Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.
Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.
Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.
Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.
penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Ancaman Rosa.
“Tadi ibu tidak sengaja bertemu tetangganya Alyssa.Dia bertanya bagaimana kabar ibu dan kamu. Ibu bilang yang sebenarnya, kalau kamu sudah tidak bersama Alyssa lagi.”
Rani berhenti sejenak, menatap wajah Arya yang mulai tegang.
“Kamu tahu apa yang dia katakan setelah itu?”
Arya menggeleng pelan. Sebenarnya ia sangat penasaran apalagi ini menyangkut tentang mantan istrinya namun ia tidak mau ibunya mengetahui perasaannya apalagi Rosa berada disana bersama mereka.
“Dia bilang Alyssa sedang menerima azab setelah berpisah darimu.”
Jantung Arya seperti tersentak.
“Azab apa maksud ibu?”
“Ibu dengar ibu wanita tidak tahu diri itu sakit,” ujar Rani dengan senyum puas yang membuat Arya bergidik.
“Semua tetangga sudah tahu. Ibu senang sekali mendengarnya. Salah sendiri dia sok suci minta cerai darimu. Sekarang rasakan balasannya dari Tuhan.”
Ia terkekeh pelan, tanpa rasa iba, seolah penderitaan orang lain adalah hiburan baginya. Bahkan dalam hatinya, ia berharap kabar itu berakhir dengan kematian ibu Alyssa. Kebencian telah membutakan nuraninya.
Arya menatap ibunya lama, pandangan yang sarat kecewa. Ia tidak menyangka ibunya bisa Setega itu...
“Kenapa kamu menatap ibu seperti itu?” bentak Rani.
“Tidak terima ibu senang, hah?”
“Tidak seharusnya ibu bergembira di atas penderitaan orang lain,” ucap Arya dengan suara bergetar menahan emosi.
“Apalagi Alyssa sedang tertimpa musibah. Kita seharusnya mendoakan, bukan menyumpahi.”
Rosa langsung menyela dengan nada menyengat,
“Oh, jadi kamu masih membelanya, Mas? Kamu masih memikirkannya, iya kan?”
“Ngomong apa kamu ini!” bentak Arya tajam.
“Aku menasihati mama karena aku tidak mau Tuhan membalikkan keadaan kepada kita.”
“Jadi kamu lebih peduli pada Alyssa daripada mama?” Rani mendesis, wajahnya merah menahan marah.
“Kamu selalu begitu, Arya. Selalu mementingkan dia.” ucap Rani kemudian berlalu dari hadapan mereka, ia tidak ingin berdebat dengan anaknya lagi. karena ia merasa percuma sang anak masih membela Alyssa dari pada dirinya.
Arya memilih diam. Dadanya sesak, seperti dihimpit dua sisi yang sama-sama melukainya.
Saat mengecek undangan pernikahan, matanya mendadak terhenti.
ketika membaca satu nama yang tidak asing baginya.
Alyssa.
“Apa-apaan ini, Rosa?” suaranya menegang.
“Kenapa kamu mengundangnya?”
Rosa menyunggingkan senyum tipis yang menusuk.
“Bukankah kamu sangat ingin bertemu dengannya? Aku hanya ingin mengabulkan keinginanmu.”
Brak!
Meja dipukul keras hingga Rosa tersentak. Arya tersulut emosi setelah mendengar apa yang calon istrinya katakan.
“Sudah berapa kali aku bilang, aku dan Alyssa sudah selesai!” teriak Arya.
“Berhenti cemburu dan curiga! Aku muak dengan sikap berlebihan mu!” ucap Arya
pergi begitu saja, meninggalkan Rosa yang membeku di tempatnya dan menatapnya nanar.
...
..
..
Satu jam kemudian, tanpa sadar mobil Arya berhenti di desa tempat Alyssa tinggal. Ia juga tidak tau mengapa padahal ia tidak ada niatan untuk datang kesana tapi tapi mengapa mobilnya bisa berhenti ditempat itu...
“Mungkin karena aku terlalu merindukannya…” lirihnya pahit.
Dari kejauhan ia melihat Alyssa keluar rumah membawa beberapa kantung.
Dadanya terasa diremas, ada sesuatu yang terkoyak dalam hatinya.
“Syukurlah kamu baik-baik saja.” lirihnya tersenyum getir.
Ia ingin turun, memeluk, meminta maaf. Tapi rasa bersalah menahannya seperti belenggu.
"Tahan dirimu Arya, jika kamu turun dia belum tentu mau menemui mu ingat apa yang sudah kamu lakukan kepadanya. Dia masih membencimu dan kebencian itu tidak akan hilang begitu saja, kesalahan yang kamu lakukan sangat berat dan ia tidak akan memaafkannya dengan mudah." batin Arya berusaha mengendalikan dirinya.
saat ia asik melamun memperhatikan Alyssa tiba tiba saja ponselnya berbunyi memecah lamunannya.
Segera saja ia meraih ponselnya itu untuk melihat siapa yang sudah mengiriminya pesan.
Mata Arya langsung melebar melihat nama rosa tertera disana apalagi pesan yang wanita itu kirimkan sungguh membuatnya terkejut sampai tidak bisa berkata kata.
“Ternyata kamu ke sana.”
Arya menoleh dan melihat dua pria berpakaian hitam mengawasinya dari kejauhan.
“Kamu memata-matai aku?” ketiknya gemetar.
“Aku calon istrimu. Aku berhak tahu ke mana kamu pergi.”
Lalu pesan berikutnya membuat napasnya tercekat. Ia tidak menyangka rosa begitu posesif kepadanya, bisa bisanya wanita itu menyuruh orang untuk mengawasinya seolah olah dia adalah seorang tahanan.
“Pulang sekarang. Kalau kamu berani menemuinya lagi, aku bukan cuma mengawasimu… tapi akan melenyapkan Alyssa.”
Glek.
Tenggorokan Arya terasa kering. Ini bukan lagi peringatkan tapi sebuah Ancaman, ia rasa rosa sudah mulai gila ia harus berhati hati pada wanita itu jika tidak ingin orang disekitarnya terluka.
Jika saja Rosa tidak mengandung anaknya mungkin ia tidak akan pernah mau menikahi wanita seperti dirinya.
sayangnya ia sudah terjebak dan ia tidak bisa kabur dari jeratan wanita itu.
"Sialan." dengus Arya memukul kemudinya dengan kesal pandangannya beralih menatap Alyssa.
Ia sungguh tidak ingin pergi sekarang ia masih ingin terus melihat wajah itu, tapi mau tidak mau ia harus pergi mengingat rosa yang tidak main main dengan ucapannya.
"Semoga kita bisa bertemu lagi Alyssa." harapnya dalam hening sebelum akhirnya
menginjak gas, meninggalkan desa itu.
"Setelah mengantar kue kue ini aku harus menemui Ayah hanya dia satu satunya orang yang bisa membantuku." putus Alyssa meyakinkan dirinya. Meskipun ia tidak yakin bahwa sang ayah mau membantunya mengingat sudah lama ia tidak bertemu ayahnya dan sang ayah yang selalu acuh tentangnya.
ditengah tengah mendung ia berjalan membawa sebuah harapan kecil yang mungkin bisa menyelamatkan hidup ibunya.