Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ppm 21
Johan duduk, jemarinya mencengkeram ponsel itu lebih erat, Rahangnya mengeras.
“Kamu nggak punya hak buat buka ponsel aku, Mia,” ucapnya dingin, berusaha merebut kendali. “Kamu keterlaluan.”
Mia tertawa kecil bukan tawa bahagia—melainkan tawa getir yang lahir dari dada yang terlalu penuh.
“Keterlaluan?” suaranya bergetar, matanya merah tapi tatapannya tajam.
“Kamu yang keterlaluan , bohong soal Bandung, pulang bawa luka di punggung, sekarang ada perempuan yang manggil kamu Yang terus aku yang keterlaluan?” Ia melangkah lebih dekat, jarak mereka tinggal sejengkal.
“Kamu pikir aku gak tahu?, kamu kebandung dengan Mey, dn itu bukan dari kantor. ”
Johan terdiam. Untuk sesaat, tidak ada pembelaan. Tidak ada kemarahan. Hanya wajah pucat yang kehabisan kata. Mia menarik napas panjang, air matanya akhirnya jatuh.
“Kamu masih mau mengelak?!” ucapnya ketus , “Aku ini istrimu… atau cuma penonton dari hidup yang kamu sembunyikan?.”
Karena terdesak, Johan akhirnya menyerah. Tidak ada lagi alasan, tidak ada lagi kebohongan yang bisa disusun.
“Iya,” ucapnya pelan.
“Aku mengaku kamu benar kantor nggak pernah menugaskanku ke Bandung itu cuma akal-akalan… supaya aku bisa berduaan sama Mey.”
Plaaak!
Tamparan itu mendarat begitu saja. Mia tak lagi mampu menguasai dirinya. Johan terdorong ke samping, tapi ia tidak melawan ia hanya menoleh, rahangnya mengeras.
“Lagi,” katanya lirih.
“Kalau itu bisa bikin kamu lega.” Ia bahkan meraih tangan Mia, mengarahkannya kembali ke wajahnya.
Mia menarik tangannya kasar dan mendorong Johan menjauh.
“Kamu bajingan!” pekiknya histeris tubuhnya bergetar, tangisnya pecah saat ia menutup wajah dengan kedua tangan. Johan refleks mendekat, mencoba merengkuhnya, namun Mia menepis keras.
“Jangan sentuh aku,!” suaranya gemetar penuh jijik.
“Aku haramkan tubuhku kamu sentuh.”
Ia bangkit, menarik koper kecil dari sudut kamar. Pintu lemari dibuka dengan hentakan, dibanting tanpa peduli. Mia memasukkan pakaian seadanya, gerakannya cepat, kasar
“Kamu ngapain, Mia?” Johan panik, berusaha menghentikannya.
“Minggir,” ancam Mia dengan mata berkilat marah.
“Atau aku teriak sekarang, biar tetangga tahu apa yang kamu lakukan.”
Johan terdiam. Ia mengangkat kedua tangan menyerah.
“Oke… oke,” suara Johan melemah, setengah memohon. Ia melangkah mendekat tapi berhenti di ambang jarak.
“Tapi kamu mau ke mana? Tolong jangan pulang ke rumah orang tuamu. Kita selesaikan ini baik-baik setelah kamu tenang.”
Mia berhenti. Ia menoleh perlahan, menatap Johan tajam tatapan yang membuat Johan sadar satu hal ia sudah kehilangan kendali.
“Jangan atur aku,” bentaknya. “Aku mau ke mana bukan urusanmu lagi.” Tidak ada air mata kali ini, hanya dingin yang mematikan.
Ia menyambar tas kerjanya, dan menjinjing koper melangkah keluar kamar tanpa menoleh. Pintu dibanting, cukup keras .
Johan berdiri terpaku di tengah kamar yang mendadak terasa asing, sementara langkah Mia menjauh di lorong rumah, membawa sisa-sisa kepercayaan yang tak akan pernah kembali utuh.
Mia melangkah cepat keluar rumah lalu menghentikan taksi yang melintas. Begitu pintu tertutup, dunia di luar seakan diredam hanya tersisa dengung mesin dan napasnya yang belum sepenuhnya tenang. Tangannya bergetar saat ia membuka ponsel, menahan diri agar tidak berubah pikiran. Ia mengetik singkat pada Rina
“Rin hari ini aku tidak masuk ,kalau Bayu tanya soal proposal, ada di laci nomor dua, tidak dikunci.” Pesan terkirim. Mia mematikan ponsel, seolah mematikan pintu ke hari yang baru saja runtuh.
“Ke mana, Bu?” tanya sopir. Mia menyebutkan alamat rumah orang tuanya. Taksi melaju menembus pinggiran Jakarta, gedung-gedung berganti dengan deret rumah dan pepohonan. Ia menatap jendela tanpa fokus, membiarkan kota bergerak sementara hatinya berusaha mengejar ketenangan.
Tidak ada isak yang ada hanya lelah yang mengendap.
Di kursi belakang, Mia merapatkan tas ke dada. ia tidak merencanakan apa pun. Ia hanya ingin sampai. Di tempat yang ia kenal, di mana ia bisa bernapas tanpa harus menjelaskan apa pun.
Sesaat sebelum turun dari taksi, Mia menarik napas panjang. Ia yakin orang tuanya akan terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba, namun hanya di rumah inilah ia bisa bernapas dan jujur pada dirinya sendiri.
“Berapa, Pak?” tanyanya lirih. Mia segera menyodorkan uang sesuai yang disebutkan sopir lalu bergegas turun. Baru beberapa langkah menjauh, kaca jendela diturunkan.
“Bu, ini kembaliannya.”
“Tidak usah, Pak,” jawab Mia singkat. Sopir itu tersenyum, mengucapkan terima kasih, lalu pergi.
Mia mantap melangkah, membuka pintu gerbang rumah yang terasa begitu akrab.
“Assalamu’alaikum,” serunya dari teras.
“Wa’alaikumsalam,” sahut suara dari dalam. Pintu terbuka bukan hanya ibunya yang menyambut, kakak tertuanya juga tengah berkunjung.
“Loh, Mi? Ada apa ini?” tanya sang kakak, menatap Mia dari atas ke bawah, heran melihat adiknya masih mengenakan pakaian tidur dengan wajah sembab dan mata merah.
Ibu mereka langsung peka. Ia melirik sang kakak, memberi isyarat halus agar tak melanjutkan pertanyaan. Lalu dengan suara lembut namun tegas, ia meraih tangan Mia.
“Masuklah ke kamar,” ujarnya pelan.
Mia melangkah masuk dengan kaki yang terasa berat. Aroma rumah itu, masakan pagi menyergapnya, membuat dadanya sesak. Ia menunduk, tak sanggup membalas tatapan kakaknya yang masih menyimpan banyak tanya. Ibunya menggenggam lengan Mia pelan, hangat dan menenangkan, lalu menuntunnya menuju kamar tanpa sepatah kata.
Kakaknya hanya menghela napas, paham bahwa ini bukan saatnya mengejar jawaban.
Begitu pintu kamar tertutup, pertahanan Mia runtuh. Ia duduk di tepi ranjang, tas terlepas dari genggaman, bahunya bergetar menahan tangis yang sejak tadi ditahan. Ibunya duduk di sampingnya, mengusap punggung Mia dengan sabar sentuhan yang tak menuntut penjelasan, hanya memberi izin untuk lelah.
“Tarik napas dulu, Neng” bisiknya, lirih namun tegas.
Mia mengangguk, air mata akhirnya jatuh satu satu. Di tempat itu, ia tak perlu menjelaskan siapa yang salah atau apa yang hancur. Cukup mengakui bahwa ia pulang bukan untuk lari, melainkan untuk bertahan.
Tangis Mia akhirnya pecah di pelukan ibunya. Tubuhnya bergetar, napasnya terputus-putus, seolah semua yang ia tahan selama ini runtuh bersamaan.
“Mi… aku mau cerai,” ucapnya spontan, nyaris tak bersuara.
Ibunya terlonjak kaget. Tangan yang memeluk Mia refleks mengusap dada, bibirnya menyebut asma Allah berulang kali.
“Astagfirullah… eling kamu, Neng,” ucapnya lirih namun penuh getir.
“Ada apa ini? Cerita sama Umi… pelan-pelan.”
Dengan suara parau dan mata basah, Mia menceritakan semuanya kebohongan Johan, perjalanan Bandung yang palsu, perempuan lain yang masuk ke hidup suaminya tanpa malu. Setiap kalimat seperti mengiris, namun ia paksakan keluar.
Wajah ibunya mengeras seiring cerita itu mengalir.
“Gak ibu, gak anak, sama aja kelakuannya!” geramnya, suaranya bergetar menahan amarah yang bercampur kecewa.
Namun amarah itu perlahan luruh. Ibunya mengelus punggung Mia, ritmenya menenangkan, seperti dulu saat Mia kecil.
“Sabar ya, Neng,” ujarnya lembut.
“Ini ujian, Allah ngasih cobaan karena Allah tahu kamu mampu.” Ia berhenti sejenak, menarik napas panjang.
“Tapi walau bagaimana pun… Umi tidak menganjurkan cerai. Perbuatan Itu tidak disukai Allah.”
Mia terdiam di pelukan ibunya. Air matanya masih mengalir, tapi kini dadanya terasa lebih sesak antara ingin bertahan demi iman, dan hancur oleh pengkhianatan yang nyata.