Hidup Sandy bisa dibilang gagal. Kehilangan pekerjaan yang berujung dengan rumah tangga yang hancur. Kini Ia sendiri meratapi nasib. Namun saat Ia terbangun dari mabuknya, Ia mendapati dirinya kembali ke tahun 2000, tahun milenium. Mampukah Ia memperbaiki masa depannya dan kembali ke masa depan lagi? Ataukah Ia akan mengulangi kesalahan yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sandy menginjak rem motornya dengan segera. Ia berbalik badan dan melihat warung Bakso Pak Simon sudah hancur terkena ledakan dalam seketika.
"Num!" Sandy gemetar ketakutan.
Shanum pun ketakutan dengan peristiwa yang menimpa mereka berdua. Nyaris. Hampir saja mereka ikut meledak di dalam. Hampir saja mereka hanya tinggal nama.
"Gue takut, San!" ujar Shanum yang semakin memeluk Sandy dengan erat.
"Gue juga! Oh iya! Lapor polisi!" Sandy mengeluarkan Hp miliknya. Ia menghubungi nomor telepon kantor polisi dan menceritakan kalau telah terjadi ledakan di dalam warung bakso.
"Kita mesti gimana?" tanya Shanum.
"Kita harus balik lagi kesana untuk memastikan apa yang terjadi!" ujar Sandy.
"Lo gila apa? Bisa aja masih ada ledakan susulan kan?" tolak Shanum.
"Ini bukan ledakan bom, Num! Ini ledakan dari gas. Seperti yang gue bilang tadi sama lo!" ujar Sandy dengan penuh emosi.
"Enggak. Gue enggak mau masuk kesana. Tunggu sampai polisi datang! Lo juga jangan sok jadi jagoan deh! Sayangin nyawa lo! Tuh lo liat!" Shanum menunjuk ke sekitar area yang sudah banyak warga berkerumun hendak melihat apa yang terjadi. "Warga aja takut buat mendekat! Kita tunggu sampai keadaan aman baru kesana!"
Alasan Shanum masuk akal. Bisa saja masih ada yang menyebabkan ledakan. "Oke. Kita cari tempat duduk dulu sambil menunggu polisi datang!"
Sandy pun menghidupkan lagi mesin motornya dan berhenti di sebuah halte. Ia memarkirkan motornya di depan halte. "Lo duduk dulu! Gue mau beli minum!" perintah Sandy.
"Jangan lama-lama. Gue takut!" ujar Shanum yang masih gemetar tangannya.
"Iya. Lo liat keadaan sekitar. Sebentar lagi polisi pasti sampai!" ujar Sandy.
Shanum mengangguk. Ia menunggu Sandy yang pergi membeli air mineral dengan hati yang tak tenang.
Shanum jadi terbayang-bayang wajah Pak Simon yang menatapnya seperti meminta tolong. Apa yang bisa Ia lakukan? Ia hanyalah mahasiswa lemah yang tak bisa melakukan apa-apa selain kabur menyelamatkan diri.
Shanum bertekad akan menghubungi polisi setelah berada agak jauh, namun baru beberapa meter mereka pergi eh sudah terjadi ledakan.
"Apakah yang Sandy bilang benar kalau Ia memang berasal dari masa depan? Bagaimana Ia tahu kalau akan terjadi ledakan gas? Jika memang benar, kenapa tanggal kejadiannya meleset dari kejadian sebenarnya?" Shanum mulai berpikir jernih.
"Nih. Lo minum dulu. Tenangin diri lo! Kita pasti akan dipanggil ke kantor polisi!" ujar Sandy seraya memberikan air mineral yang sudah Ia bantu bukakan tutupnya.
"Kenapa kita harus dipanggil ke kantor polisi?" tanya Shanum heran.
"Lo lupa kalau gue yang telepon polisi dan ngabarin kalau ada ledakan? Udahlah jujur aja. Gue yakin ini karena ledakan gas." kata Sandy penuh percaya diri.
"Kenapa lo seyakin itu? Karena alasan lo datang dari masa depan?" sindir Shanum.
"Bisa dibilang iya. Gue juga enggak ngerti kenapa bisa terjadi ledakan sekarang? Padahal kejadiannya masih dua bulan lagi. Kenapa bisa maju ya?"
Meski masih ragu untuk percaya, Shanum ikut memberikan masukan untuk Sandy.
"Apa mungkin karena lo mengubah takdirnya? Memangnya yang sebenarnya terjadi di masa depan apa sih?" Shanum meminum air mineral untuk menenangkan dirinya. Tadi Ia bahkan menangis di pelukan Sandy. Untung Sandy tak menyadarinya.
"Bakso Simon tuh bakso langganan kita berdua. Makanya gue tau kebiasaan makan lo apa. Setelah kita makan disana, sekitar satu atau dua jam kemudian ada berita kalau Pak Simon meninggal dalam ledakan di warungnya. Hanya Pak Simon seorang. Setelah diselidiki ternyata kompor gasnya yang menyebabkan terjadi ledakan." cerita Sandy.
"Makanya waktu kita dateng lo minta Pak Simon buat ganti kompor gasnya gitu? Lo gunain pengetahuan lo di masa depan buat ubah takdirnya Pak Simon, gitu?" Sandy mengangguk, mengiyakan kesimpulan yang Shanum katakan.
"Ya kurang lebih seperti itulah." jawab Sandy.
"Lo sadar enggak sih kalau lo tuh udah berusaha mengubah umur seseorang?"
"Maksudnya?" tanya Sandy agak bingung.
"Apa yang lo lakuin tuh bukan merubah masa depan seseorang, tapi merubah umur orang tersebut. Lo tau kan, jodoh, rejeki dan umur hanya Tuhan yang tau?"
Sandy mengangguk setuju.
"Dan lo udah merubahnya. Siapa lo bisa merubah umur seseorang? Lo bukan Tuhan! Jika lo memang benar datang dari masa depan, lo cuma orang yang dikasih sedikit keberuntungan aja. Jangan menjadikan diri lo kayak Tuhan yang bisa mengatur umur orang!" Sandy kalah telak dengan ucapan yang dikatakan oleh Shanum.
Tiba-tiba Sandy teringat dengan Ibunya. "Num, Ibu gue juga akan begitu dong!"
"Kenapa dengan Ibu lo?"
"Ibu gue juga akan meninggal di tahun 2005. Apa karena gue nyuruh Ibu gue berobat dan mengubah umurnya malah buat Ibu gue meninggal lebih cepat?" kini wajah Sandy amat gelap. Kesedihan langsung melingkupinya. Bayangan kehilangan Ibu dalam waktu dekat membuatnya semakin takut saja.
Shanum menghela nafasnya. Antara percaya dan tidak percaya. Ia terseret dengan cerita yang Sandy katakan.
"Kita pikirin itu nanti. Inget, jodoh, rejeki dan umur seseorang Tuhan yang tentukan. Kalau memang waktu lo bersama Ibu lo lebih cepat, manfaatkan untuk membahagiakan Ibu lo dari sekarang. Jangankan lo, gue juga enggak tau umur orang tua gue berapa lama. Tugas kita sebagai anak hanyalah menyayangi mereka saat mereka masih hidup dan mendoakan mereka jika mereka sudah tiada." Sandy lebih tenang setelah mendengar perkataan Shanum. Ia mulai bisa menerima semuanya.
Tak lama suara sirine mobil polisi dan mobil penjinak bom datang. Area langsung disterilisasi agar jauh dari warga yang berkerumun dan mendekat.
Sandy dan Shanum mengamati apa yang sedang terjadi dari kejauhan. Bagaimana polisi menyisir lokasi kejadian dan tak lama keluar dengan membawa 5 kantong mayat.
"Num, lima kantong mayat!" Sandy menyenggol lengan Shanum.
"Iya. Pak Simon, preman yang suaminya Ibu Rindu, preman yang gue kasih kalung dan dua lagi yang tadi berdiri di dekat suaminya Ibu Rindu. Semuanya meninggal, San!" ujar Shanum.
"Kalau polisi sudah membawa keluar 5 kantong mayat berarti situasi sudah aman dari ledakan. Tinggal tunggu-" belum selesai Sandy berbicara, Hp miliknya sudah berbunyi. Ia mengangkat telepon dan diminta sebagai saksi di kantor polisi.
"Cerita aja terus terang apa yang terjadi. Jangan pernah bilang kalau lo datang dari masa depan!" ujar Shanum yang menguping pembicaraan Sandy barusan.
"Kenapa?"
"Terlepas dari lo bener atau enggak, kesaksian lo bisa diragukan kalo lo dianggap enggak waras. Nanti malah dipikirnya lo lagi yang sengaja meledakkan warung baksonya! Cukup depan gue aja lo keliatan enggak warasnya!" omel shanum.
"Iya... Iya... Ayo kita kesana!" Sandy mengajak Shanum menghampiri polisi yang akan menginterogasinya.
Warung bakso yang sudah hancur berkeping-keping membuat Sandy merasa takut merubah takdir umur seseorang. Akankah Ibu akan lebih cepat meninggal karena kecerobohan Sandy?
Sandy yg milenium kemana. Terus kalo dia mantap gamau balik lagi ke milenium misalkan, mau di 2021 aja terus yg di milenium gimana? Ngilang dong? Dan nggak akan ada di masa depan tiba tiba aja kan?