, Michael kembali ke tempat duduknya dan menyimpan amplop yang Marline kembalikan.
Jadi gadis itu bekerja? Tapi pekerjaan apa yang dilakukan sore hari seperti ini? Sebaiknya dia mencari tahu dari pada penasaran.
Marline berjalan dengan terburu-buru karena dia tidak mau terlambat tiba di lokasi. Dia bahkan membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi dan dia tidak tahu jika Michael melihatnya dari setiap cctv yang dia retas.
Dia sungguh penasaran dengan pekerjaan Marline dan dia ingin melihat apa yang gadis itu lakukan. Mobil Marline berhenti di sebuah gedung di mana gedung itu menghadap dua gedung lainnya.
Marline tidak langsung turun dari mobil karena dia sedang meretas cctv di gedung yang akan dia gunakan untuk mengintai targetnya nanti. Misi itu tidak boleh gagal jadi dia harus berhati-hati.
Michael masih mengawasi dan tampak heran karena Marline tidak juga keluar dari mobilnya bahkan sudah beberapa menit berlalu, Marline belum juga keluar.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan, Sweety?" Michael memainkan jari di dagu dan semakin penasaran. Siapa sebenarnya Marline Miller?
Dia masih mengawasi tapi tidak lama kemudian, Marline keluar dari mobil dengan menggunakan sebuah topi bahkan dia juga membawa sebuah tas besar.
Marline memasuki gedung dengan santai karena dia sudah mengacaukan cctv yang ada di bangunan itu. Para penjaga tidak akan melihat aksinya nanti dari layar cctv dan dia menyamar menjadi seorang kurir pengantar barang supaya dia bisa masuk ke sana.
Michael masih mengawasinya dan bertanya dalam hati, apa Marline seorang pembunuh bayaran? Sebaiknya dia terus mengawasi Marline karena dia sangat ingin tahu.
Contoh nyata, Edward.
Ortu kandung penjahat, tapi dididik dgn kasih tulus oleh Samantha & Jacob bisa jadi anak baik bahkan tidak ada rasa iri pada anak kandung ortu angkatnya
Dan uang yg dipakai untuk rencana jahat mereka didpt dari Kate/NosePick/