Tujuh tahun lalu, Alessia Karina mengalami malam tak terlupakan bersama Leon Arsenio, seorang CEO muda pewaris kerajaan bisnis Arsenio Group. Keesokan harinya, Leon pergi tanpa meninggalkan jejak, membuat Alessia patah hati. Tanpa sepengetahuannya, Alessia hamil dan memutuskan membesarkan sepasang anak kembarnya, Keenan dan Kierra, seorang diri.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Leon menemukan fakta mengejutkan: Alessia adalah ibu dari anak-anaknya. Di tengah kebingungan dan kemarahan Leon, Alessia terpaksa menerima tawaran menikah kontrak dengannya demi masa depan si kembar. Namun, pernikahan ini bukanlah akhir dari perjuangan. Konflik masa lalu, rahasia besar yang melibatkan keluarga Leon, serta godaan dari pihak ketiga menguji cinta mereka.
Sanggupkah Leon membuktikan dirinya sebagai ayah dan suami yang pantas? Dan apakah Alessia bisa kembali mempercayakan hatinya kepada pria yang pernah meninggalkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nani Anny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jealous!
Noah beserta triple twins kini berada di lapangan lepas landas. Mereka akan kembali ke Indonesia malam ini juga. Sebenarnya Abraham menahan mereka untuk menginap semalam saja, namun Farika menolaknya karena anak itu sudah sangat merindukan bundanya dan sekarang Abraham sedang melakukan obrolan perpisahan dengan si kembar Fau, Fer dan Far. Astaga sejak kapan mereka menjadi sangat dekat.
Melihat kedekatan mereka membuat Noah yang berada tidak jauh dari mereka merasa kesal. Entah apa yang membuat pria itu kesal. Mungkin karena dia belum bisa akrab dengan si kembar. Anggap saja seperti itu.
Noah pun menjauhkan diri dari empat orang itu. Meraih ponsel di dalam sakunya dan menghubungi Ben.
"Halo Tuan." Suara Ben terdengar serak di seberang sana. Seperti orang yang baru saja bangun tidur.
"Kau sedang apa? Sekarang pukul berapa disana?" Tanya Noah.
"Aku baru saja bangun tidur, dan sekarang...." Ben terdiam sejenak, "pukul delapan pagi, Tuan."
Noah tertawa sinis, "belum dua puluh empat jam aku pergi, kau sudah malas-malasan."
"Aku baru tidur dua jam yang lalu, Tuan." Ben berdecak kesal.
Noah menghela napas mendengar gerutuan asistennya di dalam sana, "Apa semuanya baik-baik saja disana?"
"Ya, Tuan."
Noah tersenyum tipis, "lalu dimana Kaila?"
Ben terdiam lagi, "sepertinya dia berada di dapur."
"Berikan padanya. Aku ingin mengobrol sebentar."
Ben terdengar menguap, "harusnya kau menghubunginya jika ingin mengobrol, bukannya menghubungiku."
"Kau pikir aku akan menghubungimu jika aku memiliki nomornya." Noah berdecak kesal.
Tidak ada suara dari seberang telepon, hanya terdengar suara langkah kaki.
"Good morning, Ben." Suara Kaila terdengar dari dalam ponsel Noah.
"Morning," jawab Ben.
"Apa kau baik-baik saja? Kau tertidur di sofa. Apakah tubuhmu tidak lelah?"
"Ah. Sejauh ini tidak."
Noah meremas ponselnya kuat, saat mendengar percakapan mereka yang sangat dekat. Noah terbakar api kini, bisa-bisanya orang-orang terdekatnya lebih dulu akrab dengan Kaila dan juga triple twins.
"Kasihan sekali. Apa pria arogan itu yang memintamu untuk tidur di sofa?"
"Berikan ponselnya Ben!" Noah berucap diantara sela-sela giginya dengan kesal.
"Astaga. Maaf Tuan, saya melupakan Anda."
Noah memejamkan matanya jengkel. Astaga, harus dia apakan asisten kurang ajarnya itu. Bisa-bisanya dia lupa bahwa dirinya sedang mengobrol dengannya.
"Halo." Suara lembut dan serak Kaila kini terdengar di telinga Noah dan entah kenapa itu membuatnya gugup.
"Halo?" Sekali lagi Kaila berseru karena Noah tak kunjung berucap.
"Oo h-hai." Noah tergagap sambil melamabaikan tangannya dan menurunkannya lagi saat tersadar dengan hal bodoh yang dia lakukan.
"Kau dimana? Kenapa kau belum kembali juga? Kau tidak menculik anak-anakku lagi kan?"
Pertanyaan beruntun itu membuat Noah mengerutkan dahi kesal.
"Aku masih di Amerika. Aku baru saja akan naik pesawat bersama anak-anakmu. Kenapa kau selalu menuduhku akan menculik mereka, ha?" Noah berucap dengan kesalnya.
"Bukannya begitu—
"Dan satu lagi!" Noah menyela perkataan Kaila, "Are you know? Jarak Amerika-Indonesia tidak sama dengan Jakarta-Bandung yang hanya butuh waktu dua jam saja pulang pergi."
tut! tut! tut!
Dengan kemarahan yang memuncak Noah memutuskan sambungan telefon secara sepihak. Dia benar-benar tidak terima saat wanita itu terus-menerus mencurigainya.
"Uncle?"
Noah menunduk saat dirinya masih menggerutu. Farika tengah berdiri tepat di sisi kirinya menatapnya tajam dengan melipat tangan di dada.
"Ada apa?" Noah menghela napas jengah.
"Apa kau sedang berbicara dengan bundaku?"
"Hm," singkat Noah.
Farika berdecih, "kau pria yang jahat....
Noah terbelalak. Astaga, tadi anak itu menyebutnya dengan sebutan pria pelit sekarang jahat.
"bisa-bisanya kau berbicara dengan bundaku tanpa memberitahukanku. Kau tau, aku juga ingin berbicara dengannya." Farika memasang wajah cemberut.
"Kenapa tidak kau hubungi sendiri bundamu itu? Kenapa harus aku yang menghubungkanmu dengan bundamu." Noah berdecih.
"Aku tidak punya ponsel. Kalau saja aku punya ponsel, aku tidak akan bertanya padamu. Kau pria egois." Setelah mencerca Farika langsung pergi begitu saja, meninggalkan Noah dengan mulut menganga karena frustrasi.
"Pesawat akan berangkat Noah!" Abraham berteriak pada Noah yang masih bergeming.
Pria itu pun melangkahkan kaki jenjangnya menuju pesawat. Saat hendak menaiki tangga, tangannya tertarik oleh Abraham.
"Ada apa lagi dad?" Wajah Noah berubah lelah.
"Baik-baiklah pada anak-anakmu. Mereka anak-anak yang baik dan ramah tapi kenapa mereka tidak menyukaimu? Apa kau melakukan kesalahan pada mereka?"
Noah menghela napas jengah, "sepertinya mereka sudah menceritakan semua hal buruk tentangku pada daddy. Kenapa bertanya lagi?"
Abraham tersenyum tipis, "yah. Mereka anak-anak yang jujur."
Noah menyentak tangannya dengan kuat dari pegangan sang daddy, "terima kasih atas pujiannya dan selamat malam."
Pria itu pun segara melangkah naik ke pesawat dengan perasaan yang sangat geram.
"Daddy tunggu kabar baiknya!" Teriak Abraham saat pintu pesawat mulai tertutup lalu terkekeh pelan. Sudah banyak perubahan pada diri anaknya itu.
Sementara di dapur Kaila sudah selesai dengan aktivitasnya membuat sarapan untuknya dan untuk Ben.
"Dia pria yang sangat pemarah!" Kaila bergidik ngeri sambil meletakkan sepiring omlet di depan Ben.
"Yah, akhir-akhir ini dia memang sangat sulit untuk mengatur emosinya." Ben menyuap omlet ke dalam mulutnya.
Kaila menarik kursi di depan Ben lalu duduk. "Itu karena dia sangat benci padaku dan tiga anakku." Kaila mendengus, "kehadiran kami pasti sangat mengganggu kebebasannya." Dia menyuap omletnya.
"Sepertinya kau salah! Dia melakukan hal ini bukan karena dia benci padamu tapi karena dia benci pada dirinya sendiri yang belum siap menerima tanggung jawabnya."
"Apa maksudmu?"
Ben mengedikkan bahunya. "Menurutmu pria seperti apa dia?"
"Pria berjiwa bebas yang tidak ingin terikat dengan pernikahan. Yang menurutnya itu akan menghancurkan dirinya."
Ben tersenyum, "sepertinya kau mencaritahu tentang Tuan Noah. Kau bahkan mengetahui inti permasalahan hidupnya."
Kaila bedehem canggung, yah dia memang menggali profil pria brengsek itu. "Tentu saja aku tahu tentangnya. Aku pernah bekerja di hotelnya dan hampir setiap hari karyawan disana membicarakan Tuanmu itu."
"Apa yang mereka katakan tentangnya?"
"Pria sempurna yang hanya meniduri perawan." Kaila berucap dengan wajah menahan muntah.
"that's true." Ben menjentikkan jarinya, "dan kau adalah perawan terakhir yang ditidurinya."
"Berhenti membahas hal itu lagi!" Kaila melototi Ben. Bisa-bisanya pria itu membahas aibnya.
"Aku mengatakan hal yang benar. Kau yang terakhir. Setelah itu dia berubah menjadi orang gila, karena telah melanggar prinsipnya sendiri." Ben tertawa, "kau tahu? wajah frustrasinya itu sangat lucu."
"Apakah itu benar?" Raut wajah wanita itu berubah bingung. Tidak mungkin seorang Noah melanggar prinsipnya.
"Yah. Kau pikir aku berbohong. Setelah bercinta denganmu malam itu dia dikutuk. Dia tidak bisa lagi meraih puncaknya kecuali berfantasi liar menggunakan wajahmu."
"Apa!" Kaila berteriak histeris. Astaga apa-apaan pria itu. Pria cabul, mesum, brengsek.
Ben melipat bibirnya dengan kuat setelah mendengar teriakan Kaila. Astaga dia keceplosan.
"Maaf aku keceplosan. Maafkan aku Nona." Ben menunduk pada Kaila yang sudah terbakar emosi.
"Kau selalu seperti ini, meminta maaf setelah bertingkah."
Pria itu melebarkan senyum canggungnya, memperlihatkan deretan giginya yang berbaris rapi, "yang aku katakan bukanlah sebuah kebohongan, Nona. Tuan Noah bercin—"
"Stop!" Kaila mengangkat garpunya ke udara, "jangan teruskan lagi. Itu menjijikkan."
"Tidak lagi." Ben terkekeh.
Kaila mendengus kesal lalu menurunkan garpu yang sudah siap melayang ke wajah Ben. Astaga masih terlalu pagi, tapi telinganya sudah tercemar dengan perkataan asisten pria mesum itu.
"Habiskan sarapanmu. Aku akan pergi sekarang!" Wanita itu beranjak dari duduknya.
"Kau mau kemana?" Tanya Ben bingung.
"Aku ingin pulang ke rumahku. Kau pikir aku akan terus berada di rumah pria bajingan itu."
Alis Ben bertautan, "pria bajingan?"
"Tuanmu!"
Ben manggut-manggut paham, "tapi ini bukan rumah Tuan Noah. Ini rumahmu. Rumah yang dibuat khusus oleh anak-anakmu. Untukmu."
Bola mata Kaila membulat tak percaya, "apa yang kau katakan. Rumah ini dibuat khusus untukku? Dari anak-anakku? Bagaimana mungkin?"
"Simpan pertanyaan itu untuk kau tanyakan pada anak-anakmu, karena aku tidak tahu jawabannya." Pria itu pun kembali menyuap potongan omlet terakhirnya. Mengunyahnya dengan hikmat sambil memandangi wajah bingung Kaila. Ah, wajah polos itu sangat manis. Pantas saja Tuannya tidak bisa melupakannya.
"Aku sudah selesai." Ben pun beranjak setelah meletakkan gelas yang berisi air minum di atas meja, lalu beranjak meninggalkan Kaila yang sudah kembali duduk, menghabiskan sarapan dalam keterbingungan.
...Happy Reading ❤...
Hai readers. Maaf yah Author hanya bisa up satu bab perhari. Meskipun karya author sedang ikut lomba. Tapi author tidak bisa melakukan crazy up seperti karya anak genius yang lainnya. Jadi semoga karya Author bisa menghibur kalian dan jangan tinggalkan author yang tidak bisa crazy up. Hehe.
kl kembar dua disebut twins..
kembar tiga disebut triplet...
jangan di gabung jd rancu artinya..
ngatain nyumpahin dia sendiri judulnya 😂